Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Primadona dan Si Dingin
Deru mesin motor milik Arka akhirnya berhenti tepat di area parkir SMA Nusantara. Begitu mesin mati, Kayla langsung turun dari boncengan, melepas helm merahnya dengan sentakan kasar, lalu menyodorkannya pada Arka tanpa mengucap sepatah kata pun.
Arka menerima helm itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat angin jalanan menggunakan jemari tangannya. "Lo langsung ke kelas apa mau mampir ke kantin dulu?" tanya Arka, mencoba mencairkan suasana kaku yang dibawa Kayla sejak dari rumah.
"Kelas," jawab Kayla singkat. Gadis itu langsung membalikkan badan dan berjalan meninggalkan area parkir dengan langkah cepat. Ia benci keramaian pagi hari di sekolah, benci kebisingan, dan yang paling utama, ia benci menjadi pusat perhatian.
Sayangnya, berjalan di samping seorang Arka membuat keinginan Kayla untuk bersembunyi menjadi mustahil.
Begitu mereka berdua menginjakkan kaki di koridor utama yang menghubungkan gedung kelas 10 dan kelas 11, suasana yang semula riuh seketika berubah. Koridor itu seolah berubah menjadi panggung berjalan bagi Arka. Sebagai ketua kelas yang aktif di OSIS, berwajah rupawan, dan selalu ramah, Arka adalah primadona sekolah.
Beberapa siswi kelas 10 yang sedang berkumpul di depan mading tampak berbisik-bisik heboh sambil mencuri pandang ke arah Arka.
"Gila,Lo liat tuh Ka Arka,Huwaaa cakep banget" ucap salah satu siswi yang mengagumi sosok Arka yang mempesona.
mereka merapikan rambutnya berharap Arka melirik ke arah gadis gadis kelas 10 itu.padahal,Arka sama sekali tidak tertarik untuk menggoda adik adik kelasnya.
"Pagi, Arka!" sapa seorang siswi berani dari kelas sebelah, wajahnya bersemu merah.
Arka menghentikan langkahnya sejenak, lalu membalas dengan senyuman tipis yang sopan serta anggukan kepala. Sikap ramah yang sederhana, namun sukses membuat siswi yang menyapanya langsung salah tingkah.
Namun, pandangan memuja itu seketika berubah drastis saat mata orang-orang beralih ke sosok gadis yang berjalan di sebelah Arka. Tatapan mereka berubah menjadi perpaduan antara heran, sinis, dan penuh tanda tanya. Di sekolah ini, semua orang tahu betapa ketusnya seorang Mikayla.
"Gue heran deh, kenapa sih Arka mau-mauan jemput si Kayla tiap hari?" bisik sebuah suara dari arah koridor, tidak begitu samar hingga tetap bisa didengar.
"Iya, padahal Kayla juteknya minta ampun. Cantik sih, tapi kalau mukanya ditekuk terus kayak cucian belum disetrika begitu, siapa yang betah?" sahut yang lain.
Kayla mempererat pegangannya pada tali ransel. Rahangnya mengencang, dan matanya menatap lurus ke depan, pura-pura tuli. Tembok pertahanan yang ia bangun di rumah ternyata harus ia bawa juga ke sekolah. Bagi Kayla, membiarkan orang lain menganggapnya sombong dan dingin jauh lebih aman daripada membiarkan mereka tahu bahwa hatinya hancur semenjak ibunya pergi.
Arka yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan atmosfer itu. Ia sengaja mempercepat langkah kakinya agar bisa berjalan beriringan dengan Kayla.
"Kay, jangan didengerin. Anggap aja suara angin lalu," bisik Arka lembut, mencoba menenangkan sahabatnya yang mulai memasang mode defensif.
Kayla melirik Arka sekilas dengan tatapan menusuk. "Semua orang ngomongin gue karena lo, Ka. Coba lo gak usah sok rajin jemput gue tiap pagi, hidup gue di sekolah pasti bakal lebih tenang."
Arka malah tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah di tengah ketegangan Kayla. "Gue kan udah janji sama bokap lo buat jagain lo. Lagian, cuma lo satu-satunya cewek di sekolah ini yang gak pernah caper atau pasang muka manis di depan gue. Jadi temenan sama lo itu... menyegarkan."
Kayla hanya mendengkus kesal, meski dalam hati ada sedikit rasa syukur karena Arka tidak pernah meninggalkannya sendirian.
Mereka berdua berjalan terus menyusuri koridor hingga tiba di depan pintu kelas 12-IPS 2. Sebelum melangkah masuk, Kayla tiba-tiba menghentikan langkahnya. Perutnya mendadak berbunyi kecil, mengingatkannya bahwa ia belum mengisi energi sejak semalam. Ia teringat janji Arka pada ayahnya tadi pagi.
"Mana janji lo?" tanya Kayla, menatap Arka datar.
Arka mengerjapkan mata, lalu menepuk dahinya sendiri. "Oh iya! Bubur ayam kantin belakang, kan? Hampir aja gue lupa karena lo omelin terus dari tadi. Ya udah, lo masuk kelas duluan, taruh tas. Gue lari ke kantin dulu sebelum bel masuk bunyi. Gak pakai kacang, kan?"
"Sama gak pakai seledri," tambah Kayla.
"Siap, Tuan Putri Jutek. Tunggu di kursi kebesaranmu ya," canda Arka sambil langsung membalikkan badan dan berlari kecil menuju kantin belakang sekolah yang terkenal selalu antre panjang.
Kayla menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabatnya itu. Ia melangkah masuk ke dalam kelas yang baru terisi setengahnya. Suasana kelas IPS pagi itu cukup santai; ada yang sibuk menyalin tugas matematika, ada yang asyik bergosip di pojok ruangan. Kayla berjalan menuju bangkunya di baris kedua dekat jendela—tempat favoritnya karena ia bisa menatap lapangan sekolah saat bosan belajar.
Baru saja Kayla mendudukkan diri dan mengeluarkan sebuah buku novel dari dalam tasnya, sebuah bayangan tinggi mendadak menutupi cahaya matahari dari arah jendela.
Kayla mendongak. Di depannya, berdirilah Gavin.
Cowok itu mengenakan seragam dengan kancing paling atas yang sengaja dibuka, memperlihatkan kaus dalam hitamnya. Rambutnya agak berantakan ala bad boy pelarian, dan senyum miring tersungging di bibirnya. Gavin menaruh satu tangannya di atas meja Kayla, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Pagi, cewek misterius. Tumben jam segini udah rapi di kelas. Biasanya jam segini lo masih hobi nongkrong di gerbang belakang biar telat," sapa Gavin dengan nada suara yang terdengar santai namun penuh selidik. Gavin selalu penasaran dengan Kayla, karena di saat cewek-cewek lain di sekolah ini selalu histeris mencari perhatiannya, Kayla justru menganggapnya seolah-olah dia adalah makhluk tak kasat mata.
Kayla menutup novelnya dengan suara sedikit keras, menatap Gavin dengan pandangan tidak suka. "Bukan urusan lo. Bisa minggir gak? Meja gue jadi sempit gara-gara lo nyender di situ."
Gavin tidak mundur, ia justru tertawa renyah, menganggap penolakan Kayla sebagai hiburan pagi yang menarik. "Galak amat, Kay. Padahal gue cuma mau mastiin, lo nanti malam ada acara gak? Anak-anak mau nongkrong di tempat biasa, balapan liar santai. Gue mau lo ikut."
Kayla menatap Gavin dengan dahi berkerut, menimbang-nimbang tawaran itu. Di satu sisi, ia tahu dunia Gavin berbahaya. Namun di sisi lain, kepalanya sedang pusing memikirkan rumahnya yang terasa semakin asing. Ajakan Gavin terdengar seperti pelarian yang menggiurkan untuk membuang stres.
Sebelum Kayla sempat menjawab, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah pintu kelas, memecah ketegangan di antara keduanya.