[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja dan Nyanyian
Di tangan Susi ada sebuah notes. Isinya permainan-permainan. Para gadis mempersiapkannya jauh-jauh hari. Mereka bertanya pada google dan seluruh hal yang bisa ditanya. Apa sih permainan yang seru saat camping?
Sore itu suasana sangat meriah. Bima merekam semua kegiatan permainan mereka. Terkadang ia juga dipaksa ikut permainan. Tripod membantunya, kameranya tetap menyala dengan fokus. Bagas yang awalnya terlihat tak peduli, sekarang juga terbawa suasana permainan. Kebersamaan itu seru sekali. Tawa Mayang tak lepas ia pandang-pandangi. Bima baru pertama kali melihatnya sesenang itu. Ia tergelak bersama gadis-gadis, tertawa membuatnya makin terlihat cantik.
Mereka mengambil banyak foto bersama. Susi terlihat sangat tertarik dengan kamera yang Mayang bawa, hadiah dari Papanya kemarin. Bima mengajarinya beberapa teknik dan cara mendapat gambar dengan baik. Mayang sekaligus menyimak, ia belum semahir Bima.
"Oke, oke. Sekarang coba Susi foto yang lain, jangan pemandangan terus," Susi tampak asyik sekali. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
"Ah, fotoin kalian. Bima sekarang duduk yang dekat sama Mayang," ia mengarahkan.
Bima dan Mayang duduk di satu bangku kayu. Memang agak berjauhan.
"Terus kesini, deket lagi," Susi gemas karena meraka tak beranjak, lalu mendorong lengan Bima agar dekat dengan Mayang.
"Oke nah bagus." Susi kembali pada kameranya. "Bim, kok jadi gelap."
Bima tertawa, gelas kopinya terguncang. Mayang membawa gelas kopi yang sama. Yang lainnya sedang makan mie instan dan makanan lainnya yang disiapkan.
"Kan objeknya membelakangi cahaya. Nanti jadi kayak semacam siluet. Susi coba dulu."
Susi mengarahkan kameranya. Ia mengambil beberapa gambar.
"Satu lagi," Bima berseru. Ia taruh gelas kopinya di ujung bangku. Ia rangkul Mayang dengan sebelah tangannya. Mayang terkejut memandang ke arahnya. Bima ikut memandang ke Mayang. Keduanya saling bertatapan. Susi mengambil beberapa foto.
Bagas memandang dari jauh sambil menyesap kopinya. Ia makin muak. Bima dengan sengaja melakukannya. Ia yakin.
"Oke, terus biar orangnya kelihatan, Susi fotoinnya dari arah mana?"
Bima menjelaskan lagi. Susi mengangguk mengerti.
"Susi foto lagi ya. Nah, ini. Bima pegang gitar. Ceritanya lagi main gitar," Susi mulai mengatur. Diambilnya gitar Bima yang ia letakkan tak jauh dari situ.
Mayang terlihat gugup. Pelukan itu, rangkulan tangannya. Wajahnya tersipu, ia usap dengan jemari tangannya. Dingin juga udara di sini. Membuat pipinya semakin merah.
Bima memposisikan gitarnya.
"Bima mainin gitarnya beneran ya. Bikin Mayang ketawa biar hasilnya bagus," ia berseru kepada Susi.
Bima tahu, Mayang salah tingkah. Ah, makin menggemaskan anak ini kalau sedang malu-malu.
Bima memainkan nada yang lucu dengan gitarnya. Mayang tak tahan lagi, ia tertawa.
Susi berkeliling. Ia memotret semua temannya. Mereka mengeluarkan gaya andalan mereka. Aneka pose lucu mereka buat. Mereka tertawa-tawa.
Senja datang. Bima mengatur kembali kameranya. Ia setting menghadap ke langit di belakangnya. Lalu ia kembali duduk di samping Mayang. Ia mainkan gitarnya.
"Mayang mau nyanyi?"
Mayang menggelang. Ia belum terlalu percaya diri. Apalagi banyak teman-temannya di belakang.
Bima memainkan gitarnya. Mulai bernyanyi lagi. "More Than Words". Lagu yang sama yang tempo hari Mayang nyanyikan.
Mayang menimpali. Mereka berduet. Mengalir begitu saja. Sangat manis didengar. Suara gitar Bima pas sekali dengan suara merdu Mayang .
Lagu berakhir. Semua bertepuk tangan. Tak disangka ternyata mereka terkesima. Mayang tersipu. Ia belum terbiasa. Bima meyakinkannya. Suara Mayang bagus.
"Lagi dong, ayo lagi dong," semua menyoraki.
"Mayangnya nggak mau nyanyi," Bima menyeletuk setengah meledek Mayang.
"Ayo satu lagi," semua makin berseru.
Bima akhirnya memulai lagunya. "Mandy" Lagu itu pernah dibawakan oleh boyband Westlife. Namun Bima mengganti liriknya dengan Marrie. Marrie adalah nama tengah Mayang. Kamayang Marriene Haris. Ia ganti lirik lainnya, menjadi lagu cinta yang manis. Mayang tersipu. Ia memandangi Bima yang sedang menyanyi untuknya dengan mata berbinar.
Di sisi lain, Susi merekam mereka dengan kamera Mayang. Tadi Bima sempat mengajarinya. Ia ingat dan langsung merekamnya. Momen yang bagus, ia merekam sembari ikut tersenyum-senyum.
Semua kembali riuh bertepuk tangan. Bima mematikan kameranya. 2 lagu ia rekam dengan asal. Mungkin nanti hasilnya bagus. Susi menghampiri mereka. Ia bilang tadi Susi merekam.
Senja hampir hilang. Mereka sibuk membuat api unggun. Walaupun di atas ada lampu tembak yang terang, tapi kemah serasa kurang tanpa adanya api unggun.
Suara kayu berderak-derak menjadi arang, api menjilat-jilat. Udara menjadi lebih dingin. Mayang mengambil syalnya di tenda. Papa yang kasih. Papa kasih dua. Katanya yang satu buat Bima. Ia serahkan kepada Bima. Bima memakainya di kepala seperti suporter bola. Mayang kesal, ia ambil lagi dan ia pakaikan dnegan benar. Ia tahu, Bima selalu ingin membuatnya tertawa.
Karena sesorean sudah lelah karena bermain game, malam ini mereka akan bersantai.
Susi berseru dan berjalan di tengah lingkaran tenda-tenda. Ia memberi isyarat, semua menaruh perhatian. Terkadang Bima pikir sepertinya Susi yang lebih cocok menjadi ketua kelas dibandingkan dengan Bagas. Ia sigap, tanggap dengan keadaan dan mampu merangkul semua orang. Ia mudah diterima, ia juga bijak.
"Jadi hari ini memang belum berganti tanggal. Tapi besok teman kita ada yang berulang tahun." Semuanya bertepuk tangan meriah.
Mayang tercekat.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹