Novel ini adalah lanjutkan dari novel ISTRI KECIL SANG PEWARIS. Sengaja di pisah karena novel ini di khususkan untuk kebahagiaan rumah tangga Gabrielle dan Elea setelah semua masalah hidup terselesaikan. Di novel ini Elea akan memulai hidup barunya sebagai seorang mahasiswi. Dia juga akan belajar menjadi seorang model dan juga desainer dari Grandma Clarissa. Juga akan mengisahkan tentang usaha Gabrielle dan Elea dalam memiliki momongan hingga pada akhirnya mereka di beri tiga pewaris seperti yang pernah di lihat Elea dulu.
Novel ini mengandung banyak keuwuan, kebucinan dan juga kelucuan. Harap kepada para pembaca untuk tidak muntah paku ketika membaca bagian-bagian berbahaya tersebut.
Terima kasih dan selamat tersesat dalam dunia halu bersama penulisnya. Salam kiss kiss onlen dari emak termanis se-Mangatoon 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari Kecil
Gabrielle berjalan mondar-mandir di depan pintu masuk perusahaan dengan raut wajah yang tidak sabaran. Sesekali dia berhenti kemudian melihat ke arah jalan, menunggu kedatangan istri kesayangannya yang sedang dalam perjalanan kemari.
"Kenapa mereka lama sekali, Res?" tanya Gabrielle.
"Tolong sabar sebentar, Tuan Muda. Mungkin mereka sedang terjebak macet," jawab Ares.
Ya Tuhan Tuan Muda, belum ada sepuluh menit sejak Nyonya Elea memberi kabar akan datang ke perusahaan dan anda sudah bertanya seperti ini lebih dari lima belas kali. Apakah anda tidak berpikir kalau jarak dari kampus ke perusahaan itu cukup jauh?
Gabrielle langsung memicingkan mata ke arah Ares begitu mendengar isi pikirannya. Ingin marah, tapi percuma karena apa yang di katakan oleh Ares memang benar. Sebenarnya sekarang Gabrielle ada pekerjaan di luar kantor. Tapi dia langsung putar balik ke perusahaan saat Elea menelepon dan mengatakan kalau sedang dalam perjalanan kemari. Dia suami yang baik bukan?
Setelah menunggu hampir setengah jam, mobil yang di nanti-nantikan oleh Gabrielle akhirnya muncul juga. Dua tanduk langsung keluar di kepalanya ketika melihat penjaga yang ingin membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Jangan melewati batasanmu!" tegur Gabrielle dongkol. "Dia istriku. Kenapa kau repot-repot ingin membukakan pintu mobil di saat suaminya ada di sini? Dasar genit. Awas!"
Penjaga yang baru saja di tegur oleh Gabrielle nampak terdiam bingung. Dia adalah pegawai baru, jadi belum mengerti tentang sekte posesif yang di anut oleh tuannya ini. Ares yang melihat hal itupun segera memberi pengertian kalau tidak ada satupun pria yang boleh mendekati nyonya mereka. Juga memberitahukan larangan tentang tiga detik.
"Aset paling berharga di hidup Tuan Muda adalah istrinya. Kalau kau masih ingin hidup normal, maka sebaiknya jangan coba-coba cari muka di hadapan Nyonya Elea. Dan satu lagi, jangan pernah menatapnya lebih dari tiga detik atau matamu akan di ganti dengan mata buaya. Paham!"
"P-paham, Tuan Ares."
Di dalam mobil, Elea yang tengah menatap suaminya merasa heran karena pintu mobil tak kunjung di buka. Penasaran, dia akhirnya menurunkan kaca jendela lalu menyembulkan kepalanya keluar.
"Kak Iel, i miss you."
Tubuh Gabrielle seperti meleleh begitu mendengar ungkapan rindu dari Elea. Dia yang tadinya sedang di bakar api cemburu mendadak seperti berpindah ke musim salju dimana suasananya terasa sangat dingin dan juga sejuk. Dan ... dunia perbucinan Gabrielle pun di mulai.
"Sayang, kenapa kau manis sekali sih. Aku jadi semakin mencintaimu."
"Hehe, kalau begitu aku akan bersikap manis setiap hari supaya Kak Iel selalu mencintaiku. Bagaimana, senang tidak?" tanya Elea sambil mengerling nakal ke arah suaminya. Dia paling suka jika melihat suaminya bucin begini.
"Bukan senang lagi, sayang. Tapi benar-benar sangat senang," jawab Gabrielle kemudian membungkukkan badan agar sejajar dengan wajah istrinya.
Cup cup cup
"I love you," bisik Gabrielle.
"Love you too, hubby," sahut Elea.
Lusi yang saat itu masih berada di dalam mobil nampak tersenyum menyaksikan cinta antara Gabrielle dan Elea. Keharmonisan dan juga kemesraan pasangan suami istri ini selalu saja berhasil membuat orang lain merasa iri. Gara-gara pemandangan indah ini, mendadak Lusi jadi merindukan suaminya yang tak kalah bucin seperti Gabrielle.
"Kak Iel, kapan aku boleh keluar? Kasihan Kak Lusi, dia pasti kepanasan melihat kemesraan kita," celetuk Elea.
Terdengar helaan nafas panjang dari dalam mobil begitu Elea selesai berucap. Lusi, lagi-lagi dia menjadi korban dari kejujuran Elea.
"Kau kalau bicara suka benar ya, Elea," sahut Lusi pasrah.
"Hehe."
Bak seorang pangeran yang menyambut tuan putri, Gabrielle dengan gentelnya mengulurkan tangan begitu pintu mobil terbuka. Dia tersenyum, bahagia melihat istrinya yang menyambut dengan cara menggemaskan.
"Humm, aku rasa Kak Iel akan semakin tampan jika duduk di atas punggungnya Cuwee. Kakak pasti akan terlihat seperti pangeran berkuda putih seperti yang ada di dalam dongeng."
Jangan mulai sekarang, Elea. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menyentuh kuda sialan itu. Cuwee adalah sainganku, aku tahu kalau Cuwee diam-diam ingin bersaing untuk merebut perhatianmu.Jadi maaf sayang, kali ini permintaanmu tidak bisa aku kabulkan, batin Gabrielle resah.
"Em Kak Gabrielle, Elea, aku langsung pamit pulang saja ya. Gleen sedang sibuk di kantor, jadi dia tidak bisa menjemputku kemari!" ucap Lusi beralasan.
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak yakin ya kalau Paman Gleen sedang sibuk bekerja? Dia itu kan sangat bucin padamu, Kak. Rasanya sedikit mustahil kalau dia lebih mementingkan pekerjaan di banding datang untuk menjemputmu," tanya Elea penuh selidik.
Lusi meringis sembari menggaruk keningnya yang tak gatal. Dia sebenarnya hanya ingin memberi kejutan pada suaminya dengan datang ke perusahaan diam-diam. Tapi ... ya sudahlah. Jika tidak segera memberi penjelasan, Elea pasti akan semakin menggila. Ini bahaya.
"Begini Elea, sebenarnya tidak memberitahu Gleen kalau kita sudah pulang. Aku ingin memberi kejutan kecil dengan datang ke perusahaannya," jawab Lusi malu-malu.
"Wahh, romantisnya. Aku jadi iri."
"Sayang, untuk apa kau merasa iri melihat kebahagiaan orang lain. Dengan kau datang kemari saja aku sudah merasa seperti mendapat kejutan yang sangat istimewa. Jadi jangan iri-iri lagi ya?" timpal Gabrielle tak terima.
"Oh, baiklah Kak," sahut Elea patuh. "Mulai besok aku akan sering-sering memberi kejutan untuk Kakak. Tidak apa-apa kan?"
"Apapun itu, sayang."
Dan semua orang pun langsung berbalik badan ketika pasangan bucin ini saling memberi kenyamanan. Setelah itu barulah Elea mengizinkan Lusi untuk pergi dari sana. Dia lalu mengikuti langkah suaminya yang mengajak masuk ke dalam perusahaan.
Kenapa ada banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perutku ya? Batin Ares.
"Selamat datang, Nyonya Elea!" sapa pada karyawan dengan sopan.
"Iya, terima kasih. Yang semangat ya kerjanya!" sahut Elea ramah.
Gabrielle tak henti-hentinya tersenyum ketika mendengar bisik-bisik para karyawan yang menyebut jika istrinya ini mirip seperti matahari kecil. Cantik, ramah, ceria, juga mampu menebar aura positif bagi semua orang.
"Kau naik lift lain saja, Res. Aku ingin berduaan dengan istriku dulu!" ucap Gabrielle ketika hendak masuk ke dalam lift.
"Baik, Tuan Muda."
Elea tersenyum penuh goda begitu dia dan Gabrielle berada di dalam lift. Tanpa di komando, Elea langsung mengalungkan kedua tangan di leher suaminya kemudian mendaratkan satu ciuman di bibirnya.
"Rindu."
"Hmm, hanya begini saja?" tanya Gabrielle dengan suara tertahan. Dia bergairah.
"Lalu aku harus bagaimana, hm? Aku masih belum mendapat izin untuk melakukannya, Kak. Maaf ya," jawab Elea merasa bersalah.
"Jangan bicara dengan nada suara seperti itu, sayang. Aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk menahannya sampai kau siap untukku. Ingat ya, kesehatan dan kenyamananmu jauh lebih penting dari kebutuhan juniorku. Jadi jangan merasa bersalah, oke?"
"Kira-kira Tuhan mengutukku tidak ya Kak?"
Gabrielle menyatukan keningnya dengan kening Elea sebelum menjawab. Dia tahu, sangat tahu kalau istrinya ini sedang merasa terbebani. Mau selugu dan seceria apapun cara Elea menutupi, Gabrielle jelas bisa melihat kalau hati istrinya sedang tidak tenang.
"Tuhan itu tidak pernah tidur, sayang. Dia pasti tahu kalau aku tidak mendapat hakku bukan karena kau yang tidak mau melayani, melainkan karena kau sedang dalam kondisi yang tidak boleh untuk di sentuh. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak ya. Semua pasti akan berakhir jika waktunya sudah tiba," ucap Gabrielle dengan sangat sabar. "Oh ya, bagaimana kelasmu hari ini? Menyenangkan tidak?"
Mood Elea langsung berubah ketika di tanya tentang kuliahnya. Dia dengan sangat antusias memberitahu suaminya tentang pencapaian yang dia dapat hari ini. Elea sungguh tidak menyangka kalau gambar pertamanya akan langsung di tempel di dinding pengumuman. Membuatnya merasakan satu kebahagiaan yang tiada terkira.
Aku bahagia, Kak Iel.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
...🍀Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...🍀Ig: rifani_nini...
...🍀Fb: Rifani...