NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ceo

Transmigrasi Ceo

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 ISTANA YANG MISKIN

Langkah kaki Anya yang terasa berat akhirnya terhenti tepat di depan gerbang kayu tua Istana Phoenix yang tampak kusam dan lapuk. Tempat yang dalam ingatan sejarah kolektif dan buku dongeng seharusnya menjadi kediaman termegah, paling mewah, dan penuh dengan pelayan bagi seorang permaisuri sah kekaisaran, kini justru menyajikan pemandangan yang sangat memprihatinkan bagi mata tajam seorang mantan CEO seperti Anya. Beberapa genteng di atas atap paviliun utama tampak bergeser berantakan, menciptakan celah-celah bocor yang besar jika hujan turun. Tiang-tiang penyangga kayu besar yang dulunya pasti dicat dengan warna merah megah, kini telah kusam, berlumut, dan mengelupas di sana-sini. Bahkan taman luas di halaman depan ditumbuhi oleh tanaman liar dan rumput tinggi yang tidak terawat sama sekali. Istana ini tidak ubahnya seperti sebuah penjara dingin bawah tanah yang sengaja diisolasi dari gemerlapnya dunia luar yang penuh kemewahan.

"Permaisuri! Ya Tuhan, Anda basah kuyup! Apa yang telah terjadi?!"

Sebuah jeritan panik yang sarat akan kekhawatiran mendalam tiba-tiba memecah kesunyian paviliun yang sepi itu. Seorang gadis muda berusia sekitar belasan tahun dengan pakaian pelayan tingkat rendah yang sudah pudar warnanya berlari dengan napas terengah-engah keluar dari dalam pintu utama istana. Di belakangnya, mengikuti dengan langkah yang agak pincang seorang pria paruh baya dengan pakaian kasim yang tampak lusuh dan penuh tambalan. Gadis muda itu adalah Qiu Er, dan si kasim paruh baya adalah Kasim Wang—dua satu-satunya manusia yang memilih untuk tetap setia berada di sisi Permaisuri Xian di saat puluhan pelayan, dayang, dan kasim lainnya melarikan diri mencari majikan baru yang lebih berkuasa dan kaya di istana belakang kekaisaran sejak setahun yang lalu.

Qiu Er dengan tangan yang gemetar hebat karena panik segera menyelimutkan sebuah jubah bulu domba yang tipis dan agak kasar ke atas bahu Anya yang kedinginan. Air mata gadis muda itu mengalir deras melihat kondisi fisik majikannya yang sangat mengenaskan dan pucat. "Apa yang terjadi di luar sana, Yang Mulia Permaisuri? Apakah Selir Agung Cui atau pelayan-pelayannya yang kurang ajar dari Istana Anggrek itu berbuat ulah jahat lagi kepada Anda di taman barat? Kenapa Anda bisa sampai basah kuyup dan gemetar seperti ini? Tolong katakan pada hamba!"

Anya tidak langsung menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari pelayan setianya itu. Dia membiarkan Qiu Er dan Kasim Wang menuntun langkah kakinya masuk ke dalam kamar tidur utama yang terasa sangat dingin karena tidak ada satu pun bara perapian yang menyala di sudut ruangan. Setelah mengganti pakaian sutra basahnya yang seberat batu dengan sebuah gaun katun polos berwarna putih yang kering namun agak kasar, Anya duduk dengan tenang di atas sebuah kursi kayu yang berada di tengah ruangan. Sambil mengeringkan rambut hitam panjangnya yang basah dengan selembar kain kering, sepasang mata tajam Anya perlahan beralih menatap ke arah Kasim Wang yang sejak tadi berdiri menunduk penuh hormat di sudut ruangan yang gelap.

"Wang, ambil dan bawa seluruh buku kas keuangan, catatan inventaris barang, serta laporan resmi distribusi logistik bulanan Istana Phoenix ke hadapanku sekarang juga tanpa terkecuali," perintah Anya dengan nada suara yang sangat tenang, datar, namun memiliki penekanan mutlak yang tidak menerima bantahan atau penundaan sedikit pun.

Kasim Wang seketika tertegun di tempatnya berdiri. Kepalanya yang biasanya selalu menunduk dalam kini terangkat sedikit, menatap wajah pucat Anya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. Selama bertahun-tahun melayani dan menjaga Permaisuri Xian yang asli, wanita itu tidak pernah sekalipun peduli, mengerti, atau mau tahu tentang masalah keuangan, angka, ataupun urusan distribusi logistik istana. Xian yang dulu selalu menerima apa pun barang sisa yang diberikan oleh Paviliun Logistik Pusat tanpa pernah memprotes satu patah kata pun, meskipun jatah makanan dan pakaian mereka sering kali tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Namun melihat sorot mata Anya saat ini yang begitu dingin, tajam, dan penuh ketegasan seorang penguasa, Kasim Wang tidak berani melontarkan pertanyaan apa pun. Dia membungkuk dalam sembilan puluh derajat lalu segera bergegas keluar ruangan untuk mengambil dokumen yang diminta oleh sang Permaisuri.

Tidak butuh waktu lama bagi Kasim Wang untuk kembali ke dalam kamar tidur utama sambil membawa tumpukan gulungan kertas surat yang agak berdebu dan sebuah buku kas kecil bersampul kulit yang tampak sangat tipis. Buku kas itu begitu tipis, sebuah pertanda nyata bahwa perputaran aset finansial dan arus barang di istana terasing ini hampir tidak ada atau sengaja dihentikan oleh pihak luar.

Anya mengambil buku kas tipis tersebut dari tangan Kasim Wang, membukanya perlahan dengan jari-jemarinya yang lentik, dan mulai meneliti setiap baris angka serta karakter tulisan kuno yang tertulis di sana dengan fokus yang penuh. Sebagai seorang mantan CEO wanita jenius di dunia modern yang mengendalikan seluruh sistem rantai pasok (supply chain) dan investasi korporasi logistik bernilai triliunan rupiah, membaca laporan akuntansi amatir dan kuno seperti ini rasanya seperti membaca buku cerita anak-anak TK. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi mata tajam Anya untuk menemukan puluhan kejanggalan sistematis, potongan anggaran, dan manipulasi data yang sangat fatal serta terstruktur.

"Jatah pengiriman kain sutra berkualitas tinggi untuk persiapan musim gugur dan dingin ini dipotong hingga delapan puluh persen dari anggaran resmi kekaisaran. Pasokan arang premium untuk menghangatkan kamar tidur di musim dingin mendatang dikurangi hingga setengahnya, dan bahan makanan mentah yang dikirim ke dapur Istana Phoenix setiap harinya sebagian besar hanyalah sisa sayuran yang sudah layu serta daging sapi kualitas terendah yang hampir membusuk," urai Anya secara detail, membacakan data di buku tersebut dengan suara datar yang entah mengapa terdengar sangat menyeramkan di dalam kamar yang sunyi itu. Dia meletakkan buku kas itu kembali ke atas meja dengan satu ketukan pelan namun tegas. "Katakan padaku dengan jujur, Wang. Ke mana perginya sisa anggaran operasional bulanan sebesar ratusan tian perak yang seharusnya menjadi hak sah dari istana permaisuri ini?"

Kasim Wang langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai kayu yang dingin, tubuh paruh bayanya bergetar hebat karena ketakutan. "Mohon ampun yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Permaisuri! Hamba bukannya tidak berbuat apa-apa. Hamba sudah berulang kali setiap awal bulan mendatangi Paviliun Logistik Pusat untuk mempertanyakan ketidakadilan hal ini. Namun... Kepala Paviliun Logistik, Kasim Sun, selalu memerintahkan pengawalnya untuk mengusir dan memukuli hamba keluar dari sana. Kasim Sun adalah sepupu kandung dari klan Selir Agung Cui. Setiap kali hamba memprotes potongan jatah kita, mereka selalu berdalih dengan alasan klasik bahwa kas negara sedang menipis dan dialokasikan sepenuhnya untuk membiayai pasukan militer di perbatasan utara."

"Menipis karena membiayai perang di perbatasan utara?" Anya terkekeh sinis, sebuah suara tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan dan dingin. "Dalam memori ingatan yang kuingat dengan jelas, Baginda Kaisar Liang baru saja memenangkan pertempuran besar melawan suku nomaden di perbatasan utara dua bulan yang lalu. Pasukan musuh telah menyerah kalah secara total dan mengirimkan ratusan peti emas murni, ribuan lembar kulit binatang berharga, serta kuda-kuda perang terbaik sebagai bentuk upeti tahunan kepada kerajaan kita. Kas kekaisaran saat ini justru sedang berada di puncak kejayaannya. Menipis dari mana jika bukan karena dikorupsi?"

Anya berdiri dari kursi kayunya perlahan, menutup buku kas tipis itu dengan satu dentuman telapak tangan yang cukup keras hingga menimbulkan suara berdebum di dalam kamar yang sepi. Aura kepemimpinannya yang sangat dominan dan intimidatif membuat Kasim Wang dan Qiu Er menahan napas bersamaan karena merasa tertekan oleh energi yang kuat.

"Mereka tidak sedang kekurangan uang atau barang di gudang pusat, Wang. Mereka hanya memanfaatkan sifat lemah, penakut, dan kebodohan dari pemilik tubuh ini sebelumnya untuk menggemukkan kantong dompet mereka sendiri tanpa rasa takut. Kasim Sun sengaja memotong hak resmiku untuk menyenangkan hati Selir Agung Cui dan memperkaya klan keluarga mereka sendiri, sementara aku dibiarkan kelaparan dan mati kedinginan secara perlahan di istana tua ini," ucap Anya dengan sepasang mata yang berkilat tajam penuh dengan rencana pembalasan.

Anya melangkah mendekati lemari pakaian kayu yang sudah tua, membuka pintunya, lalu mengambil sebuah jubah luar berwarna merah marun dengan sulaman benang perak berbentuk burung Phoenix yang tampak paling layak dan megah di antara semua pakaian usang lainnya. Dia memakainya ke atas tubuhnya dengan gerakan yang sangat anggun, tegas, dan penuh wibawa seorang penguasa sejati.

"Qiu Er, Kasim Wang. Mulai detik ini dan seterusnya, kalian berdua tidak perlu lagi menundukkan kepala terlalu dalam atau memohon belas kasihan kosong kepada siapa pun di istana belakang ini. Tegakkan punggung kalian tinggi-tinggi," ujar Anya sambil menatap tajam kedua pelayan setianya yang tampak tertegun. "Ikut aku sekarang juga. Kita akan pergi mendatangi Paviliun Logistik Pusat saat ini juga dan mengambil kembali apa yang secara sah menjadi milik kita dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka."

1
evi carolin
sat set libas semua ,basmi abis ampe keturunan dan nol ga punya harta jabatan dan gelar 😱
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
awal langsung panas... semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: suka kok tapi klo bisa Jangan terus sebut dunia ku... biar ngga bocor klo Permaisuri nya bukan asli kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!