NovelToon NovelToon
Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: aletaia

Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Ciuman Pertama yang Berbahaya

Kegemparan melingkupi Grand Ballroom Hotel Mulia. Bisik-bisik ketakutan dan kekagetan dari para elit bisnis terdengar saling bersahutan. Pertaruhan bernilai triliunan rupiah yang dipadukan dengan klaim terang-terangan atas diri seorang wanita di depan umum adalah kegilaan yang hanya berani dilakukan oleh Dante Vance.

"Cukup, Dante!" pekik Aria. Suaranya melengking memecah ketegangan, membuat perhatian seluruh ruangan teralih padanya.

Aria melangkah maju, melepaskan cengkeraman tangan Adrian di pinggangnya secara perlahan. Ia berdiri tepat di garis tengah antara Adrian dan Dante, menatap sang Raja Mafia dengan mata berkilat marah namun memancarkan keberanian yang luar biasa.

"Aku bukan objek taruhanmu, dan aku bukan barang milik siapa pun yang bisa kau beli dengan saham atau kekuasaan!" tegas Aria, kata-katanya menancap telak. "Pelelangan ini adalah urusan bisnis. Jangan pernah membawa namaku ke dalam permainan kotor kalian!"

Dante menatap Aria. Bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman miring yang sarat akan kekaguman dan obsesi. Kilatan di mata abu-abunya semakin membakar.

"Dengar itu, Dante?" desis Adrian dengan rahang mengeras rapat. Ia melangkah mendekati Aria, berdiri protektif di sampingnya sambil menatap musuh bebuyutannya dengan tatapan membunuh. "Proyekku dan wanita ini tidak ada hubungannya dengan permainan gilamu. Rian, panggil keamanan eksekutif dan batalkan penawaran untuk Sektor A3 malam ini!"

Adrian memegang pergelangan tangan Aria, membawanya melangkah pergi meninggalkan ruang pelelangan yang mendadak heboh. Dante hanya berdiri kaku, memandangi punggung Aria yang menjauh dengan segelas brandy di tangannya, tanpa niat sedikit pun untuk mengejar saat itu juga.

Pukul sebelas malam, hujan deras kembali mengguyur kota. Adrian membawa Aria menuju pelataran parkir khusus VIP di area belakang hotel yang cenderung sepi dan redup.

"Kau tidak seharusnya berbicara seperti itu pada Dante di depan umum, Aria," ujar Adrian dengan nada cemas seraya membukakan pintu sedan Mercedes-Maybach miliknya. "Dia pria impulsif. Menentangnya di depan banyak orang hanya akan memicu kemarahannya."

"Aku hanya menegaskan batasanku, Adrian!" balas Aria lelah, mengusap wajahnya yang pucat. "Aku lelah dijadikan pemicu perang di antara kalian berdua!"

"Aku hanya berusaha melindungimu—"

"Dengan mengurungku di penthouse-mu dan menyembunyikan kenyataan bahwa keluarga kalian punya dendam darah?" potong Aria menatap Adrian tajam.

Adrian terdiam. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu menyangkal kebohongan yang sempat ia simpan. Sebelum Adrian sempat membalas, sebuah nada dering telepon memecah keheningan. Rian—asisten pribadi Adrian—berlari mendekat dengan raut wajah panik.

"Tuan Adrian! Ada insiden darurat di tapak konstruksi Mahardika Grand Tower! Pihak dinas pengawasan menyegel area luar karena dugaan sabotase pipa gas!" lapor Rian terengah-engah.

Adrian membelalakkan mata. "Sabotase? Dante..." desisnya murka. Adrian menoleh pada Aria dengan penuh penyesalan. "Aria, masuklah ke dalam mobil. Pengawalku akan mengantarmu kembali ke penthouse. Aku harus mengatasi hal ini sekarang juga."

Aria mengangguk pelan. Adrian mendaratkan ciuman singkat di dahi Aria—sebuah sentuhan hangat dan protektif—sebelum bergegas pergi bersama Rian menggunakan mobil pengawal.

Aria duduk di kursi belakang sedan mewah milik Adrian. Driver pribadi Adrian menginjak gas, membawa mobil itu membelah guyuran hujan deras di jalan tol lingkar luar yang sepi.

Namun, baru lima belas menit perjalanan, mobil tiba-tiba melambat drastis. Tiga buah SUV hitam tak berpelat nomor mendadak memotong jalur dari depan dan samping, mengepung sedan Maybach itu secara agresif hingga terpaksa berhenti mendadak di bahu jalan tol yang gelap dan terisolasi.

"Nona, tetap di dalam!" teriak sopir Adrian panik seraya mengandalkan senjata api di balik jasnya.

Belum sempat sopir itu membuka pintu, beberapa pria berjas hitam dari SUV melompat keluar, memecahkan kaca jendela depan, dan melumpuhkan sang sopir dalam hitungan detik tanpa suara tembakan—menggunakan anestesi dosis tinggi.

Pintu penumpang belakang tempat Aria duduk mendadak ditarik paksa dari luar.

Aria menjerit kecil, berniat melompat ke kursi depan, tetapi sebuah lengan kokoh berotot langsung meraih pinggangnya dan menariknya keluar ke bawah guyuran hujan yang dingin.

Aria berontak hebat, memukul dada bidang pria yang mendekapnya. Namun, aroma mahal tobacco dan alkohol eksklusif yang sangat familiar langsung menyergap indra penciumannya.

"Lepaskan aku, Dante!" teriak Aria di tengah gemuruh suara hujan.

Dante Vance tidak mengindahkan teriakan itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia mengangkat tubuh Aria dan membawanya masuk ke dalam kabin belakang SUV hitam miliknya yang kedap suara dan ber-AC dingin. Pintu otomatis terkunci rapat.

"Kau gila! Kau menyabotase proyek Adrian hanya untuk mencegatku di sini?!" bentak Aria, menggeser tubuhnya menjauh hingga terdesak di sudut pintu SUV.

Dante melepaskan mantel panjangnya yang basah kuyup, menyisakan kemeja hitam yang melekat ketat di tubuh tegapnya. Pria itu merangkak mendekat di atas jok kulit mewah, mengunci posisi Aria dengan kedua tangannya di kiri dan kanan kepala wanita itu.

Mata abu-abu Dante berkilat liar di dalam kegelapan kabin mobil.

"Aku menyabotase proyeknya agar CEO-mu itu pergi meninggalkanmu sendirian," bisik Dante dengan suara berat, dalam, dan serak. Napas hangatnya berembus di ceruk leher Aria yang dingin oleh air hujan.

"Kau pikir kau bisa membeliku dengan taruhan gila itu?!" sergah Aria dengan dada naik turun menahan amarah dan detak jantung yang berpacu liar.

"Aku tidak pernah berniat membelimu, Aria," desis Dante, wajahnya terkikis hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Aria. "Aku hanya ingin menunjukkan padanya... bahwa tidak ada satu pun tempat aman di kota ini untukmu dari jangkauanku."

"Aku benci dirimu, Dante—"

Sebelum Aria sempat menyelesaikan kalimatnya, Dante membungkuk dan membungkam bibir Aria secara mendadak.

Ciuman itu menuntut, penuh gairah yang liar, dan sarat akan dominasi yang pekat. Dante menekan tubuh Aria rapat ke sandaran kursi, mengeliminasi seluruh jarak di antara mereka. Tangan kasarnya menangkup rahang Aria, memaksa wanita itu untuk menerima sapuan lidahnya yang panas.

Aria membelalakkan mata, mencoba mendorong dada bidang Dante dengan kedua tangannya. Namun, sentuhan dingin dari jemari Dante yang membelai lehernya dan kehangatan bibir pria itu menciptakan sengatan listrik yang memabukkan di sekujur tubuh Aria.

Perlahan, perlawanan Aria melemah. Jemari Aria yang tadinya memukul dada Dante kini mencengkeram erat kemeja hitam pria itu. Tanpa sadar, Aria membalas ciuman membakar tersebut dengan kepasrahan dan gairah yang tak mampu ia pungkiri lagi.

Dante merintih pelan di tengah ciuman mereka, memperdalam sentuhannya dengan penuh rasa kepemilikan yang obsesif.

Saat Dante akhirnya melepaskan ciumannya, napas mereka berdua memburu hebat di udara kabin yang dingin. Wajah Aria memerah, bibirnya sedikit bengkak dan basah. Dante menempelkan dahinya ke dahi Aria, menatap langsung ke dalam mata wanita itu dengan emosi yang mendalam.

"Katakan padaku bahwa kau membenciku, Aria..." bisik Dante pelan, suaranya bergetar halus. "Katakan padaku bahwa jantungmu tidak berdetak secepat ini saat aku menyentuhmu."

Aria menyandarkan kepalanya, memejamkan mata erat-erat saat menyadari kenyataan pahit yang meremukkan dadanya: di balik rasa takut dan amarahnya pada sang Raja Mafia, ada bagian dari dirinya yang mulai luluh dan terikat pada kegelapan Dante Vance.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!