Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PESAN DARI DANAU MERAH
BAB 5: PESAN DARI DANAU MERAH
Kabut tipis yang merayap di atas permukaan Danau Buatan Bina Jaya malam itu terasa leluasa memeluk hawa dingin yang menusuk tulang. Sirine mobil polisi yang meliuk-liuk membelah kegelapan menambah kesan mencekam di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
Di tepi danau yang berlumpur, sebuah sedan hitam mewah telah diangkat separuh oleh mobil derek, dengan bagian moncong yang masih meneteskan air danau berbau busuk.
Reno Devano merapatkan mantel hitamnya saat melangkah melewati garis polisi. Di belakangnya, dr. Sara Maheswari membawa tas peralatan otopsi daruratnya, sementara Bara Aksara dan Widya Kusuma menyusul dengan langkah sergap.
"Apa yang kita punya, Bar?" tanya Reno cepat pada Bara yang sejak sejam lalu sudah tiba di lokasi untuk melakukan pemetaan awal.
"Korban adalah Hakim Agung Rustam Effendi, 58 tahun," jawab Bara sambil menunjuk ke arah pintu pengemudi mobil yang terbuka lebar.
"Ditemukan oleh pemancing lokal sekitar dua jam lalu. Polisi awalnya mengira ini murni kecelakaan mobil slip dan meluncur ke dalam danau. Tapi saat derek menarik sedan ini keluar..."
Bara menghentikan ucapannya, mengarahkan senter taktisnya ke arah kaca jendela belakang sebelah kanan.
Pendar cahaya senter menelanjangi sebuah goresan cat semprot berwarna merah menyala yang dibuat kasar namun presisi. Di kaca itu, terlukis sebuah gambar mata terbuka lebar yang dikelilingi garis-garis pendaran seperti sinar matahari.
Tepat di bawah lukisan mata itu, terdapat coretan tulisan tangan tebal menggunakan spidol permanen:
"Sainsmu Buta, Penglihatanmu yang Menghakimi. Selamat Datang di Permainan Sebenarnya, VPCI."
dr. Sara menahan napasnya secara refleks. Mata sang dokter forensik beralih cepat menatap profil samping wajah Reno. Pesan itu... kata-kata 'Sainsmu Buta' dan 'Penglihatanmu' terasa sangat spesifik, seolah-olah ditujukan langsung untuk perdebatan sengit yang baru saja terjadi di antara mereka berdua di laboratorium beberapa puluh menit yang lalu!
"Pesan ini... pelaku tahu tentang kita?" bisik Widya dengan raut wajah tegang.
"Bukan cuma tahu nama VPCI, tapi pesan ini ditulis dengan gaya personal. Seperti seseorang yang sedang memperhatikan interaksi internal agensi kita."
Reno berdiri membisu. Jantungnya berdetak kencang menghantam dadanya. Lambang mata bersinar itu... itu adalah simbolis dari kilas balik psychometry yang selama ini hanya terjadi di dalam kepalanya sendiri! Bagaimana mungkin ada orang asing yang mengetahui keberadaan rahasia ini?
Apakah ada sosok lain yang memandangnya dari kegelapan?
Atau adakah 'pemilik kemampuan' serupa yang sengaja memancingnya keluar?
"Sara, periksa kondisi fisik korban sekarang," suara Reno terdengar sangat tenang, sebuah ketenangan artifisial yang dipaksakan untuk menutupi gejolak panik di balik pelipisnya.
dr. Sara mendekati pintu mobil yang basah kuyup. Di dalam kabin pengemudi, jasad Hakim Rustam terkulai kaku dengan sabuk pengaman yang masih terpasang.
Matanya membelalak lebar menatap atap mobil, memancarkan ekspresi ketakutan yang murni sebelum nyawanya merenggut.
"Air memenuhi paru-parunya, terlihat dari buih halus di sekitar hidung dan mulut," analisis dr. Sara sambil memasang sarung tangan latex-nya. Jemari lentiknya memeriksa leher korban.
"Tapi ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda korban berusaha membebaskan diri dari sabuk pengaman. Kaca jendela pengemudi terbuka setengah saat mobil ini tenggelam. Logikanya, jika dia sadar, dia akan berusaha merangkak keluar."
"Artinya korban sudah dilumpuhkan atau pingsan sebelum mobil dimasukkan ke danau," sahut Reno.
Reno melangkah lebih dekat ke pintu pengemudi. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya secara perlahan, membiarkan jemarinya bertelanjang di udara malam yang dingin. Tatapannya tertuju pada kemudi berbahan kulit sintesis yang masih basah oleh air danau.
"Reno, apa yang mau kamu lakukan?" tegur dr. Sara curiga saat melihat Reno mengulurkan tangannya menuju roda kemudi. "Area itu belum disapu oleh tim forensik polisi untuk sidik jari!"
"Aku hanya memeriksa teksturnya, Sara," alih Reno datar.
Sebelum dr. Sara sempat mencegah atau menepis tangannya, jemari Reno sudah menyentuh permukaan kulit roda kemudi yang basah.
Deg.
Hantaman kilas balik psychometry kali ini datang jauh lebih brutal dan keras dibandingkan saat ia memegang kancing kemeja Hartawan. Rasa dingin yang membekukan langsung menjalar dari ujung jarinya, menghantam pusat kesadaran Reno bagaikan gelombang kejut.
Pemandangan tepi danau mendadak memutar waktu ke beberapa jam sebelumnya.
Hujan lokal turun rintik-rintik. Mobil sedan milik Hakim Rustam terparkir di pinggir jalan yang sepi.
Di dalam mobil, Hakim Rustam tampak sedang berdebat sengit dengan sesosok pria yang duduk di kursi penumpang depan. Pria itu mengenakan mantel hujan hitam berkupluk tebal yang menutupi separuh wajahnya.
"Kamu tidak bisa melakukan ini pada saya! Saya ini Hakim Agung!" teriak Rustam dengan suara gemetar ketakutan.
Pria bermantel hitam itu tidak membalas ucapan sang hakim. Dengan gerakan yang sangat tenang namun dingin, pria itu mengangkat satu tangannya tangan yang terbungkus sarung tangan kain hitam pekat.
Pria itu menekan ibu jarinya tepat di titik saraf karotis di leher Hakim Rustam.
Dalam hitungan detik, matanya mendadak sayu dan tubuh Hakim Rustam langsung terkulai pingsan di atas roda kemudi.
Namun, tepat sebelum kilas balik itu berakhir, sosok pria bermantel hitam itu mendadak memutar kepalanya... memutar wajahnya tidak ke arah Hakim Rustam, melainkan menatap lurus tepat ke arah sudut pandang Reno dalam bayangan tersebut!
Melalui ruang dan waktu kilas balik masa lalu, pria bertopeng itu mengukir senyuman tipis yang mengerikan. Bibirnya bergerak lambat, membisikkan sebuah kalimat tanpa suara yang bisa dibaca oleh Reno secara jelas:
"Aku tahu kamu sedang menontonku, Detektif..."
Brak!
Reno terperanjat hebat, menarik tangannya dari roda kemudi secara mendadak hingga tubuhnya tersandung ke belakang, hampir saja jatuh ke dalam lumpur danau jika Bara tidak dengan sigap menahan bahunya.
"Bos! Kamu tidak apa-apa?!" seru Bara cemas.
Napas Reno memburu hebat. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, bercampur dengan air hujan rintik-rintik yang mulai turun kembali.
Dadanya naik turun tidak teratur. Pria itu... sosok eksekutor itu tidak hanya membunuh Hakim Rustam, tetapi dia sadar bahwa tempat kejadian perkara dan barang bukti itu akan disentuh oleh seseorang yang memiliki kemampuan psychometry!
dr. Sara melangkah maju, memegang pergelangan tangan Reno. Sang dokter forensik merasakan detak nadi Reno yang berpacu liar tak terkendali.
"Reno Devano," suara dr. Sara merendah, sarat akan tekanan dramatis yang begitu pekat.
"Wajahmu tidak pernah se-pucat ini. Apa yang baru saja kamu 'lihat' di kemudi itu?!"
Reno memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengendalikan denyut kepalanya yang serasa mau pecah. Ia mengepalkan tangannya yang gemetar, menyembunyikannya kembali ke dalam saku mantel.
"Dia... dia bukan pembunuh biasa, Sara," bisik Reno dengan suara serak, matanya menatap tajam ke arah tulisan spidol merah di kaca mobil. "Pelaku ini sengaja meninggalkan jasad Hakim Rustam untuk kita. Dia ingin kita menemukan kasus ini."
Ponsel Widya mendadak berdering nyaring. Widya menyambut panggilan tersebut dengan raut wajah yang semakin panik saat mendengar laporan dari Dion di markas VPCI.
"Reno! Dion baru saja mendeteksi penyusupan siber di server utama kantor kita!" seru Widya setengah berteriak menembus deru hujan.
"Seseorang meretas sistem keamanan VPCI dari jarak jauh sepuluh menit lalu! Pelaku mengunggah sebuah dokumen rahasia ke komputer Dion!"
"Dokumen apa?!" tanya Reno cepat.
"Berkas rekam medis dan daftar putusan kasus hukum yang pernah ditangani oleh Hakim Rustam sepuluh tahun terakhir!" jawab Widya.
"Dan di lembar terakhir dokumen retasan itu... ada daftar nama lima orang calon korban berikutnya. Dan nama terakhir di dalam daftar sasaran pembunuhan itu..."
Widya menghentikan kalimatnya, menatap Reno dan dr. Sara dengan tatapan horor yang murni.
"...nama terakhir di daftar pembunuhan itu adalah Reno Devano."
Suasana di tepi danau yang dingin mendadak membeku sepenuhnya. Hujan yang mulai turun lebih deras seolah tenggelam oleh gema ancaman yang baru saja dijatuhkan di hadapan mereka.
dr. Sara menatap Reno dengan pandangan yang bercampur antara rasa tidak percaya dan kepanikan yang teramat sangat.
Pria yang selama ini selalu bertindak sebagai 'pemandu' rahasia di balik kesuksesan VPCI, kini secara resmi telah menjadi target utama dari seorang pembunuh berdarah dingin yang mengetahui rahasia terbesarnya.
Reno perlahan menegakkan tubuhnya, mengusap air hujan di wajahnya dengan raut dingin yang membaja. Permainan rahasia di balik meja otopsi dan ruang investigasi telah berakhir.
Kini, Reno dan tim VPCI harus bertarung tidak hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk bertahan hidup dari bayangan misterius yang siap mengeksekusi sang detektif berindra ke-6.