Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
"Jadi... selama ini kamu masih mengingatnya?" tanya Rani setelah tersadar dari lamunannya. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan haru.
Adrian membuka matanya. Ia menatap Rani.
"Aku tidak pernah melupakannya." jawab Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Tidak satu pun."
Rani menahan napas.
"Tapi aku menganggapnya hanya candaan." ucap Rani dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi penyesalan.
Adrian tersenyum.
"Aku tahu." jawabnya lembut. Wajahnya menunjukkan kasih sayang.
"Bagaimana mungkin kamu masih mengingat janji sekecil itu?" tanya Rani sambil mengusap air matanya. Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya.
Adrian menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Karena saat semua orang pergi..." jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kesedihan yang mendalam. "Kamu adalah satu-satunya orang yang tetap tinggal di sisiku."
Rani membeku.
"Kamu adalah orang pertama yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendirian." lanjut Adrian. Wajahnya dipenuhi kejujuran. "Jadi bagaimana mungkin aku melupakanmu?"
Air mata Rani kembali jatuh.
Ia teringat bagaimana dahulu dirinya tiba-tiba harus pergi. Kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda. Waktu membuat wajah Adrian kecil perlahan memudar dari ingatannya.
Namun ternyata, bagi Adrian, kenangan itu tidak pernah hilang.
"Selama ini..." bisik Rani. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Kamu mencariku?"
Adrian mengangguk perlahan.
"Aku tidak tahu di mana kamu berada." jawabnya jujur. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang selama ini ia sembunyikan. "Tapi aku selalu berharap suatu hari kita bertemu lagi."
Rani menundukkan kepalanya.
"Dan ketika kita bertemu..." lanjut Adrian. Wajahnya berubah lembut. "Kamu bahkan tidak mengingatku."
Rani menggigit bibirnya.
"Maaf." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi penyesalan.
Adrian menggeleng.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu." jawabnya lembut. Wajahnya menunjukkan ketulusan.
"Tapi kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?" tanya Rani. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Adrian terdiam. Ada senyum kecil di wajahnya.
"Karena aku ingin kamu mengingatku sendiri." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi harapan. "Aku tidak ingin memaksamu."
Rani menatap Adrian lama. Kemudian perlahan ia mendekat. Tangannya menyentuh pipi Adrian yang terluka.
"Kamu bodoh." bisik Rani sambil menangis. Wajahnya dipenuhi kasih sayang dan kesedihan.
Adrian tersenyum.
"Mungkin." jawabnya pelan. Wajahnya terlihat tenang.
Rani menggeleng.
"Selama bertahun-tahun kamu memegang janji yang bahkan sudah aku lupakan." katanya lirih. Wajahnya dipenuhi haru.
Adrian menatap mata Rani.
"Karena bagiku, itu bukan sekadar janji anak-anak." jawabnya tegas. Wajahnya menunjukkan kesungguhan. "Itu adalah satu-satunya janji yang membuatku bertahan."
Rani langsung memeluk Adrian.
Tubuh Adrian sempat menegang karena terkejut, tetapi beberapa detik kemudian ia membalas pelukan itu dengan tangan yang masih lemah. Tangis Rani pecah di dada Adrian.
"Aku ingat sekarang." bisik Rani di sela tangisnya. Wajahnya dipenuhi keharuan. "Aku ingat semuanya."
Adrian memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan air mata jatuh dari sudut matanya.
"Aku pulang." bisik Rani lirih. Wajahnya dipenuhi haru.
Adrian tersenyum di tengah rasa sakitnya.
"Dan aku akhirnya menemukanmu." jawab Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
Di luar ruangan, suara kendaraan polisi perlahan menjauh.
Raka telah dibawa pergi untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Sementara di dalam ruangan itu, dua orang yang pernah dipisahkan oleh waktu akhirnya berdiri dalam satu kenyataan yang sama.
Janji masa kecil yang dahulu dianggap sebagai candaan ternyata menjadi benang yang tidak pernah putus.
Adrian benar-benar menepatinya. Ia telah menjaga Rani dari bahaya.
Dan kini, setelah bertahun-tahun kehilangan, ia tidak lagi ingin melepaskan wanita yang sejak kecil telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Namun, tanpa mereka sadari, di balik semua kebahagiaan itu masih ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab.
Mengapa ingatan Rani tentang Adrian bisa hilang selama bertahun-tahun?
Dan siapa yang sebenarnya menyebabkan mereka terpisah sejak masa kecil?
Jawabannya mungkin akan membuka rahasia lama yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.