Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31. Semuanya itu Terlambat
Beberapa hari kemudian …
Sudah sebulan lamanya Kinanti meninggalkan rumah bersama kedua anak kembarnya.
Selama itu pula, rumah yang dahulu selalu dipenuhi suara anak-anak terasa begitu sunyi. Tidak ada lagi suara Naura dan Naufal yang berlarian di ruang keluarga, tidak ada lagi suara Kinanti yang sesekali terdengar menegur mereka ketika bermain terlalu ribut.
Bagi Yudha, rumah itu kini terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Setiap sudutnya seolah menyimpan kenangan tentang Kinanti.
Malam itu, setelah menunaikan shalat Isya, Yudha masih mengenakan baju koko berwarna putih dengan kopiah yang melekat di kepalanya. Ia duduk seorang diri di tepi ranjang kamar, sementara cahaya lampu temaram menerangi ruangan yang begitu hening.
Di tangannya terdapat sebuah foto pernikahan mereka. Foto yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah benar-benar diperhatikan.
Namun, malam itu, Yudha menatapnya begitu lama. Tatapannya berhenti pada wajah Kinanti yang tersenyum di dalam foto tersebut.
Wajah wanita yang selama delapan tahun terakhir selalu ada disisinya. Wanita yang dulu sering diabaikan.
Wanita yang berkali-kali mencoba mendapatkan sedikit perhatian darinya, tetapi justru sering mendapatkan perlakuan kasar.
Yudha menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak.
Tanpa mampu menahannya lagi, setetes air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
“Kinan … kapan kamu kembali?” bisiknya lirih.
Jarinya mengusap permukaan foto tersebut dengan hati-hati.
“Apakah benar-benar aku sudah tidak ada di hatimu lagi?”
Suaranya bergetar.
Untuk pertama kalinya, Yudha benar-benar merasakan ketakutan kehilangan wanita yang selama ini selalu ia anggap akan tetap berada di sisinya.
Ia menundukkan kepala.
“Aku tahu semua ini salahku.”
Yudha mengusap wajahnya yang basah.
“Kalau saja aku tidak memperlakukanmu seperti itu. Kalau saja aku mau menghargaimu sejak awal mungkin kamu nggak akan pergi.”
Pandangan Yudha kembali jatuh pada foto pernikahan mereka.
“Aku terlalu bodoh, Kinan.”
Ia terdiam cukup lama.
Meskipun Kinanti telah mengajukan gugatan cerai, sampai detik ini Yudha masih belum menandatangani surat tersebut.
Bukan karena ia tidak memahami keinginan Kinanti. Melainkan karena ia belum sanggup menerima kenyataan bahwa pernikahan yang selama ini ia jalani dengan begitu buruk mungkin benar-benar akan berakhir.
Yudha memejamkan mata.
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan kamar. Yudha tersentak kecil.
Ia menoleh ke arah ranjang dan melihat ponselnya bergetar di atas kasur.
Layar ponsel menampilkan satu nama.
Omar.
Yudha menghela napas pendek sebelum meraih ponselnya. Ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
“Assalamualaikum, Omar. Ada apa?” tanyanya.
Di seberang sana, Omar langsung terdiam beberapa detik.
Bukan karena tidak tahu harus berbicara apa, tetapi karena ia cukup terkejut mendengar nada suara atasannya.
“Waalaikumsalam, Pak Yudha.”
Omar mengernyitkan dahi.
“Sejak kapan Pak Yudha menyapa orang dengan salam selembut itu?” tanyanya dalam hati penuh keheranan.
Selama ini, Yudha dikenal sebagai atasan yang tegas, dingin, dan terkadang sulit diajak berbicara.
Sementara malam ini, suaranya terdengar jauh lebih tenang.
Yudha yang tidak mendapat jawaban langsung mengerutkan kening.
“Omar?” tanyanya.
“Iya, Pak.” balasnya.
“Kenapa diam?” tanyanya Yudha kebingungan dengan sikap Omar.
“Eh … nggak, Pak. Saya cuma …”
Yudha mendengus pelan.
“Kalau niat kamu menelepon hanya untuk buang-buang waktu saya, lebih baik saya matikan sekarang.”
Omar langsung terkekeh kecil.
“Maaf, Pak Yudha. Bukan begitu.”
“Lalu?”
Omar segera mengubah nada suaranya menjadi serius.
“Besok pagi Bapak harus bertemu dengan Presdir PT K-Tech Industry untuk membicarakan proposal kerjasama dengan perusahaan mereka.”
Mendengar nama perusahaan tersebut, ekspresi Yudha langsung berubah.
“PT K-Tech Industry?” tanyanya.
“Benar, Pak.” jawab Omar singkat.
Yudha menghela napas.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil keputusan.
“Batalkan.”
Omar terdiam.
“Batalkan, Pak?” tanyanya yang ingin memastikan.
“Ya. Kita tidak perlu melakukan kerja sama dengan perusahaan yang tidak saya kenal.”
“Tapi, Pak …” sela Omar.
“Kerja sama dengan PT Global saja. Batalkan semua proposal dari K-Tech Industry.”
Nada suara Yudha terdengar tegas.
Namun, Omar tidak langsung menyerah.
“Pak Yudha, tunggu dulu. Kesempatan ini sangat menguntungkan untuk perusahaan.”
“Aku bilang batalkan!” tegas Yudha.
“Tapi, Pak, dengarkan saya dulu.”
Yudha mengusap keningnya karena kali ini dibuat pusing oleh bawahannya.
“Omar, aku sedang tidak ingin berdebat.”
“Saya tahu, Pak. Tapi ini bukan proyek biasa.” bujuk Omar yang belum menyerah.
Omar menarik napas sebelum melanjutkan.
“Kesempatan kerja sama seperti ini belum tentu datang dua kali. Banyak perusahaan yang sudah mengantri untuk mendapatkan proyek dari mereka. Dari puluhan perusahaan yang mengajukan proposal, justru perusahaan kita yang terpilih.”
Yudha masih diam tak berbicara sedikitpun.
“Dan berdasarkan perhitungan tim keuangan, keuntungan dari proyek ini sangat besar, Pak,” lanjut Omar meyakinkan.
Yudha mengerang kesal.
“Aku bilang tidak, ya tidak!” bentak Yudha.
“Tapi, Pak—” potong Omar.
“Apa kamu tidak mendengar perkataan saya, Omar?”
Suara Yudha semakin meninggi.
Omar yang berada di ujung telepon langsung bergidik.
“Iya, Pak. Saya dengar.” cicitnya Omar.
“Kalau begitu, kenapa masih membantah?”
“Karena saya merasa Bapak perlu mempertimbangkannya lagi.” kilahnya Omar.
“Tidak ada yang perlu dipertimbangkan.” ucap Yudha kembali.
Omar menghela napasnya dengan panjang.
Ia tahu betul bagaimana keras kepalanya sang CEO jika sudah mengambil keputusan.
Namun, tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Omar tersenyum kecil.
“Kalau begitu mungkin Bapak akan berubah pikiran kalau saya mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
Omar sengaja menurunkan volume suaranya.
“Bapak tidak mau bertemu dengan Nyonya Kinanti?”
Yudha yang semula duduk santai langsung terdiam.
Matanya menyipit. “Apa?”
Omar menahan senyum.
“Maksud saya—”
“Maksud kamu apa?”
Nada suara Yudha berubah seketika. “Dan apa hubungannya dengan istriku?”
Omar akhirnya memutuskan untuk menjelaskan.
“Saya pernah melihat Nyonya Kinanti masuk ke perusahaan K-Tech Industry.”
Yudha langsung bangkit dari duduknya.
“Kamu yakin?”
Yudha sudah melupakan padahal dia pernah melihat Kinanti keluar dari perusahaan itu tapi karena terlalu banyak pikiran hingga melupakan kenyataan itu.
“Yakin, Pak.”
“Kapan?”
“Beberapa waktu lalu.”
Omar kemudian menceritakan bahwa saat itu ia kebetulan berada di sekitar gedung K-Tech Industry. Ia melihat Kinanti masuk ke dalam perusahaan tersebut. Karena penasaran, Omar sempat bertanya kepada salah satu karyawan di sana.
“Saya sempat bertanya kepada salah satu karyawan apakah Nyonya Kinanti bekerja di sana.”
Yudha menggenggam ponselnya lebih erat.
“Lalu?”
“Karyawan itu bilang bahwa Nyonya Kinanti memang sering datang ke sana.”
Jantung Yudha berdegup lebih cepat.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya yang semula penuh kesedihan perlahan berubah.
Ada secercah harapan yang muncul di matanya.
“Kenapa kamu baru mengatakan ini sekarang?”
“Saya baru ingat, Pak.”
Yudha mengembuskan napas lega.
Kemudian, tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Kalau begitu …”
Ia menatap kembali foto pernikahannya.
Mungkin besok adalah kesempatan yang selama ini ia tunggu.
Kesempatan untuk melihat Kinanti.
Meskipun hanya dari kejauhan.
“Baiklah, Omar.”
“Jadi, bagaimana dengan pertemuannya, Pak?”
“Kita tetap datang.”
Omar tersenyum lebar. “Berarti kerja samanya—”
“Besok pagi kita ke K-Tech Industry.”
“Jam berapa, Pak?”
“Pukul 07.30.” jawab singkat.
“Baik, Pak.”
“Dan jangan sampai terlambat sedetik pun.”
Omar menahan tawanya. “Siap, Pak.”
Yudha baru saja hendak mengakhiri panggilan ketika Omar bergumam cukup pelan.
“Pas dengar nama istrinya, si suami bucin langsung berubah pikiran.” cicitnya Omar.
Yudha yang memiliki pendengaran cukup tajam langsung mendengarnya.
“Apa kamu bilang?”
Omar membeku. “Eh … nggak, Pak.”
“Kamu tadi ngomong sesuatu.”
“Nggak kok, Pak.”
Yudha menyipitkan matanya.
“Omar.”
“Iya, Pak?”
“Kamu nggak mau bonus akhir tahun?”
Omar langsung terkekeh.
“Nggak, Pak! Saya nggak ngomong apa-apa. Bapak salah dengar.”
Yudha mendengus.
“Bagus.”
“Kalau begitu, saya tutup teleponnya, Pak.”
“Ya.”
Sambungan telepon pun berakhir.
Yudha meletakkan ponselnya di atas ranjang.
Namun, kali ini ia tidak kembali terlihat murung.
Ia justru berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar.
Di luar, malam semakin larut. Lampu-lampu halaman rumah menyala redup, sementara udara malam terasa sejuk menyentuh wajahnya ketika ia membuka sedikit tirai jendela.
Yudha menatap langit yang gelap.
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Besok.
Ia akan melihat Kinanti.
Entah bagaimana reaksi istrinya nanti, Yudha tidak tahu.
Apakah Kinanti akan tersenyum?
Apakah Kinanti akan menghindarinya?
Atau justru bersikap seolah mereka tidak pernah saling mengenal?
Yudha menggeleng pelan.
“Aku cuma ingin melihatmu, Kinan.”
Ia menatap foto pernikahan mereka sekali lagi.
“Besok … aku akan datang.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, malam yang biasanya terasa begitu panjang tidak lagi terasa menyesakkan bagi Yudha.
Kini, di dalam pikirannya hanya ada satu hal yaitu Kinanti Azzahra.
Dan sebuah harapan kecil bahwa pertemuan mereka esok hari mungkin menjadi awal dari sesuatu yang selama ini ia pikir sudah benar-benar hilang.