Kirania, gadis berusia 23 tahun, sedang merasakan kebahagiaan di mana dia akan menjadi seorang pengantin. menikah dengan seorang pemuda tampan dari keluarga wijaya grub. salah satu keluarga terkaya di indonesia. dia bernama Devano wijaya.
Namun kebagian nya hancur saat Kirania tahu kalo Devano menikahinya nya hanya untuk segera mendapatkan hak waris dari orang tuanya, dan lebih parah lagi, Devano ternyata memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Kirania yang tau hal itu masih berusaha untuk menerima semua itu, bukan harta yang ia kejar, tapi Devano adalah teman masa kecil nya yang lama pergi. Di tambahan Kirania sangat mencintai Devano.
📿📿📿📿
Seperti apa perjuangan kirania merebut hati suami nya dan bagai mana perjuangan nya untuk tetap bertahan dengan Devano yang memutuskan untuk menikah kembali dengan kekasih nya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Disaat Nara kembali merencanakan hal buruk untuk Kirania. di ruangan lain Devano tengah berbincang dengan Juw di ruang kerja Devano.
"Jadi ini semua jebakan? dan Kirania tidak pernah selingkuh dengan Dokter itu?" Tanya Devano mengulang penjelas Juw tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kirania dan Dokter Julian siang itu.
"Benar Tuan muda, hasil rekaman Cctv memperlihatkan kalau mobil yang biasa dipakai Nyonya dibawa oleh seorang pria, dan saya tahu siapa dia, dan hasil juga tidak memperlihat Nyonya datang kesana, hanya ada peri misterius yang memapah seorang wanita dan tidak berselang lama Dokter Julian datang ke hotel itu dan mencari keberadan Nyonya." Juw menjelaskan semua yang ia ketahui.
"Apa hububgan nya dengan jebakan yang di lakukaan para pejahat itu dengan Dokter Itu?, Apa dokter itu yang menyuruh mereka?"
"Mereka bilang yang menyuruh mereka seorang wanita, bukan pria."
"Wanita?, siapa wanita itu?"
"Mereka juga tidak tahu, mereka hanya menerima perintah melalui telepon dan akan menerimah upah melalui rekening saat semua beres."
"Kamu lacak nomor rekening itu dan cari dia sampai dapat, aku ingin tahu apa yang sedang direncanakan!"
"Saya sudah melacak nomor ponsel itu, dan nomor itu berasal dari salah satu penghuni rumah ini, dan soal rekening, saya ragu anda akan percaya atau tidak."
" Katkan saja, siapa?!," tegas Devano,mendesak.
" Nyonya muda, Nara." jelas Juw.
" Nara?, Nara kamu bilang?, mana mungkin Nara! dia wanita baik-baik dan dari keluarga terhormat, mana mungkin dia melakukan ini."
"Maaf Tuan, tapi ini kenyataannya, dan setelah saya tahu kalau nyonya Nara pelakunya, saya langsung mencari tahu seluk beluk sia Nyonya Nara,"
"Siapa dia?," tanya Devano lagi.
"Memang benar Nyonya berasal dari keluarga kaya dan terpandang, tapi itu dulu sebelum keluarga nya bangkruat, dan ibu nya meninggal karena terkena kanker darah,"
" Kanker Dara?," ulang Devano.
"Iya, ibu dari nyonya Nara mengidap kanker Darah dan meninggal di saat kanker itu sudah mencapai stadium lanjut, seperti yang dialami Nyonya Nara sekarang, dan menurut pengetahuan saya, orang yang berada di tahap seperti itu akan sulit diobati dan keadaanya juga akan sangat lemah, tidak akan terlihat sehat bahkan tidak akan bisa pergi kemanapun," jelas Juw.
"Maksud kamu?,"
"Maksud saya, saya mencurigai Nyonya Nara tidak sakit, dan kecurigaanku benar, Nyonya tidak sakit dan dia sehat, Nyonya hanya tidak bisa hamil karena dia sudah tidak memiliki rahim akibat terjadi infeksi saat aborsi."
"Aborsi?!" Devano semakin terkejut dengan penjelasan Juw yang sulit di percaya.
"Iya, nyonya Nara pernah hamil, dan di memutuskan untuk mengaborsi kandungan nya."
"Hamil?!, Nara hamil?, Dari mana kamu tahu hal itu semua!," tegas Devano, mencengkr kerah kemeja Juw dengan kuat dan menatap Juw dengan tajam.
"Sejak kapan saya pernah memberi informasi yang salah, apapun yang saya laporkan pasti saya sudah mencari kebenarannya terlebih dahulu." jelas Juw dengan santai, tidak nampak rasa takut di wajah Juw.
Mendengar hal itu perlahan Devano melonggarkan cengkraman nya dan melepaskan nya." Kalau begitu panggil Nara sekranga!" tegas Devano.
"Baik," Juw meraih ponsel nya dan menghubungi kepala pelayan.
"Panggil Nyonya Nara ke ruang kerja Tuanmuda," perintah Juw. bicara pada kepala pelayan melalui panggilan telepon.
Tak berselang lama, kepala pelayan datang seorang diri.
"Kenapa kamu yang datang," tanya Devano saat melihat kepala pelayan itu di ruang kerja nya
"Maaf Tuan Muda, Tuan Juw, Nyonya Nara tidak ada di kamar nya, dan para pelayan mengatakan kalau Nyonya pergi seorang diri tanpa supir."
" Pergi!?, sendri?!" ulang Devano dengan tegas.
"Benara Tuan,"
" Cari dia sampai dapat dan bawa ke hadapan ku!" tehas Devano kembali memberi perintah.
"Baik Tuan," jawab Juw, lalu pergi meninggalkan ruang kerja Devano begitu juga dengan Kepala pelayan.
Di saat Devano dan Juw tengah telibat perbincangan, diam-diam Nara pergi dari Rumah secara. ia pergi untuk mencari keberada Kirania dan akan mengeksekusi Kirania sendiri saat orang suruhannya tidak bisa diandalkan.
"Aku tidak mau embak Kiran kembali dengan Devan, Devan hanya milikku," ucap Nara. Yang kini tengah mengendari mobil, dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju lokasi di mana Kirani berada.
"Aku tidak mau hidup miskin, dan Cuman Devan yang bisa aku andalkan." ucap nya lagi.
Drett
Drett
Drett
Panggilan masuk di ponsel Nara, tertulis nama Devan di layar ponsel di layar benda pipih berwarna gold itu.
Nara yang fokus mengemudi tak mendengar ponselnya bergetar.
Sedangkan Devan sangat kesal Karena Nara tak kunjung menerima panggilan telfon nya.
Krek.
Begitu kuatnya Devan mengengam ponselnya hingga ponsenya retak di bagian layar.
Sedangkan Kirania dan Indira masih dalam perjalan menuju bandara yang mana di sana dokter Julian sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Kamu yakin mau pergi?," tanya Indira memastikan.
" Aku juga tidak tahu, aku masih berat meninggalkan Mas Devan, dan membuatnya jauh dengan anak nya nanti." keraguan tampak jeas di wajah Kirania.
"Nia!, untuk apa kamu masih memikirkan Devan?!, di tidak pantas untuk kamu, lupakan dia!" Indira kesal dengan Kirania yang masih saja peduli dan mengkhawatirkan keadaan sahabanya dan sekaligus suami dari sahabatnya.
"Ini semua salah ku, kalau saja aku tidak mempertemukan kamu dengan nya, semua ini tidak akan terjadi." Insira menyalahkan dirinya akan apa yang terjadi dengan sahabatnya yang kini berada dalam satu mobil dengan nya.
" Dira, ini bukan salah kamu, ini cuma kesalah pahaman saja."
" Nia.. Kamu… haissss, aku tidak tahu harus berkata lagi " Indira tampak kesal. menggelengkan kepala nya. "Aku tidak tahu terbuat dari apa hati kamu itu,"
"Suatu saat kamu kan mengerti." jelas Kirania lagi.
"Ya aku kan mengerti, tapi tetap saja aku tak mau menderita seperti jalan yang kamu lewati selama ini." jawab indira ketua,ia semakin kesal dengan jalan pikri sang sahabat.
Tin!!
Tin!!
Tin!!
Suara klakson dari pengendar mobi lain.
Indira menoleh dan membuka kaca mobil nya. begitu juga dengan Kirania. kirania memperhatikan salah satu pria yang ada di dalam mobil itu..
"Dira, sepertinya aku pernah melihat orang itu," mencoba untuk mengingat.
"Dira!, tutup kaca mobimu, cepat!," pinta Kirania.
"Ada apa?!," menutup kaca mobil.
"Lebih cepat lagi, aku tahu siapa mereka, mereka yang menculik ku waktu itu," jelas Kirania.
"Kamu yakin?!,"
"Aku yakin! mereka orang nya."
"Baiklah!"
wussssss..
Indira mempercepat laju mobilnya.
Wussss
Mobil para penjahat itu tak kalah cepat, mengejar mobil Indira dan berhasil mendahului mobil Indira dan dan menghadang jalan yang akan dilalui mobil Indira.
" Bagaimana ini?, mereka pasti akan menculik ku lagi," Kirania ketakutan saat melihat orang-orang itu menghampiri mereka.
" Kiran, kamu tenang dulu, jangan panik, kita cari jalan keluar." Indira memgabil ponselnya dan menghubungi Julian.
Dok
Dok
Dok
Ketukan benda tumpul mereka ketukan di kaca mobil Indira.
keduanya semakin panik.
"Cepat keluar kalian!," perintah salah satu dari mereka
" Cepat keluar!, sebelum kita paksa kalian keluar!" perintah yang lain.
"Kirania, bagai mana ini?," keduanya semakin panik.
Halo.
Holo.
Suara Julian terdegar dari ponsel Indira.
" Julian!," Kirania mendegar suara Julian.
"Juliam To-
Prang!!
"Aaaaa!"
salfok sama boneka kudanya kirania mirip kudanya J-HOPE BTS