NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Potongan Daging Manusia

Tiga hari kemudian.

Pagi masih sangat pagi di apartemen pengawasan. Jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul 05.50. Cahaya matahari baru mulai menyelinap lemah melalui celah jendela gym kecil yang disediakan oleh pihak kepolisian di lantai basement gedung.

Arthur Rutherford berdiri tegak di tengah ruangan dengan kaos hitam yang sudah basah kuyup oleh keringat menempel ketat di tubuhnya. Otot otot lengannya yang terlatih tampak menegang keras saat ia mengangkat sepasang barbel dumbbell seberat 25 kilogram di setiap tangan. Gerakannya lambat, sangat terkontrol, dengan ritme napas yang diatur teratur. Tetesan keringat jatuh satu per satu dari ujung rambut hitamnya yang acak acakan menuju ke lantai semen.

Setiap angkatan beban yang ia lakukan terasa seperti sebuah pelepasan paksa. Tiga hari telah berlalu sejak penangkapan besar Victor Kane, namun pikiran Arthur masih terasa penuh dan sesak. Kasus politik itu memang sudah dinyatakan selesai, tetapi bayangan tragis keluarga Grant yang tewas mengenaskan masih sering datang menghantui malam malamnya. Ia mengangkat barbel itu lebih tinggi lagi hingga otot otot bahunya menonjol kokoh.

"Lebih berat… harus lebih berat lagi," gumam Arthur lirih pada diri sendiri. "Supaya otak ini tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain."

Ia sudah berolahraga tanpa jeda selama 45 menit. Napasnya mulai terdengar berat dan memburu, namun ia menolak untuk berhenti. Ini adalah cara ekstrem yang ia pilih untuk menjaga kewarasannya sendiri, yaitu dengan mengubah rasa gelisah yang abstrak di dalam kepala menjadi rasa sakit otot yang nyata di tubuhnya.

Tiba tiba pintu kayu gym terbuka dengan sentakan keras.

Manuel Vin masuk dengan langkah kaki yang cepat dan tergesa gesa. Pria itu masih mengenakan jaket kulit cokelat andalannya, namun raut wajahnya tampak sangat tegang dan dipenuhi gumpalan lelah yang pekat. "Arthur."

Arthur tidak langsung menghentikan aktivitasnya. Ia menyelesaikan satu set hitungan terakhir terlebih dahulu, meletakkan sepasang barbel berat itu ke lantai dengan pelan tanpa suara, lalu menyambar selembar handuk kecil untuk menyeka keringat yang membanjiri wajah serta lehernya.

"Pagi sekali Anda datang, Detektif," kata Arthur sambil menyunggingkan senyum miringnya yang khas, meskipun napasnya masih sedikit tersengal sengal. "Anda biasanya baru bangun jam segini kalau ada laporan mayat baru yang ditemukan."

Manuel tidak membalas candaan itu dengan senyuman. Tatapannya tetap lurus dan dingin. "Dugaanmu benar sekali. Ada kasus baru yang masuk ke mejaku. Dan yang satu ini… sangat buruk."

Arthur melempar handuk kecilnya ke bahu lalu meraih botol air mineral di dekatnya. "Ceritakan detailnya di dalam mobil saja. Beri aku waktu sepuluh menit untuk mandi cepat."

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil sedan hitam milik kepolisian yang melaju kencang menembus arus lalu lintas pagi kota Manhattan. Arthur duduk tenang di kursi penumpang dengan ujung rambut yang masih basah setelah mandi kilat. Manuel menyetir dengan satu tangan sementara tangan satunya memegang erat sebuah map tipis berwarna cokelat.

"TKP berada di distrik perekonomian, tepat di pinggiran pelabuhan," kata Manuel membuka suara tanpa basa basi. "Ada sebuah toko jagal daging besar berskala grosir bernama Fresh Slaughter Supply. Pekerja sif pagi yang baru datang menemukan mayat seorang wanita di dalam ruang penyimpanan daging dingin."

Arthur menyipitkan kedua matanya, seketika beralih ke mode analisis. "Bagaimana detail posisinya?"

Manuel menghela napas pendek yang terasa sangat berat. "Korban adalah seorang wanita berusia sekitar 19 tahun bernama Jennifer Cartter. Pembunuh menggantungnya terbalik seperti babi potong, kedua kakinya diikat kuat dengan rantai besi daging dan kepalanya menghadap ke bawah. Tubuhnya ditemukan tanpa busana, hanya menyisakan celana dalam berwarna hitam. Bagian dada hingga perut… terbelah menjadi dua bagian. Potongannya sangat rapi sekali, mirip seperti hasil kerja seorang jagal profesional."

Arthur terdiam untuk beberapa saat. Sepasang mata hijaunya menatap tajam ke arah jalanan aspal di depan mereka. "Terbelah menjadi dua bagian… itu persis seperti teknik membuka karkas hewan."

"Ya," Manuel membenarkan ucapan Arthur. "Aliran darahnya sudah mengering dan membeku di lantai. Suhu di dalam ruangan itu sangat dingin, jadi kondisi mayatnya masih tergolong segar saat ditemukan. Tim forensik awal tidak menemukan adanya tanda tanda perlawanan fisik di area tangan atau kaki korban. Sepertinya dia sudah dibuat tidak sadarkan diri terlebih dahulu sebelum digantung."

Arthur mengusap dagunya perlahan, meresapi informasi yang masuk. "Sembilan belas tahun. Usia yang masih sangat muda. Siapa sebenarnya identitas gadis ini?"

"Dia adalah mahasiswi semester tiga di salah satu universitas swasta ternama. Untuk membiayai kuliahnya, dia bekerja paruh waktu sebagai model lepas. Tidak ada catatan kriminal atau masalah hukum apa pun di masa lalunya. Pihak kepolisian sudah menghubungi keluarganya dan mereka sekarang sedang dalam perjalanan dari New Jersey."

Mobil sedan itu melaju semakin cepat membelah kabut pagi. Arthur menatap keluar jendela, memandangi deretan lampu lampu kota yang mulai menyala samar tertutup fajar. Di dalam kepalanya, roda gigi analisisnya sudah berputar dengan kecepatan tinggi.

"Pembunuhnya pasti memiliki akses langsung atau pengetahuan mendalam tentang toko jagal itu," kata Arthur dengan nada suara pelan namun penuh penekanan. "Dia bisa jadi salah satu karyawan di sana, atau orang luar yang sering bertransaksi di tempat tersebut. Cara dia menggantung korban dan membelah bagian dadanya menunjukkan bahwa ini bukan pembunuhan biasa karena kepanikan. Ini adalah sebuah ritual. Atau mungkin sebuah pesan."

Manuel melirik Arthur sekilas dari balik kemudi. "Apakah kau sudah mengantongi sebuah teori?"

"Belum untuk saat ini. Tapi jika ini adalah kasus ketiga kita bersama, aku bisa merasakan bahwa kasus yang satu ini terasa jauh lebih pribadi bagi sang pembunuh."

Mereka akhirnya tiba di lokasi kejadian tepat pada pukul 07.15. Toko jagal Fresh Slaughter Supply menempati sebuah gedung tua berukuran besar berwarna abu abu kusam di ujung pelabuhan. Aroma amis daging mentah dan bau besi yang menyengat langsung menusuk hidung begitu mereka turun dari mobil. Garis polisi berwarna kuning sudah terpasang mengelilingi seluruh area pintu belakang gedung. Beberapa pekerja toko berdiri bergerombol di kejauhan dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.

Elena Kuznetsova ternyata sudah tiba lebih dulu di lokasi. Wanita Rusia itu berdiri tegak di depan pintu besi ruang penyimpanan daging dingin dengan jaket kulit hitamnya, wajahnya tampak luar biasa serius.

"Kalian sudah mau masuk?" tanya Manuel mendekat.

"Belum, aku sengaja menunggu kedatangan kalian berdua," jawab Elena. Sepasang matanya sempat melirik ke arah Arthur selama beberapa detik. "Kau baik baik saja setelah sesi olahraga pagimu yang gila itu?"

Arthur tersenyum tipis, sebuah senyum hambar yang dipaksakan. "Kondisiku jauh lebih baik daripada apa yang akan kita saksikan di dalam ruangan ini, Elena."

Mereka bertiga kemudian melangkah masuk membelah pintu besi tebal menuju ruang penyimpanan daging. Udara dingin yang ekstrem langsung menusuk tulang, membawa serta bau pekat darah segar yang langsung memenuhi rongga hidung.

Di tengah tengah ruangan yang dipenuhi gantungan besi, mayat Jennifer Cartter tergantung kaku seperti sepotong daging konsumsi berukuran besar.

Tubuh gadis itu tampak putih pucat bagai pualam, tanpa sehelai benang pun kecuali celana dalam hitam yang robek di beberapa sisi. Kedua pergelangan kakinya diikat mati menggunakan rantai daging yang berat, membuat posisi kepalanya berada tepat beberapa inci dari lantai. Bagian dada gadis itu terbelah dengan sangat rapi dari pangkal leher hingga batas perut, seolah sengaja dibuka lebar dengan pisau daging yang sangat tajam. Aliran darah yang sempat mengucur kini telah membeku, membentuk genangan merah kehitaman yang luas di atas lantai semen yang dingin.

Arthur menghentikan langkah kakinya sekitar dua meter di depan mayat tersebut. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perubahan emosi yang drastis, namun sepasang mata hijaunya menyipit dengan sangat tajam, merekam setiap detail yang ada.

"Dia masih sangat muda," kata Arthur dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. "Kulitnya bersih tanpa cela. Tidak ada bekas suntikan jarum atau tato di tubuhnya. Pembunuh memilih targetnya dengan penuh ketelitian dan kesengajaan."

Elena melangkah maju, mengangkat kamera forensiknya lalu mengambil beberapa foto dari berbagai sudut pencahayaan. "Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada luka defensif di tubuhnya. Teorimu di mobil kemungkinan besar benar, dia dibius terlebih dahulu sebelum dibawa ke tempat ini."

Manuel berdiri kaku di samping Arthur, memandangi pemandangan mengerikan di depan mereka. "Kira kira siapa orang yang tega melakukan hal sekeji ini di toko jagalnya sendiri?"

Arthur mulai berjalan mengelilingi mayat korban dengan langkah kaki yang lambat dan terukur. "Pembunuhnya tahu persis cara menguliti dan memotong hewan ternak. Tapi aksi ini bukan sekadar pemotongan biasa. Ini adalah sebuah pameran seni yang sakit. Menggantungnya terbalik seperti babi dan membelah dadanya merupakan sebuah simbol. Seolah olah di mata sang pembunuh, korban ini tidak lebih dari sekadar barang dagangan atau hewan ternak yang siap dipasarkan."

Arthur kemudian berjongkok di dekat tepi genangan darah yang membeku. "Perhatikan pola dari percikan darah di sekitar dinding bawah ini. Dia membelah dada gadis ini saat jantungnya masih berdetak, atau setidaknya sesaat setelah korban mengembuskan napas terakhir. Ada rasa kepuasan dan kesenangan emosional yang mendalam di sini."

Elena ikut berjalan mendekat ke posisi Arthur. "Kau… kau benar benar bisa membaca sedetail itu hanya dari pola bercak darah?"

Arthur kembali berdiri tegak, membersihkan celananya yang terkena debu ruangan. "Aku sudah pernah melihat terlalu banyak cara orang mati di dunia ini, Elena. Dan harus kuakui, ini adalah salah satu metode yang paling sadis yang pernah kutemui."

Manuel menggelengkan kepalanya dengan berat, mencoba mengusir rasa mual yang sempat menyergap. "Kita tidak boleh membuang waktu. Kita harus segera mencari saksi, memeriksa seluruh karyawan toko, dan mengamankan semua rekaman kamera pengawas yang ada di sekitar area pelabuhan."

Mereka bertiga menghabiskan waktu hampir tiga jam di dalam ruang dingin tersebut. Arthur terus bergerak mengamati setiap sudut kecil, mulai dari bekas tapak sepatu yang tertinggal di lantai es, posisi penguncian rantai besi, hingga perubahan suhu ruangan yang fluktuatif. Di sudut lain, Elena sedang sibuk memulihkan data dari salah satu kamera toko yang sengaja dirusak oleh pelaku, sementara Manuel sibuk berkoordinasi dengan tim forensik lanjutan dari pusat kota.

Saat mereka akhirnya melangkah keluar dari ruang penyimpanan yang mencekam itu, Arthur tiba tiba menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu besi. Ia menoleh ke belakang, menatap ke dalam ruangan yang remang sekali lagi.

"Jennifer Cartter… usia sembilan belas tahun," gumam Arthur dengan nada penuh penyesalan. "Dia seharusnya mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik daripada berakhir di tempat dingin ini."

Elena berdiri tepat di samping Arthur. Untuk pertama kalinya sejak kasus baru ini dimulai, tidak ada nada ejekan atau candaan tajam yang keluar dari mulut wanita Rusia itu. "Kau… apakah kau merasa terpengaruh oleh kasus ini, Rutherford?"

Arthur tersenyum pahit, matanya menatap kosong ke lantai. "Aku sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan emosiku ikut terpengaruh, Elena. Tapi rasanya sangat sulit ketika melihat sebuah mayat yang terus mengingatkan kita tentang betapa rapuh dan berharganya hidup seorang manusia."

Manuel berjalan mendekati mereka berdua sambil menutup map berkasnya. "Mari kita kembali ke kantor pusat sekarang. Kasus ini baru saja dimulai."

Arthur mengangguk setuju. Di dalam perjalanan pulang menggunakan mobil, ia memilih untuk tetap diam seribu bahasa di kursi penumpang. Pikirannya terus berputar dengan cepat, menyusun potongan teka teki yang baru saja ia lihat. Kasus baru ini terasa sangat berbeda dari dua kasus yang sudah mereka selesaikan sebelumnya. Kasus ini terasa jauh lebih gelap, lebih kejam, dan jauh lebih pribadi.

Dan di suatu tempat di pinggiran pelabuhan Manhattan yang luas, pembunuh berdarah dingin yang telah menggantung Jennifer Cartter bagai daging potong masih berkeliaran bebas, mungkin saja ia sedang tersenyum puas di dalam kegelapan sambil merencanakan target korban berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!