Novel ini memiliki tempo yang lambat.
Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan berdirinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suasana dingin di dalam gubuk itu perlahan terasa menghangat. Kata-kata Wulandari, satu per satu, meresap ke dalam hati Jihan yang telah membatu, seperti tetesan air yang sabar melunakkan batu yang paling keras sekalipun.
Dengan sangat perlahan, Jihan akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang merah dan bengkak bertemu dengan tatapan ibunya yang teguh dan penuh cinta.
“Sekarang, ceritakan pada Ibu,”
“Apa sebenarnya yang dikatakan Penatua itu hingga membuat putra Ibu begitu hancur?”
Melihat tatapan ibunya yang tak akan menerima kebohongan, pertahanan Jihan akhirnya runtuh. Kata-kata itu keluar dari bibirnya, bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan yang patah dan penuh rasa sakit.
“Aku gagal, Bu,”
“Dia berkata… dia berkata Akar Spiritualku rusak.”
Ia menarik napas yang bergetar.
“Dia berkata… aku tidak akan pernah bisa berkultivasi. Seumur hidupku.”
Pengakuan itu adalah beban terberat yang pernah ia angkat. Ia menunduk, siap menerima kehancuran di mata ibunya. Namun, yang ia rasakan justru usapan lembut di pipinya.
Wulandari tidak terisak. Wajahnya tetap tenang, dihiasi oleh seulas senyum tipis yang bijaksana.
“Langit menutup semua jalan untukmu,”
Jihan menatapnya, bingung.
“Itu bukan berarti Langit ingin kau berhenti berjalan, Nak,”
“Mungkin… Langit hanya ingin kau membuat jalanmu sendiri… sebuah jalan yang begitu unik, hingga Langit sendiri pun akan terkejut melihatnya.”
Ia berhenti sejenak,
“Penatua itu hanya melihat apa yang bisa diukur oleh batunya. Ia tidak melihat kekuatan di tanganmu yang bisa membelah kayu jati, ia tidak melihat keteguhan di hatimu yang rela kelaparan demi Ibu, dan ia tidak melihat api di dalam jiwamu yang menolak untuk padam.”
Kata-kata itu menembus relung hati Jihan, tetapi terasa seperti penghiburan yang indah namun mustahil.
‘Jalan baru?’ pikirnya getir.
‘Setiap jalan yang kucoba selalu berakhir buntu.’
‘Kekuatan fisik ini? Untuk apa? Jika aku bahkan tidak bisa memulai jalan kultivasi? Apakah Langit benar-benar ingin mengambil Ibu dariku?’
Memikirkan itu, Jihan mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kembali membuang muka, hatinya yang beku menolak kehangatan kata-kata ibunya.
Namun, penolakannya itu disambut oleh suara yang mengerikan.
“Uhuk! Uhuk!”
Wulandari, yang telah mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk bangkit dan berbicara, kini terbungkuk, tubuhnya diguncang oleh serangan batuk yang kering, keras, dan menyakitkan.
Melihat ibunya kembali menderita, sesuatu di dalam diri Jihan tersentak. Rasa iba pada diri sendiri seketika lenyap, digantikan oleh percikan api yang familier.
“Ibu?!”
Ia segera merengkuh bahu ibunya, menopang tubuh yang kini terasa begitu ringan dan rapuh. Dan saat itulah, kenyataan yang sesungguhnya menampar Jihan, lebih keras dari vonis Penatua Wira. Wajah pucat ini, tubuh ringkih ini… wanita inilah yang selama ini mati-matian ia coba lindungi. Dan barusan, dari jurang penyakitnya sendiri, ibunya masih berusaha mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya dari keputusasaan.
‘Dan aku?’ pikirnya dengan jijik pada diri sendiri.
‘Aku yang sehat dan kuat hanya bisa terduduk di pojokan dan meratapi nasib? Bagaimana mungkin aku bisa menerima hinaan seperti itu?!’
Api itu kembali. Perlahan namun pasti, bara api di dalam dadanya yang nyaris padam kini kembali menyala, membakar habis sisa-sisa keputusasaan. Ia tidak bisa terus seperti ini. Ibunya benar.
Ia harus mencari jalan lain. Dan jika Langit terus menutup setiap jalan yang ada…
…maka ia akan menempa jalannya sendiri.
Sebuah jalan yang bahkan tak pernah Langit bayangkan keberadaannya!
Dengan tekad yang baru ditempa itu, Jihan mengalihkan perhatiannya kembali pada ibunya. Wajahnya melembut. Ia bangkit dan dengan sangat hati-hati membantu Wulandari berdiri, menopang sebagian besar berat tubuh ibunya yang ringkih itu di bahunya.
Langkah mereka pelan dan terukur saat Jihan memapahnya kembali menuju pembaringan sederhana di sudut gubuk.
“Pelan-pelan, Bu…”
Pembaringan kayu itu berderit pelan saat Jihan dengan lembut merebahkan tubuh ibunya, lalu menyelimutinya dengan hati-hati hingga ke dada.
Wulandari menatap wajah putranya dari pembaringannya. Api yang tadi sempat padam di mata Jihan kini telah kembali menyala. Sebuah senyum tulus dan lega terukir di bibir Wulandari. Usahanya yang begitu menyakitkan tadi tidak sia-sia. Ia telah berhasil menarik putranya kembali dari tepi jurang keputusasaan.
Dan saat melihat tekad yang membara di wajah putranya itu, Wulandari mengerti. Inilah obat yang sesungguhnya. Bukan pil atau ramuan, melainkan melihat anak yang paling ia sayangi menemukan kembali kekuatannya untuk berjuang. Itu adalah penyembuh terhebat yang tak akan pernah bisa dibeli di pasar mana pun.
“Jihan, putraku…”
Panggilnya dengan suara yang masih lemah, namun penuh keyakinan.
“Berjanjilah satu hal pada Ibu.”
“Jangan biarkan perjuanganmu untuk Ibu menghancurkan dirimu sendiri. Melihatmu begitu hancur tadi… itu rasanya lebih menyakitkan bagi Ibu daripada penyakit ini.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan Jihan merasakan ketulusan di matanya. Kemudian, tangannya yang rapuh terulur dan mendarat dengan mantap di bahu Jihan, sebuah sentuhan yang sarat akan keyakinan.
“Dengarkan Ibu, Nak. Apa pun yang terjadi, Ibu akan selalu mendukungmu.”
“Bahkan jika seluruh desa ini mengucilkanmu…”
“…Ibu akan tetap ada di sini. Di sisimu.”
Kata-kata itu adalah puncaknya. Sebuah getaran hebat mengguncang seluruh tubuh Jihan. Ia mati-matian mencoba menahannya, rahangnya mengeras, bibirnya ia gigit begitu keras hingga ia bisa merasakan rasa asin darah di mulutnya.
‘Tidak… aku tidak boleh menangis…’
Namun, ia tidak sanggup lagi.
Air mata yang sejak kemarin membeku di pelupuk matanya kini meleleh, mengalir turun dalam arus deras yang tak terbendung. Isakan pertama yang lolos dari bibirnya terdengar serak dan menyakitkan, suara dari jiwa yang akhirnya menyerah pada penderitaannya.
Ia jatuh berlutut di sisi pembaringan ibunya, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang tak terkendali. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Di hadapan ibunya, ia membiarkan dirinya kembali menjadi anak kecil yang tersesat dan ketakutan. Ia menangisi harapannya yang hancur, menangisi hinaan yang ia terima, dan yang paling dalam, ia menangisi dirinya sendiri yang sempat berpikir untuk menyerah dan membiarkan api di dalam hatinya padam.
Wajahnya ia benamkan di selimut tipis yang menutupi pinggang ibunya, membiarkan kain usang itu menyerap air mata dan rasa malunya. Setiap isakan adalah pelepasan racun keputusasaan yang telah mengendap di dalam dirinya.
Wulandari tidak mencoba menghentikannya. Ia membiarkan putranya menumpahkan semua kesedihannya. Dengan sisa tenaga yang ada, tangannya yang rapuh terangkat dan mulai mengusap-usap punggung Jihan dengan gerakan ritmis yang menenangkan, sama seperti yang selalu ia lakukan saat Jihan masih kecil dan terjatuh saat bermain. Ia tidak mengucapkan kata-kata penghibur yang kosong, ia hanya ada di sana, menjadi pelabuhan yang aman bagi badai di hati putranya.
Setelah tangisnya yang hebat mereda menjadi isakan yang lebih pelan, Jihan perlahan mengangkat wajahnya yang basah. Matanya bengkak dan merah, namun kini tidak lagi kosong. Di sana, di antara sisa-sisa air mata, ada seberkas cahaya penyesalan dan pemahaman yang baru.
“Maafkan Jihan, Bu… Maafkan aku…”
“Maaf karena telah membuat Ibu khawatir. Maaf karena telah menyerah…”
Ia menatap lurus ke mata ibunya, sebuah janji baru terukir di dalam tatapannya yang kini kembali menyala.
“Jihan janji… Jihan tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku tidak akan membiarkan Ibu melihatku hancur seperti ini lagi. Tidak akan pernah.”
Wulandari tersenyum, senyumnya begitu tulus hingga seolah mampu menerangi seluruh sudut gubuk yang remang itu. Ia menggeleng pelan.
“Kau tidak perlu meminta maaf karena merasakan takut, Nak. Kau hanya perlu berjanji untuk tidak membiarkan rasa takut itu menghentikan langkahmu,”
Dengan gerakan perlahan, ia merentangkan kedua lengannya yang kurus. Sebuah undangan tanpa kata.
Jihan mengerti. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, dan untuk pertama kalinya setelah terasa seperti selamanya, ia memeluk ibunya. Bukan lagi sebagai penopang, melainkan sebagai seorang anak yang mencari perlindungan.
Pelukan itu terasa rapuh, namun begitu kokoh. Jihan bisa merasakan tulang-tulang ibunya yang menonjol, merasakan betapa lemahnya tubuh itu. Namun di saat yang sama, ia merasakan kehangatan dan kekuatan yang luar biasa mengalir darinya, menyelimuti jiwanya yang beku dan perlahan mencairkannya kembali.
Ia membenamkan wajahnya di bahu sang ibu, menghirup aroma familier yang selalu berhasil menenangkannya. Di pelukan itu, ia tidak lagi peduli pada vonis Penatua Wira, cemoohan warga desa, atau langit yang seolah membencinya. Di sini, di pelukan ini, ia menemukan kembali pusat dunianya.