NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Spontan

"Lepas nggak?!" bentak Aira, memecah keheningan koridor paviliun sayap timur.

Kedua tangannya mencengkeram kerah kaos hitam Evan. Dia sekuat tenaga berusaha mendorong dada bidang suaminya. Tapi nihil. Badan Evan keras banget kayak beton.

"Lepasin gue, Evan!"

"Tidak."

"Gue teriak ya biar seisi rumah denger?!" ancam Aira, matanya menyala menantang.

Evan malah menaikkan sebelah alisnya dengan angkuh. "Silakan."

"Gila lo ya?! Lepas!"

"Teriak saja, Aira. Koridor ini kedap suara," balas Evan tenang dengan bisikan rendah yang mengintimidasi. "Mansion utama itu jauh dari sini, dan pintu depan sudah saya kunci. Menurutmu, siapa yang bakal mendengar jeritan konyolmu?"

Darah Aira langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. "Dasar cowok sinting! Lepas—!"

CUP.

Dunia Aira mendadak berhenti berputar seketika.

Teriakannya terpotong paksa oleh bibir yang langsung membungkamnya. Evan sama sekali tidak memberi aba-aba.

Pria itu menunduk. Dia langsung melumat bibir Aira dalam ciuman yang menuntut, tegas, dan dalam.

Aira melotot syok dengan pupil mata membesar sempurna. Badannya mendadak kaku kayak patung.

Kedua tangannya yang tadi mendorong, kini cuma bisa memukul-mukul pelan dada Evan. Ada rasa hangat yang aneh menjalar cepat ke seluruh saraf tubuhnya.

Saat Evan akhirnya menarik diri, jarak wajah mereka cuma tersisa beberapa milimeter saja.

Napas Evan sedikit tidak teratur, bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang mendadak kembali dingin. Sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.

"Makanya, tidak usah teriak-teriak," desis Evan. Jari telunjuknya sempat menyentuh dagu Aira yang gemetar. "Itu cara paling cepat biar mulut cerewetmu itu diam."

Tanpa menunggu balasan Aira, Evan melepaskan pegangannya di pinggang gadis itu.

Dia merapikan kaos hitamnya yang sedikit kusut, lalu berbalik badan dan melangkah pergi menuju kamar tidurnya.

Blam. Pintu panel tebal itu tertutup rapat, menyisakan Aira yang lemas sendirian di tengah koridor.

"B-barusan itu... apa-apaan sih?" bisik Aira parau.

Tangannya gemetar menyentuh bibirnya sendiri yang terasa panas. Wajahnya langsung terbakar hebat. "Gila ya itu orang?! Berani-beraninya dia... ambil ciuman pertama gue?!"

*

Di dalam kamarnya, Evan langsung bersandar di balik pintu yang terkunci rapat.

Dadanya naik turun. Pria yang selalu bangga dengan kendali dirinya yang kuat itu kini kelihatan sangat kacau. Dia menatap telapak tangan sendiri dengan tatapan tidak percaya.

Sial! Aku ngapain barusan? batin Evan bergemuruh, merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa aku bisa sampai kelepasan cium gadis montir itu?

Evan berjalan gusar ke arah jendela besar kamarnya. Jantungnya masih berdegup kencang, memberikan sensasi asing yang bikin dia kesal pada diri sendiri.

Selama hidupnya, dia tidak pernah membiarkan wanita mana pun mendekat. Dia terlalu sibuk membangun karir dan menjaga gengsi keluarga Wirasena. Tapi malam ini, pertahanannya runtuh di tangan Aira. Istri yang bahkan tidak pernah menghormatinya.

Evan mengusap wajahnya frustrasi. Tapi sialnya, kenapa rasanya tidak seburuk yang dia bayangkan?

Di kamar sebelah, Aira hampir saja tersandung saat melangkah masuk. Dia buru-buru mengunci pintu, selalu menyandarkan punggungnya di sana sambil mencoba menenangkan napasnya yang masih berantakan.

"Nggak, nggak! Ini nggak bener!" gumam Aira keras-keras pada dirinya sendiri. Dia menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan wajah Evan.

"Itu pasti cuma taktik busuk si robot Evan buat intimidasi mental gue!" seru Aira meyakinkan dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan.

"Dia cuma mau nunjukin siapa yang punya kuasa di sini. Jangan mau kalah, Aira! Lo itu cewek tangguh, bukan cewek lemah yang gampang luluh cuma karena tampang ganteng!"

Tapi tetap saja, begitu jemarinya kembali menyentuh bibirnya, rasa hangat itu seolah masih menempel di sana. Aira menghela napas panjang, wajahnya memerah padam. "Sialan lo, Evan Wirasena. Lo bener-bener musuh terbesar gue."

***

Sinar matahari menembus celah-celah atap seng bengkel. Suara hantaman palu dan dentuman kunci pas saling bersahut-sahutan.

Tapi di salah satu sudut, suasana mendadak terasa janggal.

Aira berdiri kaku di depan kap mobil sedan tua milik pelanggan. Tangannya memegang kunci ring ukuran 14, tapi matanya melamun jauh menatap mesin tanpa berkedip. Sudah lima menit dia cuma memandangi baut yang sama.

"Oi, Montir Cantik!"

Suara lantang Jaka memecah lamunan Aira. Dia berjalan mendekat membawa kaleng oli. Di belakangnya, ada Rian yang ikut menyusul dengan kain lap kotor.

"Hah? Apa?!" Aira tersentak, hampir saja menjatuhkan kunci ring di tangannya.

Jaka tertawa renyah. "Dari tadi lo ngeliatin baut itu kayak orang mau ngajak berantem. Salah pasang, atau lo mendadak lupa cara muter kunci pas?"

Rian ikut nyelonong sambil menyeka keringat di dahinya. "Iya nih, Ra. Tumben banget ngelamun. Biasanya lo yang paling gercep kerjanya. Ini udah sepuluh menit lo diem mematung kayak patung selamat datang."

Kesadaran Aira langsung kembali total. Wajahnya mendadak memanas. Dia buru-buru menempelkan kuncinya ke baut dan memutarnya dengan asal, membuat suaranya berdecit keras.

"Eh, nggak kok! Gue... gue cuma lagi cek setelan mesinnya aja!" dalih Aira terbata-bata, sengaja membuang muka dari tatapan kedua sahabatnya. "Ya kali gue ngelamun."

Jaka menyipitkan mata, lalu tersenyum jahil. "Masa, sih? Tapi muka lo kok kusut banget kayak baju belum disetrika? Jangan-jangan... lo lagi mikirin suami robot lo itu, ya?"

Mendengar nama Evan disebut, tangan Aira langsung tersentak kaget. Kunci pas di tangannya refleks terlepas dan membentur bodi mobil dengan keras.

CLANG!

"Woi, santai, Ra!" tegur Rian penasaran. "Tuh, kan! Bener kata Jaka. Apa terjadi sesuatu semalam? Jangan-jangan kalian udah mulai melakukan kewajiban suami istri? Udah sampai tahap mana nih?"

Jaka menyambung dengan gelak tawa keras. "Atau udah full package kayak adegan di drama Korea? Hahaha!"

Muka Aira langsung merah padam sampai ke telinga. Otaknya mendadak blank. Bayangan bibir dingin Evan semalam yang membungkam mulutnya langsung terputar otomatis di kepalanya.

"Diem lo berdua! Dasar otak udang!" bentak Aira, lalu melemparkan kain lap kotor di dekatnya ke arah wajah Jaka. "Nggak ada apa-apa, ya! Dia itu cuma robot kaku yang super nyebelin dan nggak punya perasaan!"

"Tapi muka lo merah banget tuh, Ra!" ejek Rian makin kencang tertawa. "Muka merah gitu biasanya tanda-tanda habis dicium, tahu!"

"Gue colok mata lo pakai obeng kalau nggak berhenti ngoceh!" ancam Aira dengan suara yang sedikit gemetar karena menahan malu. Dia langsung membalikkan badan, pura-pura sibuk memeriksa bagian mesin mobil yang lebih dalam.

Jaka dan Rian cuma bisa tertawa terbahak-bahak melihat punggung Aira yang mendadak kaku dan telinganya yang sudah merah sempurna.

"Udah, udah, kasihan si Aira nanti ngamuk beneran," kata Jaka sambil menepuk pundak Rian, mencoba meredakan tawa mereka. "Tapi serius, Ra. Kalau lo butuh tempat curhat tentang 'kehangatan' malam pernikahan lo, kita berdua siap dengerin kok. Gratis!"

"Dasar cowok-cowok kurang kerjaan!" gerutu Aira dalam hati. Dia terus memutar baut di depannya dengan tenaga berlebih, berharap rasa kesalnya bisa menghapus bayangan Evan dan debaran aneh yang mendadak muncul lagi di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!