NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. BAYANG BAYANG

Cahaya matahari pagi menyusup tajam menembus jendela kaca raksasa apartemen mewah itu, memantulkan kilau dingin dari lantai pualam yang kini tak menyisakan sebutir debu pun. Hari itu adalah hari Minggu, hari di mana hiruk-pikuk sekolah Vellora usai. Semuanya telah tertata dengan sempurna, megah, dan tanpa cela. Namun, kesempurnaan itu justru membawa atmosfer ketegangan yang ganjil di udara.

Vellora melangkah keluar dari kamarnya dengan mata yang masih mengerjap. Balutan piyama biru muda dan bando senada di kepalanya membuatnya tampak seperti satu-satunya titik kepolosan di tengah ruangan yang luas ini. Langkahnya terhenti mendadak. Keningnya berkerut menatap sebuah pemandangan yang begitu kaku di dapur. Kakek Liam berdiri tegak di depan kompor, memegang spatula bagai sebuah senjata pelindung, sementara tiga wanita berseragam mematung tepat di belakangnya. Mereka mengawasi setiap gerak-gerik sang pria paruh baya dengan tatapan kosong dan tak berani bergerak.

"Kakek... sedang masak apa hari ini? Dan, siapa mereka? Kenapa mereka terus mematung di sana melihat Kakek memasak?" suara lembut Vellora memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Kakek Liam mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada frustrasi yang tertahan. "Mereka asisten rumah tangga di apartemen ini, Nak. Padahal Kakek sudah menyuruh mereka mencari pekerjaan lain di ruangan ini karena Kakek ingin memasak sendiri untuk kalian! Tapi mereka bersikeras berdiri di situ seperti patung hidup!"

"Emm... begitu ya?" Vellora sesekali melirik dengan canggung. "Tapi, kenapa Kak Leo harus menyewa pelayan sebanyak ini?"

"Apa yang kau pikirkan, Nak? Mana mungkin kita sanggup membersihkan apartemen sebesar dan seluas ini dengan tangan kita sendiri," sahut Kakek Liam sambil terus membolak-balik daging di atas wajan.

Vellora mengangguk paham. "Iya juga sih. Emmm... kalian bertiga, kerjakan saja pekerjaan yang lain, jangan diam di sini ya? Kalian bisa bersih-bersih di ruangan lain," pintanya dengan nada ramah.

Namun, salah satu pelayan itu menjawab dengan suara bergetar, "Kami... kami bertiga sudah membersihkan seluruh ruangan, Nona. Semuanya sudah berkilau. Tapi Kakek tidak membiarkan kami membantu di dapur sedikit pun."

"Kalau begitu istirahatlah dan sarapan sana. Jangan berdiri terus, kalian pasti sangat kelelahan," bujuk Vellora lembut. Mengejutkannya, ketiga wanita itu tetap membeku, tak bergeser walau hanya satu inci.

Hingga tiba-tiba, sebuah suara berat dan dingin menggema dari ambang pintu lorong. "Apa kalian menjadi tuli terhadap perintah Nona Muda? Pergilah dari sini dan sarapan!"

Itu Bara. Ia baru saja keluar dari kamarnya dengan wajah kusut. Mendengar ketegasan mutlak dari tuan mudanya, ketiga pelayan itu menunduk ketakutan dan akhirnya bergegas pergi meninggalkan dapur.

"Hadehh... pagi-pagi buta kalian berdua sudah menciptakan keributan yang memekakkan telinga," keluh Bara sambil menguap lebar.

"Sudahlah, Bara, diam! Lagipula Kakek hanya ingin memasak sendiri pagi ini," pekik Liam, mengacungkan spatulanya dengan gemas.

"Hadeh, Kakek ini... tapi harus kuakui, aku terbangun dari tidurku murni karena aroma masakan Kakek yang menusuk kuat sampai ke dalam kamarku," gerutu Bara, meski sudut bibirnya sedikit berkedut.

"Dasar bocah!" seru Liam, kembali fokus pada steak daging sapi tebal yang sedang mendesis di atas wajannya, menebarkan aroma gurih yang menggugah selera.

Namun, kehangatan kecil itu hancur berkeping-keping dalam sekejap ketika Vellora yang berdiri di samping Liam tiba-tiba melontarkan pertanyaan mematikan. "Eh, Kak Bara... ngomong-ngomong, aku belum melihat Kak Leo sama sekali sejak kemarin kita pindah ke sini. Ke mana sebenarnya dia pergi?"

Waktu seakan berhenti berdetak di ruang makan itu. Udara mendadak terasa sedingin es. Bara dan Liam saling melempar pandangan tajam—sebuah isyarat bisu yang dipenuhi beban yang terlalu kelam untuk diucapkan.

Bara menelan ludah, memaksakan suaranya agar terdengar wajar. "Emm... waktu itu, tepat saat kau tertidur lelap di kamar, dia terburu-buru pergi. Ada urusan yang sangat mendesak. Aku sempat bertanya padanya tadi malam, tapi dia bilang dia belum bisa pulang. Masih ada urusan yang... sangat serius, katanya." Bara sendiri menyembunyikan getar ketidaktahuan dan kecemasan dalam suaranya.

"Sudahlah, ayo kita makan steak buatan Kakek! Kau pasti sudah sangat kelaparan, kan?" sela Liam dengan cepat, mati-matian mengalihkan pembicaraan sebelum kecurigaan Vellora menebal.

"Wahhh... benar juga, aku lapar sekali, Kakek! Emmm, baunya enak banget!" seru Vellora, raut wajahnya kembali cerah saat ia mulai membantu Kakek Liam menata hidangan di atas meja makan pualam itu.

Di sudut ruangan yang tak terlihat, ketiga asisten rumah tangga yang merupakan rekomendasi dari pemilik lama apartemen itu sedang berbisik-bisik. "Dulu... orang yang membeli apartemen ini memiliki tabiat yang sangat angkuh bak tiran. Kita bahkan tidak diizinkan untuk berhenti bekerja walau sejenak di depan matanya, hingga akhirnya tempat ini dijual kembali ke pemilik aslinya," gumam salah satu pelayan dengan napas lega.

"Kau benar. Pemilik kedua ini jauh lebih manusiawi. Mereka sangat ramah, dan aku bisa merasakan sedikit kedamaian di sini," balas pelayan lainnya, diiringi senyum tipis dari mereka bertiga.

Kembali ke meja makan, suasana tampak mencair. "Emmm... steak Kakek memang tidak ada tandingannya! Jauh lebih lezat daripada makanan di restoran bintang lima mana pun," gumam Bara sambil mengunyah dengan lahap.

"Terus saja memuji masakanku jika ujung-ujungnya kau hanya ingin tambah porsi lagi!" pekik Liam, yang seketika mengundang tawa lepas dari bibir Vellora dan Bara.

Namun, di balik riuhnya tawa di meja makan itu, hati Liam menangis berdarah-darah. Di dalam batinnya yang paling dalam, ia menjerit pilu. Andai... andai aku bisa melihat Leo duduk di sini, tertawa lepas seperti kalian. Tapi cucuku yang malang itu terlalu sibuk membiarkan jiwanya hangus terbakar oleh api balas dendamnya sendiri...

Tak butuh waktu lama hingga mereka bertiga menyelesaikan sarapan yang dipenuhi tawa. Merasa butuh ruang, Vellora meminta izin pada Kakek Liam untuk keluar sebentar. Ia ingin berjalan kaki, menghirup udara luar, dan melihat-lihat sekeliling apartemen baru yang belum sempat ia nikmati suasananya.

Begitu kakinya menapak di luar, semilir angin langsung membelai wajahnya. "Segar banget udara pagi ini," gumam Vellora lirih.

Langkahnya membawanya ke sebuah taman yang sunyi. Ia terhenti di sana, duduk sendirian di atas bangku taman yang dingin. Mata bulatnya menatap kosong mengelilingi taman yang indah namun sepi itu. Di balik kedamaian pagi dan kemewahan yang kini menyelimuti hidupnya, ada sebuah kehampaan yang tak bisa dijelaskan bersarang di dadanya—sebuah firasat samar tentang bayang-bayang kelam yang sedang menanti keluarganya di ujung jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!