Follow IG Aska: Askaori12
🚫DILARANG PROMO DI SINI!!!!🚫
Sebelum baca Aga: Genius Girl, baca dulu Arrogant Girl Adventure
Setelah berhasil kembali ke dunia modern, Jin Lien mengira jika semua berjalan sesuai rencananya. Namun, Jin Lien harus memulai langkah awal di dunia modern dengan ingatan dan kekuatannya disegel.
Pelanggaran yang dilakukan Jin Lien dengan membawa semua kerabatnya yang tidak mencapai ranah reinkarnasi, membuatnya harus memulai dari awal tanpa orang-orang tercinta menemani setiap langkahnya.
Hanya berbekal sistem yang tidak terpengaruh, Jin Lien memulai segalanya dan tidak menyerah untuk mencari apa yang kurang dan mengisi perasaan kosong di hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askaori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Picisan Ayah dan Anak
Memasuki ruang kepala sekolah, Jin Lien melihat ayahnya yang sedang menikmati teh pagi bersama kepala sekolah.
Kepala sekolah mengamati Jin Lien dari atas sampai bawah, dia mengernyit karena Jin Lien tidak memiliki kemiripan sedikitpun dengan Feng Lingya, tapi lebih mirip Nian Fei.
Dia kemudian kembali memandang Feng Lingya dengan heran dan berpikir dalam hatinya. Apakah anak perempuan keluarga Feng ini adalah anak haram dari Nian Fei dengan pria lain?
Namun, itu mustahil karena dia juga tahu jika Nian Fei merupakan istri dan ibu yang bertanggung jawab, tidak mungkin memiliki pria di luar.
"Duduk!"
Kepala sekolah memerintahkan Jin Lien untuk duduk, sedangkan Feng Lingya masih tenang menikmati teh paginya.
"Karena kau adalah anak Feng Tua, dan pasti kau cukup cerdas, aku memutuskan untuk memasukan dirimu di kelas roket."
"Tidak, aku ingin sekelas dengan siswi yang bernama Luo Yao Yao."
Jin Lien langsung menolak tanpa berkedip, dan itu membuat kepala sekolah terdiam.
"Sudahlah Ren tua, masukan saja dia di kelas yang dia inginkan!"
Kepala sekolah yang memiliki nama Ren Jianyi memandang teman lamanya, karena teman lamanya tidak keberatan, dia memilih menempatkan Jin Lien di kelas yang Jin Lien inginkan.
"Oke, tapi kau harus menunggu sebentar, aku akan memanggil wali kelas di kelasmu untuk datang."
"Terima kasih kepala sekolah."
Jin Lien bertingkah sangat sopan, tapi melihat ayahnya yang tampak cuek dan memilih menikmati teh dengan nyaman, membuat Jin Lien agak tidak puas.
"Ayah!"
Namun, Feng Lingya tidak menjawab, dia masih agak tertekan karena kejadian tadi pagi, di mana Jin Lien tidak ingin menggunakan uangnya. Terlebih, Jin Lien tidak ingin dirinya mengantar ke sekolah dan meminta untuk menunggu.
Anak macam apa yang meminta ayahnya untuk menunggu?
"Ayah!"
Sekali lagi Feng Lingya tidak menjawab panggilan putrinya itu, hingga membuat Jin Lien agak dongkol. Dia langsung merampas cangkir teh milik Feng Lingya yang ingin di minum isinya dengan tidak berperasaan dan kemudian memasukan teh tersebut ke mulutnya sendiri lalu menaruh gelas di meja.
Kepala sekolah tercengang dengan tindakan Jin Lien, bahkan Feng Lingya sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Menaruh gelas teh di meja, Jin Lien berdiri dari posisinya dan meraung.
"Oke, abaikan saja aku! Abaikan saja! Hm." Feng Lingya menatap ngeri pada Jin Lien yang mengamuk.
Dia langsung berdiri dan membuat Jin Lien duduk kembali tanpa menyadari seringai jahil Jin Lien.
"Baik, jangan marah! Ayah tidak akan mengabaikan mu."
Jin Lien mengangkat kepalanya dan menatap Feng Lingya dengan mata berkaca-kaca. Hal tersebut sukses membuat Feng Lingya panik bukan main.
Pemandangan tersebut sukses membuat kepala sekolah tercengang, dalam ingatannya, sahabat lamanya itu sangat tegas dan galak, tapi di depan anak perempuannya, dia bahkan bertindak lemah.
"Jangan marah, oke? Sekarang katakan apa yang kau inginkan, ayah akan memberikannya padamu!"
Jin Lien sweatdrop mendengar hal tersebut, bahkan Feng Lingya masih dengan santai memanjakannya. Namun, dia harus memanfaatkan hal ini.
"Benarkah?"
"Tentu, katakan apa yang kau inginkan, nak?"
Jin Lien menunduk dengan malu-malu dan meminta Feng Lingya menunduk sedikit.
Dia kemudian berbisik di telinga Feng Lingya tentang apa yang dia inginkan.
Untuk sejenak, Feng Lingya mematung mendengar keinginan anak perempuannya.
Dia memandang Jin Lien penuh penilaian sebelum mengangguk setuju.
"Oke, kau mendapatkannya."
Sontak Jin Lien kegirangan dan memeluk Feng Lingya dengan semangat hingga membuat tulang Feng Lingya berbunyi gemeretak.
Namun, setelah tulang Feng Lingya berbunyi, dia merasa nyaman, ketidaknyamanan yang dia alami selama beberapa hari seolah menghilang.
"Oke, Lien kecil jangan terlalu bersemangat! Lihat, kepala sekolah saat ini terdiam melihat tingkahmu."
Jin Lien untuk beberapa saat menjadi tenang, wajahnya sangat datar dan tidak memiliki ekspresi.
Kepala sekolah yang melihat perubahan itu, seketika memiliki banyak ekspresi aneh di wajahnya. Namun, kepala sekolah kembali tenang karena wali kelas Jin Lien akhirnya muncul.
"Kepala sekolah, Anda mencari saya?"
"Ibu Su, dia akan menjadi murid di kelas Anda!"
Ibu Su menatap Jin Lien, kemudian tersenyum ramah.
"Baik kepala sekolah, kalau begitu aku akan membawa murid baru bersama."
"Pergi!"
Jin Lien berdiri, dia mengecup singkat pipi Feng Lingya dan mengikuti Ibu Su.
"Nak, kebetulan pelajaran pertama aku yang mengajar, kelas kita bukan kelas terbaik ataupun kelas terburuk, tapi kau harus belajar dengan serius."
"Oke."
Mereka akhirnya sampai di depan kelas, Ibu Su meminta Jin Lien untuk menunggu sebentar di luar.
Semua murid di kelas melihat Ibu Su tiba, mereka menjadi tenang. Tidak ada yang tidak tahu, meski ibu Su bersikap ramah dan baik, Ibu Su merupakan seorang guru killer.
"Kelas kita kedatangan murid baru, kalian harus akrab ke depannya."
Seketika pandangan mengarah pada Luo Yao Yao yang duduk dengan tenang membaca buku. Mereka berpikir jika murid baru itu adalah gadis yang bersama Luo Yao Yao tadi pagi.
Melihat tidak ada tanggapan, mereka kembali menatap Ibu Su dan mengangguk.
"Nak, masuklah!"
Jin Lien masuk, tidak ada expresi di wajahnya, dia mengedarkan pandangannya di seluruh kelas, hingga pandangannya jatuh pada Luo Yao Yao yang sibuk membaca.
"Perkenalan namamu?"
"Jin Lien."
Singkat, padat dan jelas. Jin Lien terlalu malas menggunakan nama Feng, dia tahu jika keluarga Feng adalah keluarga terkenal di kota F.
"Hanya itu?" Jin Lien mengangguk, Ibu Su tersenyum kecil, meski dia tahu identitas asli Jin Lien, melihat muridnya ingin menyembunyikan identitasnya, dia tidak menolak.
"Kau bisa duduk di bangku kosong di belakang sana!"
Jin Lien melihat jika bangku kosong ada di samping Luo Yao Yao, dia mengangguk.
Melangkah menuju bangku miliknya, dia menyeringai ketika melihat seorang murid pria mengulurkan kaki untuk membuatnya tersandung.
Berpura-pura tidak melihat, dia menginjak kaki murid tersebut.
"Aaaarrrgh."
Murid itu sontak berteriak, dan Jin Lien berkata seolah tak peduli.
"Maaf, aku tidak melihat kakimu." Ibu Su sendiri menggeleng dan menatap murid tersebut dengan aneh.
"Ya, seperti yang aku janjikan, tutup buku kalian dan kita mulai ujian mingguan."
Segera beberapa murid di kelas tersebut panik, tapi ada beberapa orang yang masih sangat santai.
Luo Yao Yao termasuk orang yang santai, menutup buku yang dia baca dan hanya menyimpan pena di meja miliknya.
Dia melirik Jin Lien di sebelahnya dan tersenyum.
"Tidak apa-apa Lien, karena kau murid baru, Ibu Su tidak akan memaksamu untuk memiliki nilai bagus."
"Jangan khawatir! Aku bisa mengatasinya."
Jin Lien juga hanya mengeluarkan pena dan menyimpan tas sekolah dengan rapi di laci.
.....
Mungkin Chapter ini agak gaje, tapi selamat membaca 🤧🤣🤣