Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pasien Baru
Pria yang mereka tangani saat ini adalah seseorang yang berusaha mati-matian untuk dihapus dari ingatannya. Namun kini, pria itu justru terbaring tak berdaya tepat di hadapan Aira.
Kemeja premium yang biasa ia kenakan telah robek dan basah oleh darah. Wajah pria dewasa nan tampan itu kini terlihat pucat pasi, matanya terpejam erat dengan napas yang terputus-putus.
Aira sama sekali tidak tahu bagaimana bisa seorang manajer eksekutif utama perusahaan properti raksasa, bisa terdampar di daerah pelosok di antara ladang sawit, hingga mengalami kecelakaan separah ini.
‘Apa yang terjadi? Kenapa Om Teddy bisa kecelakaan di tempat yang jauh dari asalnya ini?’ batin Aira menjerit panik.
"Suster Aira, kenapa bengong?"
Sebuah suara pria membuyarkan lamunan panjangnya terhadap pasien gawat darurat yang tak berdaya ini. Dengan cepat Aira menggelengkan kepala, mencoba mengembalikan fokusnya, dan segera membantu dokter untuk menangani tindakan darurat.
Meski ada rasa sakit yang kembali mencuat dari dasar dadanya, rasa sakit saat ingatan datang bahwa dirinya pernah hanya dijadikan sebagai pelarian dari wanita bernama Lova yang lebih memilih Dokter Arnold, Aira tahu ia harus tetap profesional. Ia harus mengesampingkan urusan pribadi di atas keselamatan nyawa pasien.
Meski tangannya sedikit bergetar, ia mulai membersihkan luka di kepala Teddy, memasang infus, dan membantu dokter memasang alat pemantau detak jantung.
"Bagaimana ini? Tadi pihak administrasi telah mencoba membuka ponsel pasien untuk menghubungi kerabatnya. Tetapi, ponselnya memiliki sistem pengamanan yang sangat ketat," terang Dokter Tari yang menangani Teddy saat itu.
Mendengar hal itu, Aira seketika teringat pada Om Jovan, yang merupakan bawahan dari pria ini.
"Biar saya saja yang mencoba menghubungi keluarganya, Dokter Tari."
Dokter Tari mengangguk, lalu kembali melanjutkan pemeriksaan pada kondisi Teddy yang masih kritis.
Sementara itu, Aira segera keluar dari ruang ICU untuk menghubungi adik dari ibunya tersebut. Tak lama kemudian, panggilan tersambung dengan nada suara yang terdengar sedikit ketus di seberang sana.
"Aira, kenapa lagi kamu menghubungi Om?"
Aira sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Setelah situasi di seberang sana mereda, barulah ia kembali menempelkan ponselnya. "Begini, Om. Aira boleh minta nomor telepon keluarga Om Teddy?"
"Kenapa lagi kau tanya-tanya keluarganya? Setelah kau membuat dia patah hati, Pak Teddy tidak henti-hentinya menyiksaku dengan pekerjaan-pekerjaan yang menggunung di kantor! Sekarang, kenapa malah menanyakan keluarganya lagi?" omel Om Jovan berapi-api.
"Soalnya Pak Teddy-nya Om itu baru saja mengalami kecelakaan parah. Ternyata dia masuk ke rumah sakit tempat aku bekerja. Kami dari pihak rumah sakit ingin menginformasikan ke pihak keluarga dan perusahaan mengenai keadaannya saat ini. Jika Om mempersulit kami, lebih baik Om sendiri sebagai perwakilan perusahaan yang memberikan informasi pada pihak terkait," ucap Aira cepat, lelah berdebat.
"Apa? Pak Teddy kecelakaan?! Beliau memang sedang keluar kota untuk menangani masalah pembebasan lahan untuk proyek berikutnya. Tapi... ternyata dia mengalami kecelakaan?" suara Om Jovan langsung berubah panik dan bergetar karena rasa segan.
"Benar, Om. Oleh karena itu, mohon kerja samanya ya, Om." Tanpa menunggu balasan, Aira langsung menutup panggilan sepihak, kembali teringat pada masa singkat yang telah berlalu di antara mereka.
.
.
.
Meski malam itu bukan jadwal piket gilirannya, Aira memilih untuk tetap tinggal dan menemani Teddy di sana. Aira merasa kasihan karena hingga larut malam, belum ada satu pun anggota keluarga Teddy yang hadir menemaninya. Di dalam ruang rawat inap yang sunyi, Aira menatap lekat wajah Teddy yang kini dipenuhi balutan perban.
‘Kenapa dari sekian banyak wilayah di dunia ini, kamu harus terdampar di sini?’ bisik Aira dalam hati, menatap lurus ke arah pria yang dulu sempat membuatnya salah paham dan baper tingkat dewa.
"Hoooaaamm ..." Mata Aira telah sangat berat. Berangkat kerja semenjak pagi, dan malam ini terpaksa menemani pasien yang tak memiliki keluarga yang menemani. Akhirnya, ia menyandarkan kepala sana.
Menjelang pagi, jemari kokoh Teddy yang terpasang alat pulse oximeter mulai bergerak perlahan. Pria itu melenguh pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka secara perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya terang lampu ruang ICU.
Pandangan Teddy yang tadinya kabur perlahan-lahan mulai menyatu dan fokus. Dan hal pertama yang ditangkap oleh manik matanya adalah sosok gadis dengan seragam perawat hijau toska, lengkap dengan jepitan stroberi yang masih setia terpasang di rambutnya, sedang duduk terlelap menyandarkan kepala di tepi ranjangnya.
Teddy tertegun. Ia mengira dirinya sedang bermimpi atau mungkin saat ini sudah berada di alam lain setelah kecelakaan hebat itu. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, namun bayangan di depannya justru terlihat semakin nyata.
"A-Aira?" suaranya terdengar sangat serak, nyaris habis di tenggorokan.
Dengan sisa tenaga yang ada, tangan kokoh Teddy bergerak berat dan bergetar, terangkat untuk mengusap lembut pipi gadis yang masih terlelap di sampingnya itu. Namun, detik berikutnya kekuatan Teddy langsung menguap begitu saja. Pria itu kembali terlelap, kehilangan kesadaran dengan posisi tangan yang masih menempel erat di pipi Aira.
* Bersambung *
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣