Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PENYELAMATAN YANG GAGAL
Langit subuh di atas perbukitan berwarna abu-abu kebiruan yang dingin dan berembun. Jam menunjukkan pukul 04.30 WIB.
Hanya beberapa jam sebelum rombongan PT Mandaroba Medika bergerak menuju Hotel Grand Hyatt untuk konferensi pers peluncuran nasional Mandaroba-9.
Kediaman megah di puncak bukit itu masih diselimuti keheningan yang mencekam, diselingi deru angin dingin yang berhembus menembus pepohonan pinus.
Di balik rerimbunan semak yang berbatasan langsung dengan dinding kaca bagian barat kediaman, Rian berjongkok dengan napas tertahan. Ia mengenakan pakaian taktis hitam, membawa ransel berisi perangkat peretas frekuensi portabel, kamera tersembunyi, dan dua buah salinan flashdisk cadangan.
Hati Rian tidak bisa tenang sejak pembicaraan telepon rahasianya dengan Sesil dua hari lalu melalui saluran analog bawah tanah. Meskipun Sesil menegaskan agar Rian menunggu di panggung Grand Hyatt, naluri sahabat dan rekan jurnalis Rian terus menyuarakan alarm bahaya.
Ia tahu betul betapa licik dan berbahaya Alden. Menbiarkan Sesil berada sendirian di sarang iblis itu pada jam-jam terakhir sebelum eksekusi adalah risiko yang terlalu besar untuk ditanggung.
Rian bermaksud melakukan penyerapan lapangan dan, jika memungkinkan, membawa Sesil keluar lebih awal melalui jalur rumah kaca sebelum rombongan Alden bersiap berangkat.
Dengan gerakan cepat dan terlatih, Rian merayap mendekati bangunan rumah kaca—sebuah struktur kaca raksasa tempat Alden membudidayakan tanaman sintesis Mandaroba yang terhubung langsung ke koridor bawah tanah lantai satu.
Rian mengeluarkan perangkat peretas frekuensi (frequency jammer) dari ranselnya. Ia menempelkan modul kecil itu ke panel sensor magnetik pintu kaca bagian samping.
BZZZZT... KLIK.
Lampu indikator sensor yang semula menyala merah mendadak padam. Sistem keamanan pada pintu rumah kaca berhasil ditipu.
Rian menghembuskan napas lega, mendorong pintu kaca tebal itu dengan sangat perlahan hingga menciptakan celah yang cukup untuk tubuhnya menyusup ke dalam.
Bau tanah basah, kelembapan tinggi, dan aroma kimia herbal yang aneh—khas ekstrak Mandaroba—seketika menyengat hidungnya. Di dalam rumah kaca yang remang-remang itu, deretan rak besi menampung ratusan pot tanaman berdaun ungu gelap yang tumbuh di bawah sinar lampu ultraviolet.
Rian bergerak menunduk menyusuri gang di antara rak-rak tanaman, menuju pintu besi penghubung yang mengarah ke koridor utama kediaman.
"Sesil... bertahanlah sedikit lagi," bisik Rian pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal di gagang pintu besi.
Namun, saat tangan Rian menyentuh kerekatan pintu besi tersebut, sebuah suara magnetik yang nyaring tiba-tiba berdengung di udara.
KLANG! KLANG! KLANG!
Bukan suara sirene alarm publik yang bising, melainkan suara gerendel baja berat yang menutup secara serentak dari seluruh penjuru rumah kaca. Pintu kaca tempat Rian masuk tadi mendadak bergeser menutup rapat dan terkunci secara otomatis dari luar.
Lampu ultraviolet di langit-langit menyala terang benderang, membanjiri seluruh ruangan kaca dengan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan.
Rian tersentak hebat. Ia berbalik dan berlari menuju pintu kaca, mencengkeram gagangnya dan memukulkan bahunya.
Nihil. Pintu kaca tahan peluru itu terkunci rapat dalam mode lockdown.
"Berusaha menjadi pahlawan di jam yang salah, Saudara Rian?"
Sebuah suara dingin, bergelombang, dan penuh keangkuhan memecah keheningan rumah kaca melalui pengeras suara internal yang tersembunyi di sudut langit-langit.
Rian berbalik cepat, menatap ke arah balkon observasi lantai dua rumah kaca yang dibatasi oleh kaca satu arah.
Lampu di balkon tersebut menyala.
Di sana, berdiri Alden dengan mantel hitam elegan, memegang cangkir kopi porselen di tangan kirinya. Di sampingnya, dua orang pengawal pribadi berbadan tegap mengenakan pakaian serba hitam berdiri mengawasi dengan senjata kejutan listrik dan pistol otomatis terselip di pinggang.
"Alden!" geram Rian, matanya menyala oleh amarah murni saat menatap sang sosiopat. "Di mana Sesil?! Apa yang sudah kamu lakukan padanya, iblis!"
Alden menyesap kopinya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat meremehkan.
"Sesil berada di tempat yang sangat aman, sedang beristirahat manis di dalam kamar setelah menerima dosis pemulihan terbaiknya," jawab Alden tenang. "Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa seorang jurnalis amatir seperti dirimu bisa menembus perimeter rumahku tanpa kuberikan izin?"
Darah Rian mendadak terasa membeku. "Apa maksudmu...?"
"Aku sudah memantau pergerakanmu sejak kamu mengintai pagar luar tiga puluh menit yang lalu," desis Alden, melangkah mendekati pagar balkon. "Saluran telepon analog tua di ruang bawah tanah... pergerakan sinyal peretasmu... apakah kamu pikir aku sebodoh itu? Aku sengaja membiarkan sinyal telepon tua itu tetap hidup untuk melihat sejauh mana tikus-tikus kecil seperti kalian mencoba merayap di dalam rumahku."
Rian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kenyataan menghantamnya dengan sangat keras: Alden telah mengawasi pergerakan mereka. Penyusupannya bukanlah sebuah keberhasilan, melainkan jebakan yang sengaja dibiarkan terbuka oleh sang sosiopat!
"Kamu tidak akan pernah menang, Alden!" teriak Rian, suaranya bergema di dinding-dinding kaca. "Kami memegang semua bukti eksperimen harammu! Laporan medis, video laboratorium, kecelakaan rekayasa Sesil—semuanya akan terbongkar!"
Alden tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang tak tersentuh oleh emosi kemanusiaan.
"Bukti?" ulang Alden santai.
Ia meletakkan cangkir kopinya di meja balkon, lalu menyilangkan tangannya di dada. "Bukti hanyalah tumpukan data digital yang bisa dengan mudah dihapus, diubah, atau dilabeli sebagai rekayasa kecerdasan buatan (AI-generated) oleh tim peretas dan pengacaraku. Dalam beberapa jam ke depan, seluruh pejabat kementerian dan pimpinan kepolisian akan berdiri di sampingku di Hotel Grand Hyatt. Siapa yang akan mempercayai seorang jurnalis semenjana yang tertangkap basah melakukan penyusupan ilegal dan perusakan properti swasta?"
Alden memberi isyarat tangan yang dingin kepada dua pengawal di sampingnya.
"Lumpuhkan dia. Sita seluruh peralatan dan perangkat elektroniknya. Kunci dia di sel isolasi bawah tanah sampai acara di Grand Hyatt selesai. Setelah itu... pastikan dia menerima dosis Mandaroba Compound-9 yang sama dengan yang diterima sahabatnya."
"Iblis kau, Alden!" jerit Rian.
Rian berusaha mencabut frequency jammer dari ranselnya untuk dilemparkan ke arah sensor, namun pintu besi bawah rumah kaca terbuka mendadak.
Kedua pengawal pribadi Alden meluncur masuk dengan kecepatan tinggi.
Rian mencoba memberikan perlawanan. Ia mengayunkan pukulan ke arah pengawal pertama, mengenai rahang pria itu hingga terhuyung mundur. Namun pengawal kedua memanfaatkan celah tersebut, menghantamkan tongkat kejutan listrik bertegangan tinggi tepat ke rusuk kiri Rian.
ZZZZZT!
Arc listrik membakar kain jaket Rian. Rasa sakit yang amat sangat dahsyat menjalar ke seluruh sistem syarafnya.
Tubuh Rian bergetar hebat, kekuatannya mendadak menguap, dan lututnya menghantam lantai semen rumah kaca dengan keras.
Dua pengawal itu menyeret Rian yang setengah sadar, merampas ranselnya, dan memborgol kedua tangannya ke belakang dengan rantai baja tebal.
Dari atas balkon observasi, Alden menatap Rian yang terkulai lesu dengan pandangan hampa tanpa belas kasihan.
"Kalian para jurnalis selalu memiliki penyakit yang sama: romantisme keadilan yang naif," bisik Alden pelan. "Kalian percaya bahwa kebenaran akan selalu menang. Padahal di dunia nyata, uang, kekuasaan, dan kendali atas pikiran manusialah yang menuliskan apa itu kebenaran."
Alden memutar tubuhnya, melangkah pergi dari balkon observasi tanpa memalingkan wajahnya lagi.
Rian terseret di atas lantai dingin rumah kaca, matanya yang samar menatap ke arah jendela lantai dua kediaman tempat Sesil berada. Rasa bersalah yang amat sangat mendalam meremukkan dadanya. Rencana penyelamatannya telah gagal total. Ia kini terperangkap di dalam cengkeraman Alden, dan Sesil kini harus menghadapi panggung eksekusi Grand Hyatt sendirian tanpa ada bantuan dari luar.
Di dalam kamar tidur utama lantai dua, Sesil yang berdiri tegap di balik tirai jendela menyaksikan seluruh adegan penangkapan Rian melalui celah tipis.
Bibir Sesil terkatup rapat. Matanya yang dingin dan tajam tidak memancarkan ketakutan, melainkan kobaran api amarah yang kini telah mencapai titik didih tertinggi.
Penangkapan Rian bukan akhir dari segalanya; itu adalah percikan terakhir yang membakar seluruh sisa keraguan di dalam dirinya. Sesil meraba jilidan keras buku jurnal hitam dan flashdisk rahasia yang tersimpan rapat di balik gaun mewahnya.
Mereka menangkapmu hari ini, Rian, batin Sesil dengan kejamnya dendam yang siap meledak.
Tapi jangan khawatir. Dalam beberapa jam lagi, aku sendiri yang akan menghancurkan kerajaan iblis ini dan menjemput kebebasan kita berdua.