Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tea Party Penjahat Terhormat
Aku tidak pernah menyangka akan menghadiri pesta teh saat sedang menunggu eksekusi.
Tapi hidup baruku memang penuh kejutan tidak masuk akal.
Pagi masih belum selesai ketika Cassian mengumumkan rencana yang menurutnya "praktis" dan menurutku "seperti mengundang serigala makan kue bersama ayam".
"Kita akan mengadakan tea party kecil," katanya.
Aku menatapnya. "Saya sedang menjadi tahanan."
"Justru karena itu semua orang akan datang. Mereka penasaran."
"Duke North, orang biasanya tidak menggunakan jadwal eksekusi sebagai undangan sosial."
"Bangsawan menggunakan apa pun sebagai undangan sosial. Pernikahan, kematian, skandal, krisis politik. Anda hanya sedang mengalami semuanya sekaligus."
Mira bertepuk tangan kecil. "Nona sangat produktif."
Aku memejamkan mata. "Mira, jangan dukung ide buruk dengan antusiasme."
Namun rencana Cassian masuk akal dengan cara yang menyebalkan. Anna baru sadar sebentar dan hanya menyebut namaku. Lucien ingin memeriksanya lagi, tapi tabib melarang. Sementara itu, bukti yang kami punya masih cukup untuk menimbulkan keraguan, belum cukup untuk menyelamatkanku.
Kami butuh membuat pelaku gelisah.
Menurut Cassian, tidak ada yang membuat bangsawan lebih gelisah daripada undangan mendadak ke acara yang mereka tidak tahu tujuannya.
Jadi sore itu, di salah satu ruang kaca istana, diadakan tea party "klarifikasi sosial" atas nama Putra Mahkota. Undangannya terbatas: Seraphina, dua pelayannya, Lord Veyran Blackwell, Marquess Arvella, beberapa bangsawan yang duduk dekat meja pesta malam itu, Lucien, Cassian, dan aku.
Ya. Aku, tersangka pembunuhan, menghadiri tea party dengan pengawalan.
Mira menyebutnya "pesta teh terakhir sebelum kemungkinan kepala hilang". Aku memintanya tidak pernah menjadi pembuat slogan.
Aku mengenakan gaun merah gelap yang disiapkan Mira. Katanya gaun itu "cukup villainess untuk menakuti musuh, tapi cukup elegan untuk tidak terlihat seperti akan kabur lewat jendela". Rambutku disanggul rapi dengan hiasan mawar hitam.
Saat aku masuk ruang kaca, semua mata langsung menoleh.
Bisikan berhenti.
Kue kecil di meja seperti ikut menahan napas.
Seraphina duduk dengan gaun putih dan senyum lembut. Anna tidak hadir karena masih dirawat, tapi Liora dan Merin berdiri di belakangnya. Celia, pelayan yang katanya sakit, juga hadir. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.
Aku memperhatikan sarung tangan mereka. Semua putih. Tapi hanya Celia yang memakai sarung tangan dengan jahitan perak.
Menarik.
Lord Veyran Blackwell duduk dekat jendela. Usianya sekitar lima puluhan, wajahnya halus, senyumnya sopan, dan matanya seperti ular yang baru selesai menghitung tikus. Marquess Arvella duduk tidak jauh darinya, dingin seperti patung.
Lucien berdiri di ujung meja. "Terima kasih telah hadir."
Aku berbisik pada Cassian, "Apakah saya juga harus berterima kasih karena tidak langsung dibawa ke tempat eksekusi?"
"Tunggu sampai akhir acara," bisik Cassian balik. "Mungkin situasi membaik."
"Atau memburuk."
"Itu juga mungkin."
Aku duduk. Pengawal berdiri di belakangku. Mira berdiri di sisi lain membawa catatan, kipas, dan ekspresi seolah siap pingsan demi mendukung suasana.
Lucien membuka acara dengan menjelaskan bahwa beberapa ketidaksesuaian bukti perlu diklarifikasi. Kata-katanya formal. Wajahnya serius. Semua orang mendengarkan dengan sopan palsu.
Lalu Cassian mengambil alih.
"Saya ingin menanyakan hal sederhana," katanya. "Siapa yang bertugas membawa gelas Saintess malam itu?"
Seraphina menoleh lembut ke pelayannya. "Seingatku, Anna."
Celia menunduk. Liora menggenggam tangannya. Merin tampak menatap lantai terlalu keras.
Cassian mengangguk. "Siapa yang mengganti kain meja Lady Evangeline setelah anggur tumpah?"
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengangkat alis. "Aneh. Kain bisa pindah sendiri?"
Salah satu bangsawan tua berbisik, "Sikapnya tetap tajam."
Aku menoleh sambil tersenyum. "Terima kasih, Lord. Saya berusaha tetap konsisten meski sedang difitnah."
Bangsawan itu langsung pura-pura batuk.
Cassian melanjutkan, "Kami menemukan kain lap berbau lili dengan jejak racun. Kain itu awalnya berada di ruang bukti, lalu dipindahkan ke kapel."
Suasana langsung berubah.
Seraphina menutup mulut. "Astaga. Siapa yang melakukan itu?"
Aku menatapnya. "Pertanyaan yang sangat bagus, Saintess. Hampir seperti Anda baru mendengarnya."
Senyumnya tidak berubah, tapi matanya menajam.
Lord Blackwell tertawa pelan. "Lady Evangeline, tuduhan terhadap Anda serius. Sebaiknya Anda tidak mencoba mengalihkan kesalahan pada pelayan korban."
Aku menatapnya. "Lord Blackwell, saya bahkan belum menyebut nama pelayan. Mengapa Anda langsung membela mereka?"
Ia tersenyum. "Karena saya peduli pada keadilan."
"Bagus sekali. Saya juga. Terutama keadilan yang mencegah kepala saya menjadi dekorasi alun-alun."
Mira tersedak di belakangku.
Lucien menutup mata sejenak. Cassian tampak menikmati teh lebih dari seharusnya.
Aku mengambil cangkir teh di depanku, tapi tidak meminumnya. Setelah menjadi tersangka racun, aku punya hubungan rumit dengan minuman.
"Saya punya permainan kecil," kataku.
Semua orang menatapku.
"Permainan?" tanya Seraphina lembut.
"Ya. Karena semua orang tampaknya suka bermain peran. Ada yang berperan sebagai korban, ada yang berperan sebagai saksi, ada yang berperan sebagai orang tua peduli, dan ada yang berperan sebagai bangsawan bijak. Saya pikir kita sekalian membuatnya menyenangkan."
Marquess Arvella menatapku tajam. "Evangeline."
"Tenang, Ayah. Permainan ini tidak membutuhkan kasih sayang keluarga. Jadi Ayah aman."
Mira membuat suara seperti piring retak.
Aku mengeluarkan tiga kartu kecil dari buku catatan Mira. Semalam kami menyiapkannya. Di kartu pertama tertulis: Racun. Kartu kedua: Kain Lili. Kartu ketiga: Surat Palsu.
"Setiap orang boleh menjelaskan bagaimana tiga hal ini bisa mengarah pada saya tanpa melibatkan orang lain," kataku. "Jawaban paling masuk akal akan saya gunakan untuk mati dengan lebih tenang."
Tidak ada yang tertawa.
Bagus. Humor gelapku sedang berkembang.
Lord Blackwell berkata, "Surat palsu?"
Aku menatapnya. "Ah, Lord tertarik pada bagian itu?"
Lucien mengeluarkan beberapa surat dari map. "Sebagian surat yang mengatasnamakan Lady Evangeline terbukti memiliki perbedaan tulisan. Surat itu berisi ancaman terhadap Saintess."
Seraphina tampak terkejut. "Surat ancaman?"
Aku memperhatikan Celia.
Tangannya gemetar lebih keras.
Cassian juga memperhatikannya.
Aku memutuskan menekan titik itu.
"Celia," panggilku lembut.
Pelayan itu tersentak. "Y-ya, Lady?"
"Kau sakit setelah pesta, bukan?"
"Ya."
"Sakit apa?"
"Demam."
"Demam karena terkejut melihat Saintess pingsan?"
"Ya."
"Atau demam karena takut seseorang akan menyuruhmu diam seperti Anna?"
Celia pucat seperti kertas.
Seraphina berkata halus, "Lady Evangeline, jangan menakuti pelayanku."
"Saya tidak menakuti. Saya menawarkan kesempatan bicara sebelum orang lain membungkamnya."
Celia menggigit bibir. Air mata memenuhi matanya.
Lord Blackwell meletakkan cangkirnya dengan suara kecil. "Ini tidak pantas."
Cassian langsung berkata, "Yang tidak pantas adalah saksi diracun sebelum sidang."
Lucien menatap Celia. "Jika kau tahu sesuatu, bicaralah. Aku menjamin perlindungan kerajaan."
Celia menatap Seraphina.
Seraphina tersenyum padanya.
Senyum lembut.
Senyum suci.
Senyum yang membuat Celia langsung menunduk ketakutan.
Aku melihatnya.
Lucien juga melihatnya.
Cassian tentu saja melihatnya, karena pria itu mungkin bahkan bisa melihat niat buruk pada sendok.
Aku meletakkan kartu keempat di meja.
Gagak Mahkota Patah.
Wajah Lord Blackwell berubah. Sangat cepat, tapi cukup.
Marquess Arvella menegang.
Seraphina tetap tersenyum, tapi tangannya berhenti bergerak.
"Simbol ini," kataku pelan, "ditemukan dalam jejak kasus ini. Ada yang ingin menjelaskan?"
Lord Blackwell berdiri. "Saya tidak akan duduk di sini mendengar tuduhan liar dari wanita yang sudah dikenal tidak waras oleh seluruh ibu kota."
Aku tersenyum. "Silakan pergi, Lord. Tapi biasanya dalam novel misteri, orang yang pergi saat simbol muncul punya peluang besar menjadi tersangka penting."
"Novel?" Lucien menoleh.
"Maksud saya drama kehidupan."
Blackwell menatapku dengan benci. "Kau seharusnya tetap menjadi gadis bodoh yang mengejar mahkota."
Ruangan membeku.
Aku berdiri perlahan.
"Ah," kataku. "Jadi Lord mengenal versi saya yang lama."
Blackwell sadar telah bicara terlalu banyak.
Cassian tersenyum tipis. "Kesalahan pertama hari ini."
Celia tiba-tiba terisak. "Maafkan saya! Saya tidak mau! Saya hanya diminta menukar kain meja! Saya tidak tahu ada racun!"
Semua orang menoleh.
Seraphina berdiri. "Celia!"
Celia menangis. "Saya takut! Anna juga takut! Kami disuruh oleh seseorang berjubah gelap. Dia bilang kalau kami tidak menurut, keluarga kami akan hilang!"
"Siapa?" tanya Lucien.
Celia menangis semakin keras. "Saya tidak tahu wajahnya. Tapi... tapi dia membawa cincin dengan lambang gagak."
Aku menatap Lord Blackwell.
Dia tidak lagi tersenyum.
Tea party itu akhirnya berubah menjadi apa yang seharusnya sejak awal.
Bukan pesta teh.
Melainkan perang kecil dengan cangkir porselen.