Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akademi Empat Jagat
Ratu Tatiana menyunggingkan senyum anggun yang jarang terlihat. "Tawaran yang sangat sulit untuk ditolak, Ratu Feng."
Melihat dua penguasa tertinggi dari Ras Peri dan Ras Siluman bersatu, nyali para kultivator Sekte Gagak Darah langsung menciut. Bahkan Jenderal Gorgon pun tahu, meskipun dia kuat, menghadapi dua kultivator puncak Ranah Jiwa Nascent sekaligus adalah tindakan bunuh diri.
"Bagus... Sangat bagus!" Gorgon mendesis kejam, sayap naga hitamnya mengepak keras, menciptakan badai angin yang menerbangkan debu-debu pertempuran. "Hari ini kalian boleh melindunginya. Tapi ingatlah, Bocah! Rahasiamu telah terbongkar. Seluruh Benua Barat tidak akan membiarkanmu tumbuh dewasa. Nikmati sisa hidupmu yang singkat!"
"Mundur!" teriak Gorgon pada pasukannya.
Dengan perintah itu, kapal-kapal layang Sekte Gagak Darah dan kereta perang Ras Iblis yang tidak hancur mulai bergerak mundur secara teratur, menghilang di balik awan hitam yang perlahan memudar seiring dengan perginya sang jenderal. Badai besar yang mengancam Hutan Abadi malam itu akhirnya mereda, meninggalkan lapangan perbatasan yang hancur berantakan.
Setelah memastikan musuh benar-benar pergi, Bai Feng membalikkan tubuhnya. Langkah kakinya yang anggun membawanya tepat di hadapan Lin Huang. Dia menatap lekat-lekat tato tiga sayap hitam di dahi Huang yang kini mulai memudar kembali ke dalam kulit.
"Anak muda, kau baru saja memulai perjalanan yang sangat berbahaya," ujar Bai Feng dengan suara melembut. "Kekuatan di dalam tubuhmu adalah berkah, sekaligus kutukan terbesar di dunia ini. Menetap di Hutan Abadi tidak akan membuatmu aman selamanya."
Huang menatap sepasang mata safir sang ratu siluman dengan kepala tegak. "Aku tahu. Aku tidak berniat bersembunyi di bawah perlindungan siapa pun."
"Jawaban yang bagus," Bai Feng tersenyum penuh arti. "Jika kau ingin benar-benar menguasai energi Asura dan menemukan cara untuk membuka potensi penuh tubuhmu tanpa menghancurkan meridian manusiamu, datanglah ke Akademi Empat Jagat di wilayah netral tengah benua. Di sana, kau akan menemukan jawaban... dan rintangan yang sesungguhnya."
Mendengar nama akademi legendaris itu, Elysa dan Mu terkesiap. Itu adalah tempat di mana para jenius paling berbakat dari empat ras—Manusia, Iblis, Siluman, dan Peri—berkumpul dan bertarung demi sumber daya kultivasi terbaik.
Huang mengepalkan tinjunya yang masih menyisakan kehangatan energi ungu. Tempat di mana seluruh ras berkumpul berarti tempat di mana dia bisa menguji batas kemampuannya. Kota kecil Keluarga Lin kini terasa seperti butiran debu di masa lalunya. Dunia yang jauh lebih luas, penuh dengan petualangan menegangkan dan bahaya yang hampir merenggut nyawa, kini telah resmi membuka pintunya untuk Lin Huang.
Rekomendasi dari Ratu Siluman Bai Feng seperti menyalakan api baru di dalam dada Lin Huang. Akademi Empat Jagat. Sebuah tempat di mana batas antar-ras dilebur, dan di mana hukum rimba kultivasi diterapkan dalam bentuknya yang paling murni sekaligus brutal.
Beberapa hari setelah pertempuran besar di perbatasan, suasana di Hutan Abadi perlahan kembali tenang.
Cedera Huang telah pulih sepenuhnya, dan berkat bimbingan singkat dari para tetua peri atas perintah Ratu Tatiana, Huang kini berhasil menstabilkan fluktuasi energi di Ranah Fondasi Jiwa Tingkat Awal miliknya. Energi ungu Asura di dalam tubuhnya tidak lagi bergejolak liar, melainkan mengalir patuh seperti sungai bawah tanah yang tenang namun menghanyutkan.
Hari keberangkatan pun tiba. Di gerbang perbatasan keemasan, Elysa dan Mu berdiri untuk melepas kepergian Huang.
"Kau benar-benar tidak mau kami antar sampai ke perbatasan wilayah netral, Lin Huang?" tanya Elysa, matanya memancarkan rasa khawatir yang urung disembunyikan.
Huang menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Perjalanan ke Akademi Empat Jagat adalah bagian dari latihanku, Putri Elysa. Jika aku selalu berjalan di bawah perlindungan sayap kaum peri, aku tidak akan pernah menjadi elang yang sesungguhnya."
Mu melangkah maju, lalu menepuk bahu Huang dengan tegas. Rasa tidak percaya dan remeh yang dulu ada di matanya kini telah digantikan oleh rasa hormat antar-pendekar. "Jaga dirimu, Bocah. Di wilayah netral, statusmu sebagai pembawa warisan Asura harus disembunyikan rapat-rapat. Gunakan teknik penyamaran energi yang diajarkan Ibu Ratu."
"Aku mengerti. Terima kasih atas segalanya, Senior Mu, Putri Elysa. Kita pasti akan bertemu lagi," ucap Huang mantap.
Dengan satu lambaian tangan terakhir, Huang membalikkan tubuhnya. Jubah hijau pemberian kaum peri kini telah digantikan dengan pakaian perjalanan kain hitam yang ringkas. Langkah kakinya mantap, meninggalkan keindahan Hutan Abadi menuju hamparan benua yang tak bertepi.
---
Perjalanan menuju wilayah netral memakan waktu tiga minggu penuh. Huang sengaja mengambil rute melewati pegunungan terjal dan hutan liar untuk menguji batas kekuatannya. Di sepanjang jalan, dia bertarung melawan siluman-siluman liar tanpa menggunakan senjata, murni mengandalkan ketahanan fisik dan ledakan tinju ungu Asuranya.
Setiap pertarungan membuatnya semakin menyatu dengan kekuatan barunya.
Hingga akhirnya, di ujung minggu ketiga, pemandangan menakjubkan membentang di depan matanya.
Di atas sebuah dataran tinggi yang dikelilingi oleh ngarai-ngarai raksasa tanpa dasar, berdiri sebuah kota akademi yang luar biasa megah. Bangunan-bangunannya terbuat dari batu putih kuno yang diukir dengan formasi magis tingkat tinggi, melayang menantang gravitasi. Itulah Akademi Empat Jagat.
Suasana di gerbang pendaftaran kota akademi itu sangat riuh. Ribuan pemuda berbakat dari berbagai belahan dunia mengantre. Huang berjalan di antara kerumunan, mengamati sekelilingnya dengan waspada.
Di sebelah kirinya, seorang pemuda dari Ras Iblis dengan sepasang tanduk kecil di dahi tampak memamerkan taringnya yang tajam. Di sebelah kanannya, seorang gadis dari Ras Siluman dengan telinga kucing yang bergerak-gerak sensitif sedang mengasah cakar peraknya. Ada juga para pangeran dan putri dari kekaisaran manusia yang datang dengan kereta kencana mewah, memandang remeh sekitar mereka.
"Hei! Jalan yang benar, Sampah!"
Sebuah dorongan kasar mendarat di bahu Huang. Huang menghentikan langkahnya, menoleh perlahan. Di belakangnya berdiri seorang pemuda manusia berpakaian jubah sutra biru mewah dengan sulaman lambang harimau di dadanya. Pemuda itu memiliki aura Ranah Fondasi Jiwa Tingkat Pertengahan, bertingkah angkuh dengan dikawal oleh dua orang pelayan kekar.
"Melihat pakaianmu yang lusuh, kau pasti berasal dari keluarga kelas dua di pinggiran benua," cibir pemuda berbaju biru itu dengan senyum merendahkan. "Tempat seperti Akademi Empat Jagat bukan tempat untuk rakyat jelata sepertimu. Menyingkir dari jalanku sebelum aku mematahkan kakimu!"
Huang menatap pemuda itu datar. Kilasan masa lalunya di Keluarga Lin, di mana dia selalu menjadi orang yang menyingkir dan menerima hinaan, mendadak berputar di kepalanya. Namun, Lin Huang yang sekarang bukan lagi anak cacat yang bisa ditindas.
"Jalan ini cukup luas untuk kita berdua," jawab Huang, suaranya tenang namun dingin, bergema dengan penekanan yang membuat senyum di wajah pemuda angkuh itu mendadak luntur.
"Berani kau menjawabku?!" Pemuda berbaju biru itu merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum. Dia menghentakkan kakinya, membiarkan Qi elemen anginnya meledak, bersiap untuk menghajar Huang tepat di depan gerbang akademi.
Ketegangan itu langsung menarik perhatian ratusan calon murid di sekitar mereka. Di tempat ini, konflik adalah hal biasa, dan penonton selalu menyukai pertunjukan darah.
Huang perlahan menurunkan posisi berdirinya, bersiap melepaskan sedikit energi fisiknya tanpa memicu aura Asura.
Petualangan barunya di Akademi Empat Jagat baru saja dimulai, dan tampaknya, dia harus mengukir kesan pertama dengan sepasang tinjunya sendiri.
"Anak tidak tahu diuntung! Aku, Lu Chen dari Kekaisaran Bayang Angin, akan mengajarimu cara bersikap di depan saudagar dan bangsawan!" pemuda berbaju biru itu berteriak murka.
WUSH!
Lu Chen melesat maju. Qi elemen angin di sekeliling tubuhnya membentuk pusaran tajam yang merobek jubah sutranya sendiri, menciptakan bilah-bilah angin tak kasat mata yang mengarah langsung ke dada Huang. Kecepatannya sebagai kultivator Ranah Fondasi Jiwa Tingkat Pertengahan memang tidak bisa diremehkan oleh ukuran manusia biasa.
Kerumunan di sekitar mereka menahan napas. Beberapa calon murid dari Ras Siluman dan Iblis bahkan menyeringai, bersiap melihat tubuh remaja manusia berpakaian lusuh itu tercabik-cabik.