Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Di Paviliun Qing kecil kami dulu ada seorang gadis bernama Hong Xiu, dia sudah di beli oleh seseorang." Zhuhua tersenyum. Matanya terlahir begitu mempesona, senyum itu membuat wajahnya semakin cerah dan memikat. Hanya saja... Hal itu membuat kaki Lin Xiang hampir lemas.
Tepat saat Lin Xiang nyaris terjatuh, sebuah bola lumpur kecil melesat dengan sangat akurat mengenai pergelangan kaki Zhuhua. Zhuhua meringis kesakitan dan segera berjongkok.
Ia menoleh mencari pelakunya. Ia melihat dua anak yang tadi sedang tidur kini sudah duduk, menatapnya lurus-lurus. Jiang Ting memegang ketepel kecil yang agak kasar, sementara A Bao duduk di sampingnya, dengan semangat mengumpulkan lumpur yang digali kakak laki-lakinya menjadi bola-bola.
Saat Wang chunniang keluar, ia melihat putri kesayangannya itu belepotan lumpur, kedua tangannya kotor, wajahnya juga terkena lumpur. Di tangannya, ia memegang segumpal lumpur besar.
"Zhu Hua, kenapa kau datang?" Wang chunniang segera membantu Lin Xiang berdiri dan menyuruhnya masuk ke kamar, lalu ia meminta Zhu Hua duduk di hadapannya.
"A Ting, ajak A Bao mencuci muka. Dia kotor sekali," Wang chunniang tersenyum pada Zhu Hua namun ia terlebih dahulu memanggil Jiang Ting.
Jiang Ting melirik Zhu Hua yang berpakaian secerah kupu-kupu. Ia tahu bibi Zhao sengaja menyuruhnya pergi. Setelah berfikir sebentar, ia menarik A Bao untuk mencuci tangan.
"Tidak mau, aku tidak mau pergi! Bola lumpur ku belum selesai!" A Bao menolak beranjak. Ia bergumam sendiri, "aku mau membuat semua lumpur ini jadi bola-bola. Kata kakak, kalau melakukan sesuatu, kita harus... Harus tekun."
Jiang Ting menariknya beberapa kali, tetapi A Bao tidak bergerak. Karena Wang chunniang dan Zhu Hua sudah mulai berbicara, ia pun masuk ke kamar untuk mencari Zhao Heng, sebab Zhao Xuan sedang membaca buku di kamar timur.
Zhao Heng perlahan berjalan ke sisi A Bao. Saat ia berjalan mendekat, sudut mata Zhu Hua terus mengawasinya. Sosok Zhao Heng seolah memiliki daya pikat yang terus menarik perhatiannya.
" Ayah," melihat Zhao Heng datang, A Bao memanyunkan bibir, suaranya pelan, "lumpur ku tidak habis-habis. Ayah bantu aku, ya."
Zhao Heng meraba-raba ke samping A Bao. Ia mengira Zhao Xuan hanya menggali sedikit lumpur untuk A Bao, tetapi begitu tangannya menyentuh....
Astaga, tenyata Zhao Xuan menggunakan baskom porselen besar untuk menampung lumpur A Bao. dilihat dari beratnya, butuh waktu setidaknya setengah jam untuk membuat semuanya menjadi bola.
Sudut mata Zhu Hua terus memperhatikan Zhao Heng. Ia melihat dengan jelas bagaimana Zhao Heng duduk si samping A Bao. Kedua tangannya yang buku-bukunya menonjol mulai membantu A Bao menggumpalkan bola-bola lumpur.
Sambil menggupal, A Bao juga memberi instruksi kepada Zhao Heng. Suaranya yang manja berkata, "ayah, punya ayah kekecilan, harus lebih besar lagi."
"Kata kakak, kalau sudah selesai harus di jemur, supaya saat di lempar tenaganya kuat," celoteh A Bao tanpa henti.
Melihat Mata Zhu Hua hampir menempel pada Zhao Heng, Wang chunniang mengetuk meja batu kecil di depannya, lalu tersenyum dingin, "apa suamiku terlihat sangat tampan?"
Zhu Hua tertegun sejenak, lalu tertawa, "memang jarang ada pria setampan dia."
"Ada urusan apa kau datang hari ini? Kau selalu mendadak seperti ini, itu kurang sopan," Wang chunniang menyandarkan tubuhnya ke belakang. Sepasang matanya yang tajam dan cerah menatap lurus ke arah Zhu Hua. Akhirnya, Zhu Hua lah yang pertama kali mengalah.
" Aku datang hari ini hanya untuk satu hal, aku ingin membawa Jiang Ting pergi," kata Zhu Hua tanpa basa basi.
Jiang Ting yang sedari tadi membantu A Bao membuat bola lumpur, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menoleh menatap Zhu Hua.
Tepat pada saat itu, terdengar suara dingin di sampingnya, "lanjutkan membuat bola."
Jiang Ting mendongak menatap Zhao Heng.
Zhao Heng saat ini sepenuhnya mengandalkan pendengarannya untuk menilai situasi. Mendengar Jiang Ting berhenti membuat bola lumpur, dan mengingat ucapan Zhu Hua tadi, ia tahu pikiran Jiang Ting sudah melayang.
"Mulai sekarang, kamu harus belajar mengendalikan emosimu," Zhao Heng memberikan wejangan kepada Jiang Ting seperti seorang guru.
Saat ini, Jiang Ting sama sekali tidak bisa membayangkan betapa besar perubahan yang akan di bawa oleh didikan dari Zhao Heng ini di masa depannya.
"Ayah, aku juga mau belajar!" A Bao tidak mengerti apa itu mengendalikan emosi. Ia hanya merasa apa pun yang dipelajari kakak kecil, ia juga harus mempelajarinya.
"Kamu tidak perlu belajar. Lagi pula kamu tidak akan bisa menguasainya." jawab Zhao Heng dengan nada jengkel.
"Ayah... Ayah meremehkan aku!" A Bao marah. Ia menggumpalkan sebuah bola lumpur yang sangat besar, lalu pura-pura akan melemparkannya ke mulut Zhao Heng.
Jiang Ting segera menarik tangan A Bao.
Wajah Wang chunniang tidak menunjukkan ekspresi apa pun, bahkan ia tersenyum, "Membawa A Ting pergi? Mau kau bawa dia kemana? Kau bawa dia ke rumah bordilmu?"
Nyonya Zhang sudah meminta adik iparnya untuk mencari tahu, dan mendapatkan kabar bahwa Zhu Hua membuka rumah bordil di kota kabupaten. namanya Paviliun Qing kecil, yang khusus melayani bisnis pelacuran. Ia memang menghasilkan banyak uang, tetapi juga menimbulkan banyak kejahatan. Orang-orang desa Taohua sudah lama tidak mau berurusan dengannya.
"Ayah, Yaozi (rumah bordil) itu apa?" A Bao memajukan telinga kecilnya dengan rasa ingin tahu.
Zhao Heng pura-pura tidak mendengar.
A Bao meletakkan bola lumpurnya, lalu berdiri sempoyongan. Ia mendekati telinga Zhao Heng dan bertanya dengan suara keras, "Ayah Yaozi itu apa?"
Zhao Heng tetap tidak menjawab, meskipun telinganya hampir tuli karena suara A Bao.
Karena suara A Bao yang terlalu keras, Zhu Hua juga mendengarnya. Ia tertawa genit, lalu berkata, "A Bao kecil, Yaozi itu adalah tempat pria... Uhuk..."
Belum selesai Zhu Hua bicara, dua bola lumpur mendarat dengan tepat di mulut Zhu Hua.
Zhu Hua bahkan tidak sempat beraksi. Setelah merasakan bau tanah yang menyengat, ia buru-buru meludahkan isinya sambil berteriak Peh! Peh! Peh! Ia berteriak dengan jijik. "kenapa ada bau minyak juga?"
"Karena lumpurnya kering sekali, jadi kakak kasih sedikit minyak. Kata kakak.... Katanya biar gampang di gumpal," jelas A Bao dengan suara manja dan lambat.
Zhu Hua berdiri dengan suara Bum! Ia mengacungkan tangan menunjuk ke arah Zhao Heng dan A Bao.
Sapu tangan di tangannya hampir robek karena terus-menerus di pakai mengusap mulut.
"Ayah, Aku takut." A Bao segera bersembunyi di balik Zhao Heng saat melihat Zhu Hua yang tampak seperti ingin memangsa orang.
"Dasar kau pria besar! Kau berani menyerang wanita lemah sepertiku? Kau benar-benar orang kasar!" Zhu Hua sangat marah. Padahal hari ini ia baru mengganti pakaiannya, Peh! Peh! Peh!
" Siapa bilang pria tidak boleh menyerang wanita?" Zhao Heng terus menggumpalkan bola lumpur sambil berkata dengan nada mengejek, "Aku dengar mulutmu kotor, jadi aku turun tangan mendidik mu sedikit."
"Kau.." Zhu Hua menunjuk Zhao Heng, saking marahnya ia tidak bisa berkata-kata. Tapi saat ia menoleh dan melihat Lin Xiang yang berdiri di dalam kamar mengamati ke luar, ia tiba-tiba menyeringai.
Tunggu saja pembalasanku.