NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga

Pagi itu, udara di kediaman Arya terasa begitu segar, membawa aroma bunga melati yang tumbuh subur di halaman depan—bunga yang kini mekar lepas tanpa rasa takut akan terinjak atau dirusak. Sejak malam itu, suasana di rumah besar itu berubah total: pintu-pintu yang dulu selalu tertutup rapat kini terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari masuk menerangi setiap sudut yang dulunya gelap dan sunyi. Tawa kecil terdengar bersahutan saat Arya mencoba belajar merajut bersama Nayara, meski tangannya yang besar dan kasar sering kali tersangkut pada benang-benang halus, membuat mereka berdua tertawa lepas tanpa beban—sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan akan terjadi di tempat itu.

Namun kedamaian itu seketika terhenti saat bel pintu utama berbunyi panjang, sebuah bunyi yang jarang sekali terdengar tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bima segera berjalan mendekat dengan wajah waspada, namun tak lama kemudian ia kembali dengan tatapan bingung yang bercampur heran.

"Tuan... ada seseorang yang datang. Dia bilang namanya Sarah, sepupu jauh mendiang Ibu. Dia baru mendengar kabar tentang kejadian beberapa waktu lalu dan datang dari luar kota setelah perjalanan yang cukup melelahkan," lapor Bima perlahan.

Arya terdiam sejenak. Nama itu samar terngiang di ingatannya—seorang kerabat yang dulu pernah datang berkunjung saat ia masih kecil, sebelum seluruh dunianya hancur berantakan. Ia mengangguk pelan, memberi izin untuk mempersilakan wanita itu masuk.

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun rapi melangkah masuk. Matanya segera berkaca-kaca saat melihat sosok Arya yang berdiri di ambang pintu. Ia melangkah mendekat perlahan, menatap wajah pria itu lekat-lekat seolah sedang mencari jejak anak kecil yang dulu ia kenal.

"Kau benar-benar mirip dengan kakakmu, Arya," suaranya bergetar, tangan gemetar menyentuh lengan Arya. "Saya kira... saya kira tak akan pernah melihatmu lagi. Semua orang bilang kau sudah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, bahwa kau sudah lupa siapa dirimu sebenarnya."

"Saya hampir saja melupakannya, Bibi," jawab Arya jujur, suaranya rendah namun tenang. "Tapi ada seseorang yang mengingatkanku kembali." Ia menoleh menatap Nayara yang berdiri di sampingnya dengan senyum lembut.

Sarah mengarahkan pandangannya pada Nayara, lalu perlahan senyum tulus merekah di wajahnya. "Jadi kau-lah orang yang diceritakan orang-orang... gadis yang berani masuk ke dalam kegelapan dan membawa pulang anak keluarga kami kembali ke jalan yang benar."

Di ruang tengah yang kini terasa begitu hangat, mereka duduk bersama mendengarkan cerita lama yang sempat terkubur. Sarah menceritakan bagaimana ibunya selalu berdoa agar Arya tetap menjadi anak yang baik, bagaimana ayahnya sering bercerita tentang impian besar mereka untuk membangun tempat perlindungan bagi anak-anak yang terlantar. Cerita-cerita itu seolah menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu yang indah dengan masa depan yang sedang mereka bangun.

Namun tak hanya membawa kenangan, Sarah juga membawa kabar penting. "Sebelum meninggal, kakakmu berpesan jika suatu saat kau menemukan jalan yang benar, ada sebuah gudang kecil di pinggir kota yang isinya bukan uang atau harta, melainkan surat-surat, catatan, dan daftar nama orang-orang jujur yang dulu mendukung usaha ayahmu. Barang-barang itu disembunyikan agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah."

Mendengar itu, hati Arya berdebar kencang. Itu adalah petunjuk yang selama ini ia cari—bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melanjutkan perjuangan orang tuanya dengan cara yang benar.

Sore itu, setelah Sarah beristirahat, Arya dan Nayara duduk kembali di teras memandang langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Genggaman tangan mereka semakin erat, seolah saling memberi kekuatan untuk setiap langkah yang akan diambil.

"Kau lihat?" bisik Nayara lembut. "Masa lalu tak sepenuhnya menyimpan kesedihan. Ia juga menyimpan harapan yang selama ini menunggu kau datang untuk mengambilnya kembali."

Arya menatapnya penuh rasa syukur, lalu mengusap rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Kau benar. Dan sekarang aku tahu... tak ada yang kebetulan di dunia ini. Termasuk kedatanganmu, dan kedatangan Bibi Sarah hari ini. Semuanya adalah bagian dari rencana agar aku tidak tersesat lagi."

Kunjungan yang tak terduga itu bukan sekadar pertemuan kerabat, melainkan tanda bahwa langkah yang mereka ambil sudah benar. Bahwa meski banyak orang yang pernah pergi atau menjauh, masih ada ikatan keluarga yang tak pernah putus, dan masih ada harapan yang menanti untuk diwujudkan bersama orang-orang yang tulus menyayangi kita.

 

Lanjut ke Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!