Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brankas Kosong
Suara alarm keamanan terus menggema di seluruh gedung hingga membuat para karyawan keluar dari ruangan masing-masing. Beberapa orang saling bertanya dengan wajah bingung, sementara petugas keamanan berlari menuju lantai eksekutif setelah menerima laporan adanya akses ilegal ke ruang CEO. Kirana menghentikan langkahnya di depan lift sambil menatap angka yang terus bergerak naik, sedangkan Aiden sudah lebih dulu masuk ke lift lain bersama Armand.
"Tunggu saya." Gavin berlari sambil terengah.
"Kamu tadi bilang seseorang masuk ke ruangan saya?" Aiden menekan tombol lantai eksekutif.
"Iya." Gavin mengangguk. "Petugas keamanan melihatnya lewat kamera."
"Siapa orangnya?" Armand mengernyit.
"Wajahnya belum jelas." Gavin mengusap keningnya. "Dia memakai topi dan masker."
Lift bergerak naik dengan cepat, tidak ada lagi yang berbicara karena masing-masing sibuk memikirkan kemungkinan terburuk. Jika benar ada orang yang masuk ke ruang CEO, berarti tujuan kedatangannya bukan kebetulan.
"Kirana." Rendra mempercepat langkahnya.
"Ada apa?" Kirana menoleh singkat.
"Kamu jangan ikut ke atas."
"Kenapa?" Kirana mengangkat alis.
"Situasinya belum jelas."
"Itu bukan alasan."
Rendra mengembuskan napas pelan, ia tahu Kirana tidak akan mendengarkan larangan sederhana seperti itu apalagi jika menyangkut pekerjaan.
"Saya hanya tidak ingin kamu ikut terseret." Rendra menatapnya.
"Saya sudah lama terseret." Kirana menggeleng. "Sejak kamu memilih berbohong."
Kalimat itu membuat Rendra kembali terdiam, ia tidak menemukan bantahan yang cukup kuat karena semua yang dikatakan Kirana memang benar.
Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan, Aiden langsung keluar lebih dulu lalu berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Beberapa petugas keamanan sudah berdiri di depan pintu sambil menunggu instruksi berikutnya.
"Ada yang masuk?" Aiden menghentikan langkah.
"Belum ada yang keluar, Tuan." Salah seorang petugas mengangguk.
"Pintunya?"
"Masih terkunci dari dalam."
Aiden mengernyit, ruangannya menggunakan sistem akses otomatis sehingga pintu hanya bisa dibuka dari luar menggunakan kartu khusus atau dari dalam melalui panel keamanan.
"Siapkan kartu cadangan." Aiden mengulurkan tangan.
Petugas itu segera menyerahkan kartu akses darurat, Aiden menempelkannya pada panel di samping pintu tetapi lampu indikator justru berubah merah.
"Akses ditolak." Gavin menghela napas.
"Itu tidak mungkin." Armand mendekat.
"Berarti sistemnya sudah diambil alih." Aiden menatap panel tersebut.
Suasana koridor berubah semakin tegang, beberapa karyawan yang berdiri cukup jauh mulai berbisik satu sama lain sedangkan Kirana baru tiba bersama Rendra beberapa detik kemudian.
"Apa yang terjadi?" Kirana menghentikan langkah.
"Pintunya dikunci dari dalam." Gavin menunjuk ruang CEO.
"Kamu bilang tidak ada yang keluar?" Kirana menoleh ke petugas keamanan.
"Iya." Petugas itu mengangguk.
"Kalau begitu..." Kirana mengernyit.
Belum sempat kalimatnya selesai, terdengar suara benda jatuh dari dalam ruangan.
Brak
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu.
"Itu suara apa?" Gavin mundur selangkah.
Aiden tidak menjawab, tatapannya tetap tertuju pada pintu yang masih terkunci rapat.
"Paksa buka." Aiden mengangkat dagu.
Dua petugas keamanan segera maju sambil membawa alat pembuka darurat, mereka mencoba membuka pintu selama beberapa detik tetapi mekanisme penguncinya tidak juga bergerak.
"Terkunci ganda, Tuan." Salah satu petugas menggeleng.
"Kalau begitu dobrak." Aiden mengepalkan rahangnya.
Petugas keamanan langsung bersiap. Tepat ketika mereka hendak menghantam pintu, terdengar suara alarm lain berbunyi dari dalam ruangan.
Bip... bip... bip...
Armand langsung kehilangan warna di wajahnya.
"Itu alarm brankas." Armand mengembuskan napas.
"Brankas?" Kirana mengernyit.
Aiden menatap pintu tanpa berkedip, ia tahu hanya ada satu benda di ruangannya yang terhubung dengan alarm tersebut. Brankas penyimpanan data perusahaan dan jika alarm itu sudah aktif, berarti seseorang sedang berusaha membukanya.
"Paksa buka." Aiden mengangkat dagunya.
"Siap." Petugas keamanan mengambil posisi.
Dua petugas langsung menghantam pintu ruang CEO menggunakan alat pembuka darurat. Benturan pertama belum berhasil merusak pengunci, tetapi benturan kedua membuat engsel pintu bergeser. Begitu benturan ketiga menghantam lebih keras, pintu akhirnya terbuka dengan suara nyaring dan seluruh orang yang berada di koridor langsung berlari masuk.
"Periksa semua sudut." Aiden melangkah lebih dulu.
"Baik." Petugas keamanan berpencar.
Ruangan itu tampak berantakan, beberapa laci meja terbuka, dokumen berserakan di lantai dan kursi kerja Aiden bergeser jauh dari posisi semula namun tidak terlihat seorang pun berada di dalam ruangan. Keheningan justru membuat suasana terasa semakin mencekam karena pelaku seolah menghilang tanpa jejak.
"Orangnya tidak ada." Gavin menggaruk kepalanya.
"Mustahil." Armand mengernyit.
"Semua jendela terkunci." Petugas keamanan memeriksa sisi ruangan.
Aiden menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam, ia tidak tertarik pada meja yang berantakan ataupun dokumen yang berserakan. Langkahnya justru berhenti di depan lemari kayu besar yang menempel di dinding.
"Brankas." Aiden menunjuk.
Armand langsung menghampiri.
"Masih terkunci?" Armand mengamati panel digital.
"Tidak." Aiden menggeleng.
Panel brankas masih menyala, tetapi pintunya sedikit terbuka. Celah kecil itu cukup membuktikan bahwa seseorang baru saja berhasil mengaksesnya.
"Kirana." Aiden menoleh.
"Iya?" Kirana mendekat.
"Catat semua yang hilang."
"Baik." Kirana mengangguk.
Aiden membuka pintu brankas perlahan, semua orang langsung memusatkan perhatian ke arah rak besi yang berada di dalamnya. Beberapa map masih tersusun rapi, uang operasional perusahaan masih berada di tempatnya begitu pula dokumen kontrak yang disimpan di rak paling atas.
"Ganjil." Armand mengernyit.
"Kenapa?" Gavin mendekat.
"Tidak ada yang diambil."
Aiden tidak langsung menjawab, tatapannya terus menyusuri isi brankas hingga akhirnya berhenti pada sebuah ruang kecil di bagian bawah.
"Ada yang hilang." Aiden menghela napas.
"Apa?" Kirana mengangkat kepala.
"Flashdisk perusahaan."
Semua orang langsung saling berpandangan.
"Flashdisk apa?" Gavin mengernyit.
"Cadangan seluruh data proyek penting." Armand menatap rak kosong itu.
"Semua proyek?" Gavin membelalakkan mata.
"Hampir semuanya." Armand mengangguk.
Kirana langsung merasakan dadanya menegang, jika benar flashdisk itu hilang berarti siapa pun yang mengambilnya mengetahui dengan tepat benda apa yang dicari. Pelaku bukan pencuri biasa karena ia tidak menyentuh uang ataupun dokumen lain yang nilainya jauh lebih besar.
"Tuan." Petugas keamanan mendekat.
"Ada apa?" Aiden menoleh.
"Kami menemukan sesuatu." Petugas itu menyerahkan sepotong kain hitam yang tersangkut di sudut meja.
"Topeng." Gavin mengusap dagunya.
"Bukan." Petugas itu menggeleng.
"Lalu?"
"Potongan masker."
Aiden menerima benda tersebut tanpa berkata apa-apa, potongan masker itu robek seolah tersangkut ketika pelaku melarikan diri.
"Periksa CCTV." Aiden menatap petugas.
"Sudah." Petugas itu mengangguk.
"Hasilnya?"
"Seseorang masuk."
"Keluar?"
Petugas itu menggeleng pelan.
"Apa maksudmu?" Armand mengernyit.
"Dia masuk ke ruangan ini." Petugas itu menarik napas. "Tetapi tidak pernah terlihat keluar."
Gavin langsung menoleh ke seluruh ruangan.
"Kalau begitu..." Gavin mengangkat alis.
"Jangan mulai." Aiden menghela napas.
"Saya serius."
"Tidak mungkin."
"Saya juga tidak percaya." Gavin menunjuk langit-langit. "Kecuali orangnya bisa berubah jadi asap."
Beberapa petugas saling berpandangan, tetapi tidak ada yang tertawa. Situasi yang mereka hadapi memang terlalu aneh.
"Kirana." Rendra mendekat.
"Iya?" Kirana menoleh singkat.
"Kamu percaya saya?"
"Tidak."
Jawaban itu keluar tanpa ragu Rendra menundukkan kepala sesaat. Ia sudah memperkirakan jawaban tersebut, tetapi tetap saja terasa menyakitkan saat mendengarnya langsung dari mulut Kirana.
"Saya tidak mengambil apa pun." Rendra menghela napas.
"Saya tidak bertanya." Kirana menggeleng.
"Tetapi kamu mencurigai saya."
"Saya hanya melihat kenyataan."
Rendra tidak membalas lagi, semakin banyak ia mencoba menjelaskan, semakin besar jarak yang muncul di antara mereka.
"Tuan." Armand menghampiri Aiden.
"Hm?" Aiden menoleh.
"Flashdisk itu dienkripsi."
"Aku tahu."
"Kalau dicuri..."
"Data di dalamnya tetap tidak bisa dibuka."
Armand mengangguk pelan, sedikit rasa lega muncul karena setidaknya pelaku belum tentu bisa mengakses isi data perusahaan.
"Bos." Gavin mengangkat tangan.
"Apa?"
"Kalau tidak bisa dibuka, kenapa dicuri?"
"Itu juga yang sedang kupikirkan." Pertanyaan itu membuat Aiden terdiam beberapa detik.
Kirana memperhatikan rak kosong di dalam brankas sambil mencoba mengingat sesuatu, tatapannya perlahan bergeser ke arah meja kerja Aiden lalu menuju lemari arsip yang berada di sudut ruangan. Entah kenapa, ada satu hal yang terasa janggal sejak pertama kali ia masuk ke ruangan tersebut.
"Tuan." Kirana memanggil.
"Ada apa?" Aiden mendekat.
"Meja ini."
"Kenapa?"
"Lampunya menyala."
"Lalu?" Aiden mengernyit.
"Saya mematikannya sebelum turun."
Semua orang langsung menoleh ke arah meja kerja.
"Aku juga ingat." Gavin mengangguk.
"Yakin?" Armand bertanya.
"Seratus persen." Gavin menunjuk lampu meja. "Saya bahkan sempat mengeluh karena Bos selalu menyuruh hemat listrik."
Aiden langsung memeriksa meja kerjanya, tidak ada yang berubah tetapi satu laci terlihat sedikit terbuka.
"Aneh." Aiden menarik laci itu.
Di dalamnya hanya terdapat beberapa map dan alat tulis, tidak ada yang hilang namun tepat ketika Aiden hendak menutup kembali laci tersebut, ujung jarinya menyentuh secarik kertas kecil yang terselip di bagian belakang.
"Ada apa?" Kirana mendekat.
Aiden mengambil kertas itu lalu membukanya perlahan, isinya hanya satu kalimat.
Jangan percaya siapa pun yang pernah menangani Proyek Meridian.
Ruangan kembali hening, Armand membeku, Fajar menyipitkan mata dan Rendra langsung memucat karena hanya ada segelintir orang yang mengetahui siapa saja yang pernah terlibat dalam proyek itu. Salah satunya... masih berada di ruangan tersebut.