NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Terbongkar

Pagi itu, sinar matahari hangat menyapu halaman gedung Mersi Corporation—perusahaan manufaktur dan produsen suku cadang kendaraan terbesar di kawasan industri tersebut.

Zahira mematikan mesin motor matik merah kesayangannya tepat di area parkir karyawan lantai dua bawah tanah. Setelah melepas helm dan merapikan kemeja blazer terakota yang dipadu celana kain hitam, ia melangkah mantap menuju lift parkiran.

Motor matik merah itu menjadi pengingat sederhananya, ia di sini murni atas usahanya sendiri, bukan sebagai putri pemegang saham utama.

Saat melangkah keluar dari lift parkiran menuju lobi utama lantai dasar, suasana sudah sangat ramai. Para karyawan bertag nama lanyard biru tampak lalu lalang dengan terburu-buru. Di depan deretan turnstile gate, pandangan Zahira menangkap sosok yang tak asing.

"Pagi, Maya," sapa Zahira ramah sambil menempelkan kartu aksesnya.

Maya yang sedang menyesap kopi kemasan kaleng menoleh, lalu tersenyum tipis sebuah pemandangan langka mengingat kacamata tebal dan raut dingin yang biasa ia tampilkan.

"Pagi, Zahira. Datang pagi juga kamu."

"Harus. Nggak mau nyari gara-gara di hari kedua," terkekeh pelan, Zahira berjalan berdampingan dengan Maya menuju deretan lift khusus area kantor utama.

Mereka melangkah masuk ke dalam lift yang kebetulan belum terlalu penuh. Begitu pintu lift tertutup rapat dan bergerak naik menuju lantai 8, Maya membetulkan letak kacamatanya.

"Siap-siap ya, Ra," bisik Maya pelan tanpa menoleh, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung halus mesin lift.

"Kenapa memangnya?"

"Hari ini ada evaluasi stok suku cadang triwulan dari divisi logistik. Bu Imelda biasanya bakal nyari tumbal kalau ada selisih angka antara invoice pembelian bahan baku baja sama laporan distribusi sparepart."

Zahira mengangguk paham. "Terima kasih infonya, May. Untung semalam aku sempat baca-baca ulang standar harga komponen piston dan brake pad kita."

Maya melirik Zahira dari sudut matanya, sedikit kagum dengan kesiapan staf baru di sebelahnya ini.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menyambut mereka dengan aroma khas pendingin udara kantor berpadu wangi kertas dan kertas cetak printer.

Namun, begitu Zahira tiba di kubikel kerjanya, langkahnya terhenti.

Di atas meja kerjanya yang kemarin rapi, kini bertengger dua tumpukan map tebal berwarna merah dan biru. Tingginya hampir menutupi layar monitor komputer.

"Baru sampai, Ra?"

Suara dingin dan bernada ketus menyapa dari arah belakang. Imelda berdiri bersedekap dada, mengunyah permen karet dengan tatapan sinis.

"Itu berkas rekapitulasi sparepart lokal dan impor untuk lini produksi sepeda motor kuartal terakhir," ujar Imelda tanpa basa-basi.

"Saya mau kamu audit ulang semua pajak masukannya dan sesuaikan dengan data penjualan kampas rem serta rantai roda dari distributor pusat. Harus selesai sebelum makan siang."

Zahira menatap tumpukan berkas itu sejenak. Jumlah laporan itu rasanya tak masuk akal untuk dikerjakan satu orang dalam waktu kurang dari empat jam.

"Maaf, Bu Imelda. Bukankah data rekapitulasi komponen impor biasanya dipegang oleh tim audit senior?" tanya Zahira tenang namun berbobot.

Imelda tersenyum miring, melangkah mendekat. "Kamu kan kemarin bilang 'profesional', Zahira. Kamu juga yang pamer ketelitian di depan Pak Damian jam sebelas kemarin. Jadi, buktikan. Jangan cuma banyak cakap tapi kerjaan dasar begini aja keteteran."

Beberapa rekan kerja di kubikel sekitar mulai melirik dan saling berbisik, menikmati drama pagi hari itu.

"Baik, Bu. Akan saya selesaikan sebelum jam makan siang," jawab Zahira tegas, menatap lurus mata Imelda tanpa ada gestur menyerah.

"Bagus. Jangan buat kesalahan satu rupiah pun," ancam Imelda sebelum berbalik melangkah menuju ruangannya dengan tumit sepatu berbunyi nyaring.

Zahira menarik nafas panjang, menarik kursinya, dan duduk. Dari kubikel sebelah, Maya menyembulkan kepalanya sedikit.

"Perlu bantuan buat cross-check data Part Number-nya?" bisik Maya pelan.

Zahira tersenyum hangat, menyingsingkan lengan kemejanya. "Makasih, May. Tapi aku coba olah rumus matematika database-nya dulu. Kalau cuma rekap data suku cadang, ini makanan empukku."

Jari-jemari Zahira mulai menari lincah di atas papan ketik. Di tengah kepulan aroma kopi dan riuhnya desing mesin cetak Divisi Keuangan Mersi Corporation pagi itu, Zahira siap membuktikan bahwa kerja keras dan kecerdasannya jauh lebih tajam daripada taktik intimidasi sang atasan.

.

.

Tepukan jemari Zahira di atas papan ketik terhenti sejenak. Pandangannya menajam menatap baris-baris angka di layar monitor.

Di tengah kerumitan data Part Number suku cadang yang menumpuk, sebuah kejanggalan menarik perhatiannya: ada selisih harga yang cukup signifikan pada komponen brake pad dan rantai roda impor dari pemasok asal Vietnam.

Ia mengecek ulang lembar invoice fisik di dalam map merah. Benar saja, angka perpajakan yang tertera di dokumen fisik tidak sinkron dengan data digital yang diunggah ke sistem pusat.

"May," bisik Zahira tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Bisa tolong cek nomor seri pemasok PT Indo Nusa Cipta di database analisis kamu?"

Maya yang sedang mengetik laporan bulanan menghentikan gerakan tangannya. Ia menggeser kursi rodanya mendekat ke kubikel Zahira dan meneliti layar monitor temannya itu.

Kacamata tebal Maya dinaikkan sedikit. Matanya berkedip cepat. "Tunggu... ini vendor suku cadang yang masuk lewat jalur rekomendasi internal dua bulan lalu. Ada apa, Ra?"

"Ada mark-up harga hampir lima belas persen di setiap unit kampas rem. Kalau dikali kuantitas pengiriman kuartal ini, nilainya bisa ratusan juta rupiah," terang Zahira tenang, namun nada suaranya memancarkan keseriusan. "Dan uniknya, dokumen penyesuaian harga ini cuma ditandatangani oleh satu orang."

Maya menelan ludah. "Bu Imelda?"

Zahira mengangguk tipis. "Sepertinya ini alasan kenapa berkas berat begini tiba-tiba dilempar ke meja staf baru."

"Zahira!"

Suara lengkingan yang sangat dikenal memotong bisikan mereka. Imelda keluar dari ruangannya dengan berkas di tangan, berjalan cepat menghampiri meja Zahira. Tatapannya sengit, menyadari kerapatan posisi duduk Maya dan Zahira.

"Maya, balik ke mejamu! Jangan biasakan gosip di jam kerja," tegur Imelda pedas. Maya mengangguk pelan dan menggeser kursinya kembali tanpa membantah.

Imelda lalu memajukan tubuhnya ke arah Zahira, mengetuk-ngetuk mejanya dengan ujung kuku yang dipoles merah menyala.

"Gimana laporan rekapitulasi sparepart? Ini sudah jam sebelas lewat lima belas. Jangan bilang kamu bahkan belum selesai memilah faktur impornya?"

Zahira menyandarkan punggungnya ke kursi, membalas tatapan Imelda dengan ekspresi sangat tenang.

"Sudah selesai saya audit, Bu. Bahkan saya menemukan sesuatu yang sangat menarik," ujar Zahira lugas.

Alis Imelda bertaut. "Maksud kamu apa?"

"Ada ketidak sesuaian laporan perpajakan dan unit price pada ribuan unit brake pad dari PT Indo Nusa Cipta. Data di system dan dokumen fisik yang Ibu berikan tidak cocok. Jika data ini saya masukkan langsung ke rekapitulasi akhir sebelum jam makan siang seperti perintah Ibu, laporan Keuangan Mersi Corp triwulan ini bisa bermasalah saat diaudit oleh tim independen."

Wajah Imelda seketika memucat, sebelum akhirnya berubah merah padam karena menahan geram dan terkejut.

Ia tidak menyangka staf baru yang berniat ia "kerjai" justru berhasil membongkar celah fatal yang sengaja disembunyikannya dalam waktu kurang dari empat jam.

"Kamu... kamu jangan sembarangan tuduh, ya!" suara Imelda agak meninggi, memancing perhatian beberapa karyawan yang mulai berbisik-bisik di sekitar mereka. "Kamu itu cuma staf baru! Tahu apa kamu soal alur penetapan harga vendor impor?!"

"Saya tidak menuduh siapa pun, Bu Imelda. Saya hanya melaporkan fakta data angka yang ada di meja saya," jawab Zahira tegas, suaranya tetap terkontrol dan sangat profesional.

"Sesuai prosedur, berkas ketidak sesuaian ini akan saya lampirkan catatan khusus sebelum diserahkan ke meja Direksi."

Imelda mengepalkan tangannya rapat-rapat. Intimidasi yang biasa ia gunakan pada karyawan baru sama sekali tidak mempan menghadapi Zahira yang cerdas, tenang, dan memiliki prinsip sekeras baja.

Di sudut ruangan, Maya menatap Zahira dengan binar kagum. Perang dingin di Divisi Keuangan Mersi Corporation kini baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

1
sunaryati jarum
Bianca makin iri jika Zahira yang disukai Rizwan
sunaryati jarum
Niat hati ingin menjatuhkan staf baru,eeh malah kebongkar kejahatannya.Imelda kamu sekarang tidak bebas lagi melakukan kecurangan, untuk memperkaya diri
sunaryati jarum
Jangan suka membanding-bandingkan anak, semua sudah punya porsi masing-masing .Untuk Karlina tadi baru melambungkan Bianka,pak Damian Zahira sebagai contoh menapak karir dari bawah.Sekali lagi kurang benar walau contoh jika sebagai perbandingan .Bianka yang merasa paling unggul dan benar pasti marah.Untuk Zahira sudah terbiasa dihina sebagai cambuk pembuktian kualitas diri.
sunaryati jarum
Borokmu ketahuan staf baru yang ingin kau jadikan tumbal ,Imelda
sunaryati jarum
Mantaaap , emak dukung
sunaryati jarum
Imelda kamu menunjukkan keburukan kamu sendiri di depan putri pemilik perusahaan.Damian kau akan selalu bangga pada kinerja dan pencapaian hasil pada putrimu, yang kau abaikan selama ini.
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!