"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana Dia? (Paniknya Gian)
Radha terpaku, ia hanya diam setelah beberapa saat lalu memaksa turun tanpa memperdulikan Gian yang berusaha menahannya. Pemandangan di depannya sejenak membuatnya tercekat.
Senyum itu, sentuhan lembut itu, Radha menginginkannya. Wanita cantik yang kini berada tak jauh darinya tengah berbincang hangat dengan seorang pria seumurannya. Tak ia hiraukan rasa sakit di lutut akibat kecelakaan yang dilakukan suaminya sendiri.
"Apa yang kau lihat?"
Radha tersadar, ia mendongak kemudian kembali menatap kedepan. Senyum hangat ia berikan untuk wanita yang berada tak jauh darinya, tanpa balasan dan tak mengharap balasan.
Segera Radha membuka kamera ponselnya, mengabadikan hal semacam itu adalah kesenangannya. Ada kepuasan tersendiri kala ia mendapatkan foto sejenis itu. Interaksi sederhana antara dua orang yang saling mengasihi, itulah obsesi yang ingin ia abadikan.
"Hem, boleh juga," celetuk Gian kala memperhatikan cara Radha mengambil gambar itu, terlihat jelas bakat gadis kecil itu.
"Apanya?"
"Cara fotomu, tapi alangkah baiknya kalau di ambil dari arah sini, dan ponselmu letakkan agak turun. Like that."
Tanpa pikir panjang Gian mempragakan bagaimana cara yang benar, jika di lihat dari jauh mereka terlihat tengah berpelukan. Dan jelas saja mengundang tanya dan juga fitnah bagi siapa yang berlalu lalang.
Cekrek
Objek tertangkap dengan benar, Gian tersenyum menatap hasilnya. Sedangkan Radha terdiam, ia tak mampu berkata kala mendapat perlakuan Gian. Napasnya bahkan tertahan, hembusan napas dan suara Gian yang begitu nyata di telinganya membuat Radha berdesir.
"Ehm, Kak, aku mengerti, bisakah kau agak menjauh?"
Gian menatap wajah polos Radha, terlihat merah dan tak berani membalas tatapannya. Pria itu menarik sudut bibir setelah sesaat melepaskan tubuh mungil Radha.
Wajar saja beberapa orang di sana tampak menatapnya aneh. Gian baru sadar jika perlakuannya menimbulkan anggapan ambigu yang luar biasa.
Radha berlalu lebih jauh, aliran air yang tak begitu luas di antara hamparan sawah menghijau itu mengalihkan perhatiannya. Seakan lupa tujuannya kesini untuk apa, Radha melangkah begitu senangnya.
"Ahh, Haii!! Cantik sekali kalian semua."
Pemilik surai indah itu melambai sembari menundukkan tubuhnya, entah apa yang ia lihat hingga membuatnya tersenyum begitu senang. Gian hanya menunggu dari jauh sembari bersandar di mobil.
Ia tak ingin mengganggu kesenangan Radha, mungkin itu memang dunianya. Getaran ponselnya membuat Gian berdecak kesal, ia merasa ketenangannya di ganggu saat ini.
"Mama?"
Lupa, sama halnya dengan Radha, Gian juga lupa tujuan mereka jauh-jauh kemari untuk apa. Peringatan sang Mama yang kini telah tiba di kediaman Maya membuat Gian harus memanggil Radha, dengan petunjuk jalan yang Jelita berikan, mungkin mereka akan tiba dalam waktu 15 menit.
"Zura,"
"Kemari!!"
Pria itu enggan melangkah lebih jauh, cukup dengan berteriak sedikit keras, ia berharap Radha akan mendengar jelas.
Tak ada sahutan dari Radha, pun itu hanya berdehem sekalipun. Dengan perasaan kesalnya Gian kini terpaksa menghampirinya.
"Kemana makhluk itu?!!"
Sekecil apa Radha hingga Gian kehilangannya di balik semak-semak itu, melangkah lebih jauh menyusuri aliran air yang secara alami terbentuk itu dengan perasaan was-was.
"Zura!!"
Gian mulai panik, tak jua ia temukan Radha. Belum lagi tak jauh darinya adalah sungai yang begitu derasnya. Bahkan sangat amat deras, ia takut Radha akan mengejar hasil foto hingga ke tempat berbahaya itu.
"Zura!! Kau dengar, Kakak!!"
Pria itu mengusap wajahnya kasar, entah kemana istri kecilnya itu. Sepatunya kini terlihat agak kotor lantaran tanah yang cukup lembab dan licin. Perlahan, ia tak punya pilihan selain turun ke sungai itu. Gian harus berhati-hati lantaran takut tergelincir di antara bebatuan itu.
"Arrrrrrgggghhh!! Papa!!"
Teriakan itu memekakan telinga Gian, tentu saja itu suara istrinya. Baru saja hendak mencari keberadaannya, kembali Radha berteriak dengan lantangnya.
"Kakak jangan bergerak!! Diam dan jangan melihat kemanapun!!" pekik Radha membenarkan celana pendeknya.
"Apa sudah selesai?"
"Belom!! Sebentar, celanaku sempit ya Tuhan!!"
Radha panik bukan main, jika saja ia tak memiliki niat usil membuat Gian panik dengan sengaja tak menjawab seperti tadi, tentu hal ini takkan terjadi.
Dasar tidak waras, Gian memejamkan matanya erat-erat. Bagaimana bisa Radha berpikir buang air kecil di sungai ini, sungguh pikiran gila yang hanya dimiliki Radha, pikir Gian.
"Sudah, ayo."
Gian membuka matanya perlahan, satu persatu dan menatap wajah polos Radha yang kini terlihat gugup.
"Kau yakin?"
Radha mengangguk, hembusan napas kasar Gian membuatnya takut. Tampak jelas amarah Gian di balik raur tenangnya itu, tanpa berbicara Gian melangkah lebih dahulu.
Hanya mampu menggigit bibir seraya mengiring di belakang Gian. Tapi tetap saja ia tersenyum tenang seraya menikmati udara sore di persawahan itu.
"Masuklah," ujar Gian dingin, Radha mencebik dan menjulurkan lidahnya tanpa sepengeatahuan Gian.
Melanjutkan perjalanan dengan sejuta kepanikan yang akhirnya usai, Gian menatap Radha dengan tatapan tak terbaca. Jelas saja hal itu membuat Radha takut.
"Jangan lagi ya, Ra," ujar Gian tiba-tiba. Tanpa menatap juga tanpa penekanan sekalipun. Terdengar begitu halus dan tulus, membuat Radha merasa percaya diri dengan ucapan Gian.
"Karena kalau sampai kau terbawa arus, namaku tentu akan disebut juga di berita kematianmu."
Pyar
Ambyar sudah harapan manisnya, ia kira Gian akan berucap tentang hal romantis yang membuatnya tersenyum. Nyatanya sebuah ketakutan konyol yang membuatnya ingin mencakar habis wajah suaminya.
Tbc