NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Baru, Pilihan Baru, dan Aroma Kopi di Meja Makan

Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah gorden blackout berwarna kelabu muda di kamar utama lantai dua, memantul lembut pada lantai kayu ek yang bersih. Suara kicauan burung gereja di dahan pohon mangga depan rumah terdengar samar, berpadu dengan dengung halus penyejuk udara yang menjaga suhu ruangan tetap sejuk.

Clara mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tidur selama dan selelap itu tanpa mimpi buruk tentang pertengkaran di rumah lamanya, tanpa rasa cemas berlebihan mengenai sekolah, dan tanpa rasa sakit yang menusuk di pergelangan kakinya.

Namun, ada satu hal asing yang langsung disadari oleh indranya ia tidak sedang tidur sendirian.

Tubuhnya kini meringkuk begitu nyaman di dalam dekapan yang hangat. Lengan kokoh Arka melingkar protektif di atas selimut tebal yang menutupi pinggangnya, sementara wajah Clara berada tepat di dekat dada bidang pria itu. Aroma sabun mandi berpadu dengan wangi khas kulit Arka mendominasi indra penciumannya.

Clara menahan napasnya sejenak. Ia mendongakkan kepalanya secara perlahan, sangat berhati-hati agar tidak membangunkan suaminya. Dari jarak dekat seperti ini, ia bisa melihat pahatan wajah Arka yang sempurna bulu mata lentik yang menenun bayangan tipis di bawah kelopak matanya, hidung mancung tegas, dan bibir yang terkatup rileks. Garis wajah Arka saat tidur menghilangkan kesan 'dokter bedah yang galak dan dingin' di rumah sakit, menyisakan sosok pria muda yang tampak begitu tenang dan penuh wibawa.

Tanpa sadar, sebuah senyum simpul terbit di bibir Clara. Jemarinya yang bebas bergerak pelan, menyibak sehelai rambut hitam Arka yang sedikit berantakan di dahi.

"Sudah puas memandangi suami sahmu ini, Nyonya Arka?"

Suara bariton yang serak khas bangun tidur itu tiba-tiba mengalun rendah, membuat Clara terperanjat kecil. Jantungnya langsung berdegup kencang bak tabuhan genderang perang.

Saat Clara mendongak panik, ia mendapati manik mata hitam Arka sudah terbuka lebar, menatapnya penuh Geli dengan sudut bibir yang terangkat sebelah membentuk senyuman maut. Pria itu sudah sadar sejak tadi.

"M-Mas Arka! Aku... aku nggak merhatiin kok! Aku cuma mau bangun..." elak Clara dengan pipi yang memerah padam hingga menjalar ke daun telinga. Ia mencoba menarik tubuhnya mundur, namun pelukan Arka di pinggang justru sedikit mengencang, menahan gerakannya tanpa ada niat menyakiti.

"Mau ke mana? Pagi-pagi kok sudah mau kabur?" bisik Arka dengan suara rendah yang sengaja dilembutkan, membuat lutut Clara terasa lemas seketika. "Tidurmu nyenyak semalam?"

Clara menggigit bibir bawahnya, menunduk malu. "N-nyenyak banget. Makasih ya, Mas..."

Arka terkekeh renyah. Ia melepas dekapannya secara perlahan agar Clara tidak merasa terkekang, lalu mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang sambil merenggangkan otot-otot bahunya yang kaku karena semalaman menjadi bantal hidup.

"Baguslah kalau begitu. Sekarang, coba gerakkan pergelangan kaki dan juga lutut kananmu. Masih terasa nyeri?" tanya Arka beralih menjadi mode profesional kedokterannya.

Clara mengangguk ragu, lalu perlahan menggeser selimut dan mencoba memutar pergelangan kakinya ke kanan dan ke kiri. "Udah jauh berkurang, Mas. Nggak sesakit kemarin waktu malam."

"Kompres air hangat dan istirahat total semalam memberikan hasil yang efektif. Tapi ingat, hari ini kamu tetap harus pakai tongkat dulu waktu jalan ke lantai bawah. Jangan nekat loncat-loncat," tegas Arka memperingatkan, lalu bangkit dari tempat tidur. "Saya mandi duluan. Di bawah, biar asisten rumah tangga kita, Bi Inah, yang menyiapkan sarapan. Tapi ingat aturan saya semalam habiskan porsi makananmu."

Setelah Arka menghilang di balik pintu kamar mandi dalam, Clara menghela napas panjang sembari memegang dadanya sendiri. Jantungnya masih berdegup liar. Menikah secara mendadak dengan pria sesempurna Arka rasanya seperti menaiki roller coaster emosi yang tak berkesudahan antara takut, takjub, dan diam-diam merasa sangat beruntung.

Lima belas menit kemudian, aroma harum kopi tubruk dan pancake vanila langsung menyambut indra penciuman begitu Clara menuruni anak tangga dengan dibantu tongkatnya. Arka tampak sudah rapi mengenakan kemeja biru muda digulung sampai siku dan celana bahan gelap, berdiri di dekat dapur minimalis sambil menuangkan susu hangat ke dalam cangkir Clara.

"Pagi, Bi Inah," sapa Clara ramah saat melihat seorang wanita paruh baya bertubuh gempal tersenyum menyambutnya.

"Pagi juga, Non Clara. Wah, cantiknya pengantin baru kita," puji Bi Inah tulus sambil meletakkan sepiring pancake hangat dengan taburan buah stroberi segar di atas meja makan marmer. "Den Arka dari tadi subuh sudah pesan ke Bibi, katanya Non Clara harus dibikinin makanan yang bergizi tinggi biar cepat pulih."

Pipi Clara kembali memanas. Ia melirik sekilas ke arah Arka yang sedang menyesap kopi hitamnya. Pria itu hanya tersenyum tipis tanpa rasa bersalah, seolah tidak merasa telah membuat istrinya salah tingkah pagi-pagi begini.

"Duduklah, Clara. Sarapan dulu sebelum bersiap ke sekolah," titah Arka lembut, menarikkan kursi kayu jati berlapis busa empuk untuk Clara.

Selama sarapan, suasana meja makan terasa sangat hangat. Bi Inah sesekali melontarkan candaan ringan yang membuat Clara tertawa lepas. Arka, di sisi lain, dengan telaten memotong-motong pancake Clara menjadi bagian kecil agar mudah dimakan, tindakan sederhana yang menunjukkan betapa besar perhatian pria itu di balik sikap dinginnya di luar rumah.

"Mas Arka nanti sore jam berapa pulang?" tanya Clara di sela-sela tegukan susu hangatnya.

"Jadwal operasi saya selesai jam empat sore. Kenapa? Mau minta jemput atau ada buku sekolah yang mau dibeli?"

"Ehm... sebenarnya, aku mau mampir sebentar ke toko buku di dekat stasiun buat beli buku latihan soal ujian nasional. Tapi kalau Mas Arka sibuk, aku bisa—”

"Saya jemput," potong Arka cepat, tanpa keraguan sedikit pun. "Jam empat lewat seperempat saya tunggu di gerbang sekolahmu. Tidak ada penolakan."

Clara tertegun sejenak, lalu mengangguk patuh dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Perasaan 'diabaikan' yang selama belasan tahun menggerogoti hatinya seolah disembuhkan sedikit demi sedikit oleh kehadiran pria ini.

Pukul tujuh lewat sepuluh menit, mobil SUV hitam milik Arka berhenti tepat di depan gerbang SMA Nusa Bangsa. Kehadiran mobil mewah berplat nomor khusus itu tentu saja langsung menarik perhatian puluhan pasang mata siswa-siswi yang baru datang. Terlebih ketika pintu kemudi terbuka dan sosok Arka yang namanya cukup sering dibicarakan sebagai salah satu dokter muda paling cemerlang di kota turun untuk membukakan pintu sisi penumpang.

Bisik-bisik penasaran langsung memenuhi udara pagi.

“Eh, itu siapa yang turun dari mobil Dokter Arka?”

“Bukannya itu Clara anak kelas XII IPA 1? Yang kemarin kakinya cedera?”

“Wah, seriusan diantar sama dokter ganteng itu? Hubungan mereka apa sebenarnya?!”

Clara merapatkan mantel sekolahnya, merasa salah tingkah saat menyadari ribuan pasang mata kini menatap ke arahnya. Ia mengambil tongkatnya dengan canggung.

Melihat keraguan di wajah sang istri, Arka berinisiatif mencondongkan tubuhnya. Tanpa peduli pada tatapan orang-orang di sekitar, Arka merapikan letak tas ransel di bahu Clara, lalu berbisik lembut tepat di dekat telinganya.

"Jangan pedulikan mereka. Jalani harimu seperti biasa. Ingat, nanti sore saya jemput di sini. Kalau ada yang mengganggumu, langsung hubungi nomor saya. Mengerti?"

Aroma woody yang menenangkan kembali menyelimuti indra Clara, mencairkan segala rasa gugupnya. Clara mengangguk pelan. "Iya, Mas Arka. Hati-hati di jalan menuju rumah sakitnya."

"Belajar yang rajin, Nyonya Arka," balas Arka diakhiri dengan sebuah usapan lembut di puncak kepala Clara, sebelum akhirnya pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan area sekolah.

Sepeninggal mobil Arka, Clara berdiri terpaku sejenak di depan gerbang. Dua orang sahabat karibnya, Maya dan Rara, langsung berlari menghampirinya dengan napas tersengal-sengal dan mata berbinar-binar penuh selidik.

"Clara! Ya ampun, demi apa barusan itu?!" teriak Maya histeris sambil memegang lengan Clara. "Itu beneran Dokter Arka Samudra nugroho? Spesialis bedah ortopedi terkenal yang sering masuk majalah kedokteran itu?!"

Rara mengangguk antusias tak kalah heboh. "Dan tadi dia ngelus kepala kamu?! Clar, jujur sama kita, kamu sebenarnya ada hubungan apa sama beliau? Jangan bilang kalian... terselubung?!"

Clara merona merah, merutuk dalam hati karena tahu gosip ini pasti akan menyebar dengan cepat seantero sekolah sebelum bel jam pertama berbunyi. Ia pun merangkul kedua sahabatnya, berjalan pelan memasuki koridor sekolah.

"Nanti... nanti aku ceritain semuanya di kantin pas jam istirahat," bisik Clara malu-malu, sementara senyum bahagia tak kunjung surut dari bibirnya."Eh mana sih Fani? Tumben dia nggak bareng sama kalian berdua?"

"Dia belum datang, mungkin sebentar lagi" jawab Rara.

"Hai... Hai... Ciwi... Ciwi...!! Lagi pada ngapain disini?!" seru Fani sambil berlari menghampiri ketiga sahabatnya.

"Kita habis lihat drama Korea secara live Fan, kamu sih berangkatnya terlambat. Jadi nggak bisa lihat livenya deh" jawab Maya antusias.

"Apaan sih kamu May, udah yuk masuk bentar lagi bel bunyi" ajak Clara.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Clara melangkah memasuki gerbang sekolah bukan dengan beban hidup yang menghimpit dada, melainkan dengan keyakinan baru bahwa hidupnya meskipun sempat hancur kini telah menemukan rumah yang sesungguhnya.

1
Hutami Ningrum
next di tunggu arka junior segera launching 💪😍
Hutami Ningrum
seru aku mau maraton 😍
Hutami Ningrum
wah seru kak sama sama ketus 😍 ga sabar lihat ntar kalau di jodohkan kek mana ya
Renjana
waduh, sudah dijodohkan
Intan Wiwi: yang ini sequel dari Seinara dan Nathan ya🤭. yang ini kisah anaknya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!