"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tepat pukul 9 pagi di lantai atas gedung pencakar langit Maheswara Group, Erlangga tengah duduk di atas kursi kebesarannya sambil memejamkan mata. Ia memijat perlahan pelipisnya yang berdenyut nyeri. Guratan kelelahan tercetak jelas di wajahnya yang tampak kusut. Ia sama sekali tidak menyangka, jika Kara bisa setega itu menguncinya di dalam kamar mandi semalaman.
"Sialan!" gerutu Erlangga dengan rahang yang mengeras.
Di saat ia masih mencoba untuk meredakan emosinya, tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Ia langsung membuka matanya dan melirik sekilas ke arah layar yang menampilkan nama Rafael.
Tanpa ragu, Erlangga langsung menyambar benda pipih itu, menekan tombol terima, lalu menempelkannya ke telinga dengan gerakan malas.
"Lang! Lo sibuk nggak?" tanya Rafael dari balik telepon.
"Gue sibuk," sahut Erlangga ketus.
"Lo mah sibuk mulu. Padahal gue pengen minta tolong untuk jemput Kimberly sekarang juga di bandara. Dia udah nungguin nih dari tadi."
"Kimberly?" Erlangga langsung mengernyit bingung.
"Iya. Tau tuh si cewek ngotot banget pengen nyusulin gue ke sini, padahal dua bulan lagi kan gue balik ke Australia. Tapi lo bisa kan, Lang, bantuin gue? Kali ini aja. Gue beneran sibuk nih, ada rapat mendadak."
"Hmm." Erlangga hanya bergumam pendek sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Jangan hmm doang! Lo bisa nggak? Kalau lo nggak bisa, gue bakal minta tolong sama Tante Lisa nih."
Mendengar nama mamanya di sebut, Erlangga langsung mendengus kasar. "Gue bisa," jawabnya.
"Nah, gitu dong! Makasih banget akhirnya lo bisa. Gue nggak akan..."
Tut.
Erlangga langsung menjauhkan ponselnya dari telinga dan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Lalu melempar kembali ponselnya ke atas meja.
Jika dibiarkan, Rafael pasti akan terus mengoceh panjang lebar, dan Erlangga sama sekali tidak memiliki sisa kesabaran untuk mendengarkan omongan yang tidak penting itu.
Erlangga langsung memijat pangkal hidungnya kembali. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa wanita semanja Kimberly bisa senekat itu datang ke Indonesia sendirian.
Jika bukan karena Rafael yang merengek dan membawa-bawa nama mamanya, mana sudi Erlangga menjemput Kimberly.
Jika sampai sang mama tahu Kimberly terlantar di bandara, telinganya pasti akan panas mendengarkan omelannya sepanjang hari. Mengingat Kimberly itu tunangannya Rafael.
"Ck... Menyusahkan!" desisnya dingin.
Erlangga langsung bangkit dari kursi dengan gerakan malas. Lalu, ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja, dan mengambil jasnya yang tersampir di atas kursi, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
**
Sementara itu, mobil hitam yang membawa Kara akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama sebuah perusahaan raksasa.
Di puncak gedung pencakar langit itu, terpampang jelas logo serta ukiran nama mewah bertuliskan "Maheswara Group".
"Nyonya beneran mau masuk sendiri?" tanya Pak Basuki dari kursi kemudi, ia menoleh ke belakang dengan wajah yang tampak ragu.
"Iya, Pak. Udah, Bapak pulang aja. Nanti saya pulangnya bareng sama Erlangga kok," ucap Kara dari kursi belakang, matanya berbinar-binar penuh kagum saat menatap bangunan megah di luar jendela itu.
Pak Basuki langsung menganggukkan kepalanya. "Baik Nyonya."
Setelah itu, Kara segera mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar. Begitu kedua kakinya menginjak lantai paving di luar mobil, mulutnya langsung terbuka lebar.
"Wah... Gede banget nih perusahaan. Bahkan jauh lebih besar dari kantor Papa!" batin Kara bersorak girang.
Lalu, kepalanya mendongak tinggi, matanya berputar mengamati arsitektur modern bangunan itu.
"Fiks no debat, nggak usah diraguin lagi. Erlangga tuh emang beneran tajir melintir!" lanjutnya dalam hati, senyum lebarnya nyaris tak bisa ia kontrol.
Namun, saat Kara baru saja hendak melangkahkan kakinya menuju pintu utama, jalannya tiba-tiba dihadang oleh dua orang satpam berbadan tegap dan besar.
"Maaf, Nona. Anda cari siapa?" tanya satpam pertama dengan nada datar, alisnya berkerut tajam saat memindai penampilan Kara.
"Saya cari Erlangga. Ada kan di dalam?" jawab Kara santai.
"Tuan Muda Erlangga?" Satpam kedua langsung menimpali dengan alis yang menukik dalam. "Apa Anda sudah membuat janji temu sebelumnya?"
Kara langsung melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mendengus kecil. "Saya nggak perlu bikin janji temu segala kali. Toh, saya ini istrinya."
Dua satpam di depannya itu langsung saling pandang, lalu mereka tertawa sinis secara bersamaan.
"Maaf ya, Nona, tapi sudah ada banyak sekali wanita berpenampilan seperti Anda yang datang ke sini. Mereka mengaku-ngaku sebagai istri, pacar, bahkan teman dekat Tuan Muda Erlangga," ucap satpam pertama dengan nada meremehkan.
Wajah Kara langsung memerah karena kesal. "Tapi saya ini beneran istrinya, Pak! Kami baru aja nikah kemarin! Apa Bapak nggak dateng waktu resepsi?!"
"Maaf, Nona, prosedur tetaplah prosedur. Kami tetap tidak mengizinkan Anda masuk tanpa konfirmasi langsung dari Tuan Muda Erlangga," tegas satpam kedua.
Kara langsung menggertakkan giginya geram, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Yaudah! Kalau gitu tanyain aja sekarang ke dalam!"
Satpam itu menatap Kara jengkel, lalu menjawab dengan santai, "Sayang sekali, Nona... Tuan Muda Erlangga baru saja pergi dari kantor ini beberapa menit yang lalu."
"Hah? Pergi?" Mata Kara langsung membelalak sempurna. "Pergi ke mana?!"
"Maaf, kami tidak berhak memberikan informasi internal perusahaan kepada pihak luar."
Tanpa membuang waktu lagi, kedua satpam itu langsung mencengkeram lembut lengan Kara, mereka membalikkan tubuh wanita itu untuk digiring menjauh dari area lobi.
"Heh! Lepasin nggak! Saya ini beneran istrinya! Kenapa kalian nggak ada yang percaya sih?!" teriak Kara histeris. Tubuhnya meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari cekalan dua pria berbadan besar tersebut. Namun, tenaganya tentu kalah jauh.
Setelah sampai di trotoar pinggir jalan raya, kedua satpam itu langsung melepaskan lengan Kara dengan sentakan pelan.
"Silakan pergi dari sini, Nona. Jangan membuat keributan atau kami terpaksa akan memanggil pihak kepolisian," ancam satpam pertama, sebelum akhirnya mereka berbalik badan dan berjalan kembali menuju pos penjagaan tanpa menoleh lagi.
"Awas aja ya kalian berdua! Kalau Erlangga udah dateng, gue bakal aduin dan pastiin kalian langsung dipecat hari ini juga!" teriak Kara kencang.
Setelah berteriak kencang, nafas Kara langsung terengah-engah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah cemas.
"Ck... Mana Pak Basuki udah terlanjur gue suruh pulang lagi. Terus sekarang gue pulangnya gimana?" gerutunya frustrasi.
Kara tiba-tiba menepuk dahinya sendiri saat sebuah kenyataan pahit menghantam pikirannya. "Mana gue tadi lupa nggak bawa ponsel sama uang sepeser pun lagi!" keluhnya.
Lalu Ia menatap kosong ke arah jalan raya, meratapi nasibnya yang kini terdampar mengenaskan di pinggir jalan.
"Sialan emang! Kenapa sih Erlangga pakai acara pergi segala?!" gerutu Kara jengkel sambil merutuki rencananya yang gagal total.