NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Putus Hubungan

Arhan berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, berhenti pada Imah, Jordi, Rania, Siska, dan suaminya yang kini mendadak terdiam. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka Arhan telah mendengar percakapan tersebut sejak tadi.

"Jadi ini yang kalian pikirkan tentangku!" tegas Arhan sekali lagi. "Kalian menganggapku sebagai anak yang harus terus menanggung semua kebutuhan kalian? Kalian pikir aku dan Nadira hanya ATM berjalan yang bisa kalian datangi setiap kali membutuhkan uang?"

Imah langsung berdiri dari sofa. Wajahnya berubah pucat ketika melihat putra sulungnya berdiri dengan sorot mata penuh kekecewaan.

"Arhan, Nak, sejak kapan kamu di situ?" tanyanya gugup.

"Cukup lama, Bu. Cukup lama untuk mendengar bagaimana kalian membicarakanku dan istriku!" Arhan melangkah masuk, lalu menatap Jordi dengan tajam. "Termasuk bagaimana kalian menyalahkan Nadira atas semua kesulitan yang kalian alami sekarang."

Jordi mengalihkan pandangannya. Sementara itu, Rania buru-buru bangkit dari duduknya, berusaha memasang ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Kak Arhan, jangan salah paham. Kami hanya sedang membicarakan masalah keluarga."

"Masalah keluarga?" Arhan tertawa hambar. "Kalian baru menganggapku keluarga ketika membutuhkan uang, bukan? Ketika Ibu membutuhkan sesuatu, aku yang kalian cari. Ketika Jordi terlilit utang, aku juga yang diharapkan menyelesaikannya. Bahkan, ketika kalian menginginkan apartemen, kalian menganggap wajar jika aku harus memberikannya."

Ia berhenti sejenak, lalu menatap adiknya lekat-lekat.

"Tapi pernahkah kalian bertanya bagaimana keadaan keluargaku sendiri? Pernahkah kalian memikirkan bahwa aku juga punya istri dan anak yang harus kuutamakan? Pernahkah kalian bertanya bagaimana rumah tanggaku yang sedang diambang perceraian!"

Tidak ada jawaban. Arhan mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan semata-mata karena kemarahan, melainkan karena kenyataan bahwa selama ini ia terlalu sibuk memenuhi permintaan keluarganya hingga membiarkan mereka melupakan batasan.

"Dan yang paling keterlaluan, kalian justru menyalahkan Nadira karena dia akhirnya berani mempertahankan hak anaknya sendiri."

"Arhan, Ibu tidak pernah bermaksud seperti itu!" Imah segera menyela. "Ibu hanya sedang pusing memikirkan semuanya. Kamu tahu sendiri, sekarang kebutuhan keluarga semakin banyak."

"Kalau begitu, kenapa Ibu tidak pernah memikirkan akibat dari keputusan Ibu sendiri?"

Imah terdiam. Sedangkan Arhan kembali membuka suaranya.

"Uang sekolah Naya, apartemen yang sudah kusiapkan untuknya, bahkan formulir pendaftaran sekolah yang seharusnya menjadi haknya, semuanya Ibu ambil tanpa sepengetahuan kami. Sekarang, ketika Nadira meminta semuanya dikembalikan, Ibu malah menganggapnya sebagai menantu yang tidak tahu diri?"

Wajah Imah menegang. "Arhan, Ibu melakukan semua itu demi keluarga!" bantahnya. "Jordi juga anak Ibu. Arkan cucu Ibu. Apa salahnya kalau Ibu membantu mereka?"

"Tidak ada yang salah dengan membantu keluarga, Bu. Yang salah adalah ketika Ibu mengambil hak anakku untuk memenuhi kebutuhan orang lain!"

Suara Arhan meninggi pada kalimat terakhir.

"Jangan pernah menggunakan kata keluarga untuk membenarkan perbuatan yang merugikan anakku sendiri! Gara gara kalian rumah tanggaku hancur!"

Arkan yang mendengar suara keras dari ruang tengah segera berlari mendekati Rania. Bocah itu memeluk kaki ibunya sambil menatap Arhan dengan wajah ketakutan.

"Mama..." gumamnya pelan.

Rania segera mengusap kepala putranya, kemudian menatap Arhan dengan tatapan tidak senang.

"Kak Arhan, tolong jangan membentak Ibu di depan anak-anak!"

Arhan menoleh tajam. "Kalau begitu, ajari keluargamu untuk tidak terus-menerus menuntut sesuatu yang bukan hak mereka! Kalau kamu mau sesuatu suruh suamimu itu untuk kerja!"

"Memangnya kami meminta sesuatu yang berlebihan?" Rania membalas dengan nada tinggi. "Kami hanya ingin apartemen yang sudah dijanjikan. Kak Arhan sendiri yang mengatakan akan membantu keluarga. Sekarang, setelah Kak Nadira marah, semuanya tiba-tiba berubah!"

"Aku tidak pernah menjanjikan apartemen itu untuk kalian!" tegas Arhan. "Apartemen tersebut kusiapkan untuk Naya, anakku sendiri. Bukan untuk Jordi, bukan untukmu, dan bukan untuk siapa pun di ruangan ini!"

Rania terdiam, sedangkan Jordi langsung bangkit dari sofa. "Kak, aku ini adikmu sendiri!" serunya. "Apa salahnya kalau aku mendapatkan sedikit bantuan darimu? Aku juga sedang membangun keluarga. Aku punya anak yang membutuhkan masa depan!"

Arhan menatap Jordi dengan sorot mata dingin. "Kalau kamu benar-benar memikirkan masa depan anakmu, seharusnya kamu berhenti berjudi dan mulai bertanggung jawab atas keluargamu sendiri."

Wajah Jordi memerah. "Kakak tidak tahu apa-apa tentang masalahku!"

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira. Uang yang seharusnya digunakan untuk biaya sekolah Arkan justru kamu habiskan untuk membayar utang judimu. Lalu, setelah semuanya berantakan, kamu masih berani menuntut apartemen? Kamu tidak sadar semua utang judimu itu aku yang melunasinya! "

Jordi mengepalkan tangan. Namun, ia tidak mampu membantah karena perkataan Arhan memang benar. Siska yang sejak tadi diam akhirnya kembali bersuara.

"Kalau begitu, bagaimana dengan aku, Kak? Aku juga membutuhkan bantuan. Sebentar lagi aku melahirkan. Masa Kak Arhan tega membiarkan adiknya sendiri kesulitan?"

Arhan menoleh kepada adik bungsunya itu.

"Siska, aku tidak pernah melarangmu meminta bantuan ketika kamu benar-benar membutuhkannya. Tapi membantu bukan berarti aku harus memenuhi semua keinginanmu."

"Aku hanya ingin melahirkan di rumah sakit terbaik!" Siska membela diri. "Apa salahnya menginginkan yang terbaik untuk anakku sendiri?"

"Tidak salah. Tapi kalau kamu menginginkan sesuatu yang mahal, kamu juga harus mempertimbangkan kemampuanmu sendiri dan suamimu. Jangan menganggap semua keinginanmu menjadi tanggung jawabku."

Siska langsung terdiam. Suaminya yang berdiri di sampingnya pun tidak berani menyela. Imah menatap putranya itu dengan kesal, tanpa aba aba ia menampar pipi Arhan yang membuat Arhan merintih kesakitan.

"Ibu menamparku?" ujarnya.

Imah segera berdiri di hadapannya dengan kesal, "Kenapa? Kamu ini anak tidak tahu sopan santun! Apa salahnya kamu membantu keluargamu! Memangnya kenapa ibu mengambil uang, apartemen dan surat pendaftaran sekolah itu! Nadira dari keluarga kaya dan kamu kerja di perusahaan besar. Kalian pasti akan mudah mendapatkan itu! "

Arhan menatap tajam ke arah ibunya itu, pada akhirnya ia tahu sifat asli ibunya itu. Ia benar benar merasa bersalah atas Nadira yang selalu diperas oleh keluarganya sendiri.

" Jadi ibu berpikir seperti itu? Baiklah. " Arhan tertawa.

Imah hanya mendengus, ia menatap kesal ke arah putra sulungnya itu. "Kamu itu harusnya mentingin ibu karena surga kamu tuh ditelapak kaki ibu. Kamu harus patuh jangan karena istrimu marah kamu seharusnya menasehati ya bukan menurutnya!"

Arhan terdiam selama beberapa detik. Ia menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Pipinya masih terasa perih akibat tamparan barusan, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan kekecewaan yang kini memenuhi dadanya.

Selama ini, ia selalu berusaha memenuhi keinginan Imah. Ia memberikan uang setiap kali ibunya meminta, membantu Jordi ketika adiknya itu terlilit masalah, bahkan tidak pernah mempermasalahkan ketika Siska berkali-kali meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun, apa yang didapatkannya sekarang? Tamparan dan tuduhan bahwa dirinya adalah anak yang tidak tahu sopan santun hanya karena akhirnya berani membela istri dan anaknya sendiri.

"Jadi, menurut Ibu, aku harus terus menuruti semua keinginan Ibu meskipun itu berarti mengorbankan istri dan anakku sendiri?" tanya Arhan pelan.

Imah mendengus. "Jangan memutarbalikkan perkataan Ibu! Ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang berbakti. Kalau Ibu membutuhkan sesuatu, kamu wajib membantu. Apa gunanya kamu menjadi anak sulung kalau tidak bisa mengurus keluarga sendiri?"

Arhan tertawa hambar. "Anak sulung?" Ia mengangguk pelan. "Selama ini aku memang selalu menganggap diriku bertanggung jawab atas keluarga ini. Aku pikir, selama aku masih mampu membantu, tidak ada salahnya berbagi dengan kalian."

Ia mengusap pipinya yang memerah, kemudian menatap Imah dengan sorot mata penuh kekecewaan.

"Tapi ternyata, semakin banyak yang kuberikan, semakin besar pula keinginan kalian. Tidak pernah ada rasa cukup. Bahkan, ketika kalian mengambil hak anakku sendiri, kalian masih merasa tidak bersalah."

"Arhan!" bentak Imah. "Jaga bicaramu!"

"Sudahlah bu!" bentar Arhan. "Mulai sekarang lebih baik kita putus hubungan! Aku sudah lelah diperas oleh kalian semua!"

1
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!