Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Nervous
Senyum tipis masih menghiasi wajah Jena ketika ia sampai di halaman apartemen. Ia melangkah masuk ke lobi, menyapa satpam dan resepsionis sebelum masuk ke lift.
Begitu pintu lift tertutup, Jena menatap pantulan dirinya di dinding stainless. "Napas dulu, Jena," gumamnya pelan. Jantungnya masih berdebar setiap kali mengingat pesan dari Jovian.
"Papa dan Mama mengundang kamu makan malam di rumah."
Hanya kalimat itu saja sudah cukup membuatnya nervous setengah mati.
Lift berhenti di lantai apartemennya.
Tak lama kemudian, Jena membuka pintu unit dan langsung mengembuskan napas lega. "Akhirnya sampai juga." Ia meletakkan tas kerja di atas sofa, sementara paper bag berisi gaun dari butik diletakkan dengan sangat hati-hati di meja ruang tamu. Pandangannya kembali tertuju pada kantong belanja itu. "Boleh lihat sekali lagi, kan?" Ia bertanya pada diri sendiri.
Jena mengeluarkan gaun hijau sage tersebut. Senyum kagum kembali muncul. "Semoga Jovian dan keluarganya suka lihat penampilanku nanti."
Tak ingin membuang waktu, ia segera mengambil bathrobe, lalu masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian suara shower memenuhi ruangan. Air hangat mengalir membasahi rambut dan tubuhnya, seolah ikut meluruhkan rasa lelah setelah seharian bekerja. Jena memejamkan mata beberapa saat. "Tenang, Jen ... ini cuma makan malam." Namun sedetik kemudian ia menggeleng sendiri. "Nggak ... ini bukan cuma makan malam." Bagi Jena, undangan itu terasa jauh lebih berarti. "Tidak, tidak. Jangan kepedean, Jena." Ia menepuk pelan pipinya sendiri sambil terkekeh malu.
Beberapa menit kemudian, Jena selesai mandi. Ia mengeringkan rambut menggunakan hair dryer sebelum mengenakan body lotion dan sedikit parfum beraroma floral yang lembut.
Setelah itu ia membuka kembali paper bag dari butik. Gaun hijau sage itu dikeluarkan dengan hati-hati.
Jena mengenakannya perlahan. Ritsleting di bagian belakang berhasil ia tutup sendiri meski sedikit kesulitan.
Begitu selesai, ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya.
Untuk beberapa saat ia hanya menatap pantulan dirinya. Gaun itu benar-benar pas di tubuhnya. Potongannya sederhana, anggun, dengan lengan yang menutupi bahu dan rok yang menjuntai hingga betis. Tidak berlebihan, tetapi memberikan kesan elegan. "Hmm ..." Jena memiringkan kepala ke kanan lalu ke kiri. "Kayaknya ada yang kurang." Ia duduk di depan meja rias. Dengan telaten ia mulai merias wajahnya menggunakan riasan natural.
Foundation tipis, sedikit blush on, eyeliner yang halus, maskara, lalu lipstik berwarna nude pink. Setelah selesai, ia menyisir rambutnya hingga rapi. Awalnya ia ingin mengikat rambutnya.
Namun setelah mencoba beberapa gaya, akhirnya ia memilih membiarkannya tergerai dengan ujung rambut yang dibuat sedikit bergelombang.
Jena lalu mengenakan sepasang anting mutiara kecil dan kalung tipis berwarna perak. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan mungil yang sederhana namun elegan. Terakhir, ia mengenakan sepatu hak rendah berwarna krem.
Kini ia kembali berdiri di depan cermin. Matanya membulat pelan. "Wah ..." Tanpa sadar senyum malu terbit di wajahnya. "Nggak nyangka aku bisa secantik ini."
Beberapa detik kemudian bayangan Jovian kembali muncul di benaknya. "Kira-kira ... Mas Jovian bakal bilang apa ya kalau lihat penampilanku begini?" Pipinya langsung memerah. "Ah, semoga dia suka." Jena menarik napas panjang, lalu mengambil tas kecil dan ponselnya. Ia melirik jam di layar.
Waktunya masih cukup sebelum berangkat ke rumah keluarga Ardhana. Meski begitu, rasa nervous di dadanya justru semakin besar. Ia menggenggam kedua tangannya sendiri sambil tersenyum tipis. "Semoga lancar, semoga lancar." Jena keluar dari kamar dan duduk sejenak di ruang tamu. Ia menggenggam ponsel dengan kedua tangannya. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu kembali melihat layar ponselnya. Masih ada waktu sebelum ia berangkat ke rumah keluarga Ardhana.
Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik untuk Jovian.
"Mas, aku sudah siap berangkat."
Setelah membaca ulang pesannya, ia tersenyum kecil lalu menekan tombol kirim. Pesan itu langsung terkirim. Jena pun meletakkan ponselnya di pangkuan sambil membenarkan lipatan gaunnya yang tadi sempat kusut saat duduk.
Beberapa menit berlalu. Tanpa sadar ia kembali mengambil ponselnya. "Hmm ... kok belum dibaca ya?" Ia menunggu lagi. Setelah lima menit menunggu, status pesannya tetap sama. Belum dibaca.
Namun kali ini, Jena sama sekali tidak merasa kesal. Ia justru tersenyum geli sendiri. "Mas Jovian pasti lagi sibuk dandan juga." Bayangan Jovian yang sedang berdiri di depan cermin merapikan rambut dan jasnya membuat Jena terkekeh pelan. "Hihi ... jangan-jangan dia malah lebih lama siap-siapnya daripada aku." Pikiran itu sukses membuat suasana hatinya semakin ceria.
Ia memilih tidak mengirim pesan lagi ataupun menelepon. Baginya, Jovian pasti sedang sibuk mempersiapkan diri untuk makan malam bersama kedua orang tuanya dan dirinya.
Jena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang akan dibawanya. Ia mengambil napas panjang, lalu berdiri di depan cermin ruang tamu untuk terakhir kalinya. Tangannya merapikan sedikit rambut yang tergerai di bahu. "Oke, Jena." Ia tersenyum pada pantulan dirinya sendiri. "Semangat."
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Jena mengambil kunci apartemen dan tasnya. Dengan hati yang dipenuhi rasa gugup sekaligus bahagia, ia melangkah keluar dari unit apartemennya, bersiap menuju rumah keluarga Ardhana dengan harapan malam itu akan menjadi salah satu malam terindah dalam hidupnya.
Begitu tiba di lobi, Jena segera memesan taksi online. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk.
Jena membuka pintu belakang lalu masuk dengan hati-hati agar gaunnya tidak kusut. "Selamat malam, Pak."
"Selamat malam, Mbak," sapa sopir itu ramah. Setelah memastikan tujuan di aplikasi, sang sopir mulai menjalankan mobil. Belum jauh meninggalkan area apartemen, sang sopir sempat melihat Jena melalui kaca spion tengah. "Wah, Mbak ... maaf kalau saya lancang. Tapi Mbak-nya cantik sekali."
Jena yang sedang merapikan ujung gaunnya langsung tersenyum malu. "Terima kasih, Pak."
"Kalau boleh nebak, mau datang ke acara spesial ya?"
Pipi Jena kembali memerah. Entah kenapa, ia merasa ingin berbagi kebahagiaan kecilnya. "Iya, Pak. Malam ini saya diundang makan malam sama orang tua pacar saya."
"Wah ..." Sopir itu langsung tersenyum lebar. "Selamat ya, Mbak. Semoga acaranya lancar."
"Aamiin. Terima kasih, Pak."
"Biasanya kalau sudah diundang makan malam sama orang tua pacar, itu pertanda ada suatu pembicaraan serius yang akan didiskusikan."
Jena hanya tertawa kecil sambil menundukkan kepala karena malu. "Saya juga nggak tahu, Pak. Yang jelas saya deg-degan dari tadi."
"Deg-degan itu wajar, Mbak. Tapi saya yakin semuanya akan berjalan baik."
Jena mengangguk pelan. "Mudah-mudahan begitu."
Sopir itu kembali berkata dengan tulus, "Semoga hubungan Mbak sama pacarnya langgeng, selalu diberi kebahagiaan, dan kalau memang berjodoh, semoga sampai ke pelaminan."
Ucapan sederhana dari orang yang bahkan baru dikenalnya itu membuat hati Jena terasa hangat. Senyumnya semakin lebar. "Terima kasih banyak, Pak. Aamiin."
"Sama-sama, Mbak."
Sepanjang perjalanan, Jena memandang lampu-lampu kota yang mulai menghiasi malam. Tangan kanannya tanpa sadar menggenggam tas kecil di pangkuannya.
Doa dari sang sopir terus terngiang di kepalanya. Ia berharap ... semoga malam ini benar-benar menjadi awal dari sesuatu yang indah bagi hubungannya dengan Jovian.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪