Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tali Kekang Sang Ratu
Tawa Teran yang menggema di ruangan luas itu perlahan mereda menyisakan keheningan mencekam.
Hira tidak bergeser dari posisinya, menatap pria yang baru saja melakukan bunuh diri karir tersebut dengan ekspresi datar.
{Dia berpikir langkah gegabahnya ini bisa membalikkan keadaan.}
Senyum miring mengukir sudut bibir Hira, mematahkan ekspektasi Teran yang mengharapkan kepanikan.
"Langkah bunuh diri yang sangat dramatis, Teran."
Jari-jari lentik Hira mengetuk permukaan meja marmer hitam, menciptakan ritme konstan yang mengintimidasi.
"Tapi kau melupakan satu variabel penting saat menekan tombol laporan anonim itu."
Teran menyipitkan matanya, menahan napas sejenak melihat ketenangan wanita di hadapannya.
"Kejaksaan Agung bukanlah anjing pelacak yang bekerja mandiri tanpa tali kekang."
Hira menarik tablet digital dari dalam tasnya, memutar benda tipis itu dengan elegan.
"Mereka bergerak di bawah komando para petinggi politik yang namanya baru saja kuamankan di dalam flash drive ini."
Wajah Teran menegang, menyadari celah fatal dari rencana darurat yang ia buat setengah jam lalu.
Hira menekan layar tablet, memunculkan jendela pesan anonim dari penguasa bayangan di dermaga utara.
Jempol Hira menari cepat di keyboard virtual, merangkai kalimat ancaman presisi.
Hira menekan layar, membiarkan pesan meluncur menembus jaringan terenkripsi menuju ibu kota.
Keringat dingin membasahi pelipis Leo yang berdiri kaku di ambang pintu.
"Kunci seluruh akses lift menuju lantai puncak, Leo."
Mata Hira tetap terkunci pada layar tablet yang sedang memuat proses pengiriman.
"Menghalangi penyitaan resmi adalah tindakan pidana berat yang bisa memperburuk situasi."
Bahu Leo bergetar menahan kepanikan di tengah pertarungan dua monster ini.
"Lakukan saja, Leo."
Tatapan tajam Hira memotong keraguan asisten berkacamata itu tanpa ampun.
Leo merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel master, mengetikkan kode darurat penguncian lift eksekutif.
"Lift akan tertahan selama tiga menit sebelum sistem pusat kejaksaan membobolnya dari bawah."
Hira melirik angka digital di sudut layar, menghitung mundur sisa waktu yang tersedia.
"Tiga menit sudah cukup untuk mengubah status tersangka utama menjadi korban penipuan."
Tangan Teran mengepal kuat menahan amarah dan keputusasaan yang menyatu.
"Kau tidak akan bisa membengkokkan hukum secepat itu, Hira!"
Jari pria itu mengarah lurus, mencoba mempertahankan sisa wibawanya yang mulai runtuh.
"Politisi itu tidak akan mempertaruhkan posisi mereka hanya untuk menyelamatkan perusahaan yang sedang digeledah terbuka!"
"Mereka tidak sedang menyelamatkan perusahaan ini, Teran."
Hira mendongak, membalas tatapan pria itu dengan sorot mata predator mematikan.
"Mereka sedang menyelamatkan leher mereka sendiri dari pisau guilotin yang sedang kupegang."
Layar tablet di tangan Hira mendadak berkedip, menampilkan balasan singkat dari penguasa bayangan.
Hira melebarkan senyumnya, memutar layar tablet agar Teran bisa membaca kalimat tertera dengan jelas.
"Sepertinya tali kekang mereka bekerja jauh lebih cepat dari perkiraanmu, Mantan CEO."
Dada Teran naik turun cepat, matanya membelalak membaca konfirmasi yang menghancurkan seluruh rencana balas dendamnya.
Langkah pria itu mundur tak terkendali, menabrak meja kerjanya sendiri hingga beberapa dokumen jatuh berserakan.
Kekuasaan mutlak yang ia bangun selama belasan tahun runtuh dalam hitungan detik.
{Kepanikan akhirnya menggerogoti kewarasannya secara perlahan.}
Sang alter ego menikmati tetes keringat yang membasahi wajah pria angkuh tersebut.
Dentingan keras berdengung dari luar lorong, menandakan sistem pengunci lift eksekutif telah berhasil dijebol paksa.
"Mereka sudah sampai di lantai ini, Bu Hira!"
Leo melangkah mundur mendekati sudut meja marmer hitam untuk mencari perlindungan aman.
Derap langkah sepatu bot berukuran besar bergema memecah keheningan koridor melingkar.
Pintu kayu jati raksasa itu didorong terbuka kasar, menghantam dinding hingga menghasilkan bunyi debuman keras.
Belasan petugas berseragam resmi Kejaksaan Agung berhamburan masuk, menyebar mengepung sudut ruangan direktur utama.
Pria paruh baya dengan lencana penyidik senior melangkah maju, memegang sebuah map kulit cokelat.
"Kami dari tim investigasi khusus Kejaksaan Agung."
Mata tajam penyidik senior itu menatap Teran yang masih berdiri bersandar kaku.
"Kami memiliki surat perintah menyita seluruh aset perusahaan atas dugaan penggelapan pajak dan pencucian uang masif."
Teran menarik napas panjang, berusaha menegakkan punggungnya untuk memberikan perlawanan terakhir.
Tangan pria itu terulur, menunjuk lurus ke arah Hira yang masih duduk santai.
"Wanita ini memegang seluruh data transaksi ilegalnya di dalam saku celananya!"
Napas Teran memburu, mencoba menyeret Hira ke dalam jurang kehancuran yang sudah menunggunya.
"Dia adalah Eksekutif Independen yang baru saja mengotorisasi ratusan kontrak fiktif untuk menutupi kerugian perusahaan!"
Ekspresi penyidik senior itu tetap datar, matanya beralih menatap Hira tanpa memberikan reaksi berarti.
Hira sama sekali tidak beranjak dari posisinya, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan selama beberapa detik.
Ponsel di saku jas penyidik senior itu mendadak berdering, memotong ketegangan yang menggantung pekat.
Pria paruh baya itu memberikan isyarat menahan diri pada bawahannya, lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"Ya, Pak Jaksa Agung."
Postur penyidik itu otomatis membungkuk sedikit, memberikan rasa hormat mendalam merespon suara panggilan tersebut.
Hira menyilangkan kakinya, menopang dagu dengan jari lentiknya, mengamati pertunjukan kekuasaan yang sedang berlangsung dengan rileks.
"Sesuai perintah, kami akan memfokuskan penyitaan hanya pada aset pribadi tersangka utama."
Penyidik senior itu menutup panggilan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Tubuh pria itu memutar, matanya kini terkunci sepenuhnya pada Teran Honigan.
"Teran Honigan, Anda resmi ditahan atas tuduhan manipulasi data keuangan sepihak dan penyalahgunaan wewenang direksi."
Teran membelalakkan matanya maksimal, rahangnya jatuh terbuka tidak percaya mendengar perubahan drastis arah investigasi tersebut.
"Ini tidak masuk akal, kalian harus menggeledah wanita itu sekarang juga!"
Pria itu memberontak, menepis tangan dua petugas yang sigap mencengkeram kedua lengannya dari belakang.
"Perusahaan ini adalah korban dari ambisi serakah Anda, Pak Teran."
Penyidik senior itu melipat map cokelatnya, mengabaikan protes sang CEO yang kini kehilangan wibawanya.
"Dewan komisaris baru saja mengirimkan laporan resmi bahwa Anda telah memalsukan tanda tangan Eksekutif Independen."
Hira tersenyum tipis, mengagumi betapa cepat politisi itu merangkai kebohongan untuk melindungi aset berharga mereka.
"Kalian semua buta, dia yang memegang kendali atas segalanya!"
Protes Teran semakin putus asa saat kedua petugas mulai menyeret paksa tubuhnya menuju pintu keluar.
"Bawa dia ke ruang interogasi pusat malam ini juga."
Penyidik senior itu memberikan instruksi final, membalikkan badannya untuk mengikuti anak buahnya keluar dari ruangan.
Hira bangkit dari kursi, melangkah pelan mendekati Teran yang masih meronta di ambang pintu.
"Semoga malammu menyenangkan di dalam sel isolasi, Teran."
Tubuh Hira mencondong ke depan, menyalurkan kalimat perpisahan yang hanya didengar oleh pria tersebut.
"Aku akan merawat perusahaanmu dengan sangat baik."
Teran meludah ke lantai, matanya memancarkan kebencian murni sebelum tubuhnya diseret keluar menembus lorong lift.
||||
Ruangan direktur utama itu kembali sunyi senyap, menyisakan Hira dan Leo yang masih berdiri kaku.
Hira memutar tubuhnya, menatap jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota tanpa batas.
{Permainan ini akhirnya selesai.}
Jiwa asli Hira menghembuskan napas panjang, merasakan beban berat yang mencekik lehernya telah lenyap sepenuhnya.
{Reza, Anita, Darmawan, Herman, dan kini Teran.}
Sang alter ego mengelus pinggiran meja marmer hitam, meresapi kemenangan absolut yang baru diraihnya.
{Singgasana ini sekarang mutlak milik kita.}
"Bu Hira."
Langkah Leo memecah keheningan, asisten berkacamata itu bergerak maju dengan kepala tertunduk hormat.
"Dokumen pengalihan saham darurat sudah selesai dicetak oleh tim legal bayangan."
Sebuah map tebal berwarna hitam diletakkan dengan hati-hati ke atas meja marmer.
"Lima puluh satu persen kepemilikan mutlak perusahaan kini berada di bawah nama Anda, menunggu satu tanda tangan."
Hira mengambil pena mahal yang tadi ditinggalkan Teran, memutarnya di sela-sela jari dengan elegan.
Tinta hitam digoreskan di atas materai, menjadi simbol kebangkitannya dari kehancuran masa lalu yang menyedihkan.
"Persiapkan jadwal rapat luar biasa dengan sisa dewan direksi besok pagi, Leo."
Hira menutup map hitam tersebut, menatap asisten pribadinya dengan sorot mata penuh otoritas baru.
"Aku ingin melakukan pembersihan total di seluruh cabang sebelum akhir bulan ini."
Leo mengangguk cepat, mencatat perintah tersebut ke dalam tablet kecil di tangannya tanpa membantah sedikit pun.
Layar tablet digital milik Hira yang tergeletak di atas meja mendadak menyala terang.
Sebuah notifikasi panggilan video rahasia memaksa masuk, menimpa sistem keamanan ruangan dengan kode peretasan familier.
Hira mengerutkan kening, meletakkan penanya perlahan, lalu menyentuh tombol terima di layar tersebut.
Gambar wajah yang pucat dan babak belur muncul di layar, membuat napas Hira tertahan sepersekian detik.
Itu adalah Kael, peretas muda yang baru saja ia serahkan kepada algojo bayaran di dermaga utara.
Latar belakang video itu menampilkan dinding bata kasar yang menyerupai ruang bawah tanah terbengkalai.
Bibir Kael bergetar menahan sakit, namun matanya memancarkan kegilaan balas dendam yang sangat nyata.
Hira menyipitkan matanya, menggeser layar tablet untuk memperlebar sudut pandang kamera pihak lawan.
Sebuah bayangan pria bertubuh tegap melangkah masuk ke bingkai video, berdiri tepat di belakang Kael yang terikat.
Kalimat pria tak dikenal itu membelah keheningan ruangan, membawa aura bahaya yang jauh lebih pekat.
koq gk rela ya😊
tp mush"nya sdh takluk smua sih
yoweslah...👍
lawan ato kawan nih... apa jgn" malah menjemput jodoh🤭
baca dl part sblm'a
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪