NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 ~ Panggil Dokter

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Rapat bersama delegasi dari Singapura akhirnya selesai menjelang sore.

Damian berdiri dari kursinya, menjabat tangan para tamu satu per satu sebelum mengantar mereka hingga ke lobi utama.

"Terima kasih atas kunjungannya. Semoga kerja sama ini berjalan lancar."

"Suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan Foster Group."

Setelah rombongan tamu pergi, suasana kantor kembali lengang.

Damian mengendurkan dasinya sedikit. Menatap ke arah sang asisten. "Haris."

"Ya, Tuan."

"Siapkan mobil." titahnya singkat.

"Baik."

Haris segera berjalan lebih dulu menuju area parkir basement.

Sementara itu, Evan mengikuti beberapa langkah di belakang Damian sambil membawa tablet dan beberapa berkas yang tadi digunakan dalam rapat.

Hari itu terasa begitu melelahkan. Sejak pagi perutnya terus terasa tidak nyaman. Kepalanya pun mulai berdenyut pelan. Namun ia tetap memaksakan diri menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

Begitu tiba di samping mobil, Haris lebih dulu membuka pintu belakang.

"Silakan, Tuan."

Damian mengangguk pelan.

Saat yang hampir bersamaan, Evan melangkah hendak masuk melalui pintu sebelah. Namun baru satu langkah... Pandangannya mendadak berkunang-kunang.

Tubuhnya limbung. Tablet yang dibawanya hampir terlepas dari genggaman.

"Evan!"

Refleks Damian meraih pinggang sekretarisnya sebelum tubuh itu benar-benar jatuh.

Bruk. Tubuh Evan bersandar lemah di dada Damian. Selama beberapa detik tak ada satu pun yang bergerak.

Damian mengernyit. Telapak tangannya masih menopang pinggang Evan.

Pinggang itu... Terlalu ramping. Dan entah mengapa... Begitu pas dalam genggamannya.

Seketika sebuah kilasan singkat memenuhi benaknya. Malam di kapal pesiar. Tubuh seorang wanita yang sempat ia dekap erat. Pinggang yang sama rampingnya.

Sensasi yang... begitu mirip.

Tatapan Damian berubah tajam. Jemarinya tanpa sadar sedikit mengencang, seolah sedang memastikan sesuatu.

Tidak.

Mustahil.

Evan adalah seorang pria.

Lalu... kenapa perasaan itu muncul lagi?

"Evan." Suara Damian terdengar rendah. "Kau dengar aku?"

Evan membuka mata perlahan. Wajahnya pucat pasi. "A-maaf, Tuan..." bisiknya pelan. "Saya hanya... sedikit pusing."

Damian tidak langsung melepaskannya. Tatapannya masih tertuju pada wajah sekretarisnya, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya yang tak mampu ia jelaskan.

Ada sesuatu... Sesuatu yang terasa sangat familiar dari sekertarisnya.

Damian masih menopang tubuh Evan yang nyaris ambruk. Wajah Evan tampak semakin pucat.

"Tuan... saya tidak apa-apa," ucap Evan pelan seraya berusaha berdiri tegak.

Damian mengabaikan ucapan itu.

"Haris."

"Ya, Tuan."

"Ke apartemen."

"Baik, Tuan."

Tanpa bertanya apa pun, Haris segera membuka pintu belakang mobil.

Damian mengalihkan pandangannya kepada Evan. "Masuk."

Evan menggeleng pelan. "Tuan, saya hanya sedikit pusing. Setelah istirahat sebentar, saya pasti—"

"Masuk." Hanya satu kata. Namun cukup membuat Evan menelan kembali penolakannya.

Dengan langkah pelan, ia masuk ke dalam mobil. Damian menyusul duduk di sampingnya. Haris segera menutup pintu, lalu bergegas menuju kursi kemudi.

Tak lama kemudian, mobil hitam itu melaju meninggalkan area parkir Foster Group menuju apartemen sang CEO.

Di sepanjang perjalanan, tak seorang pun berbicara.

Hanya suara mesin mobil yang memecah keheningan, sementara Evelyn diam-diam menahan rasa mual yang kembali mengaduk perutnya.

Mobil melaju mulus membelah jalanan sore yang mulai dipenuhi kendaraan.

Di dalam kabin, suasana hening.

Haris fokus mengemudi, sementara Damian sesekali melirik ke arah sekretarisnya yang duduk bersandar dengan mata terpejam.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area parkir basement sebuah apartemen mewah.

Haris turun lebih dulu, lalu membukakan pintu belakang. "Silahkan, Tuan."

Damian keluar terlebih dahulu. Ia kemudian menoleh ke arah Evan yang masih duduk diam. "Sudah sampai."

Evelyn membuka mata perlahan. "Iya, Tuan."

Ia hendak turun sendiri, tetapi baru saja satu kaki menginjak lantai, pandangannya kembali berkunang-kunang. Tubuhnya limbung.

"Evan."

Damian refleks meraih lengannya sebelum tubuh itu kembali terjatuh.

"Saya bisa..." bisik Evelyn lirih.

Damian mengabaikannya.

"Ayo." Tanpa menunggu persetujuan, Damian menggiring Evan memasuki lobi apartemen.

Para petugas keamanan yang mengenal Damian segera memberi hormat. "Selamat sore, Tuan Damian."

Damian hanya mengangguk singkat. Begitu pintu lift terbuka, mereka bertiga masuk. Keheningan kembali menyelimuti.

Ding. Lift berhenti di lantai paling atas.

Damian melangkah keluar lebih dulu, diikuti Evelyn dan Haris. Beberapa langkah kemudian, Damian berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam.

Beep. Ia menempelkan kartu akses. Seketika pintu apartemen terbuka.

"Masuk."

Evelyn sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya melangkah masuk.

Apartemen itu begitu luas dengan dominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Damian melepas jasnya, lalu meletakkannya di sandaran sofa.

"Haris," panggilnya.

"Ya, Tuan," sahut Haris.

"Hubungi Bi Rina. Minta dia datang dan siapkan makan malam."

"Baik, Tuan," jawab Haris sebelum segera menghubungi Bi Rina.

Damian kemudian menoleh ke arah Evelyn. "Duduk," titahnya singkat.

"Terima kasih, Tuan," ucap Evelyn pelan sambil duduk di sofa.

Keheningan menyelimuti apartemen itu. Beberapa menit kemudian, bel apartemen berbunyi.

Bi Rina datang membawa beberapa bahan makanan, lalu langsung menuju dapur. Tak lama berselang, aroma tumisan mulai memenuhi ruangan.

Mendadak wajah Evelyn memucat. Ia refleks menutup mulutnya.

"Uekh..."

Damian langsung mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dibaca.

"Evan?"

Ia berusaha menggeleng. "Saya... tidak apa-apa..."

Namun rasa mual itu justru semakin menjadi. Ia bangkit dari sofa dengan tubuh sedikit limbung.

"Di mana kamar mandinya?" tanyanya panik sambil tetap menutup mulut.

Damian segera berdiri. "Ikut aku."

Tanpa menunggu, ia berjalan cepat menuju lorong apartemen. Evelyn mengikuti dari belakang sambil menahan rasa mual yang semakin hebat.

Baru saja tiba di depan kamar mandi.

Brak!

Evelyn langsung membuka pintu dan membungkuk di depan wastafel.

"Uekh... uekh..."

Damian berdiri di ambang pintu sambil mengernyit. Wajah sekretarisnya semakin pucat. Setelah beberapa saat, Evelyn membilas mulutnya dengan air.

"Aku akan menelepon dokter," ujar Damian tegas seraya mengeluarkan ponselnya.

Mendengar itu, Evelyn sontak membulatkan mata. "Tidak, Tuan!" cegahnya cepat.

Damian menghentikan gerakannya. "Kenapa?"

"Saya... saya hanya maag. Memang sering seperti ini kalau telat makan," jelas Evelyn, berusaha terdengar setenang mungkin meski jantungnya berdebar kencang.

Damian menatapnya lekat, seolah sedang menilai apakah sekretarisnya itu berkata jujur atau tidak.

"Saya benar-benar tidak apa-apa, Tuan," lanjut Evelyn. "Setelah makan dan istirahat sebentar, kondisi saya pasti membaik."

Damian masih terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menurunkan ponselnya.

"Baik. Tapi kalau kondisimu tidak membaik juga, aku tetap akan membawamu ke rumah sakit."

Evelyn hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, Tuan."

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!