NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Hufffttt" Steven dan Angga membuang nafas lega setelah Laluna meninggalkan mereka.

Keduanya masih mencoba untuk membangunkan Raisa namun tampaknya Raisa malah tertidur setelah pingsan beberapa waktu lalu, Steven segera berjalan kearah lemari pakaian milik kakaknya dan mengeluarkan seprei baru dari sana, dibantu oleh Angga untuk menggendong Raisa sesaat diatas tempat tidur, keduanya bekerjasama untuk mengganti alas tempat tidur itu juga membersihkan darah diatasnya.

"Eumm, Steven. Terimakasih!" Ucap Angga sesaat sebelum Steven pamit kembali ke kamarnya.

Lelaki itu menghentikan langkahnya lalu menoleh pada pasangan suami istri itu.

"Kalau kamu benar-benar ingin berterimakasih kasih, perlakukan dia dengan baik atau lepaskan dia agar dia bisa bahagia. Karena sungguh, aku masih sangat menyayanginya, jika dia tidak menikah denganmu dan aku tahu dia diperlukan tidak baik mungkin aku akan menikahinya"

Mendadak Angga merasakan lidahnya keluh, nafasnya seakan terhenti saat itu juga. Bagaimana mungkin ia mendengar kalimat itu dari adiknya sendiri? Adik semata wayang yang begitu disayanginya, namun kalimat itu membuat lelaki ini sadar bahwa istrinya ternyata berharga dimata orang lain.

Steven baru saja membuka pintu kamarnya dan mendapati kalau ponselnya masih menyala, ia menepuk jidatnya saat menyadari bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan Arni. Ia melirik jam dinding diruang itu, jam telah menunjukkan pukul 02.43 tapi Arni masih sibuk di depan layar laptopnya.

"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Steven membawa ponselnya ke tempat tidur.

"Harusnya aku yang bertanya, kamu darimana?" Arni balik bertanya.

Steven menggaruk alisnya yang tiba-tiba gatal tanpa sebab sementara Arni menutup laptopnya lalu beranjak ke atas kasurnya, menatap wajah Steven di layar ponselnya dengan tajam. Steven mencoba mencari alasan lain untuk meyakinkan Arni dengan jawaban yang akan keluar dari mulutnya nanti.

"Steven, jangan melamun. Kamu habis darimana?" Arni mengulang kembali pertanyaannya dengan marah.

"Sayang, tadi aku haus, terus tiba-tiba sakit perut. Aku ke kamar mandi, habis dari kamar mandi aku malah ketemu Mama terus ngobrol-ngobrol. Maaf ya sayang, aku lupa kalau tadi kita lagi telfonan"

Mengira kalau alasannya barusan terdengar masuk akal sebab Arni tak memberikan komentar apapun membuat Steven bernafas lega, terlihat Arni menarik selimutnya bersiap untuk tidur.

"Kamu pikir aku percaya?" Tanyanya membuat mata Steven semakin segar.

"Untuk apa kamu menggunakan toilet pembantu saat kamu memiliki toilet di kamarmu sendiri?"

Usai mengucapkan kalimat itu Arni menutup panggilan itu dan mematikan ponselnya untuk diisi daya, Steven yang panik duduk kembali dan menghubungi Arni namun nomor yang dihubunginya itu tak lagi aktif.

"Astaga, bagaimana ini?" Ucapnya mengacak rambutnya sementara Arni kini tertidur pulas tanpa memikirkan Steven sedikitpun.

***

"Huammmm"

Indra meregangkan tubuhnya dibawah pohon Bougainville dibelakang rumahnya yang telah tumbuh subur dan menjulang tinggi, kelopak bunganya yang mencolok memang terlihat menyegarkan mata di pagi hari terutama saat cahaya matahari menyorotnya.

Hari ini Indra akan kembali bekerja, ia sengaja bangun agak siang agar tidurnya cukup sebab ia yakin hari ini ia akan bekerja lembur. Indra kembali ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya dan sekitar dua puluh menit kemudian ia sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.

Jarak dari rumah ke kantor memakan waktu sekitar tiga puluh menit, beruntung hari ini ia tidak terjebak macet sehingga ia tak terlambat untuk mengisi absen di kantor. Begitu ia menyapa teman-temannya, ia disambut dengan sorakan hangat yang membuat wajahnya memerah.

"Cieee, yang baru saja berlibur dengan pacarannya sudah kembali!"

"Iyaaa, ngakunya sendiri ternyata sudah berpunya!"

"CIEEEE"

Indra mengerutkan keningnya, ia tahu kalau temannya pasti sudah melihat vidio viral yang merekam kebersamaannya dengan Raisa pada hari kepulangannya dari kampung halamannya, namun yang mereka tidak tahu adalah, wanita itu merupakan istri dari pemilik kantor tempat mereka bekerja kini.

"Teman-teman, dengar. Aku dan wanita di vidio itu hanya teman"

"Iya tau, teman tapi mesra atau TTM. Iya kan?" Ucap yang lain memotong perkataan Indra.

Saat mereka tengah sibuk menyoraki Indra tiba-tiba Steven berjalan melewati mereka sambil menunduk menatap layar ponselnya lekat tanpa berpaling sedikitpun. Takut mereka akan terkena teguran maka mereka kembali ke tempat duduk masing-masing melanjutkan pekerjaan mereka. Indra juga ikut duduk sambil memperhatikan Steven yang tampak murung, membuat lelaki ini merasa masalah yang dialami oleh Steven beberapa hari lalu mungkin lebih besar dari yang ia kira.

"Kasihan, padahal sebentar lagi dia akan menikah. Yah, semoga dia baik-baik saja" batinnya mulai menyalakan komputernya, sepanjang pagi ia sibuk bekerja dan beberapa jam kemudian berkas diatas mejanya sudah bertumpuk dan sesuai dugaannya sebelum ia berangkat bekerja kalau hari ini ia mungkin akan lembur semalaman.

Sudah lebih dari duapuluh delapan panggilan keluar ke nomor Arni tanpa jawaban, lelaki ini mengusap wajahnya beberapa kali sebab Arni sama sekali tak ingin berbicara dengannya, didepan meja rias Arni duduk cemberut sebab semua orang sibuk membicarakan kakaknya yang tengah viral itu, tak sedikit yang membandingkan mereka membuat Arni semakin muak.

"Aku sangat penasaran dengan wanita itu, melihat wajahnya saja kita bisa tahu kalau dia ramah, berbeda dengan seseorang yang baru jadi model saja sudah lupa daratan"

"Iya, benar. Melihat wajahnya membuatku mual setiap hari"

"Bagaimana menurutmu?"

"Jangan bertanya padaku, aku bahkan tidak ingin membahasnya karena dapat mengurangi selera makanku nanti"

Beberapa orang yang bekerja sebagai perias model sibuk membicarakan kedua saudara itu dibelakang Arni, wajah Arni memerah menahan amarah sebab jika dia menegur mereka maka situasi akan semakin besar.

"Kudengar agency kita merekrut wanita cantik itu, menurutmu apa dia mau bergabung dengan kita? Soalnya agency lain juga ingin merekrutnya"

"Entahlah, kita bisa lihat nanti"

Arni sengaja berdiri dari tempat duduknya dan berbalik menatap orang-orang itu, sejenak mereka menghentikan pembicaraan mereka sampai Arni pergi untuk melanjutkan pemotretan. Sambil melakukan pekerjaannya ia terus memikirkan bagaimana jika nanti posisinya tergantikan oleh Raisa dan orang-orang mulai melupakannya.

"Aku tidak bisa berdiam diri saja sementara semua orang selalu memperhatikan Raisa. Raisa, kau memang selalu jadi benalu dalam hidupku. Aku harus menyingkirkan mu" batinnya disela-sela kesibukannya.

"Arni, ada apa dengan mu hari ini? Kau tidak terlihat profesional" tegur juru kamera yang bertugas memotret gadis itu.

"Maaf, saya kurang fit" ucap gadis itu berkilah.

"Kau harus fokus, kita lakukan beberapa pemotretan lagi. Setelahnya kau bisa pulang untuk beristirahat"

"Baik, Pak"

***

Angga baru saja membuka matanya di jam 10.03 pagi ini, matahari kian meninggi namun ia dan istrinya masih berbaring diatas tempat tidur. Dilihatnya Raisa masih tertidur pulas pada posisi yang sama saat ia melihat wanita itu terakhir kali pada subuh tadi. Saat ia mencoba untuk duduk tiba-tiba Raisa bergumam, kepala wanita itu terus bergerak kearah kiri dan kanan.

"Jangan tinggalkan aku, akut takut disini"

"Tolong, bawa aku ikut. Disini sakit"

"Ma, disini dingin"

Kalimat itu terus berulang beberapa kali pertanda wanita ini tengah bermimpi buruk, Angga meletakkan punggung tangannya pada kening Raisa. Dingin namun wanita itu terus berkeringat dalam jumlah yang banyak, Angga kebingungan memikirkan bagaimana cara agar ia dapat membantu istrinya tersebut.

"Apa aku minta tolong pada Mama saja?" Ucapnya namun ia takut wanita paruh baya tersebut menolak.

"Ma, Mama" panggil Raisa lagi.

Angga kini terpaku diam menatap istrinya yang masih belum sadarkan diri, ia menepuk kembali wajah Raisa dengan lembut namun Raisa hanya menyergitkan dahinya. Lelaki ini mencoba meraih gelas diata meja dan membasuh wajah istrinya.

"Raisa, Raisa bangun" panggilnya lagi.

Perlahan wanita ini membuka matanya hingga samar-samar ia melihat wajah suaminya yang panik sebab ia sudah terlihat sangat pucat, Angga meraih tisu wajah diatas meja lalu mengeringkan wajah istrinya. Saat hendak berpindah posisi tiba-tiba Raisa menahan tangan Angga dan memeluknya.

"Jangan biarkan aku sendiri, aku takut" ucap Raisa dengan mata masih terpejam.

"Ada apa denganmu Raisa?"

Raisa hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan kembali tertidur sementara Angga hendak turun untuk sarapan.

"Raisa, apa kamu tidak lapar? Aku mau makan dulu ke bawah" ucapnya dan Raisa tetap menggelengkan kepalanya serta mempererat pelukannya.

lelaki ini menatap wajah istrinya lekat, melihat tangan yang memeluk tangannya tersebut memiliki banyak bekas luka membuat Angga kembali mengingat bagaimana perlakuan dia pada Raisa selama ini, begitu buruk hingga ia tak ingin mengingatnya lagi namun Raisa masih saja menoleransinya.

"Benar kata Steven, aku harus memperlakukannya lebih baik lagi untuk menebus kesalahanku" batinnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!