Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 - Arah
Terdiam aku melihatnya,
Begitulah. Persetan dengan semuanya.
Kupikir. Seseorang yang tidak pernah mengalami betapa kerasnya dalam kehidupan, atau kehidupannya hanya berulang dan tidak ada yang berbeda disetiap harinya, maka, dia sulit memahami alasan kenapa orang mempunyai perbedaan dengannya. Tidaklah aku menyukainya. Aku cenderung tertarik dengan setiap orang yang mempunyai penampilan berbeda, tapi, mereka juga harus mempunyai pemikiran secara nyata, dan aku lebih memilih untuk beranjak dari tempatku, daripada aku yang harus mendengarkan sudut pandangannya, aku tidak peduli orang itu akan membenciku, atau merasa seakan tidak dihargai olehku kedepannya.
Seorang anak hanyalah gelandangan yang terfasilitasi dari orangtuanya, lalu, apa yang bisa dibanggakan oleh pemberian dari orangtua? Atau, mungkin aku hanya iri terhadap mereka yang mempunyai suatu hal yang bisa untuk dibanggakan, maksudku diri kita saja bukanlah milik pribadi, jadi apa yang akan dibanggakan oleh kita nantinya, kalau, sejak awal sebenarnya kita tidak mempunyai apapun yang bisa dibanggakan. Memalukan. Ada hal yang lebih aku sangat benci kepada semua orang sepertinya, yaitu kehidupannya yang semuanya tersedia dan tanpa mereka harus bersusah payah untuk membuatnya tersedia, kemudian apa yang sudah tersedia akan mereka pamerkan kepada semua orang, terlebih mereka akan sangat bahagia, kalau, orang lain meninggikannya saat itu juga.
"Ngapain?" ucap Damar
Aku menatap kedepan, "Aku heran aja. Barusan ada orang gila ngelantur. Beneran"
"Biasa" ucap Damar
Damar membakar rokoknya, lalu, tersenyum kecut, "Biarin. Mereka gak akan bisa ngerti kerasnya hidup. Belum pernah jalanin"
"Mereka hidup normal" tambahnya
"Hidup yang normal itu kayak gimana?" ucapku, tersenyum simpul
Damar menghembuskan rokoknya, dan tertawa disaat bersamaan, "Kayak mereka semua"
"Aku bener gak?" ucap Damar
"Benerlah" ucap Damar
Logika. Misalnya arahku berbelok kekanan ataupun kekiri harusnya aku membutuhkan seseorang yang arahnya berkebalikan denganku, agar nantinya arahku itu menjadi lurus, kalau aku mencari seseorang yang arahnya lurus, berarti arahku masih berbelok walaupun sedikit. Bagian yang menarik. Pemikiranku dengan orang yang bertolak denganku itu menciptakan suatu pendekatan, dan kebanyakan pastilah terjadi pertentangan yang kuat saat mencoba untuk menerima pemikiran orang lain, kemudian ada saat dimana kita nantinya terdiam mencerna perbedaan dari pemikiran tersebut, setelahnya, pada akhirnya kita akan memahami kelebihan serta kekurangan lawan bicara saat pertukaran dari pemikiran itu sendiri. Jalan yang lurus.
Tapi,
Akupun tidak kuatlah,
Berhadapan dengan orang yang mempunyai arah yang berlawanan denganku, hidup terus berjalan, kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang menyukai dan bukan artinya tidak menyukai itu selalu dipahami oleh kebencian, lalu, bukan artinya juga menyukai itu selalu dipahami oleh mencintai. Diriku. Aku mengambil buku yang kupinjam dari temanku, kemudian menyandarkan punggungku ketembok dikasur sembari membuka buku, dan tidak sengaja kulihat jam dihandphoneku yang menyala karena adanya pemberitahuan pesan masuk, aku mengambil handphoneku, lalu, aku buka pesan itu kemudian menelponnya. Katanya susah terlelap.
Kutelepon,
"Tanaya" ucapku
"Iya. Apa?" ucap Tanaya
"Kamu mau lomba sama aku gak?" ucapku
"Lomba?" ucap Tanaya
"Siapa yang paling cepet tidurnya berarti menang" ucapku
"Akulah yang menang" ucap Tanaya
"Sekarang jam berapa? Kamu bukannya tidur. Biasanya" ucapku
"Yaudah aku tidur ini sekarang" ucap Tanaya
"Semoga mimpi indah" ucapku
"Iya" ucap Tanaya
...Percaya atau tidaknya...
...Kebohongan yang kita dengarkan terus menerus akan menjadi sebuah kebenaran...
...*********...
Terdiam aku dibuatnya. Aku melihat luka tersembunyi disenyumnya, walaupun dia yang tidak pernah mengakuinya, dan seharusnya perempuan sepertinya mendapat kebahagiaan, aku tidak mengerti harus menyalahkan sifatnya yang mudah untuk dimaanfaatkan, atau, seseorang yang bermaksud untuk memanfaatkannya, terkadang, aku ingin sekali melihatnya tersenyum dengan sepenuh hatinya. Dunia penuh canda. Kita semua mempunyai luka dihati, kemudian seiring berjalannya waktu kita mencoba bersikap dewasa yaitu berdamai dengan luka tersebut, sebagian orang mungkin terlihat berhasil, dan sebagian yang lainnya, ada yang terus mengingat luka itu, ada yang ingin memindahkan luka itu kepada orang lain, ada yang ingin melawannya, serta masih banyak kemungkinan lainnya yang tejadi, kehidupan ini terlalu banyak menyimpan kemungkinan yang tidak ingin kita mengetahuinya.
Entahlah. Benar atau salah.
Menurutku. Orang yang paling keras hatinya, justru mereka yang paling tersakiti dan maka dari itu, terkadang aku tidak ingin ataupun berniat menentang kerasnya pendirian seseorang, Tanaya mulai sedikit menunjukkan hatinya yang keras terhadap siapapun yang mencoba sekedar mendekatinya. Naluri dari manusia. Porsi bahagia dari semua orang itu sama dan satu hal yang membedakannya yaitu caranya merawat luka itu sendiri, terkadang, aku begitu menyesalkan adanya kesedihan dihidupnya, maksudku, kenapa perempuan yang baik sepertinya harus dipertemukan oleh seseorang yang membawa pengaruh buruk kepadanya, hidup ini memang terlalu banyak menyimpan pertanyaan yang dibiarkan tanpa ada seorangpun yang bisa menjawabnya.
"Semua berjalan alami" ucap Tanaya
"Aku udah percaya sama dia. Tapi. Aku malah dipermaluin sama dia" ucap Tanaya, menatap jauh kedepan
Aku menatapnya lekat, kemudian tersenyum simpul, "Kamu yang baik"
"Kamu terlalu percaya, kalau, emang kita itu terlahir kedunia ini buat peduli sama merhatiin, terus mencintai orang disekitar. Padahal. Kenyataan gak kayak apa yang kamu bayangin" ucapku
"Sifatmu gampang dimanfaatin" ucapku
Tanaya menatap kosong, "Kamu manfaatin juga?"
"Kamu pasti beda" tambahnya
"Aku gak tau" ucapku
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....