Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah Dia Papaku?
Menyingkat perjalanan dengan kecepatan tinggi, Reno sampai di kediamannya bersama Arga. Berlari seorang perempuan bergaun putih, menyambut dua orang baru saja turun dari mobil. Reno mengomel tanpa henti, sampai kedua mata mendapati kecantikan yang pantas ia kagumi.
Menatapnya dari bawah hingga atas, Anita tampak berbeda dari biasanya. Wajah begitu cantik, riasan nude itu tidaklah terlihat pucat, justru begitu segar memanjakan mata. Gaun tanpa lengan dengan belahan dada berbentuk "V" menambah kecantikan Anita, bersama tatanan rambut terikat di belakang, namun menyisakan helaian curly di depan kedua telinga.
Reno masih terpaku dengan kekaguman serta pujian dalam hatinya. Itukah perempuan yang akan ia nikahi malam ini? kenapa jauh berbeda dari biasanya? kemana kecantikan itu tersembunyi? mengapa tak pernah ditunjukkan di balik wajah yang selalu terlihat polos menggemaskan.
Wajah yang selalu membuatnya terbayang selama bertahun-tahun ini, wajah yang juga selalu menggoreskan luka dalam hati ketika teringat kembali. Namun, wajah itu juga membuatnya sangat ingin mengulang malam yang sama, malam di mana suara tetap sanggup ia dengar nyata dalam telinga.
Arga mengetahui lamunan papanya, dia pun turut menghentikan langkah. Berjalan lagi dan dengan sengaja menabrak lengan sang papa, Arga ingin menyadarkannya lebih cepat. Reno tersentak, menelan saliva dan melihat putranya hendak memeluk perempuan telah ia kagumi dengan kalimat-kalimat indah dalam hati.
Berjalan cepat mendahului Arga, langsung memeluk perempuan sudah merentangkan kedua tangan, mendekapnya sangat erat. Arga membuang napas panjang nan kasar, lebih dulu ia masuk ke dalam. Anita melhat putranya, dan melepaskan pelukan. "Apa sih?" tanya Reno masih ingin mendekap erat tubuh beraroma menyegarkan.
"He, Anita! di mana bagian belakangmu?! kenapa tidak ada?!" protes Reno, baru menyadari jika tadi tangannya bersentuhan dengan kulit. Sekarang, ia memutar tubuh Anita untuk memperhatikan gaunnya.
"Ini ... pakaian apa yang kamu pakai sekarang?! di mana kain sisanya?!" ucap Reno, melihat punggung mulus perempuan akan dinikahinya terpampang indah hingga pinggang.
Anita menoleh, punggung masih diperhatikan oleh lelaki di terus saja memprotes gaun tengah ia kenakan. "Kamu suka? mau ke kamar sekarang?" goda Anita, pandangannya terangkat karena tubuh Reno lebih tinggi darinya.
Reno melongo, telinga sepertinya salah dengar. "Kamar? sekarang?" tanyanya beruntun. Anita mengembangkan senyum, berjalan ke arah rumah dan meninggalkan pesonanya di depan.
Reno mengecap mulut kosong, saliva ia telan kembali. Hawa panas menyerang begitu saja dalam diri, pemikiran dewasa menerobos dalam benaknya. "Ah, kenapa dia sudah berdiri sekarang?" terpejam Reno, merasakan sesuatu terus meronta.
"Ah, aku bisa gila! sudah lama tidak di pakai, dia cepat sekali berubah!" frustrasi Reno, mengusap wajahnya.
Reno masuk ke rumah, dua keluarga sudah menanti dirinya bersama orang yang siap menikahkan. Tak ingin mengulur lebih banyak waktu untuk mengikat Anita dalam ikatan suci pernikahan, Reno langsung saja meminta untuk dirinya di nikahkan tanpa perlu ribuan kata terucap lebih dulu.
Hanya di rumah, ia melangsungkan pernikahan sederhana dengan dua keluarga menjadi saksi. Reno tak ingin mengambil resiko, jika harus menikah di luar dan mempertaruhkan seseorang telah dibangunkan istana megah dalam hati selama bertahun-tahun ini.
Apa lagi, Vano yang masih mencari Anita, dan kabar media pun tak akan sanggup untuk dicegah dalam waktu lebih cepat. Media terlalu menyeramkan, hitungan detik pun sanggup menyebarkan kabar tanpa konfirmasi lebih dulu.
Ya, Vano memang mencari keberadaan Anita, untuk mendapatkan kembali dirinya. Tapi Arga sudah bergerak, melalui perusahaan keluarga Vano yang ia guncang sedikit masalah lewat tekhnologi.
Siapa pun orang yang telah membuat hidup mamanya menderita, tak akan ada satu pun yang dilewati oleh Arga. Termasuk Anita hari ini, ia pun tak melewatkannya. Diam-diam, bocah itu bekerja sama dengan Rian untuk membalas Anita, yang sudah diketahui bahwa perempuan itu memiliki video tersebar luas.
Pembicaraan Lisa dengan Reno, diketahui secara pasti melalui alat kecil dalam tas sekretaris papanya. Lokasi pun, sanggup dilacak oleh Arga dan melanjutkan apa sudah dimulai oleh sang papa bersama Rian. Jarinya sanggup membangun kekuasaan, juga mampu menghancurkan seseorang dalam waktu sekejap tanpa pernah diketahui, bahkan angin sekalipun.
Banyak hal tersusun di kepala, tanpa pernah ada orang yang ia ajak untuk berbicara. Hanya jari yang terus bekerja, membalas setiap tetes air mata dari sang mama. Entah akan dimarahi atau tidak, Arga tidak lagi peduli. Selama ada yang berusaha mengusik kembali hidup kedua orang tuanya, maka ia tak akan pernah diam dengan keahlian dimiliki.
...----------------...
Pernikahan sudah menyatukan Anita dan Reno dengan keluarga menjadi saksi. Lega hati Arga, berharap jika keduanya tak akan pernah terpisah kecuali hanya maut saja. Pernikahan sederhana yang juga dibicarakan oleh sang papa dengannya, tentu membuat Arga bahagia.
Saran untuk mengikat lebih dulu Anita, melangsungkan resepsi dan menunjukkan pada dunia pun, di dapat Reno dari putranya. Kemungkinan-kemungkinan buruk mereka bahas bersama, tanpa melibatkan Anita. Layaknya sahabat, rekan bisnis, rekan untuk melindungi, melebihi hubungan ayah dan anak yang memiliki banyak rahasia berdua.
"Kamu tidak bisa lepas dariku," bisik Reno di telinga istrinya.
"Aku juga tidak akan melepaskanmu," sahut Anita menoleh dan tersenyum.
Reno menggigit bibir bawah, senyuman itu tak sanggup ia tahan. Langsung menyergap bibir Anita, seolah lupa jika anak dan keluarga masih ada di sana. Arga memalingkan wajah, tak ingin melihat pemandangan tak seharusnya dipertontonkan di depan mata.
Maira meraih sandal tengah dikenakan, melemparkan langsung pada putranya, mendarat sempurna pada punggung. Reno terkejut lalu berteriak, mengusap punggungnya. " Siapa melemparku?!" tegasnya, menoleh dan baru tersadar jika masih ada orang lain di ruangan sama dengannya.
"Mama, kenapa?!" melotot Maira, justru tersenyum bodoh putranya. "Tahan dulu! kamu tidak lihat masih ada kami di sini?! putra kalian juga masih di sini!"
"Hehehe, namanya pengantin baru. Mana sadar kalau ada orang, Ma?" cengengesan Reno, wajah perempuan di sampingnya merah layaknya udang rebus.
"Terima kasih sudah menikahkan kami, sekarang kami permisi dulu." Reno siap menggendong istrinya, lagi-lagi dihentikan oleh Maira.
"Tanda tangan dulu surat pernikahan kalian, baru pergi!" kata Maira, hanya dia yang berani mencegah dan orang tua Anita hanya sanggup tersenyum geli bersama Bobby.
Reno meraih kertas di atas meja, kedua matanya menangkap sang anak dengan kepala menggeleng lirih. "Apa?! bicara saja pada papa, jangan hanya menggelengkan kepala! ada kutu di rambutmu?!" protes Reno, seolah tahu jika putranya pasti meledeknya dalam hati.
"Tidak ada," santai Arga tetap berpaling.
"Ah, dasar menjengkelkan. Papa tahu, kalau kamu sedang mengumpat sekarang!" kata Reno, dipukul punggungnya oleh Anita lirih.
"Tanda tangan, jangan bertengkar dulu!" kata Anita.
"Hehehe, kamu tidak sabar lagi? kamu akan tahu kehebantanku sebentar lagi," menyeringai Reno sembari meraih pena.
Semua orang turut mendengar, berbicara dalam hati jika Reno tak tahu malu. Begitu juga bocah yang tak henti menggelengkan kepala heran. "Benarkah dia papaku?" batin Arga.
Jangan lupa like, komentar dan vote "kalau mau".
ap ms ad seosean 2 ny