ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 25
.
Beberapa hari berlalu.
Lilo tidak pernah bertemu dengan Jarvis. Dia sibuk mempersiapkan ulangan semesternya.
Dia harus bisa naik kelas tiga dengan nilai yang luar biasa seperti biasanya. Dia selalu menduduki peringkat pertama di sekolahnya. Dia adalah yang terbaik di sana.
Dia memang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Itu sebabnya ada banyak perguruan tinggi yang sudah memintanya untuk masuk ke sana.
Sayangnya Lilo justru tertarik untuk ke akademi kepolisian. Dia ingin menjadi seorang polisi wanita. Walaupun Muvita sering mencoba untuk membujuknya. Dia tidak mau putrinya menjadi seseorang yang harus bekerja keras seperti itu.
Hari ini adalah hari terakhir ulangannya. Dia benar-benar tidak memberikan Jarvis kesempatan untuk menghubunginya. Bagaimana dia menempatkan nomor handphone Jarvis pada black list yang membuatnya tidak bisa menghubunginya.
Hubungan antara Jarvis dan Lilo sebenarnya semakin membaik. Keduanya juga semakin dekat. Lilo mulai merasa nyaman berada di dekat pria yang jauh lebih tua darinya. Walaupun begitu, Lilo masih membuat jarak antara dia dan Jarvis.
Kini dia sudah selesai dengan ulangannya, dia memutuskan untuk merefresh kan dirinya.
"Kayaknya pergi shopping bisa ngademin otak gue yang panas..." ujarnya.
Da menghentikan langkahnya saat dia melihat seseorang yang sedang tidak ingin dia temui.
"Ngapain loe di mari?!" Tanya Lilo dengan ketus saat melihat Jarvis datang ke sekolahnya untuk menjemputnya.
"Kamu memblokir nomor ku... Aku tidak bisa menghubungi mu, jadi aku datang langsung kemari." jawab Jarvis
"Gue ada ulangan! Gue enggak mau di ganggu! jadi gue sengaja blokir nomor loe!" Lilo mengambil handphone miliknya dari dalam saku seragam sekolahnya.
"Nih! Udah gue lepasin dari black list!" ucap Lilo sembari memperlihatkan layar smartphone mahal miliknya.
Jarvis tersenyum lebar melihatnya.
"Kita makan siang bareng. Ada restoran baru yang ada di pusat belanja milik ku. Kamu pasti akan sangat menyukainya." Jawab Jarvis
"Tapi gue enggak laper." Tolak Lilo, dia memilih untuk mendekat ke mobil temannya yang ada di dekatnya.
"Sebentar saja..." Jarvis menahan tangan Lilo yang begitu ingin pergi darinya.
"Paman... Mau ngapain sih?!" Lilo menepis tangan Jarvis yang terus saja memegangi tangannya.
"Kita makan siang bersama. Sebentar saja."
Lilo menghela nafasnya, sebenarnya dia memang sangat lapar, tapi dia tidak ingin bersama Jarvis saat ini. Walaupun sebenarnya dia sedikit merindukannya.
"Baiklah..." jawab Lilo, dia berjalan mendekati mobil Jarvis, dimana Jarvis sudah siap membukakan pintu untuknya
"Kita akan makan di mana?" tanya Lilo begitu Jarvis sudah siap untuk membawa mobilnya melaju ke tempat yang akan mereka tuju.
"Kita akan makan di restoran baru yang ada di pusat perbelanjaan milik keluarga ku." jawab Jarvis.
"Oh."
Jarvis tersenyum melihat Lilo yang tidak lagi bersikeras untuk pergi darinya.
"Kamu merindukanku?" tanya Jarvis yang kini sudah mulai fokus mengemudikan mobilnya.
"Gue? Rindu sama elo?" Lilo menunjuk pada dirinya sendiri
Jarvis menganggukan kepalanya.
"Mm... Kita sudah beberapa hari tidak bertemu. Aku pikir mungkin kamu merindukan ku, seperti aku merindukanmu." jawab Jarvis.
Wajah Lilo memerah, dia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil Jarvis.
"Gue enggak mikirin loe sama sekali! Gue sibuk ulangan. otak gue cuman buat mikirin materi pelajaran!" jawab Lilo yang masih tidak ingin menatap ke arah Jarvis
Jarvis tersenyum mendengar itu.
"Sungguh?"
"Iya!" jawab Lilo yang masih belum mau melihat ke arah Jarvis.
Jarvis menepikan mobilnya.
Dia juga melapaskan sabuk pengamannya
"Kenapa berhenti?" Lilo menatap ke arah Jarvis yang kini begitu dekat dengannya.
"Aku ingin membuktikan, apakah kamu merindukan ku atau tidak..." jawab Jarvis
Lilo belum sempat memikirkan apapun, atau bahkan melakukan apapun, namun Jarvis dengan cepatnya sudah mencium bibirnya.
Perasaan hangat dan manis yang pernah dia rasakan sebelumnya saat Jarvis menciumnya beberapa hari yang lalu
'shit! Gue enggak bisa nolak! Paman duda beneran bahaya!' batin Lilo.
Jarvis melepaskan ciumannya, dia melihat wajah cantik Lilo yang masih begitu dekat dengannya.
"Kamu tidak mendorong ku... Itu artinya kamu menyukainya kan? Dan kamu juga merindukan ku..." ucap jarvis, tanpa menunggu jawaban apapun dari Lilo, dia sudah kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Lilo.
'Oh Gosh! Dia nyium gue lagi! Paman duda beneran tahu cara bikin gue diem!' batin Lilo lagi
Ciuman Jarvis kali ini begitu berbeda. Dia kini mulai ******* perlahan-lahan bibir manis Lilo yang sangat dia rindukan beberapa hari terakhir.
Lilo juga mulai perlahan-lahan membalas ciuman Jarvis yang semakin lama membuatnya semakin merasa nyaman.
Mendapatkan balasan dari Lilo, membuat Jarvis semakin bersemangat. Dia juga mulai terbakar oleh api gairah yang selama ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tangannya mulai bergerak menyentuh tubuh Lilo.
"Ahh... Paman..." Lilo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan desahannya saat Jarvis menyentuh titik sensitif tubuhnya.
Mendengar itu Jarvis segera menjauh dari Lilo.
'Damn! Aku tidak boleh lepas kendali seperti ini, dia masih SMA... Tapi... aku tidak akan bisa menahannya jika aku terus menciumnya seperti tadi.' Jarvis memilih untuk kembali mengemudikan mobilnya.
Sementara Lilo kini kembali memalingkan wajahnya yang memerah ke arah pemandangan yang ada di sampingnya.
'paman duda beneran bahaya! Bisa-bisa gue hamil sebelum gue lulus... Gue enggak bis ajadi polwan dong! Beneran harus jauh-jauh dari orang ini...' Lilo melirik sekilas ke arah Jarvis yang juga terlihat memerah wajahnya.
Lilo tersenyum melihat itu.
"Dia juga sangat imut saat tersipu seperti itu..." gumam Lilo.
"Lilo... Kita ke tempat lainnya saja. Apa kamu mau?"
"Kemana?"
"ke rumah ku." Lilo segera menatap Jarvis dengan penuh pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya
"Ngapain ke rumah loe? Gue enggak mau!" tolak Lilo.
"Aku ingin membuat mu lebih dekat dengan mama Dian."
"Gue enggak mau!" tolak Lilo lagi.
"Tapi aku mau..." Jarvis tersenyum lebar. Dia tidak mendengarkan apa yang Lilo katakan, dia hanya ingin membuat Lilo bisa lebih dekat dengan seseorang ya g sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Paman duda! Gue udah bilang kalau gue enggak mau! Tapi elo maksa gue! Jadi, jangn salahin gue, kalau gue mungkin bakalan bikin masalah di rumah elo nantinya!" Lilo menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Dia hanya tidak ingin bertemu dengan Andara yang pasti akan membuat masalah dengannya.
"Aku tidak keberatan jika kamu membuat masalah. Aku akan dengan senang hati menyelesaikan semuanya untuk mu." jawab Jarvis dengan senyuman lebarnya.
"Idiot!" desis Lilo
Dia kini hanya bisa pasrah dan bersiap untuk menghadapi dia nenek lampir yang akan menyerangnya nantinya.
'Nasib! Haissshh... Siapin mental aja lah... Ngadepin nenek lampir harus siapin mental yang kuat.' batin Lilo.
Kini Lilo dan Jarvis sampai di depan rumah besar yang merupakan milik keluarga Jarvis.
"Ayo!" ajak Jarvis saat dia membukakan pintu mobil untuk Lilo
"Gue bisa sendiri!" Lilo berjalan dengan wajah kesalnya mendahului Jarvis.
Melihat itu Jarvis justru tersenyum lebar.
"Dia memang sangat berbeda..."
Jarvis mengikuti langkah kaki Lilo yang kini berjalan masuk ke dalam rumah Jarvis
"Lilo!" Andara melotot saat melihat Lilo masuk ke dalam rumah.
Namun dia tidak bisa melakukan apapun karena Jarvis ada di belakangnya.
Lilo hanya tersenyum menyeringai pada keduanya yang terlihat terkejut melihatnya ada di sana.
Lilo berjalan mendekati Dian yang masih terkejut saat melihatnya.
"Tante Dian, bagaimana kabar tante?" tanya Lilo seraya mencium tangan Dian dengan begitu sopan.
"A-a-ku baik... Iya... Aku baik-baik saja." jawab Dian yan terlihat begitu gugup.
"Syukurlah kalau tante baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan mu Bibik Andara?" Lilo tersenyum usil pada Andara yang hanya bisa menelan kemarahannya itu.
"Aku juga baik-baik saja." jawab Andara sembari memperlihatkan senyumanya yang ramah.
'senyum aja terus... gue pengen liat sampai kapan loe bisa nahan itu... Mau main sama gue? Gue jabanin!' Lilo tersenyum begitu manis, namun itu justru membuat Andara merasa ada sesuatu yang buruk sedang menunggunya.
'apa yang akan gadis sialan ini lakukan kali ini... Aku harus bersiap untuk menghadapinya... Jika tidak, aku pasti akan hancur oleh rencananya...' batin Andara.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah