NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 26 : Nadira Pergi dari Rumah

Keheningan yang menyelimuti kediaman Mahendra malam itu terasa berbeda. Bukan lagi ketenangan yang biasanya membawa kedamaian, melainkan kesunyian yang menekan, seolah dinding-dinding marmer yang megah itu sedang menahan napas, menyadari bahwa salah satu penghuninya baru saja melangkah keluar untuk selamanya.

Arka berdiri di ambang pintu kamar utamanya. Pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Opa Wijaya yang menghantam kesadarannya seperti badai. Ia memacu langkah, berniat menemui Nadira di paviliun belakang. Ia butuh bicara. Ia butuh untuk menatap mata wanita itu, menyampaikan permintaan maaf yang tulus, dan mungkin, untuk pertama kalinya, mencoba meruntuhkan dinding kontrak yang selama ini menjadi penghalang di antara mereka.

Namun, saat ia membuka pintu paviliun yang biasanya tertutup rapat itu, jantung Arka serasa berhenti berdetak.

Ruangan itu kosong. Bukan hanya kosong dari penghuni, tetapi kosong dari jejak kehidupan. Lemari kayu yang biasanya terisi rapi oleh pakaian-pakaian sederhana milik Nadira kini terbuka lebar dan melompong. Tidak ada lagi buku-buku catatan di atas meja belajar. Tidak ada lagi aroma teh melati samar yang biasa menguar dari arah dapur kecil paviliun itu.

Segalanya hilang. Bersih. Seolah-olah sosok bernama Nadira tidak pernah tinggal di sana.

Pandangan Arka tertuju pada nakas di samping tempat tidur. Di sana, tergeletak sebuah amplop putih bersih dengan namanya tertulis rapi dalam guratan tangan yang ia kenal dengan sangat baik. Jemari Arka gemetar saat meraih surat itu. Perasaan cemas yang tadinya hanya segelintir kini berubah menjadi ketakutan yang mencekik tenggorokan.

Arka,

Terima kasih atas segalanya. Terima kasih telah memberiku tempat berteduh selama beberapa bulan ini, dan terima kasih telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal sisi lain dari kehidupan. Saya tahu, keberadaan saya di kediaman Mahendra hanya menjadi duri dalam daging bagi keluarga besar Anda.

Saya sudah mendengar rumor mengenai tuduhan pencurian dokumen itu. Saya tidak akan membela diri lagi, karena saya tahu, jika kepercayaan belum tertanam sejak awal, penjelasan sedetail apa pun hanya akan terdengar seperti alasan. Namun, izinkan saya mengatakan ini sekali saja: saya tidak pernah mengambil apa pun yang bukan hak saya. Martabat adalah satu-satunya harta yang tersisa dari ayah saya, dan saya akan menjaganya hingga napas terakhir.

Saya memutuskan untuk pergi. Saya tidak ingin lagi menjadi alasan bagi Anda untuk terus berkonflik dengan Ibu Sarah atau menjadi beban di tengah kesibukan bisnis Anda. Anggap saja masa kontrak kita telah berakhir lebih awal.

Maafkan saya karena gagal menjadi istri yang baik bagi Anda. Arka, Anda adalah orang yang baik, hanya saja, dunia kita terlalu berbeda. Semoga Anda segera menemukan kebahagiaan yang Anda cari.

Nadira.

Arka meremas kertas itu hingga kusut di dalam genggamannya. Napasnya memburu, matanya memerah menatap kesunyian yang menyiksa di sekelilingnya. Untuk pertama kalinya, sang CEO yang dingin itu merasa kecil dan tak berdaya. Ia melangkah keluar dari paviliun, memanggil para penjaga rumah dengan suara yang hampir menyerupai raungan.

"Di mana dia? Sejak kapan dia pergi?!" seru Arka, kemarahannya bercampur dengan kepanikan yang luar biasa.

Para staf rumah tangga hanya bisa menunduk ketakutan. "Nyonya Nadira pergi sekitar dua jam yang lalu, Tuan. Beliau hanya membawa satu koper kecil dan tidak mengizinkan sopir mengantarnya. Beliau pergi menggunakan taksi daring."

Arka mematung. Nadira benar-benar pergi tanpa meminta sepeser pun uang, tanpa barang mewah yang pernah ia berikan, tanpa meninggalkan jejak ke mana ia akan pergi. Ia menghilang ke dalam keramaian kota dengan kesendirian yang selama ini ia pikul seorang diri.

Malam itu, Arka kembali ke ruang kerja Opa Wijaya dengan langkah gontai. Pria itu melempar surat tersebut ke atas meja sang kakek. Opa Wijaya membacanya dengan perlahan, wajahnya yang keriput tampak diselimuti kesedihan yang mendalam.

"Dia pergi, Opa. Dia pergi seolah-olah dia tidak pernah memiliki ikatan apa pun dengan rumah ini," gumam Arka, suaranya parau.

Opa Wijaya menatap cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia pergi karena dia merasa tidak pernah benar-benar diterima, Arka. Kamu memberinya atap, tapi kamu tidak memberinya perlindungan. Kamu memberinya status, tapi kamu tidak memberinya rasa aman. Apa yang kamu harapkan dari seseorang yang selama hidupnya hanya terbiasa berjuang sendiri?"

Arka terdiam. Ia teringat kembali hari-hari yang telah berlalu. Ia ingat bagaimana Nadira sering duduk diam di meja makan, menelan hinaan dari ibunya dengan senyum yang dipaksakan. Ia ingat bagaimana wanita itu tetap menyiapkan pakaian kerjanya setiap pagi meski ia sendiri tidak pernah mengucapkan terima kasih. Ia ingat aroma samar parfum bunga liar yang selalu tertinggal di mobilnya—aroma yang kini ia sadari sangat ia rindukan.

"Cari dia, Arka," perintah Opa Wijaya tegas. "Jika kamu membiarkan dia hilang begitu saja, kamu bukan hanya kehilangan seorang istri. Kamu sedang membuang satu-satunya orang yang memandangmu sebagai Arka, bukan sebagai aset Mahendra Group."

Arka tidak menjawab. Ia berbalik dan segera memerintahkan kepala keamanan untuk melacak keberadaan Nadira melalui seluruh akses kamera pengawas di kawasan kediaman mereka. Namun, hasilnya nihil. Nadira dengan cerdik menghilangkan jejaknya, seolah-olah ia telah mempersiapkan kepergian ini jauh-jauh hari.

Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Arka. Kantor yang biasanya menjadi tempat di mana ia merasa paling berkuasa, kini terasa menyesakkan. Setiap sudut kantor mengingatkannya pada kehadiran Nadira.

Ia teringat saat Nadira membawakan makan siang di kantor, saat istrinya itu dengan sabar menunggu di ruang tunggu sementara ia sibuk dengan rapat panjang. Ia teringat bagaimana wanita itu pernah memberinya saran yang sangat brilian saat Arka mengalami kebuntuan dalam negosiasi proyek—saran yang kala itu Arka abaikan hanya karena ego laki-lakinya yang enggan mendengarkan pendapat seorang "istri kontrak".

Arka mulai menyadari, bahwa selama ini, Nadira bukanlah beban. Nadira adalah jangkar. Nadira adalah orang yang membawa ketenangan di tengah kekacauan hidupnya.

Arka mulai turun tangan sendiri. Ia membatalkan hampir seluruh jadwal pertemuannya. Ia mendatangi tempat-tempat yang pernah disebutkan Opa Wijaya—bekas tempat kerja paruh waktu Nadira, kontrakan lama tempat ia tumbuh dewasa, hingga rumah sakit tempat ibunya dulu dirawat.

Di sana, Arka melihat sisi kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan. Ia bertemu dengan orang-orang yang dulu mengenal Nadira. Seorang pemilik toko kelontong bercerita dengan mata berkaca-kaca tentang gadis muda yang selalu bekerja dengan jujur meski perutnya kosong. Seorang perawat di rumah sakit mengenang sosok remaja yang rela tidak tidur selama tiga hari demi memastikan ibunya mendapatkan obat terbaik.

"Dia adalah malaikat, Pak Arka," ucap sang perawat saat Arka menyambangi rumah sakit itu. "Banyak orang di posisinya mungkin sudah memilih jalan pintas yang kotor. Tapi Nadira? Dia lebih memilih membiarkan dirinya menderita daripada harus mengkhianati harga dirinya."

Kata-kata itu menghantam Arka berkali-kali, membuat rasa penyesalannya semakin dalam. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia. Ia memiliki segalanya—kekayaan, kuasa, pengaruh—namun ia kehilangan permata yang paling berharga karena kesombongannya sendiri.

Di sebuah apartemen kecil yang jauh dari kemewahan, Nadira tengah duduk di depan meja kayu sederhana. Ia telah mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar di sebuah bimbingan belajar kecil. Hidupnya kembali ke pola lama: bangun pagi, bekerja keras, pulang dengan tubuh lelah, dan bersyukur atas setiap suap nasi yang ia nikmati.

Tidak ada lagi lampu kristal, tidak ada lagi perjamuan makan malam yang mencekik, dan tidak ada lagi tatapan tajam dari Ibu Sarah. Namun, ada satu hal yang berbeda. Hatinya merasa hampa.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Arka selalu muncul di ingatannya. Bukan Arka yang dingin dan angkuh, melainkan Arka yang ia lihat di hari-hari terakhir sebelum ia pergi—Arka yang tampak bingung dan sedikit rapuh.

Nadira memegang kalung sederhana yang sempat diberikan Arka di hari pernikahan mereka. Sebuah kalung yang ia pikir hanyalah bagian dari sandiwara. Namun kini, ia sadar bahwa ia telah menyimpan perasaan yang lebih dalam daripada yang ia akui pada dirinya sendiri.

"Arka, apa yang sedang kau lakukan sekarang?" bisiknya pelan ke arah jendela yang menatap kerlap-kerlip lampu kota.

Ia tidak tahu bahwa hanya beberapa kilometer dari tempatnya berada, Arka sedang tidak tidur, menatap layar monitor yang menampilkan data pencarian. Arka tidak menyerah. Ia telah mengerahkan seluruh jaringan intelijennya, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menemukan satu-satunya alasan yang membuatnya ingin kembali menjadi manusia yang lebih baik.

Arka kini bukan lagi pria yang sombong. Ia telah menanggalkan jabatan CEO-nya di dalam hatinya, berubah menjadi pria yang hanya ingin memohon maaf. Ia tahu, perjalanan untuk mendapatkan kembali hati Nadira tidak akan mudah. Topeng Selena yang mulai ia bongkar sedikit demi sedikit telah membuktikan bahwa selama ini Nadira adalah korban fitnah yang keji. Dan Arka bersumpah, ia akan membuat siapa pun yang menyakiti Nadira membayar harga yang setimpal.

Malam itu, di tengah kesunyian kota, dua orang yang terikat oleh takdir sedang menatap langit yang sama, memikirkan hal yang sama, namun terpisahkan oleh dinding penyesalan yang dibangun oleh kesalahan masa lalu.

Arka berdiri di balkon ruang kerjanya, menyesap kopi yang sudah dingin. Ia memandang ke arah cakrawala, berjanji pada dirinya sendiri bahwa fajar berikutnya akan membawa harapan baru. Ia akan menemukan Nadira. Ia tidak akan membiarkan istrinya hidup dalam pelarian.

Arka tahu, ini bukan akhir. Ini adalah awal dari pertempuran sesungguhnya—bukan pertempuran untuk memenangkan kontrak bisnis, melainkan pertempuran untuk memenangkan kembali hati seorang wanita yang martabatnya jauh lebih tinggi dari seluruh kekayaan yang ia miliki.

"Tunggu aku, Nadira," bisiknya pada angin malam yang berembus pelan. "Aku akan menjemputmu, bukan sebagai suamimu yang angkuh, tapi sebagai pria yang akhirnya belajar arti menghargai seseorang."

Di paviliun yang kini kosong, Arka menemukan secarik kertas kecil yang terselip di bawah meja. Sebuah coretan tangan Nadira yang tertinggal—mungkin sebuah catatan belanja atau pengingat jadwal les muridnya. Melihat tulisan itu, Arka merasakan sesak yang luar biasa. Ia merapikan catatan itu dan menyimpannya di dompetnya, tepat di dekat foto pernikahan mereka yang sempat ia remas.

Arka mematikan lampu ruang kerjanya. Hari ini ia gagal. Tapi besok, ia akan kembali bergerak. Ia telah mempekerjakan tim pencari terbaik, ia telah memutus hubungan dengan lingkaran orang-orang yang selama ini meracuni pikirannya, dan yang terpenting, ia telah mulai membersihkan hatinya sendiri.

Di sisi lain kota, Nadira tertidur dengan damai, meski di dalam tidurnya ia masih merindukan kehangatan yang sebenarnya belum pernah ia rasakan sepenuhnya. Takdir memang sedang bermain dengan mereka, namun Arka telah menetapkan tekad. Kepergian Nadira adalah titik balik yang mengubah dunianya. Dan bagi Arka, tidak ada jalan lain selain terus maju hingga ia berhasil berdiri di depan pintu apartemen Nadira, mengetuknya, dan berlutut untuk memohon kesempatan kedua yang ia tahu, ia tidak pantas mendapatkannya namun sangat ia inginkan.

Kehilangan Nadira adalah pelajaran terberat yang pernah diajarkan semesta kepada Arka. Dan kini, ia siap menanggung beban itu sebagai bekal untuk perubahan masa depannya. Kehampaan di rumah Mahendra bukan lagi sebuah tragedi, melainkan ruang kosong yang ia sediakan untuk menyambut kembali sang pemilik hati yang sebenarnya.

Malam itu, kota tampak begitu luas, namun bagi Arka, dunia hanya menyempit pada satu titik: di mana pun Nadira berada, itulah pusat dunianya sekarang. Ia akan terus berjalan, melewati malam yang pekat, menembus kabut penyesalan, hingga ia sampai di sana—tempat di mana ia bisa memperbaiki segalanya. Dan Arka tahu, ia akan menemukannya, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Karena bagi Arka Mahendra, mencintai Nadira bukan lagi soal kontrak atau kewajiban. Itu adalah tentang bertahan hidup. Tanpa Nadira, hidupnya memang mewah, namun tidak memiliki makna. Dan kini, ia telah menemukan makna itu dalam penyesalan yang membakar, yang justru menjadi bahan bakar bagi tekadnya untuk menjemput kembali cintanya.

Arka menatap bintang-bintang di atas sana. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih ringan. Ia telah mengakui kesalahannya, ia telah memaafkan masa lalunya, dan ia telah siap menghadapi masa depannya. Nadira telah pergi, tapi ia telah meninggalkan jejak di hati Arka—jejak yang akan menuntun pria itu pulang, ke mana pun Nadira melangkah.

Esok adalah hari baru. Dan Arka telah bersiap dengan segala kekuatan yang ia miliki. Bukan untuk menaklukkan pasar, bukan untuk memperluas imperium, tapi untuk menaklukkan hati seorang wanita yang martabatnya telah menampar kesombongannya dengan cara yang paling elegan. Arka Mahendra, sang CEO yang dulu angkuh, kini telah berubah menjadi pria yang hanya menginginkan satu hal: menjadi pelindung bagi satu-satunya wanita yang pernah ia sakiti, namun selalu ia cintai dalam diamnya yang panjang.

Kegelapan malam tidak lagi terasa menakutkan bagi Arka. Ia telah menemukan cahaya di dalam penyesalannya sendiri. Cahaya itu bernama Nadira. Dan ia tidak akan membiarkan cahaya itu padam begitu saja. Ia akan mengejarnya, membawanya kembali, dan membangun kembali apa yang pernah mereka hancurkan bersama.

Di kejauhan, lampu-lampu kota terus berkedip, saksi bisu dari janji seorang pria yang telah menemukan arah hidupnya kembali. Dan Nadira, di apartemen kecilnya, tidak menyadari bahwa ia telah mengubah hidup seseorang selamanya. Kepergiannya adalah sebuah awal, bukan akhir. Dan bagi mereka berdua, cerita ini masih jauh dari kata usai. Arka akan segera datang, membawa kebenaran, permintaan maaf, dan harapan yang sempat pupus. Karena cinta, sebagaimana yang akhirnya dipahami Arka, bukanlah soal kepemilikan, melainkan tentang pengabdian tanpa syarat.

Kini, Arka hanya perlu menunggu matahari terbit. Karena dengan cahaya matahari, ia akan memulai perburuan paling penting dalam hidupnya. Perburuan untuk menemukan Nadira, dan memenangkan hatinya untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini, Arka bersumpah, ia tidak akan membiarkannya pergi lagi, tidak untuk alasan apa pun, tidak dengan harga berapa pun. Karena baginya, Nadira adalah satu-satunya investasi yang tidak memiliki harga, karena nilainya tidak ternilai bagi jiwanya yang kini telah sepenuhnya bertekuk lutut.

Malam itu berlalu dengan Arka yang akhirnya bisa memejamkan mata, bukan dalam tidur yang gelisah, melainkan dalam ketenangan seseorang yang telah menemukan tujuannya. Besok, ia akan mulai melangkah. Dan langkah itu akan membawanya pulang, ke pelukan Nadira, tempat di mana ia seharusnya berada sejak lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!