Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Tantangan Dari Raja
"Kamu beneran tidur berdua dengan Dein? Wow!" Gisel masih saja mencecar Mala dengan pertanyaan yang sama. Gadis itu memilih diam, dia masih kesal pada Danzel yang mengambil kesempatan tadi. Walau ia akui, rasanya nyaman dipeluk oleh lelaki tampan.
"Kamu suka ya sama Dein?" Gadis cerewet itu bertanya lagi. Mala menoleh, ia merasa sepertinya Danzel belum menceritakan mengenai pernikahan mereka pada dua gadis itu. Apalagi sepertinya mereka tak menghadiri pernikahannya dengan Danzel.
"Gisel, sebenarnya.."
"Hey girls!" Ditengah perbincangan mereka, Atlas datang membawa beberapa camilan. Pria blasteran itu nampak baru kembali dari suatu tempat.
"Sedang apa kalian?" Bertanya seraya menyodorkan makanan yang ia bawa. Dengan cepat Gisel menyambar dan memakannya.
"Aku berkemas, kita akan pulang kan. " Balas gadis itu tanpa menoleh. Mala sudah tak tahan berada disini, walaupun suasananya menyenangkan, tetapi ia merasa sedikit tak sehat.
"Sayangnya kita tidak akan pulang hari ini." Mala terkejut mendengar pernyataan Atlas. Berbanding terbalik dengan pria itu yang merasa senang, sebab ia memang menyukai alam dan suasana yang natural. Atlas bahkan betah jika harus tinggal di tempat ini.
"Maksudmu apa?" Mala menutup ransel yang ia kemas sedari tadi. Menatap teman suaminya itu dengan tatapan terkejut.
"Yes, kita akan menginap disini sampai besok atau bahkan lusa. Jemputan kita belum bisa kesini karena ada tanah longsor, jadi kita semua bisa santai disini lebih lama sebelum kembali ke Jakarta." Atlas melebarkan senyumnya.
Wajah gadis itu mendadak murung, padahal Mala sudah sangat bahagia karena akan kembali ke rumah hari ini. Bukannya tak menikmati suasana menyenangkan di air terjun ini, tapi kondisi kesehatannya membuatnya malas melakukan apapun sekarang.
"Kamu kenapa, Mala? Wajahmu pucat." Sadar akan perubahan raut wajah Mala, pria itu menjadi khawatir. Atlas baru sadar kalau wajah gadis cantik di depannya seperti sedang tak enak badan.
"Nggak, aku agak pusing aja." Tersenyum lembut, Mala lalu berdiri hendak menuju tendanya. Pandangan Atlas mengikuti kemana gadis itu pergi, pria itu tampak menghela napas pelan.
****
"Biar aku bantu." Disaat ia tengah berusaha menyalakan kompor portabel yang akan digunakan untuk memasak, suaminya itu tiba tiba datang dan merebut benda itu dari tangan Mala.
Klek
Ajaib, dalam sekali putaran kompor yang tadinya tak mau menyala seketika menyulutkan api. Mala heran, namun gadis itu memilih diam dan meraih bahan bahan masakan untuk dibuat makanan.
"Sini, biar aku potong bawangnya. " Secepat kilat Danzel hendak menyambar bawang yang dibawa Mala, namun gadis itu menolak.
"Kamu sebaiknya kesana, Danzel. Aku bisa memasak sendiri." Ujarnya kesal karena pria itu terkesan merecokinya yang tengah memasak.
Wajah Danzel berubah menjadi cemberut, padahal ia berniat baik hendak membantu perempuan yang berstatus istrinya itu. Pria itu mengumpat dalam hati. Kenapa Mala aneh?. Padahal diantara ratusan gadis yang pernah dekat dengannya, hampir semuanya akan terpesona dengan ketampanannya.
Ditengah rasa kesalnya, lelaki itu mendengar suara tawa yang menggelegar. Tak lain adalah suara Raja yang baru keluar dari tendanya di tengah hari ini. Danzel pun menghampiri kawannya itu.
Raja tak menghentikan tawanya bahkan ketika Danzel sudah didepannya, ia masih kesal karena tidurnya tak nyenyak semalam. Karena tendanya digunakan Danzel dan istrinya untuk tidur berdua, otomatis dia harus mengalah dan tidur berempat dengan yang lain di tenda yang sempit itu.
"Diam lu!" Hendak menghadiahkan tonjokan pada temannya, namun Raja terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Hei bung, sebelum memukulku sebaiknya kau belajar dulu bagaimana cara menjinakkan wanita padaku." Tawa Raja belum berhenti. Danzel yang kesal pun menatap istrinya dari kejauhan.
"Dia gadis yang aneh." Ujarnya masih memperhatikan Mala yang cekatan memotong bawang diseberang sana.
"Bukan aneh, dia gadis yang sombong." Sahut Raja seraya menghisap cerutu yang ia nyalakan beberapa saat tadi.
"Aku menantangmu bung-"
"Tantangan apa?" Sahut Danzel
Raja menarik sebelah bibirnya, memerhatikan gadis manis yang telah menjadi istri sahabatnya.
"Dia perempuan yang sombong, kalau kau berhasil menaklukan dia, Lamborghini edisi terbatasku boleh kau ambil." Kembali tersenyum smirk. Menoleh pada Danzel dengan pandangan menantang.
"Maksudmu?"
Raja menghembuskan asap putih itu ke udara. "Dalam tiga bulan, kalau kau berhasil membuatnya menyatakan cinta dan bertekuk lutut di hadapanmu. Itu tantangannya. Bagaimana?"
Dahi Danzel berkerut, ia kembali menatap istrinya yang tampak sudah selesai menyiapkan makanan. Gadis dengan kecantikan yang alami, rambut hitam legam yang mengkilat, entah mengapa ia merasa tak tega kalau harus melakukan itu pada Mala. Apalagi ia tak berniat menghabiskan seumur hidupnya dengan wanita itu. Saat tujuan mereka sama sama terpenuhi, maka mereka akan berpisah sesuai kesepakatan awal.
"Ternyata Dein si penjahat wanita tak sanggup menaklukan satu gadis." Tertawa mengejek.
Lamunan Danzel terputus, ia menatap nyalang pada pria disebelahnya.
"Kau memang breng*sek! Aku terima tantanganmu. "
Lagi lagi Raja tertawa puas, ia merangkul pundak temannya tersebut.
"Good boy!. Kita tak boleh jatuh cinta pada wanita, mereka yang harus jatuh cinta pada kita. Wanita hanya mainan, Dein!"
Keduanya tertawa bersama. Tak sadar kalau ada orang lain yang mendengar pembicaraan dua pria itu.
****
Siang sudah berganti menjadi malam. Hawa di pinggiran air terjun menjadi semakin dingin daripada siang hari. Setelah puas bermain air siang tadi, kini mereka memutuskan menghabiskan malam dengan menyalakan api unggun seraya membakar sosis dan jagung yang sudah disiapkan. Aroma sosis menyeruak diindra penciuman Danzel, lelaki itu menyantap sosis di tangannya dengan lahap. Yang lain menikmati malam sambil bernyanyi dan bercanda ria menghabiskan malam.
"Dein, dimana Mala?" Pertanyaan Atlas membuat Danzel menaruh kembali sosis keduanya. Ia menoleh kearah para wanita dan baru sadar kalau istrinya tak ada di tempat.
"Girls, dimana Mala?"
"Aku tidak tahu."
"Mungkin di dalam tenda, katanya dia pusing tadi." Sahut Gisel seraya menggigit jagung di tangannya.
"Aku akan datang, dia pasti belum makan." Atlas yang sudah berdiri dicekal oleh Danzel. Lelaki itu menatap temannya curiga. Tanpa mengatakan apapun Danzel sontak beranjak dan menuju tenda istrinya. Seolah berkata, bahwa ia yang lebih pantas.
Tenda berwarna oranye terlihat gelap, sepertinya Mala mematikan lampu gantungnya. Perlahan Danzel masuk kedalam, ia menyalakan penerangan dari ponselnya.
"Mala, kamu di dalam?" Gadis itu hanya bergumam sebagai jawaban. Tangan Danzel menyentuh keningnya. Panas.
"Kamu demam?"
"Sepertinya, iya."
Dengan sigap lelaki itu meraih ransel dan merogoh isinya. Mengeluarkan kotak P3K dan mengambil obat demam.
"Ini, minum dulu." Mala menurut, ia memang harus minum obat agar besok bisa pulang. Jika tidak, kemungkinan mereka tidak jadi pulang lagi.
Malam itu, suaminya begitu perhatian. Mala memerhatikan tangan Danzel yang telaten memijat pelipisnya, gadis itu sadar ternyata Danzel punya sisi lain yang baik. Tapi ini aneh, kenapa belakangan ini lelaki menyebalkan itu bersikap sangat lembut padanya?
Selesai memijat kepala istrinya itu, Danzel lagi lagi ikut terlelap disampingnya. Ia mengeratkan pelukannya agar gadis itu tak kedinginan. Satu langkah sudah diambil untuk menjalankan misi. Misi membuat gadis sombong itu mencintainya seperti tantangan dari Raja.
****
Keesokan harinya, jemputan mereka akhirnya datang. Semua orang segera berkemas. Membongkar tenda, memasukan barang barang ke dalam ransel, dan tak lupa membersihkan bekas camp mereka.
"Pakai jaketku, udaranya sangat dingin." Danzel melepaskan jaket dan membalutkannya pada tubuh sang istri. Ia menggandeng tangan Mala menuju mobil jemputan. Perilaku dua orang itu tak lepas dari pandangan Dena. Perempuan itu menatap aneh.
"Mereka romantis sekali, Dein sama Mala pacaran ya?" Pertanyaan itu ditujukan untuk Gisel.
"Mungkin, kan mereka selalu tidur bareng." Menjawab santai seraya memakan rotinya.
"Hah? Serius?" Perempuan keturunan Chinese itu tak pernah memerhatikan kalau Mala tak pernah tidur setenda dengannya, sebab ia selalu tidur lebih awal. Dena pikir, Mala memang masuk ke tenda saat tengah malam.
Dalam perjalanan pulang, lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu tak henti bertanya tentang kondisinya. Mala sudah berkata kalau ia merasa lebih baik setelah meminum obat semalam. Tapi Danzel terus bertanya dan membuatnya risih.
"Aku nggak papa, kamu sudah bertanya sepuluh kali!" Serunya agak kesal.
"Maklum, orang yang lagi jatuh cinta memang begitu." Cakra yang duduk di belakang menyahut jenaka. Mengundang tawa semua orang yang ada didalam mobil.
"Aku peduli padamu." Danzel berbisik lembut di telinganya. Hati Mala berdesir. Apa yang dikatakan lelaki ini tadi?. Mala benar benar tak salah dengar?