"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Juna melangkah keluar dari balik tembok, berjalan tenang tanpa tergesa menuju lorong tempat Gery masih terpojok. Suara langkah kakinya yang mantap di atas lantai basah cukup untuk membuat kedua orang berjaket hitam itu menoleh.
Salah satu dari mereka membelalak sesaat, sebelum ekspresinya berubah menjadi seringai mengejek. "Loh, ini kan si sok pahlawan tadi? Kayaknya pelajarannya kurang, ya, sampai lu berani nongol lagi malam-malam begini?"
"Anjing, nyali lu gede juga," sahut yang satunya, meretakkan lehernya ke kiri dan kanan sambil melangkah maju. "Sini, biar gue kasih pelajaran yang bener kali ini, biar lu kapok seumur hidup."
Juna berhenti tepat di jarak yang ia perhitungkan, berdiri tegak, menatap keduanya bergantian dengan tatapan dingin yang belum pernah tampak di wajahnya sebelum malam ini.
"Sepertinya pelajaran kemarin memang kurang," ucap Juna, suaranya datar namun setiap kata terdengar berat. "Kalau begitu, biar aku yang mengajari kalian kali ini."
Salah satu dari mereka tergelak keras, kepalanya terangkat ke belakang. "Lu? Ngelawak banget sih, anj—"
Kalimatnya terputus di tengah jalan. Juna sudah bergerak lebih dulu, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Kepalan tangan Juna mendarat telak di rahang orang itu—suara benturan tulang terdengar jelas di lorong sepi itu—membuatnya terhuyung dua langkah ke belakang sebelum ambruk ke genangan air becek bekas hujan.
"Fuck! Berani juga lu—"
Orang kedua melayangkan pukulan panik ke arah wajah Juna, gerakannya kasar dan penuh amarah, jauh dari terkendali.
Juna menunduk cepat, membiarkan pukulan itu lewat tipis di atas kepalanya, lalu membalas dengan hantaman telak ke ulu hati lawannya. Orang itu terbungkuk, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan suara tercekik, sebelum sebuah hantaman terakhir ke rahangnya membuat tubuhnya berputar setengah putaran dan ambruk telungkup ke tanah, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
Yang pertama sudah memaksakan diri bangkit, darah menetes dari sudut bibirnya, wajahnya dipenuhi amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. "Fuck lu! Berani-beraninya lu—"
Ia menyerang membabi buta, mengayunkan tinjunya berkali-kali tanpa pola, namun setiap gerakannya seakan sudah bisa dibaca oleh Juna jauh sebelum benar-benar terlepas. Juna menangkap lengannya di udara, memutar tubuh orang itu paksa hingga punggungnya menghadap, lalu menghantamkan siku tepat ke tulang rusuknya. Suara retak kecil disusul erangan panjang memenuhi lorong yang sunyi, bergema di antara dinding-dinding basah.
Kedua orang itu kini tersungkur berdampingan di tanah, tubuh mereka berlumur lumpur dan darah, napas tersengal-sengal, tak satu pun sanggup berdiri tegak lagi.
"A-anjing... lu... apa-apaan lu sebenarnya..." salah satu dari mereka mencoba bangkit dengan tangan gemetar, namun lututnya kembali ambruk begitu ia mencoba menopang berat tubuhnya sendiri.
Juna berdiri di hadapan mereka, napasnya nyaris tidak berubah, menatap keduanya dengan tatapan datar yang justru membuat bulu kuduk mereka meremang lebih dari pukulan mana pun yang baru saja mereka terima.
Dengan susah payah, kedua orang itu akhirnya berhasil berdiri, saling memapah sambil terhuyung mundur menjauh selangkah demi selangkah.
"Lihat aja lu, bajingan!" salah satu dari mereka berteriak sambil berbalik lari bersama temannya, suaranya bergetar, jelas mencoba menutupi ketakutan di baliknya dengan ancaman kosong. "Lain kali... lu bakal hancur, inget kata-kata gue!"
Langkah kaki mereka yang terhuyung-huyung menghilang di ujung lorong, meninggalkan keheningan yang hanya dipecah oleh suara napas Juna yang perlahan kembali teratur dan suara gerimis yang masih menetes dari atap seng di kejauhan.
Juna menatap kedua tangannya sendiri, telapak yang baru saja menjatuhkan dua orang tanpa perlawanan berarti.
'Ternyata... rasanya seperti ini punya kekuatan yang sesungguhnya.'
Ia menoleh ke arah Gery, yang masih berdiri terpaku di sudut lorong sejak tadi, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya masih sedikit gemetar menyaksikan semua yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Gery," Juna melangkah mendekat, suaranya kembali terdengar normal, jauh dari nada dingin yang baru saja ia gunakan. "Kamu nggak apa-apa?"