Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan.
"Sayang, besok hari minggu. Maukah kau, antarkan aku ke rumah Bintang? aku mau buatkan makanan untuk mereka." Kata Lily, membuka pembicaraan di meja makan.
"Tentu saja sayang, aku lihat mereka keluarga kaya tapi tidak sombong." Sahut Raiden sambil mengunyah roti. "Apalagi Bintang, aku lihat dia sedang ada masalah. Tapi aku tidak tahu, masalahnya apa."
Lily tertegun sesaat, menatap lekat wajah suaminya. "Dari mana kau tahu?"
"Uhukk!" Raiden terbatuk lalu mengambil air mineral di dalam gelas. Kemudian air itu di minumnya sampai habis.
"Lupakan, aku hanya menebak." Kata Raiden di akhiri tertawa kecil. Tapi bagi Lily, kata kata yang meluncur dari bibir suaminya bukanlah tebakan semata. Ia merasa kalau Raiden sangat mengenal Bintang.
"Baiklah sayang, tidak apa apa." Lily tersenyum tipis, lalu mengoleskan selai kacang di atas rotinya.
"Aku hampir lupa, hari ini aku mau menemui Bimo." Raiden berdiri, lalu menghampiri Lily. Mencium puncak kepalanya sesaat. "Aku pergi dulu, kau jangan takut. Aku sudah meminta anak buahku untuk menjaga rumah."
Lily menganggukkan kepalanya, "hati hati di jalan." Pesannya.
Raiden menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan rumahnya menemui Bimo di kantornya.
"Aku harus mencari tahu latar belakang suamiku terlebih dahulu." Gumam Lily.
***
Sesampainya Raiden di kantor Bimo. Ternyata Bimo tidak ada di tempat, berdasarkan pesan yang di berikan Bimo kepada sekertarisnya, kalau ia lebih dulu ke perusahaan GN ENTERTAINMENT. Akhirnya, Raiden menyusul ke perusahaan milik Rava Alexi Ortama, yang sekarang di pimpin langsung oleh Bintang.
Sesampainya di halaman perusahaan milik Rava. Raiden keluar dari dalam mobil, berdiri tegap, lalu melepas kaca mata hitamnya. Tatapan lurus ke depan, memperhatikan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.
Angin berhembus kencang, menerpa wajah Raiden. Hatinya berdebar, jantungnya berdetak tidak beraturan.
"Aku seperti mengenal tempat ini, tapi kapan aku pernah ke sini?" gumam Raiden pelan.
"Rai!"
Raiden menoleh ke belakang, lalu tersenyum lebar melihat Bimo berjalan menghampirinya.
"Tadi aku ke kantormu, tapi sekertarismu bilang, kalau kau sudah berangkat duluan." Jelas Raiden.
"Sory, tadi aku ke rumah Bintang dulu. Tapi sayang, dia sudah berangkat bekerja." Jawab Bimo, lalu menepuk bahu Raiden. "Ayo kita temui pemilik perusahan ini."
Raiden mengangguk, lalu mereka berjalan bersama memasuki gedung. Sepanjang jalan, Raiden melamun.
"Kenapa jantungku berdetak lebih cepat? dan, kenapa akhir akhir ini semua orang menyebut nama Bintang?" ucap Raiden dalam hati.
"Pak Rava?" sapa security penjaga pintu. Pelan tapi jelas terdengar oleh Raiden yang berada di sampingnya. Raiden menoleh menatap security tersebut. Namun Bimo menarik lengan Raiden yang berdiri terpaku di ambang pintu.
Raiden mengalihkan pandangannya, menatap semua staf dan yang lain, tengah menatapnya bingung. Jelas terdengar oleh Raiden, mereka menyebut nama Rava.
"Ada apa ini? kenapa dengan mereka?" tanya Raiden menoleh ke arah Bimo. Bimo, yang memahami situasi hanya diam sampai seorang wanita menyapa Raiden.
"Rava? kau kah itu?" tanya seorang wanita yang tak lain Alicia.
"Hei, dia bukan Rava. Tapi Raiden, dia salah satu pemilik perusahaan yang akan ikut gabung dengan perusahaan GN ENTERTAINMENT." Jelas Bimo.
Alicia terdiam menatap lekat wajah Raiden. Akhirnya ia mencoba percaya kalau pria di hadapannya adalah Raiden.
"Oya, silahkan ke ruangan saya." Alicia mempersilahkan Bimo dan Raiden menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangan, Alicia mempersilahkan Raiden dan Bimo duduk di kursi.
"Aku mau bertemu langsung dengan pemilik perusahaan ini." Kata Raiden.
"Bintang, di mana Bintang?" tanya Bimo.
"Bintang?" Raiden mengulang.
"Iya, Bintang nama pemilik perusahaan ini." Jawab Bimo.
"Aku hampir lupa, sebentar.." Alicia berdiri, beranjak pergi, menemui Bintang.
Namun, baru saja ia membuka pintu ruangan. Terlihat Bintang bersandar di dinding, wajahnya pucat tubuhnya gemetar.
"Bu!" Alicia berlari menghampiri Bintang. Lalu memapahnya duduk di kursi. "Ibu baik baik saja?"
"Al, aku tidak perlu menjelaskan. Tentu kau tahu, mengapa seperti ini." Ungkap Bintang, menangkup wajahnya sendiri.
Alicia menarik napas panjang, ia paham dengan situasi Bintang saat ini.
"Baiklah, biar aku urus. Ibu diam saja di sini " Kata Alicia.
Bintang mengangguk, memperhatikan Alicia meninggalkan ruangannya.
"Ya Tuhan, sungguh aku tidak sanggup." Gumam Bintang, menyandarkan tubuhnya di kursi. "Lelucon apalagi ini, Ya Tuhan."
Sementara di lain pihak, lebih tepatnya kantor Polisi. Lily yang masih penasaran dengan latar belakang Raiden, menemui Karmila, Clara, Samba dan Jingga. Sederetan nama yang mengaku sebagai keluarga tiri Raiden dan berhasil Lily penjarakan karena telah menipu.
Sebelum Lily menemui mereka, ia sudah menyusun rencana untuk membujuk Karmila dan komplotannya.
"Aku punya penawaran menarik, mungkin kalian bisa aku bebaskan. Tapi dengan syarat." Tegas Lily.
"Apa syaratnya?" tanya Karmila menatap benci Lily.
"Katakan, bagaimana awalnya kalian menemukan Raiden, suamiku." Lily kembalu mempertegas.
Awalnya Karmila enggan untuk mengatakannya, namun atas bujukan Lily. Akhirnya ia mau membuka suara meski masih ada yang ia sembunyikan.
Karmila menjelaskan, mereka hanyalah orang suruhan Mr X, tetapi mereka juga belum pernah bertemu dengan Mr X. Setiap kali mereka mendapatkan perintah, hanya lewat anak buahnya saja yang bernama Joy.
"Raiden mengalami amnesia, kami tidak tahu siapa nama asli Raiden." Timpal Samba.
Lily menganggukkan kepala, ia mencoba mencerna dan mengait ngaitkan keterangan mereka dengan kejadian kejadian yang menurut Lily bukanlah kebetulan semata.
Bersamaan dengan Lily. Di waktu yang sama, Viona menemukan bukti baru. Yang mengarah kepada Raiden adalah Rava yang menghilang bertahun tahun lamanya. Selembar rambut yang tertinggal di meja kerja Lily, milik Raiden, di jadikan tes DNA.
"Semoga, hasilnya negatif. Jika positif, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Ya Tuhan.." gumam Viona.