Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Raras yang Tidak Menjawab (Revisi)
“Ras. Aku cuma mau tanya satu hal.”
Suara Danang parau, tersendat di tengah. Raras berdiri di bawah papan nama gudang Pak Wiryo dengan punggung menempel ke dinding seng yang panas. Di seberang halaman, mobil putih Dimas menunggu dengan jendela terbuka.
“Tiga tahun Mas mulai dengan kalimat itu dan tidak pernah selesai.” Raras menelan ludah. “Selesaikan sekarang.”
“Apa kamu yang menahan pesananku?”
“Tidak, Mas. Pesananmu dilayani sesuai antrean, seperti pembeli lain.”
“Tapi dulu tidak antre.”
“Dulu ada yang mengatur.”
“Siapa?” Napas Danang terdengar semakin cepat. “Siapa yang mengatur, Ras?”
“Itu pertanyaan kedua. Mas bilang satu.”
“Ras, tolong.”
“Aku jawab yang bisa kujawab, Mas. Yang lain belum bisa kujawab sekarang.”
Danang tertawa pendek, terdengar getir. Raras memejamkan mata. Ia kenal tawa itu, tawa yang muncul setiap kali Danang kalah argumen, tetapi diam-diam senang karena orang yang mengalahkannya adalah orang yang ia sayang.
“Aku melihatmu di jendela tadi subuh,” kata Danang.
“Aku juga melihatmu.”
“Kamu tidak mundur.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau bersembunyi dari keputusanku sendiri, Mas.” Raras menyeka sudut mata dengan punggung tangan. “Kamu hampir naik ke kantor itu, kan?”
“Hampir. Aku sudah sampai di anak tangga pertama, Ras, tapi kakiku tidak mau naik lagi.”
“Kenapa?”
“Karena aku malu.” Suara Danang merendah. “Aku malu waktu Pak Broto bilang dua tahun itu tidak tertulis. Baru sekarang aku sadar aku tidak pernah bertanya kenapa selama ini semuanya terasa mudah.”
“Malu itu awal membaca, Mas.”
“Membaca apa?”
“Nanti kamu tahu.” Raras menarik napas. “Semalam kamu mau menulis sesuatu untukku?”
“Kamu tahu?”
“Layarku menunjukkan kamu sedang mengetik. Tiga menit.”
“Aku menghapusnya.”
“Aku juga.”
Hening. Lama. Di ujung sana terdengar klakson, lalu suara mesin yang dimatikan.
“Apa yang kamu tulis?” tanya Danang.
“Kamu dulu.”
“Aku menulis, Ras, aku rindu masakanmu.” Danang terdiam sebentar. “Konyol, ya? Dari semua yang bisa kukatakan, malah itu.”
“Itu mungkin kalimat paling jujur yang pernah kamu tulis, Mas.” Suara Raras bergetar, dan kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. “Tapi tetap tidak cukup.”
“Aku tahu.”
“Mas benar-benar tahu atau cuma bilang tahu?”
“Aku tahu.” Danang menarik napas panjang. “Boleh aku jelaskan, Ras? Aku tidak mau membela diri.”
“Silakan.”
“Seumur hidup aku dikenal sebagai anaknya Pak Surya. Di depan Niken, aku merasa bisa jadi Danang saja. Itu yang bikin aku...” Ia berhenti sebentar. “Aku ingin punya tempat di mana aku tidak perlu menjelaskan siapa aku.”
“Di depanku kamu juga cuma Danang, Mas. Selama tiga tahun, aku tidak pernah memanggilmu anak siapa pun.”
“Kamu tidak pernah menuntut apa-apa.”
“Karena aku tidak mau membebanimu.”
“Itu yang bikin aku merasa tidak dibutuhkan.”
“Jadi kamu memilih perempuan yang menuntut diperkenalkan.” Raras mengatakannya tanpa nada. “Aku bertemu Mbak Niken Jumat pagi, Mas. Dia datang ke Yogya sendirian.”
“Dia ke Yogya?” Danang terdengar terkejut. “Aku tidak tahu.”
“Dia bertanya apakah kamu akan membelanya kalau ada yang menghina dia. Aku bilang, tanyakan langsung kepadamu. Jangan menerima jawaban yang belum jelas.”
Hening lagi. Kali ini lebih panjang.
“Aku tahu kamu akan mengerti, Ras,” kata Danang akhirnya. “Waktu memilih jalan itu, aku tahu kamu akan mengerti.”
“Aku memang mengerti, Mas. Itu justru masalahnya.” Suara Raras turun, tetapi tetap tegas. “Kamu mengandalkan pengertianku. Kamu pikir aku akan selalu memaklumi apa pun yang kamu lakukan.”
“Aku tidak bermaksud...”
“Mas memang memilih melakukannya. Kamu menyiapkan surat itu tiga hari sebelum bicara denganku. Itu bukan khilaf, Mas. Itu keputusan.”
“Pengacara yang menulis halaman dua, Ras. Aku tidak membacanya.”
“Mas bisa menemukan satu koma yang salah di kontrak Pak Hartono, tapi halaman dua surat cerai sendiri tidak dibaca?” Raras menggeleng. “Jangan meremehkan kepintaranmu sendiri, Mas. Kamu membacanya. Kamu hanya tidak mau mengakui apa arti kalimat itu.”
“Itu...” Danang terdiam. “Kamu benar.”
“Ya.” Suara Raras pecah. “Itu pilihan.”
“Terima kasih sudah jujur.”
“Aku mau menawar sesuatu.”
“Menawar apa?”
“Kalimat di halaman dua itu. Aku mau menggantinya. Pengacara Bapak bisa menyusul. Aku tanda tangan hari ini juga, apa pun kalimat penggantinya. Tapi kembalikan tenggang pembayaran dan prioritas panenku. Tiga bulan saja, sampai kontrak Pak Hartono aman.”
Raras diam. Di bawah kakinya, tanah kering retak halus. Seekor ayam mematuki biji yang jatuh di sela batu.
“Jadi,” katanya akhirnya, “Mas mau mengganti kalimat yang salah supaya bisa mendapatkan kemudahan lagi.”
“Aku minta tolong, Ras.”
“Kalimat yang benar itu hakku, Mas. Bukan hadiah buatku, apalagi barang yang bisa Mas tukar.”
“Aku tidak punya yang lain untuk ditawarkan.”
“Itu bukan alasan untuk menjualnya.”
“Kamu tega.”
“Aku tega?” Raras menahan suara agar tidak meninggi. Tangan kirinya mengepal di perut, sementara plester di tangan kanannya terasa panas. “Aku yang duduk sampai tengah malam dengan nasi goreng dingin, Mas. Aku yang diam waktu Ibumu memanggil perempuan lain ‘Nduk’. Sekarang Mas bilang aku tega karena aku tidak mau menukar kebenaran dengan kemudahan untukmu?”
“Aku tidak bilang begitu...”
“Mas baru saja bilang.”
“Maaf.”
“Itu kata yang bagus, Mas. Tapi kali ini aku butuh lebih dari itu.” Raras menengadah, memandang atap seng yang berkilat. “Aku butuh Mas mengatakan yang sebenarnya tanpa syarat. Tanpa tenggang. Tanpa tanda tangan sebagai tukar.”
“Kalau aku tidak bisa?”
“Berarti Mas belum siap.”
“Belum siap atau memang tidak mau?”
“Hanya Mas yang tahu.” Raras menghela napas. “Tidak apa-apa kalau Mas belum siap. Tapi jangan bilang Mas tidak bisa kalau sebenarnya Mas tidak mau.”
Danang diam begitu lama sampai Raras mengira sambungan terputus. Lalu terdengar suara kecil, napas yang ditarik lewat hidung.
“Mas.”
“Ya.”
“Jam tanganmu.”
“Kenapa?”
“Kamu menggadaikannya?”
“Siapa yang bilang?”
“Itu tidak penting.”
“Aku akan menebusnya, Ras. Sebelum akhir bulan.”
“Jangan menebusnya demi aku.” Raras menggigit bibir. “Tebus untuk dirimu sendiri. Jam itu bagus, dan Mas pantas memakainya tanpa merasa bersalah.”
“Itu hadiah darimu.”
“Hadiah untuk Mas, bukan ikatan.”
“Aku merasa itu ikatan.”
“Karena Mas sendiri yang menganggapnya begitu.”
“Sudah makan?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Aku tidak mengalihkan. Orang tidak bisa berpikir jernih kalau perutnya kosong.”
“Aku sudah makan.”
“Roti sobek?”
“Dari mana kamu...” Danang berhenti. “Kamu menebak?”
“Aku menebak. Mas selalu begitu kalau gugup. Makan roti separuh, lalu bilang kenyang.” Raras tersenyum tipis, getir. “Pergilah beli nasi, Mas. Pakai uang sendiri. Tidak perlu malu. Makanan tidak mengenal harga diri.”
“Ras...”
“Aku bukan lagi orang yang menyuapimu. Tapi aku masih ingin kamu makan.”
“Itu beda?”
“Beda, Mas. Dan kamu harus belajar membedakannya.”
“Pak Hartono minta penjelasan hari ini,” kata Danang cepat, seolah takut Raras mengakhiri panggilan. “Kalau aku tidak bisa menjelaskan kenapa barangnya terlambat, dia akan memotong kontrak.”
“Jawab dengan jujur, Mas.”
“Jujur bagaimana? Bilang kalau aku kehilangan semua kemudahan yang dulu kupunya?”
“Bilang kamu belum memenuhi syarat pembayaran. Itu benar, dan itu bisa dijelaskan.”
“Dia bisa memutus kontrak.”
“Mungkin.”
“Dan kamu tidak peduli?”
“Aku peduli.” Raras menyentuh dadanya dengan telapak tangan. “Itu yang membuat semua ini sulit, Mas. Kalau aku tidak peduli, aku sudah selesai sejak Selasa.”
“Kapan kita bisa bicara langsung?”
“Belum hari ini.”
“Kapan?”
“Ketika ada sesuatu yang harus kuserahkan kepadamu.” Raras menarik napas. “Bukan saat Mas ingin menawar.”
“Apa yang mau kamu serahkan?”
“Nanti Mas tahu. Tapi Mas harus membacanya sampai selesai, tanpa marah dulu.”
“Kamu bikin aku takut.”
“Tidak apa-apa. Lebih baik Mas takut menghadapi kenyataan daripada merasa yakin padahal belum tahu apa-apa.”
Ponsel di telinganya berbunyi dua kali, menandakan ada panggilan masuk. Raras menurunkannya sedikit dan melihat layar. Satu nama muncul di atas angka yang sudah ia hafal.
Pak Hartono Semarang.
“Mas, ada panggilan lain.”
“Siapa?”
“Pak Hartono.”
“Hartono?” Suara Danang berubah tajam. “Pak Hartono menelepon kamu? Kenapa dia punya nomormu?”
“Tunggu sebentar, Mas.”
“Ras, jangan angkat. Ras!”
Raras menekan tombol hijau di layar. Suara Danang terputus di tengah namanya. Di telinganya kini terdengar suara lelaki sepuh yang tenang, jernih, tetapi tidak sabar.
“Mbak Raras? Pak Hadi bilang jadwal kirim ke Semarang Mbak yang pegang. Saya telepon langsung karena soal Pak Danang tidak bisa menunggu sampai besok.”
“Saya mendengarkan, Pak.” Raras memejamkan mata. Di balik kelopaknya, wajah Danang masih terbayang, tertinggal di ujung sambungan yang baru saja ia putuskan.
“Pak Danang tidak menjawab telepon saya sejak pagi. Kontrak enam bulan kami dievaluasi minggu depan, dan saya perlu tahu apa yang sedang saya hadapi.” Pak Hartono berhenti sebentar. “Saya tidak akan bertanya apa hubungan Mbak dengan Pak Danang. Itu urusan rumah tangga.” Suaranya tetap tenang. “Saya hanya ingin memastikan satu hal. Apakah Mbak yang menahan kiriman saya?”
lanjuut
🙏💪