Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXV
Apa kamu merindukan diriku
Apa kamu memikirkan keadaanku
Apa kamu bertanya bagaimana rasaku
Aku yang hanya jadi pengagum dirimu
Mungkin jalan kita sama
Tapi jalurnya yang berbeda
kamu di seberang jalan
Aku ada di seberang lautan
*****
Di dalam mobil pak Didik yang membawa Anne serta Anna pulang sore ini terlihat sangat ramai dengan celoteh Anne. Dia bercerita banyak hal tentang tugasnya tadi di sekolah.
Anna hanya menanggapi dengan tertawa kecil jika ada hal lucu atau mengeleng heran jika ada hal yang di rasa aneh dan tidak wajar dengan tingkah saudaranya itu.
Pak Didik terlihat ikut juga sesekali menimpali cerita Anne. Mereka berdua memang dekat karena Anne juga lebih dekat dengan ibu Wati. Apa lagi Anne juga anak didiknya di sanggar bela diri. Dan semua itu karena pak Didik juga yang memperkenalkan dunia olah raga tersebut pada Anne sejak kecil.
Aku hanya tersenyum dan sesekali ikut juga bertanya ini itu atau menjawab apa yang ditanya.
"Ann, kamu gimana tadi di sekolah. Masih ada yang usil gak sama kamh?" tanya pak Didik sambil melirik ke arah bangku penumpang melalui spion yang ada di depannya.
"Masihlah... kan itu menu wajib bagi Dinda ya Ann?" Anne dengan cepat menjawab pertanyaan pak Didik sekaligus memperkuat gelengan bertanya pada Anna.
"Biasalah pak, namanya juga teman. Kadang ada waktunya baik, reseh, usil dan kadang ya ngangenin juga!" Anna justru menjawab dengan berbinar. Ya Anna memang memandang Dinda bukan dari seseorang yang salah dari sudut pandangnya. Anna tahu jika Dinda sebenarnya juga baik. Mungkin hanya caranya saja yang berbeda.
"Aneh kamu itu Ann!" Respon Anne dengan menyipitkan matanya aneh. Sedangkan pak Didik hanya terkekeh kecil mendengar kedua anak asuhnya yang berdebat hal yang tidak penting.
"Sudah ah, gak usah diributkan gitu. Bukan cowok kan?" tanya pak Didik sambil tersenyum jail. Anne dan juga Anna saling pandang dan berseru bersamaan, "Hilihhhhh...!!" Setelahnya, kedua tertawa lepas membayangkan jika Dinda adalah seorang cowok.
"Gak usah dibayangkan gitu ah, geli tau!" Anne berkata mencibir sambil bergidik geli. Sedangkan pak Didik dan juga Anna tertawa lepas melihat reaksi Anna.
"Coba Dinda itu cowok, cocok sana Inne lho pak!" kata Anna dengan suara yang di tekan dan menaikturunkan alisnya aneh.
"Ihhh apaan, aneh tau Ann!" seru Inne gak mau kalah. Keduanya saling ejek dengan serunya. Dan tak terasa mereka pun sudah sampai di rumah panti asuhan Ayu Kumala tanpa kendala yang berarti.
"Ayuk Ann!" Anne membantu Anna membuka pintu dan menunggunya sampai turun.
"Terima kasih pak, kami langsung ke dalam!" Keduanya mengucapkan terima kasih dan berpamitan untuk segera membersihkan diri.
Anna sudah selesai membersihkan diri terlebih dahulu, sedangkan Anne baru saja masuk ke kamar mandi sebelah yang tadi sedang dipakai anak lainnya.
"Kak Anna... kak Anna...! Ada kak Alan di depan." Anjani datang dengan berseru memanggil Anna. Memberi tahu soal kedatangan Alan. Anna jadi teringat tadi sebelum pulang jika Alan akan menyusulnya di belakang.
"Terima kasih sayang sudah kasi tahu kakak. Bentar kakak jemur handuk dulu ya..." Anna berkata lembut Anjani kecil.
"Sama-sama kak Anna. Anjani ke kamar dulu ya Kak?" Pamit Anjani pada Anna, kemuadian melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya sendiri.
Anna berjalan keluar menuju teras depan. Disana tampak Alan yang sudah duduk dan berbincang-bincang dengan pak Didik. Tentu saja kenal sehingga bisa berbincang dengan akrab, karena pak Didik adalah guru Alan di sangar bela yang dia ikuti bersama Anne juga.
"Nah, itu Anna sudah datang." Pak Didik mengatakan itu saat melihat Anna yang sudah berjalan mendekat.
"Ann, ini ada Alan. Anne mana?" tanya pak Didik heran dengan mata memicing heran. Tentu saja dia heran karena setahu dia Alan itu lebih dekatnya dengan Anne. Dia tidak tahu jika di sekolah Alan satu kelas dengan Anna.
"Masih mandi pak Inne" jawab Anna setelah dekat.
"Ohhh..." Pak Didik hanya menanggapi singkat dan mengangguk paham.
"Ann, ini oleh-oleh buat anak-anak semuanya. Kalau yang ini buat yang sakit ya!" Alan menyerahkan dua kresek besar berisi buah-buahan segar. Padahal isinya sama saja. Alan cuma bercanda!
"Eh, terima kasih lho Al. Malah kamu jadi repot gini!" kata Anna tidak enak dengan apa yang di lakukan oleh Alan karena repot dengan bawaannya.
"Gak apa-apa. Gak tiap hari ini kok!" Alan berkata lagi dengan tersenyum. Pak Didik pun ikut tersenyum senang dengan sikap Alan yang dermawan. Anak muda yang baik tentunya.
"Ya sudah kalau begitu. Bapak pamit ke dalam dulu. Mau mandi, tadi belum sempat kok." Pak Didik pamit pada keduanya. Anna serta Alan pun mengangguk sopan. Setelahnya pak Didik beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah dalam untuk membersihkan diri.
"Ann... Anna....!" Anne memanggil-manggil Anna yang ternyata tidak ada di dalam kamar.
"Anna..." Anne sekali lagi memanggil nama Anna, tapi yang muncul justru Anjani.
"Kak Inne cari kak Anna?" tanya Anjani dengan menarik-narik ujung baju Anne yang melihatnya bingung.
"Iya dek, sedari tadi kakak panggil gak nyahut tuh. Kamu tahu di mana kak Anna?" tanya Anne bertanya pada Anjani.
"Kak Anna di depan. Ada kak Alan datang tadi!" jawab Anjani polos. Anne mendengar dengan memicingkan mata heran.
"Alan? kenapa tuh anak datang, tumben?" tanya Anne heran. Dia sedikit bingung dengan sikap Alan akhir-akhir ini.
"Kakak ke depan saja. Mungkin kak Alan juga nunggu kakak sekarang" kata Anjani lagi. Meminta Anne untuk segera ke depan menemui Alan.
"Ya sudah, kakak ke depan dulu kalau begitu." Akhirnya Anne pun memutuskan untuk keluar juga menemui Alan. Dia mengajak Anjani untuk menemaninya.
"Nah itu Inne!" kata Anna begitu melihat Anne berjalan mendekat ke arah mereka duduk. Anne masih berjalan dengan pelan, beriringan dengan Anjani kecil.
"Hai Al, maaf ya. Aku gak tahu jika ada kamu datang tadi!" Anne berkata di buat sewajar mungkin.
"Gak papa, aku cuma mau anter buah buat anak-anak kok!" jawab Alan tersenyum. Dia senang karena Anne mau menemuinya juga.
"Oh ya, terima kasih lho ya!" Anna tersenyum mendengar perkataan Alan. Dia tahu jika Alan memang baik. Mungkin dia hanya ada kesalah pahaman saja kemarin-kemarin.
"Maaf ya jarang muncul ke kelas kamu. Aku lagi ada banyak tugas untuk persiapan lomba soalnya!" kata Anne memberi tahu alasannya jarang datang ke kelas Anna jika waktunya istirahat.
"Oh, kamu mau ada lomba?" tanya Alan sedikit lega.
"Iya, dan aku banyak meminta bantuan Larry. Soalnya dia juga ikut lomba ini" jawab Anne memberi tahu.
Akhirnya Alan tahu jawabannya kenapa Anne menjadi terlihat dekat dengan Larry. Memang kadang kesalah pahaman membuat hati tidak tenang jika belum tahu dengan kebenaran yang sesungguhnya.
lanjut...