NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Bella bersikeras minta diantarkan pulang. Meskipun tubuhnya masih sangat lemas dan napasnya tersengal, ia mencengkeram lengan jas Julian dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

"T-tolong... antarkan aku pulang ke rumah," bisik Bella terbata-bata, matanya menatap Julian dengan tatapan memohon yang amat sangat. "Aku sudah berjanji... aku harus memasak malam ini. Ini ulang tahunku... Kak Ethan, kak Aaron,  kak Charles dan Olivia pasti menunggu."

Julian mengernyitkan alisnya, menatap tidak percaya pada gadis di sampingnya. "Bella, kau baru saja hampir kehilangan nyawamu. Garis itu sudah merambat sampai ke pergelangan tanganmu! Kau butuh istirahat, bukan malah pergi ke dapur dan melelahkan dirimu."

"Kau tidak mengerti!" air mata Bella kembali menetes, membasahi pipinya yang pucat. "Ini mungkin... ini mungkin kesempatan terakhirku untuk berkumpul bersama mereka. Aku tidak punya waktu lagi, Julian. Kumohon... antarkan aku pulang."

Melihat keputusasaan yang begitu besar dan kilat tekad yang keras di mata Bella, Julian akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia tahu rasanya dikejar oleh waktu yang hampir habis. Dengan berat hati, Julian menatap sopirnya di depan lewat kaca spion.

"Ubah rute. Kita pergi ke alamat rumah Nona Bella," perintah Julian tenang, lalu kembali menatap Bella. "Sebutkan alamat rumahmu, Bella. Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu."

Bella membisikkan alamat rumahnya dengan suara lirih. Sepanjang sisa perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil yang hangat. Julian hanya diam memperhatikan tangan kiri Bella yang kini ia tutupi dengan lengan jaket, sementara di dalam kepala Julian, berbagai pertanyaan tentang kutukan kembar mereka mulai bermunculan.

Sesampainya si rumah bella turun dari mobil Julian, dan bella menekan Bell rumah dan di buka oleh bi laras, dan saat bella masuk rumah ternyata rumah itu terasa sepi.

Rumah itu justru hanya berisi para pelayan. Saat Bella mendorong pintu utama yang berat, tidak ada kehangatan keluarga yang menyambutnya, melainkan pendar lampu kristal yang menerangi lobi sunyi dan beberapa pelayan yang sedang sibuk merapikan rumah.

Hati Bella seketika mencelos. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak di atas lantai marmer.

Seorang kepala pelayan paruh baya yang menyadari kedatangan Bella segera menghampirinya dengan raut wajah sungkan. "Selamat malam, Non Bella. Anda baru pulang?"

"Bi..." Bella berbisik dengan suara serak, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Di mana Kak Ethan? Dan... di mana Olivia? Apa mereka belum pulang?"

Kepala pelayan itu menundukkan kepala, menghindari tatapan mata Bella yang dipenuhi keputusasaan. "Mohon maaf, Non. Tuan Ethan, Tuan Aaron, Tuan Charles, dan Non Olivia belum pada pulang pulang semua, non Olivia masih ada kelas saat ini. Kalo tuan belum pulang dari kantor."

"Lalu... pesan yang kukirim?" tanya Bella, suaranya bergetar hebat.

Kepala pelayan itu meremas celemeknya dengan cemas. Ia menelan ludah pelan sebelum akhirnya mendongak dengan tatapan penuh rasa iba.

"Mengenai hal itu, Non ...," ucapnya terbata-bata. "Tadi Asisten Tuan Ethan sempat menelepon ke rumah untuk memastikan apakah Non Bella sudah pulang atau belum. Beliau bilang ... Tuan Ethan sudah membaca pesan dari Non Bella."

Bella merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. "Lalu? Apa Kak Ethan menitipkan pesan untukku? Dia ... dia bilang akan pulang, kan, Bi?" kejar Bella dengan binar harapan yang mendadak menyala kembali di matanya yang basah.

Kepala pelayan itu menggeleng lemah, menghancurkan sisa-sisa binar itu tanpa ampun. "Tidak ada pesan apa pun, Non. Tuan Ethan hanya membacanya, lalu menyuruh asistennya menutup telepon. Tidak ada balasan."

Jawaban itu telak menghantam dada Bella. Harapan yang ia bawa jauh-jauh dari kantor Ethan kini runtuh sepenuhnya menjadi serpihan tak berharga. Kakaknya tidak sibuk sampai mengabaikannya. Kakaknya hanya tidak peduli. Pesan tentang hari ulang tahunnya, permohonan tulusnya untuk makan bersama, semua itu tidak lebih dari angin lalu bagi seorang Ethan.

Bella memaksakan sebuah senyuman getir di bibirnya yang pucat, mencoba menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya. "Ah, begitu, ya. Ya sudah, tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah memberi tahu."

Dengan langkah yang limbung dan tubuh yang semakin lemas akibat rasa sakit fisik yang kembali mencengkeram dadanya, Bella berbalik arah menuju dapur. Ia tidak boleh menyerah sekarang. Walau hatinya hancur, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memasak malam ini.

Julian yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menatap Bella dengan pandangan iba sekaligus geram. Ia menyaksikan bagaimana sebuah keluarga dengan tega mencampakkan darah dagingnya sendiri di saat-saat terakhirnya.

Bella membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki di depan pria asing yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia menatap mata Julian dengan pandangan sayu yang sarat akan kelelahan emosional.

"Julian, kamu pulanglah. Ini sudah malam," ucap Bella lirih, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak begitu getir di wajah pucatnya. "Dan... terima kasih banyak sudah mengantarku pulang."

Bella tahu ia tidak bisa melibatkan Julian lebih jauh ke dalam peliknya labirin hidup dan kutukan keluarganya. Ia hanya ingin menghabiskan sisa detak jantungnya tanpa perlu membebani orang lain.

Namun, Julian tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Sepasang matanya menatap Bella lekat-lekat, lalu turun melihat tangan kiri Bella yang kembali bergetar di balik saku jaketnya. Sebagai sesama pemilik gurat hitam misterius, Julian tahu betul bahwa ketenangan yang ditunjukkan Bella saat ini hanyalah topeng dari keputusasaan yang mendalam.

"Kau menyuruhku pergi setelah tahu apa yang tertulis di telapak tangan kita, Bella?" tanya Julian dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang, namun menyiratkan penolakan untuk beranjak. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di rumah yang sedingin ini."

Para pelayan yang berada di lobi hanya saling pandang dengan bingung, tidak berani mencampuri urusan nona sulung mereka dengan pria asing berpenampilan terhormat tersebut.

Bella tetap mengusir Julian secara halus. Ia menggelengkan kepala pelan, mengabaikan tatapan khawatir dari pria itu.

"Aku baik-baik saja, Julian. Tolong... biarkan aku sendiri sekarang," ucap Bella dengan suara yang teramat lirih namun penuh penekanan.

Tanpa menunggu jawaban Julian lagi, Bella membalikkan badan dan melangkah tertatih-tatih menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Julian hanya bisa terpaku di lobi, menatap punggung rapuh gadis itu yang perlahan menghilang di kegelapan koridor atas.

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, pertahanan Bella runtuh sepenuhnya. Air matanya mengalir deras tanpa suara.

Bella menatap lembaran foto duka di kamarnya. Dengan jemari yang gemetar dan raut penuh kesedihan, ia mengusap permukaan kaca bingkai itu secara perlahan, menghalau debu yang seolah ikut mengubur kenangan mereka. Setelah meletakkannya kembali, ia memaksakan kakinya melangkah turun ke lantai bawah. Targetnya belum berubah: memasak makan malam untuk kakak-kakaknya dan si bungsu, Olivia.

"Ulang tahunku yang terakhir ini... aku harus merayakannya dengan baik," bisik Bella pada kesunyian dapur.

Ia mulai menyalakan keran dan mencuci sayuran di bawah air yang mengalir. Namun, saat helai demi helai daun hijau itu dibersihkan, sekilas warna merah pekat menetes di atas bak cuci piring. Bella tersentak. Sesuatu yang hangat dan kental mengalir deras dari lubang hidungnya.

"Darah..." desis Bella, jantungnya seketika mencelos. "Ternyata aku mimisan lagi."

Dengan panik, ia mengedarkan pandangan, mencari kotak tisu terdekat untuk menyumbat aliran merah yang kian tak terkendali itu.

Setelah membersihkan sisa-sisa darah dan membasuh tangannya hingga bersih, Bella kembali menyalakan kompor. Ia memaksakan tubuhnya yang kian ringkih untuk melanjutkan memasak.

"Kak Ethan suka ayam goreng pedas," gumam Bella lirih sembari memasukkan potongan ayam ke dalam wajan yang panas. "Aku ingat, waktu kami masih kecil, dia pernah memberikan satu potong ayam ke mangkukku."

Bella tersenyum getir, membayangkan memori usang yang terasa sangat jauh itu. "Kuharap waktu bisa berhenti selamanya di momen itu... Walaupun saat itu aku hanya duduk di sudut meja, tanpa ada seorang pun yang peduli."

Sambil membalik ayam di dalam wajan, ingatan Bella beralih pada saudaranya yang lain. Kak Aaron sangat suka makanan ringan. Sementara Kak Charles, dia selalu lahap jika disajikan ayam mentega. Lalu si bungsu Olivia, adik kecil yang paling disayanginya, sangat menyukai makanan manis, terutama puding karamel.

Bella mulai memasak semua menu itu satu per satu dengan penuh cinta. Air matanya menetes pelan, jatuh ke atas meja konter dapur.

"Untuk makanan terakhir ini, biarkan aku egois sedikit. Aku ingin berpura-pura bahwa malam ini kami semua akan makan bersama di satu meja yang sama," bisik Bella pada kesunyian dapur yang kian larut.

Beberapa saat kemudian, setelah berjuang melawan rasa sakit dan lemas yang menderu tubuhnya, Bella akhirnya selesai menyiapkan semua hidangan. Aromanya menguar hangat, memenuhi ruang makan yang luas namun terasa begitu sunyi. Ia menata piring-piring itu dengan sangat rapi di atas meja.

"Ah, masih ada yang kurang," ucapku lirih. Aku melangkah pelan mengambil teko berisi jus buah, lalu meletakkannya dengan hati-hati di sudut meja.

Setelah memastikan semuanya sempurna, aku menarik napas panjang. Kakiku yang gemetar melangkah mendekati kursi utama di ujung meja panjang itu—kursi megah yang biasanya hanya ditempati oleh Kak Ethan selaku kepala keluarga saat ini. Dengan gerakan ragu dan pelan, aku mendudukkan diriku di sana.

Dulu, aku hanya boleh makan sendirian di atas meja kayu kecil di pojok dapur yang gelap. Selama dua puluh dua tahun hidupku, baru hari ini aku memberanikan diri untuk duduk di kursi utama meja makan ini.

Aku menurunkan pandangan, lalu membuka telapak tanganku perlahan. Di bawah temaram lampu gantung yang mewah, aku menatap garis kematian di telapak tanganku dengan dada yang terasa begitu sesak. Air mata yang sejak tadi kutahan kini luruh, membasahi pipi. Aku meratapi nasibku sendiri dengan sangat sedih. Waktuku sudah tidak banyak lagi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini, dan ironisnya, momen terdekatku dengan keluarga ini justru terjadi saat aku sedang menghitung hari menuju ajalku sendiri.

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!