Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Catatan Kecil
Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama baru.
Danti bangun sebelum matahari terbit, bukan karena harus menyiapkan sarapan siapa pun, melainkan karena tubuhnya mulai terbiasa. Ia mengenakan sepatu kets tua, mengikat rambut, lalu melangkah keluar rumah ke jalanan kompleks yang masih berkabut tipis. Awalnya hanya satu putaran. Napasnya tersengal di tikungan kedua, betisnya pegal, dan ia sempat berhenti di bawah pohon mangga sambil memegangi pinggang.
Tapi keesokan harinya ia kembali.
Dan keesokan harinya lagi.
Satu putaran menjadi dua. Jalan cepat sesekali diselingi lari kecil. Ia tak menargetkan apa pun, tak mengukur apa pun, hanya mengingatkan dirinya bahwa tubuh ini miliknya dan layak diajak bekerja sama, bukan dihukum.
Sepulang jalan, ia mandi, lalu sarapan dengan porsi cukup. Nasi, telur, sayur, kadang buah. Ia makan tanpa menengok kiri-kanan, tanpa rasa bersalah, dan perlahan, lidahnya kembali mengenali rasa yang selama ini ia lupakan.
Lalu ia membuka laptop dan bekerja. Satu berkas. Dua berkas. Honor kecil yang masuk ke akunnya mulai terkumpul, dan setiap kali angka itu bertambah, ia mencatatnya di buku catatan kecil bersampul biru.
Buku itu bukan hanya untuk uang.
Di halaman-halaman belakang, tulisan Danti berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Senin. Rizal berangkat 07.10. Bilang ada rapat pagi. Sarapan tak dihabiskan."
"Selasa. Pulang 21.40. Bilang lembur. Bau parfum bunga di kemeja. Bukan parfum yang ia pakai."
"Rabu. Ponsel selalu dibawa ke kamar mandi. Layar dibalik ke bawah di meja makan."
"Kamis. Pulang 22.15. Katanya ada makan malam kantor. Tidak membawa pulang apa-apa, padahal biasanya ia selalu membawa sisa makanan kalau ada acara."
Ia menulisnya dengan tenang, rapi, tanpa kata sifat, tanpa tuduhan. Hanya tanggal, jam, dan fakta. Seperti seorang juru catat yang tak memihak.
Danti tidak membuka ponsel suaminya lagi. Ia sudah belajar bahwa mengintip hanya akan memberi Rizal alasan untuk menuduhnya balik, dan ia tak mau menyerahkan senjata semudah itu. Ia memilih cara lain... mengamati.
Dari saku jaket Rizal yang ia bawa ke tempat cuci, ia menemukan sebuah struk restoran dengan dua porsi makanan, dua minuman, dan satu hidangan penutup untuk berdua. Tanggal dan jamnya cocok dengan malam yang Rizal sebut lembur. Ia memotretnya dengan ponselnya sendiri, lalu mengembalikan kertas itu ke saku tempat semula.
Dari kursi depan mobil, saat Rizal meminta tolong mengambilkan dokumen, ia melihat sebuah jepit rambut kecil bermotif bunga terselip di sela jok. Ia tak menyentuhnya. Hanya menatapnya sebentar, lalu mengambil dokumen dan menutup pintu.
Dari ponsel Rizal yang bergetar di meja, ia melihat nama kontak yang kini sudah diganti, bukan lagi Vanya, melainkan sebuah singkatan netral yang diharapkan tak menimbulkan curiga. Danti hampir tersenyum melihat betapa kekanak-kanakannya trik itu.
Setiap temuan ia catat. Setiap catatan ia simpan di tempat yang tak mungkin dijangkau siapa pun: di antara tumpukan buku resep, di rak paling atas lemari dapur, di balik panci besar yang hanya ia yang pernah memakainya.
Bukan karena ia ingin membalas dendam. Bukan juga karena ia berharap Rizal kembali.
Hanya karena ia tahu, kalau suatu hari nanti ia harus berdiri dan memilih, ia ingin berdiri di atas kenyataan, bukan perasaan.
---
Sementara itu, Rizal semakin jarang berada di rumah.
Pagi hari ia berangkat lebih awal dari biasanya. Alasannya selalu berbeda... rapat mendadak, klien rewel, jalanan macet. Sore hari ia tak lagi langsung pulang. Kadang ia mengirim pesan singkat, Lembur. Kadang tidak mengirim apa-apa sama sekali.
Malam hari ia masuk rumah dengan langkah pelan, kemeja agak kusut, rambut sedikit berantakan, dan aroma samar yang tak pernah sama dengan sabun rumah mereka.
Jarum jam di dinding ruang tamu menjadi saksi bisu bagi kepulangannya yang semakin larut.
Sembilan malam. Sembilan lewat tiga puluh. Sepuluh. Sepuluh lewat lima belas.
Dan dalam jam-jam yang hilang itu, Rizal menemukan dunia lain.
Ada kafe kecil di dekat kantor, tempat mereka duduk berjam-jam menikmati kopi sambil membicarakan segala hal. Ada restoran Jepang dengan lampu temaram tempat Vanya mengajarinya memilih sushi. Ada bioskop di akhir pekan, ada taman kota di sore hari, ada jalan-jalan sepi tempat Vanya menyandarkan kepala ke jendela mobil sambil tersenyum tanpa berkata apa pun.
Vanya tak pernah mengeluh. Tak pernah menuntut. Tak pernah mengungkit uang, tak pernah menyindir badan, tak pernah memandangnya dengan sorot lelah. Ia hanya tertawa pada candaan Rizal, memuji keputusan-keputusannya, bertanya tentang harinya dengan perhatian yang tampak tulus. Dan setiap kali Rizal hendak menyinggung rumah, Vanya selalu dengan lembut mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
"Nggak usah mikirin yang berat-berat, Mas. Kita lagi bersantai."
Dan Rizal, yang selama berbulan-bulan memikul kekesalan dan rasa bersalah yang tak mau ia akui, menemukan dirinya mengangguk setiap kali.
Di tengah kehangatan itu, ia semakin yakin pada narasi yang ia bangun sendiri: "Danti yang berubah. Danti yang menjauh. Danti yang membuat rumah terasa seperti penjara."
Tak pernah sekali pun ia bertanya, apa yang kulakukan sampai ia seperti itu?
---
Pada suatu sore Sabtu, bel pintu berbunyi.
Danti, yang sedang merapikan jemuran di halaman belakang, bergegas ke depan dengan handuk kecil tersampir di bahu. Ketika membuka pintu, ia disambut senyum paling lebar yang pernah ia lihat dalam beberapa minggu terakhir.
"Danti!"
"Nadia!" Ia tertawa, langsung memeluk sahabatnya. "Kok nggak bilang mau datang?"
"Kejutan!" Nadia mengangkat dua kantung belanja besar. "Aku bawa oleh-oleh. Dan aku bawa tenaga buat ngomel seharian."
Mereka duduk di ruang tamu, sementara Danti menyeduh teh. Nadia melepas jaket, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada wajah Danti dan menatapnya lekat-lekat.
"Dan," katanya pelan.
"Hm?"
"Kamu kelihatan berbeda."
Danti menoleh sambil menuang teh. "Berbeda gimana?"
"Nggak tahu. Pipimu lebih segar. Matamu lebih terang. Cara kamu berdiri juga." Nadia mengernyit sambil tersenyum. "Kamu ngapain aja belakangan ini?"
Danti tertawa kecil dan menyodorkan cangkir. Lalu, tanpa menyembunyikan apa-apa, ia bercerita. Tentang jalan pagi. Tentang kerjaan lepas. Tentang buku catatan kecil di belakang panci besar. Tentang struk, jepit rambut, dan nama kontak yang diganti.
Nadia mendengarkan dengan mulut setengah terbuka dan alis semakin tinggi. Ketika cerita sampai pada pesan yang tak sengaja Danti baca malam itu, ia meletakkan cangkirnya keras-keras.
"Dia selingkuh?"
"Aku belum tahu pasti, Nad," jawab Danti tenang. "Itu sebabnya aku mengumpulkan. Aku nggak mau menuduh tanpa dasar. Dan aku juga nggak mau menutup mata."
"Dan kamu nggak marah? Nggak sedih?"
Danti terdiam beberapa saat, jemarinya menyusuri tepi cangkir. "Aku sudah melewati bagian itu," katanya akhirnya. "Waktu pertama kali lihat pesannya, aku menunggu air mataku keluar. Tapi nggak ada. Cuma ada..." Ia mencari kata. "Hening. Seperti bagian dari diriku yang dulu menunggu dia sudah lama pergi."
Nadia menggenggam tangannya erat. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena iba. Ada bangga di sana, dan sedikit duka.
"Kamu hebat, Dan," bisiknya. "Aku nggak tahu apa aku bisa setenang itu."
"Aku nggak tenang." Danti tersenyum miris. "Aku cuma sudah terlalu capek untuk hancur."
Mereka diam sebentar, lalu Nadia tertawa kecil sambil menyeka sudut matanya. "Terus kapan kamu mau bertindak? Kapan kamu mau kasih dia pelajaran?"
"Belum sekarang." Danti memandang jendela, tempat cahaya sore jatuh lembut di tirai. "Aku mau memastikan semuanya dulu. Dan aku mau siap. Aku nggak mau keluar dari rumah ini dengan tangan kosong, atau dengan hati yang masih bergantung pada orang yang salah."
Nadia mengangguk perlahan. "Apa pun yang kamu putuskan, aku ada di sisimu."
"Aku tahu."
Mereka berpelukan, lama dan erat, di tengah ruang tamu yang diterangi cahaya jingga senja.
Malam harinya, ketika Nadia sudah pulang dan rumah kembali sunyi, Danti menyelesaikan masakannya sendirian. Ia menata dua piring di meja makan, satu untuk dirinya dan satu untuk suaminya, seperti kebiasaan lama yang belum sempat ia hapus.
Jam menunjukkan pukul tujuh. Rizal belum pulang.
Ia menunggu hingga setengah delapan, lalu makan sendirian. Setelah selesai, ia menutup piring Rizal dengan tudung saji, mencuci piringnya sendiri, dan duduk di sofa dengan secangkir teh.
Pukul sembilan. Sepuluh. Sebelas.
Tak ada pesan. Tak ada telepon.
Danti membuka buku catatan biru di pangkuannya dan menulis dengan tangan yang tak gemetar.
Sabtu. Rizal belum pulang sampai 23.00. Tidak ada kabar. Katanya pagi tadi ada acara kantor. Tapi di kalender dinding, tanggal ini tidak bertanda apa pun."
Ia menutup buku itu, menyelipkannya kembali ke balik panci besar, lalu mematikan lampu ruang tamu.
Dan di dalam gelap, di antara bunyi jam dinding dan desau kipas angin, ia berbisik pada dirinya sendiri, bukan dengan marah, bukan dengan duka, tapi dengan sebuah ketenangan yang tak akan mudah digoyahkan lagi:
"Sedikit lagi,"
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍