Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Nyonya Iblis
Jurang Kematian Utara, yang dulunya merupakan sarang monster buas, kini dipenuhi oleh suara rintihan putus asa yang menyayat hati. Namun, rintihan itu bukan berasal dari para tawanan, melainkan dari para penguasa dunia bawah itu sendiri.
Di tengah pelataran batu giok hitam, Mo Yuan terbaring tengkurap. Ia tidak sedang bermalas-malasan, melainkan sedang melakukan push-up dengan satu jari telunjuk. Masalahnya, di bawah dadanya, terhampar ribuan paku es spiritual yang memancarkan hawa beku yang menusuk tulang. Setiap kali napasnya tidak teratur, ujung paku itu menggores kulitnya.
"Napasmu berantakan, Mo Yuan! Kau bernapas seperti kerbau yang kelelahan membajak sawah!"
Suara elegan namun mematikan itu memecut udara. Permaisuri Lin Yue duduk anggun di atas kursi berukir teratai, menyesap teh melati. Ia memegang sebatang ranting persik yang telah dialiri Qi, menggunakannya layaknya cambuk tak kasat mata.
ZRAAAK!
Ranting itu mengayun membelah udara, menghantam punggung Mo Yuan. Sang Ketua Paviliun Pembunuh menjerit tertahan, tubuhnya nyaris ambruk ke atas paku es sebelum ia memaksakan ototnya kembali tegak.
Di sudut lain, Shen Lu sedang mengayunkan sebuah pedang besi raksasa seberat seribu kati (sekitar enam ratus kilogram). Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Yang membuatnya seperti di neraka adalah: Dantian-nya telah dikunci total oleh formasi penyegel milik Lin Yue. Ia dipaksa mengayunkan pedang itu hanya menggunakan kekuatan otot fana seribu kali tanpa henti!
"Shen Lu! Jika kau menggunakan Qi untuk menebas, itu adalah sihir, bukan ilmu pedang!" omel Lin Yue dari kursinya. "Ototmu harus mengingat berat pedangmu sebelum jiwamu bisa memerintahkannya! Ayunkan lagi!"
Sementara itu, Zi Lanying dan Xie Yan tidak bernasib lebih baik. Lanying dipaksa berjalan meniti seutas benang sutra tipis yang dibentangkan di atas jurang beracun sambil menutup mata, melatih insting keseimbangannya. Sedangkan Xie Yan, sang ahli strategi licik, digantung terbalik dengan posisi kepala di bawah, dipaksa merangkai formasi susunan Qi yang rumit sementara kadal peliharaannya sendiri menggigiti ujung rambutnya karena kelaparan.
"S-Siapa wanita ini sebenarnya?!" isak Lanying pelan, air matanya menetes membasahi penutup matanya. Kakinya gemetar hebat di atas benang sutra. "Kakak Pertama bilang dia mengirim ibunya yang merupakan seorang permaisuri fana! Permaisuri fana macam apa yang bisa menyegel Dantian kita hanya dengan satu jentikan jari?!"
"Jangan banyak bicara, Lanying," erang Shen Lu, urat-urat di lengannya nyaris pecah karena menahan beban pedang. "Simpan napasmu, atau 'Nyonya Iblis' itu akan menambah beban kita."
"Nyonya Iblis" adalah julukan baru yang diam-diam mereka sematkan untuk ibu Kakak Pertama mereka.
Tepat saat matahari mencapai puncaknya, Lin Yue meletakkan cangkir tehnya. "Waktu istirahat. Kalian punya waktu sebatang dupa untuk bernapas sebelum kita masuk ke latihan peleburan meridian."
Keempat remaja itu langsung jatuh ke lantai batu, terengah-engah layaknya ikan yang dilempar ke daratan.
Mengambil kesempatan emas itu, Xie Yan dengan tangan gemetar merogoh saku jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah jimat komunikasi transmisi suara kelas menengah.
Ketiga temannya langsung merayap mendekat, membentuk lingkaran kecil untuk menutupi Xie Yan.
"Cepat, Xie Yan!" desis Mo Yuan, wajahnya pucat pasi. "Hubungi Kakak Pertama! Bilang padanya kita bisa mati di sini sebelum orang langit turun tangan! Kita butuh Kakak Pertama untuk membujuk Nyonya Iblis ini!"
Xie Yan mengalirkan sisa Qi-nya ke dalam jimat itu. Jimat tersebut berpendar redup. Xie Yan mendekatkan mulutnya, berbisik dengan nada paling menyedihkan yang bisa ia buat.
"K-Kakak Pertama... tolong kami. Ibumu... Nyonya Iblis ini... dia bukan manusia... dia menyuruhku merangkai formasi sambil digantung terbalik! Tolong bawa dia pu—"
KRAAAK!
Sebuah tangan putih yang luar biasa ramping dan indah tiba-tiba muncul dari balik bahu Xie Yan, merebut jimat komunikasi itu dan meremukkannya menjadi debu dalam satu genggaman.
Keempat ketua paviliun membeku. Jantung mereka serasa berhenti berdetak. Perlahan, dengan gerakan kaku layaknya boneka kayu yang rusak, mereka mendongak.
Permaisuri Lin Yue berdiri menjulang di atas mereka. Senyum di wajah cantiknya begitu manis, sangat manis hingga membuat jiwa keempat anak itu melayang dari tubuh mereka.
"'Nyonya Iblis'? Panggilan yang cukup BAGUS," ucap Lin Yue lembut. "Sepertinya waktu istirahat kalian membuat otak kalian memiliki terlalu banyak ruang untuk memikirkan pemberontakan."
Lin Yue menjentikkan jarinya. "Waktu istirahat dibatalkan. Mo Yuan, tambah paku esmu menjadi dua kali lipat. Shen Lu, aku menempelkan batu gravitasi di pedangmu. Lanying, Xie Yan... mulai lari mengelilingi jurang ini tanpa menggunakan setetes pun Qi. Sekarang!"
Di bawah ancaman sang Nyonya Iblis, markas Jurang Utara kembali dipenuhi oleh jeritan penderitaan.
Namun, ironi terbesar sedang terjadi di luar sana.
Sementara keempat pemimpin tertinggi Aliansi Bayangan Langit sedang menangis dan disiksa secara brutal di markas mereka, doktrin mematikan yang telah mereka tanamkan selama bertahun-tahun pada bawahan mereka, kini beroperasi dengan efisiensi yang mengerikan di dunia luar.
Malam itu, di Hutan Pinus Berbisik, seratus mil dari Ibukota.
Tiga pengawal berlapis zirah perak dari Sekte Pedang Bintang sedang berpatroli, memindai desa-desa fana untuk mencari petunjuk tentang lokasi Roh Dunia. Arogansi terlihat jelas di wajah mereka.
"Dunia kotor yang menyedihkan," ludah salah satu pengawal. "Jika bukan karena perintah Tuan Muda Jian Wu, aku tidak sudi menginjakkan kaki di tanah tanpa Qi ini."
Namun, ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.
Dari balik bayangan pohon pinus tepat di atasnya, sesosok tubuh berpakaian hitam legam meluncur turun tanpa suara sama sekali. Itu adalah Hong, wakil ketua Paviliun Mawar, dan Shi Jiu, elit Paviliun Pembunuh.
Tidak ada benturan Qi. Tidak ada raungan teknik.
Shi Jiu menggunakan teknik yang diajarkan Mo Yuan Langkah Hantu Pencekik. Ia memutar tubuhnya di udara, mendarat di belakang pengawal pertama, dan menggorok leher pria itu menggunakan belati yang telah dilumuri racun pembeku sumsum milik Xie Yan.
CRAAAASSH!
Pengawal pertama mati sebelum menyadari ada yang menyentuhnya.
Dua pengawal lainnya terkejut dan mencoba menghunus pedang mereka, memicu Qi Foundation Establishment mereka. Namun, Hong sudah lebih dulu melempar lusinan jarum beracun tak kasat mata yang terbuat dari es murni, menembus celah zirah mereka.
"P-Penyergap!" teriak salah satu pengawal, namun suaranya tercekat saat racun itu mengunci pita suaranya.
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, ketiga pengawal elit dari Alam Abadi itu terkapar tak bernyawa di lantai hutan. Para elit Aliansi Bayangan Langit memungut cincin penyimpanan musuh mereka, membersihkan jejak darah menggunakan bubuk fana, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan layaknya hantu.
Bukan hanya Sekte Pedang Bintang yang mengalami nasib ini.
Di wilayah timur, tim pengintai dari Klan Iblis Darah yang dikirim oleh Xue Tu lenyap tanpa jejak saat sedang beristirahat di sebuah kuil tua. Mereka disergap oleh puluhan anggota Paviliun Pedang yang dipimpin oleh Bai, yang menggunakan formasi pembunuh berantai untuk menjebak dan membunuh mereka dalam diam.
Sesuai perintah Kakak Pertama mereka, hanya anggota Sekte Teratai Es yang dibiarkan hidup dan ditangkap. Sisanya? Dibantai tanpa ampun jika mereka lengah.
Tiga hari kemudian, ketegangan di antara faksi Alam Abadi yang berada di Kerajaan Chen mencapai titik didih.
Di kediaman sementara Sekte Pedang Bintang, Jian Wu menatap lima mayat pengawalnya yang berhasil ditemukan dan dibawa kembali. Wajah sang jenius pucat karena amarah yang meledak-ledak. Zirah mereka tidak memiliki luka pedang besar, melainkan luka tusuk presisi tinggi dan racun aneh.
"Luka tusuk di titik vital yang kotor dan rapi, ditambah racun pembeku darah..." desis Jian Wu, pedangnya bergetar hebat. Ia menatap ke arah timur. "Hanya anjing-anjing licik dari Klan Iblis Darah yang menggunakan taktik pengecut seperti ini! Xue Tu keparat! Kau benar-benar ingin menantang Sekte Pedang Bintang sebelum perburuan dimulai?!"
Di saat yang bersamaan, di sebuah kastil terbengkalai di luar ibukota, Xue Tu menghancurkan sebuah pilar batu hingga hancur berkeping-keping.
Di depannya, tergeletak potongan-potongan tubuh para pengintainya yang dikirim kembali dalam sebuah karung yang sengaja digeletakkan di depan gerbang kastil.
"Tebasan pedang yang luar biasa cepat. Serangan berkelompok yang terorganisir..." mata merah Xue Tu menyala liar. "Jian Wu! Kau pikir kau bisa membodohiku dengan menyembunyikan identitas pembunuhmu?! Kau telah memulai perang, dan aku akan merobek jantungmu!"
Kesalahpahaman yang diciptakan dengan sangat brilian oleh eksekusi rahasia Aliansi Bayangan Langit telah memicu ledakan konflik. Terbutakan oleh arogansi dan kecurigaan antar sekte di Alam Abadi, Jian Wu dan Xue Tu sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa manusia lokal dari dunia fanalah yang membantai pasukan elit mereka.
Malam itu, langit di atas Ibukota Kerajaan Chen mendadak memerah.
Awan-awan berpusar liar. Dua tekanan Foundation Establishment Puncak yang luar biasa tebal satu memancarkan niat pedang bintang yang menyilaukan, dan satu lagi memancarkan lautan darah yang memuakkan melesat dari dua arah yang berlawanan, menuju tepat ke alun-alun utama Ibukota!
Kedua jenius itu memutuskan untuk menyelesaikan dendam mereka secara langsung di depan mata manusia fana.
Di Paviliun Anggrek istana, Lin Chen sedang bersandar di balkon marmernya. Ia memegang secangkir teh melati, menatap ke arah langit malam yang kini terbelah oleh dua kekuatan raksasa yang saling bertabrakan.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman iblis yang luar biasa kelam.
"Rencana Xie Yan berjalan sempurna. Silakan saling membunuh, Tuan-tuan yang terhormat," bisik Lin Chen, menyesap tehnya dengan santai.
Namun, senyum di wajah Lin Chen mendadak pudar. Cangkir teh di tangannya berhenti di udara.
Niat Jiwanya yang tak tertandingi baru saja menangkap sebuah anomali. Jauh di atas awan, menembus lapisan badai pertarungan antara Jian Wu dan Xue Tu... ada sepasang mata ketiga yang sedang mengawasi mereka semua.
Aura yang dipancarkan oleh mata tersembunyi itu bukanlah Foundation Establishment seperti yang dibatasi oleh hukum fana, melainkan murni sebuah tekanan dari Soul Formation! Seseorang telah membawa pusaka anti-hukum atau menyembunyikan kultivator tingkat tinggi ke dunia fana ini secara ilegal!
"Menarik," mata keemasan Lin Chen menyipit berbahaya. "Ternyata ada naga tua yang ikut menyusup ke dalam sarang semut."
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣