Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Apakah itu Lyra?
Isabella tiba di markas tepat waktu. Dia melihat markas itu sudah habis dan hanya menyisakan puing-puing juga abu nya.
"Semua selamat, kan?" tanya Isabella, beberapa anak buah yang bertugas sebagai penjaga mendapatkan luka cukup serius.
"Semua selamat. Hanya saja satu tahanan tidak selamat dari kobaran api!" ucapnya ragu.
"Siapa?" tanya Isabella. Wajahnya benar-benar penasaran.
"Nona Lyra, kami menemukan jasadnya sudah hangus terbakar!"
DEGH!
Mata Isabella berkilat tak percaya dengan kabar itu. Bagaimana mungkin ini terjadi dan Lyra? Dia tiada?
"Dimana sekarang?" Isabella bertanya karena ingin membuktikan sendiri.
"Mari Nona Isabella!"
Isabella mengikuti langkah pengawal itu yang akan menunjukkan jalan menuju Lyra.
Sebuah kantong untuk orang meninggal ada di sana, dan dengan ragu Isabella membuka tempat itu dibantu oleh pria tadi.
DEGH!
Isabella langsung mual saat melihat mayat itu, wajahnya hitam dengan tubuh yang tak lagi utuh. Bahkan Isabella tak bisa mengenali apakah itu Lyra atau bukan.
Wajah Isabella pucat pasi. Keringat dingin langsung keluar dari pori-pori wajahnya yang terlihat ketakutan.
"Apa yang terjadi?" suara berat dari orang yang Isabella kenali membuat wanita itu sontak menoleh dan segera memeluk Arion.
"Ar, lihat itu! Apakah itu benar-benar Lyra?" telunjuk Isabella mengarah pada tempat tadi.
Arion menatap arah telunjuk Isabella. Dia terkejut saat mendapati mayat orang yang sudah terbakar dan tak di kenali ada di sana.
"Ar, apa kamu bisa memastikan itu Lyra?" tanya Isabella, dia ingin jawaban meyakinkan.
Arion berlutut. Melepaskan pelukan dari Isabella yang terlihat ketakutan.
"Ar, bagaimana?" desak Isabella.
"Bawa mayat ini ke rumah Dewan, dia akan melihat apakah ini Lyra atau bukan!" titahnya.
Pengawal itu mengangguk, di bantu anak buah Arion yang tiba di sana juga untuk membantu evakuasi.
"Ar, apa itu benar-benar Lyra?" pertanyaan yang sama.
"Kita akan tahu nanti!" jawab Arion tak yakin.
Isabella hanya bisa menunggu. Namun, dia jelas melihat cincin yang kerap kali Lyra gunakan ada di jari mayat tadi.
Setelah menyelesaikan beberapa masalah di markas. Arion mengantarkan Isabella pulang kerumah sebab melihat bagaimana wanita itu terlihat lelah dan ketakutan.
"Kamu istirahat saja! Akan aku cari tahu semuanya," kata Arion, meyakinkan.
"Aku tahu. Terima kasih sudah mau membantu aku!" kata Isabella dengan mata sendu.
"Tidak perlu sungkan, kita ini pasangan Isabella dan masalah kamu adalah masalahku juga." kata Arion, dia menjelaskan dan berusaha mendekatkan diri dengan Isabella.
Isabella mengangguk, dia segera memeluk Arion dan tak lupa melabuhkan kecupan di pipi Arion dengan mesra.
"Aku pergi! Jika ada apa-apa hubungi aku segera!" kata Arion, mengingatkan kalau Isabella tak sendiri sekarang.
"Aku tahu!" angguknya.
Arion mengecup kening Isabella, dan dia segera berlalu dari sana tanpa menunggu apapun lagi sebab masalah ini harus segera di selesaikan dengan cepat.
Isabella menatap punggung Kokoh Arion yang mulai menjauh dengan tatapan sendu. Namun, sorot mata itu mendadak berubah sarat akan keanehan yang tak akan terbaca.
Sore itu. Melody dan Matthew tiba di rumah. Mereka langsung terbang setelah mendengar kalau markas terbakar dengan Lyra yang di temukan meninggal dalam sel dengan posisi mengenaskan.
"Mama, Papa!" panggil Isabella, dia memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
"Jangan takut. Mama dan Papa di sini!" bisik Melody.
Isabella terisak pelan, dia memeluk erat keduanya orangtua nya seolah enggan kembali di tinggalkan oleh keduanya.
Namun, mata itu sekilas memancarkan hal yang tak terbaca oleh siapapun.
Setelah Isabella tenang. Matthew pamit dia baru saja di hubungi oleh Arion tentang mayat yang di duga Lyra itu dari ciri fisik dan cincin yang di gunakan.
Melody meninggalkan Isabella sendiri di dalam kamar. Untuk memastikan makan malam untuk Isabella yang terbaik.
KLIK!
Saat pintu tertutup. mata Isabella terbuka, dia melirik sekilas dengan senyum tipis seolah dia tetap lah Isabella.
"Sampai kapan kalian akan bersembunyi? Apakah itu Lyra atau bukan kalian akan tetap menjadi sasaran yang aku pastikan membayar setiap tetes darah dan ari mata di kehidupan dulu!" bisik Isabella dengan penuh dendam dan tekad.