Mengandung konten dewasa *** harap bijak dalam membaca
NOVEL PERTAMA MantanTerindahSeries BY VIIYOVII
Mata mereka kembali bertemu dalam sebuah kerja sama bisnis. Setelah empat tahun mereka berpisah. Semua hanyalah takdir. Ketika Viena Gloria Jovanca, seorang CEO Perusahaan Advertising menerima kontrak kerja sama pembuatan iklan Hotel Prime. Viena sudah yakin kalau pemiliknya adalah mantannya, Dionisius Eltima Prime.
Viena hendak menolak namun sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu? Mengapa Dion sampai hati meninggalkan Viena sedangkan Viena sudah memberikan semua yang diinginkan Dion? apakah Viena masih memiliki rasa? Atau Dion yang kembali menyukainya setelah sudah ada pengganti Viena di hatinya?
Hati hati, kisah cinta ini akan menguras hati dan perasaan anda.
Segala jalan cerita dan plot sampai tempat yang digunakan pure murni imajinasi penulis. Jika ada kesamaan, itu adalah kebetulan semata. Selamat Membaca :)
MantanTerindahSeries by viiyovii present :
1. Mantan Terindah
Dion Prime ❤ Viena Jovanca
Dior Prime ❤ Gracia Andez
Ezekhiel Dimitri ❤ Zefanya Prime
Patrick Kwan ❤ Zhavia Prime
2. Assistant Love Assistant
Leon Janson ❤ Lexa Luxurio
After Marriage
Xelino Janson ❤ Carolyn Delinsky
3. Satu Satunya yang Kuinginkan
Egnor Jovanca ❤ Claudia Gie
Wilson Jovanca ❤ soon
Willy Jovanca ❤ soon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viiyovii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 26
Revo menyunggingkan senyumnya terus menerus. Dia merasa, dia sudah jatuh cinta lagi. Dan kali ini dia benar benar terjatuh. Dia belum menjadi kekasih Viena, tapi sebentar lagi akan mendapat lampu hijau sang empunya hati. Revo terus memainkan jarinya pada sosial media Viena. Melihat foto foto Viena yang kebanyakan tanpa senyum atau dari samping atau dari belakang. Viena sungguh membuat hatinya penasaran tak karuan.
Revo menjadi lupa dengan tujuannya. Sepertinya dia tidak mau lagi membantu Marcel. Setiap hari, lamunan dan waktu luang Revo hanya berisi Viena di pikirannya. Dia sudah lama sekali tidak bertemu Isa. Isa sibuk mengurusi rencana Marcel. Isa bersahabat dengan Pammy dan Isa akan mendapatkan bayaran yang sangat besar jika rencana Marcel berhasil. Di tengah lamunan Revo yang saat itu sedang memikirkan Viena, Eric datang membawa data iklan yang sudah diselesaikan oleh Jovancy Adv.
"Ini data, berkas, dan iklan yang sudah diselesaikan Jovancy Adv, apakah akan langsung saya berikan ke Pak Marcel, pak?" Kata Eric. Revo tak bergeming. Dia hanya mengangguk sambil terus mengagumkan Viena di layar ponsel.
"Berikan saja," Revo berkata seperti tidak sadar. Dia menjadi lupa kalau dia sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Viena.
"Apakah bapak tidak mau melihat hasil revisi akhirnya pak?" Tanya Eric lagi meyakinkan, pasalnya Eric tahu apa yang dilakukan majikannya akhir akhir ini untuk Viena. Eric ingin menjadi penengah yang baik bagi bos nya yang sedang jatuh cinta itu.
"Kau ini berisik sekali, Eric, serahkan copy iklan itu ke emailku saja. Kau tahu kan apa yang sedang ku kejar sekarang?" Tanggap Revo menatap santai asisten kepercayaannya itu.
"Tapi pak, urusanmu dengan pak Mar --- "
"Sudahlah, bro, itu urusanku, apakah kau bisa keluar dulu? Apa kau belum lihat seorang yang sedang pacaran? Sebaiknya kau ajak pacarmu keluar." Lanjut Revo lagi membuat Eric menunduk.
"Kalau begitu begini saja, aku memberikanmu 2 tiket ke Oriental selama satu minggu, ajak pacarmu Olivia kesana," tawar Revo menyeringai.
"Bukan begitu pak, saya hanya mengi --- "
"Stop! Aku mau kau pergi ke Oriental bersama Olivia besok jadi kau tidak menggangguku pacaran lagi dengan urusan si Marcel itu dan kau bisa melakukan apapun dengan Olivia, kau suka kan? Yaaa, aku memang bos yang baik, sudah sana pergi," lagi lagi Revo memotong pembicaraan Eric dan menyuruh tangan kanannya itu berlalu.
Malam harinya, Revo menerima email dari Eric yang berisi iklan baru yang dibuat oleh Viena. Dia melihat dengan teliti apa yang diciptakan oleh wanita yang sedang ia dekati. Tidak salah pengusaha muda itu melirik Viena untuk mengurusi promosi perusahaanya. Mungkin mereka akan menjadi partner bisnis yang baik. Begitu juga yang dipikirkan Revo. Dan Revo tidak menyesali mengganti Isa dengan Viena. Revo sudah benar benar melupakan rencana Marcel. Semoga tidak menjadi hal yang tidak baik.
Revo menghubungi Viena untuk memuji apa yang sudah dibuat wanita anggun itu untuk dirinya.
Percakapan telepon Revo - Viena
Viena : ada apa? Bisakah kau tidak menggangguku sehari saja,
Revo : waktu kapan, aku tidak menghubungimu, lalu kau memberiku pesan "sedang apa", jadi?
Viena : mau apa? (Mengalihkan)
Revo : bagus sekali iklan yang kau buat? Padahal aku tidak turut campur
Viena : berterimakasihlah pada Lexa, dia yang membuatnya
Revo : apa aku dan Lexa cocok?
Viena : kalau kau menyukai Lexa, mulai besok berikan mawar padanya saja, eh (keceplosan dan menutup mulut)
Revo : (tersenyum percaya diri) apa kau sudah menyukai ku Viena?
Viena : aku -- aku -- eh ada orang datang, aku temui dulu ya,
Tut tut . Panggilan terputus. Jantung Viena mulai berdebar. Untung saja ada orang datang, kalau tidak, mungkin jantungnya sudah berhampar di lantai. Sudah pukul 20.30, siapa yang datang malam malam begini, pikir Viena.
"Dion?" Viena cukup tidak percaya. Pasalnya satu minggu ini mereka benar benar tidak berhubungan. Viena hanya saling berkirim pesan oleh Rika saja. Sementara Dion, ya mungkin Viena agak merindukannya. Tapi, Viena benar benar mau menghilangkan Dion di hatinya.
Dion datang ke rumah Viena dengan rambut yang acak acakan dan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Wajahnya memerah dan badannya sedikit panas. Dia bersandar pada daun pintu dan menatap Viena lirih.
"Kau kenapa? Masuklah!" Viena memapah Dion memasuki apartemennya.
"Kau mabuk ya?" Tanya Viena lagi hendak memberikan air putih. Dion menggeleng. Dia menatap Viena lagi.
"Viena, apa kita tidak bisa menjadi teman?" Tanya Dion kemudian. Hati Viena sedikit tersentak. Tidak ada kabar, tidak saling menghubungi tiba tiba menanyakan hal yang aneh.
"Kau bertengkar dengan Pevi?" Viena menanyai hal lain yang menurutnya karna hal ini, Dionjadi bertingkah aneh.
"Tidak, kami baik, tapi belakangan aku merasa dia sangat jauh, tapi setiap malam dia bilang, dia takut untuk kehilanganku," Dion menggeleng lalu menundukan badannya dan mengusap wajahnya kasar.
"Mungkin dia sibuk, cobalah sedikit mengerti dirinya. Jadi kau butuh teman curhat?" Viena mencoba menenangkan dan membuat gurauan. Viena tersenyum lalu mencoba duduk manis, menjadi pendengar setia.
"Apa pekerjaannya?" Viena mencoba membuat Dion berpikir positif.
"Dia asisten pribadi presdir di sebuah perusahaan resort, tapi presdir nya seorang wanita paruh baya," jawab Dion dengan suara melemah.
"Yasudah, untuk apa kau cemburu, dia pasti sedang sibuk saja," Viena menepuk pundak Dion. Dion meraih tangan Viena dan menatap Viena lekat lekat.
"Viena, kalau kau masih kekasihku, kau tidak akan memperlakukanku seperti Pevi. Kau pasti akan selalu ada bersamaku, ya kan?" Tiba tiba Dion mengatakan hal hal aneh yang membuat jantung Viena berdegup.
"Kau ini kenapa? Aku hanya mantanmu Dion," Viena menghempaskan tangan Dion dan duduk sedikit menjauh.
"Mantan terindahku," gumam Dion pelan.
....
next part 27
Revo VS Dion 😁
.
plis like dan komen
thankyou
plis jangan donk