Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: BAYANG-BAYANG DI ATAS BRANKAS DAN UJIAN TERAKHIR SEBUAH KETULUSAN
Matahari merayap naik menembus tirai sutra emas di perpustakaan pribadi Kediaman Pratama. Bau khas kertas-kertas tua dan jilidan kulit yang elegan membubung lambat di udara yang tenang, berpadu dengan aroma kopi hitam pekat yang baru diseduh oleh Kirana.
Setelah mengantarkan Leo dan Maya ke sekolah dengan tawa riang yang memadati kabin mobil, Kediaman Pratama kembali hening. Namun, keheningan kali ini bukan lagi cengkeraman ketakutan atau keasingan, melainkan keheningan yang menyembunyikan teka-teki terakhir dari sang patriark keluarga—almarhum Kakek Hendra.
Kirana melangkah pelan mendekati meja kerja kayu jati berukir yang dulu menjadi takhta tak terbantahkan bagi Kakek Hendra. Di balik meja besar itu, berdiri sebuah brankas besi bertingkat tiga yang tertanam anggun di dinding kayu. Selama bertahun-tahun, brankas itu dianggap hanya berisi surat kepemilikan aset dan saham operasional Pratama Corp.
Aris berdiri di samping meja, jemarinya memutar tombol kombinasi brankas dengan ketelitian tinggi. Wajahnya yang tegas menegang halus. Di balik kejayaan bisnis yang baru saja stabil dari krisis Sheila dan kepulihan kesehatan Tante Siska di rumah sakit, Aris tahu ada satu hal yang belum sepenuhnya tuntas.
Klek.
Bunyi mekanisme besi yang berat terdengar memecah keheningan. Pintu brankas terbuka pelan.
Di tingkat paling bawah, di samping bundelan saham legendaris Pratama Corp, terbaring sebuah amplop cokelat tebal yang disegel dengan lilin merah berlogo mahkota keluarga. Di atas amplop itu, tertulis tangan dengan tinta hitam tebal yang sangat dikenal Aris:
“Untuk Aris Pratama dan Kirana. Buka hanya ketika kebenaran tentang asal-usul Leo dan Maya telah terungkap, dan ketika cinta di antara kalian telah teruji oleh air mata.”
Aris menatap Kirana dengan tatapan dalam. Kirana mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja lalu menyentuh lengan Aris. Jemari Kirana yang mengenakan cincin emas putih baru dari Aris memancarkan pendar kehangatan yang tenang.
"Buka, Mas," bisik Kirana lembut. "Apapun yang ditinggalkan Kakek... kita sudah berjanji untuk menghadapinya bersama."
Aris merobek segel lilin merah itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah berkas hukum tebal berstempel notaril serta selembar surat pribadi.
Aris membacanya terlebih dahulu. Namun, semakin jauh matanya menyusuri baris-baris kalimat legalitas tersebut, rahang tegasnya kian terkatup rapat. Matanya membelalak lebar, memancarkan kejutan yang dahsyat.
"Mas? Ada apa?" Kirana mengernyit bingung melihat perubahan ekspresi suaminya yang mendadak pucat.
"Ini... ini bukan sekadar surat biasa, Kirana," suara Aris bergetar, mengandung kombinasi antara rasa tidak percaya dan amarah yang tertahan. "Kakek... Kakek tidak pernah benar-benar menyerahkan kendali saham pengendali Pratama Corp kepadaku."
Kirana menahan napas. "Maksudmu?"
Aris menyerahkan surat wasiat tambahan itu kepada Kirana. "Kakek mengikat empat puluh persen saham utama Pratama Corp—saham pengendali yang menentukan siapa Pemegang Saham Mayoritas dan CEO tertinggi—ke dalam sebuah klausa ikatan kepercayaan (Trust Fund). Dan penerima tunggal atas empat puluh persen saham itu... bukanlah aku. Bukan pula Leo atau Maya."
Kirana membaca baris yang ditunjuk Aris dengan tangan gemetar. Tulisannya sangat jelas dan berkekuatan hukum tetap:
“Seluruh hak suara dan kepemilikan atas 40% saham pengendali Pratama Corp dialihkan sepenuhnya kepada Kirana sebagai ibu kandung jiwa sekaligus wali sah dari darah keturunan almarhumah Maya. Jika pernikahan Aris dan Kirana berakhir dengan perceraian, atau jika Aris terbukti memperlakukan Kirana dengan tidak adil, maka hak pengelolaan seluruh anak perusahaan Pratama Corp jatuh secara mutlak ke tangan Kirana, dan Aris kehilangan jabatannya sebagai Direktur Utama.”
Kirana terpaku. Badai emosi kembali memukul dadanya.
Takdir sedang menyindir mereka kembali—kali ini dengan cara yang paling tajam dan dramatis.
Dulu, seluruh keluarga besar Pratama, termasuk Aris dan Sheila, memandang Kirana sebagai wanita muda miskin yang masuk ke rumah tangga ini demi mengincar harta. Kirana dihina sebagai pemburu kemewahan yang memanfaatkan kelayakan anak-anak demi bertahan hidup di istana megah ini. Kirana bergelut dalam tangisan, melawan setiap prasangka dengan ketulusan yang berdarah-darah, menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah ibu tiri yang tidak dianggap.
Namun kini? Kenyataan memutarbalikkan segalanya.
Kakek Hendra telah merancang peta kekuatan ini sejak awal. Kirana bukanlah seorang "pengemis harta" yang bergantung pada belas kasihan Aris. Justru sebaliknya: Aris-lah yang secara hukum bergantung pada Kirana untuk mempertahankan mahkota kekuasaannya di Pratama Corp!
"Kakek..." bisik Kirana dengan bibir bergetar, air mata menetes menimpa kertas tebal itu. "Kenapa Kakek melakukan ini? Ini... ini terlalu berat, Mas."
Aris terduduk di kursi kerjanya, menyandarkan siku di meja dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya tegapnya tampak terkulai oleh beban ironi yang sangat menyengat.
Pria yang selama ini berdiri anggun sebagai penguasa rumah dan bisnis, pria yang dulu memandang Kirana dengan dingin dari atas tahtanya... ternyata selama tiga tahun ini hidup di bawah kekuasaan mutlak wanita yang pernah direndahkannya.
"Kakek sangat mengenal karakterku, Kirana," suara Aris terdengar berat dan pecah dari balik jarinya. "Kakek tahu aku adalah pria yang dibesarkan dalam keangkuhan dunia bisnis. Kakek tahu aku berniat memanfaatkankanmu hanya sebagai pengasuh anak-anakku. Maka Kakek mengunciku... Beliau memberikan leherku ke dalam genggaman tanganmu. Jika kamu membenciku, jika kamu ingin membalas dendam atas setiap air mata yang kamu tetaskan selama tiga tahun ini... kamu bisa melengserkanku hari ini juga. Kamu bisa mengambil seluruh Pratama Corp dan meninggalkanku tanpa membawa apa-apa."
Keheningan di perpustakaan itu terasa begitu pekat dan menindas. Ini adalah momen krusial yang menguji batas kedewasaan dan ketulusan sebuah ikatan pernikahan.
Bagi seorang wanita biasa yang pernah diinjak-injak harga dirinya, dokumen ini adalah senjata pamungkas untuk melakukan pembalasan dendam yang sempurna. Kirana bisa saja berdiri tegak, melempar berkas itu ke dada Aris, dan menuntut ganti rugi atas semua penderitaan masa lalu yang menguras jiwanya.
Namun, Kirana bukanlah wanita dangkal yang dipimpin oleh dendam.
Kirana melangkah mendekati Aris. Ia berlutut di samping kursi kerja suaminya—sama seperti posisi Aris yang berlutut di depan meja riasnya semalam. Kirana menarik kedua tangan Aris dari wajahnya, memaksa pria itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang jernih dan penuh kasih.
"Mas Aris... lihat aku," pinta Kirana lembut namun sarat akan ketegasan seorang wanita dewasa.
Aris menatap istrinya dengan pendar keputusasaan dan rasa bersalah yang menganga. "Kirana... kamu punya segala alasan di dunia ini untuk membenciku. Aku yang membiarkanmu menangis. Aku yang..."
"Cukup, Mas," potong Kirana, jarinya menempel lembut di bibir Aris.
Kirana mengambil dokumen wasiat bernilai triliunan rupiah itu dari meja. Matanya menyapu lembaran kertas yang sanggup mengubah peta kekuatan bisnis Indonesia tersebut. Lalu, dengan gerakan yang tenang, anggun, dan tanpa keraguan sedikit pun...
SRAKKK!
Kirana merobek lembaran berkas wasiat itu menjadi dua bagian.
Aris membelalakkan mata, terperanjat hebat. "Kirana! Apa yang kamu lakukan?!"
SRAKKK! SRAKKK!
Kirana terus merobek kertas tebal itu hingga menjadi potongan-potongan kecil yang tak lagi berguna, lalu membiarkannya gugur seperti salju ke atas karpet perpustakaan.
"Kirana! Itu hakmu! Itu perlindungan hukummu dari Kakek!" seru Aris panik, mencoba mengumpulkan robekan kertas di lantai.
"Aku tidak membutuhkan kertas itu untuk dilindungi, Mas!" suara Kirana membumbung tinggi, memancarkan wibawa murni yang menghentikan gerakan Aris seketika.
Kirana berdiri tegak, menatap Aris dengan pendar kehormatan yang tak sanggup dibeli oleh saham sebesar apa pun.
"Dengar aku baik-baik, Aris Pratama," tutur Kirana dengan nada teratur yang menggetarkan jiwa. "Aku menikahimu bukan karena harta Kakek Hendra, bukan pula karena ancaman Sheila. Aku bertahan di rumah ini saat semua orang membenciku bukan karena aku mengejar bagian dari Pratama Corp. Aku bertahan karena aku mencintai Leo dan Maya dengan seluruh jiwaku, dan karena di balik dinginnya tatapan matamu dulu... aku melihat seorang pria kesepian yang terluka dan membutuhkan cinta yang tulus."
Airmata Kirana menetes, namun wajahnya memancarkan ketegaran yang luar biasa.
"Jika aku menyimpan dokumen itu dan menggunakannya untuk mengontrolmu, maka pernikahan kita tidak ada bedanya dengan transaksi bisnis yang kotor!" lanjut Kirana, suaranya bergetar oleh kedalaman emosi. "Aku tidak ingin menjadi atasanmu dalam bisnis. Aku ingin menjadi istrimu! Aku ingin kita berdiri sejajar—bukan karena kamu takut dimiskinkan oleh surat wasiat Kakek, melainkan karena kamu mencintaiku sebagai Kirana, wanita yang kamu pilih dengan kesadaran penuh!"
Aris membeku. Seluruh pertahanan mentalnya runtuh total. Pria tegap yang tidak pernah meneteskan air mata di depan relasi bisnisnya itu kini terisak pelan. Keagungan jiwa Kirana tidak hanya meruntuhkan sisa-sisa keangkuhannya, tetapi juga menyucikan seluruh prasangka buruk yang pernah ada di dunia ini.
Aris bangkit dari kursinya, menarik Kirana ke dalam pelukannya dengan tenaga yang membuncah. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana, membiarkan air matanya membasahi kulit istrinya.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Kirana..." bisik Aris terengah-engah, dadanya naik turun oleh gejolak rasa cinta dan hormat yang tak bertepi. "Kamu adalah wanita paling mulia yang pernah hadir dalam hidupku. Aku tidak pantas mendapatkannya... tapi aku bersumpah demi nyawaku, aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk membahagiakanmu dan anak-anak."
Kirana membalas pelukan Aris, mengusap punggung suaminya dengan kehangatan yang menenangkan badai. Di atas penderitaan air mata pernikahan yang pernah menguras jiwanya, kini telah tumbuh sebuah benteng cinta yang tak tergoyahkan oleh harta maupun kekuasaan.
Namun, di tengah momen keharuan yang menyatukan jiwa pasangan suami istri itu, suara dering telepon genggam Aris yang membentak keras di atas meja merusak keheningan.
Aris mengusap wajahnya, melepaskan pelukan dengan enggan, lalu mengangkat telepon itu. "Halo?"
Di ujung saluran, suara Sekretaris Utama Pratama Corp terdengar panik dan berantakan.
"Pak Aris! Masalah besar di kantor pusat!" cecar Sekretaris itu dengan napas memburu. "Para pemegang saham luar negeri dan konsorsium gabungan baru saja menggelar rapat darurat tanpa persetujuan Anda! Mereka dipimpin oleh Hendrawan Kusuma—paman dari Sheila Kusuma!"
Aris menegang, matanya mendadak menyipit tajam. "Hendrawan? Atas dasar apa dia berani mengumpulkan pemegang saham?"
"Hendrawan mengklaim bahwa penahanan Sheila telah merusak reputasi perusahaan dan menurunkan nilai saham hingga lima belas persen pagi ini!" lapor Sekretaris itu histeris. "Dia memanfaatkan celah hukum dan menuduh Anda melakukan penyalahgunaan wewenang serta menyembunyikan status adopsi ilegal anak-anak Anda! Mereka menuntut Mosi Tidak Percaya dan menuntut pengunduran diri Anda sebagai CEO dalam RUPSLB luar biasa yang akan diadakan dua jam lagi!"
Aris mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka mencoba melakukan hostile takeover (pengambilalihan paksa) saat perusahaan dalam kondisi rentan."
"Dan bukan cuma itu, Pak..." suara Sekretaris memelan, penuh ketakutan. "Hendrawan membawa dokumen kebocoran rekam medis almarhumah ibu biologis Leo dan Maya ke media massa. Dia berniat menyebarkan skandal bahwa anak-anak Anda adalah hasil hubungan gelap keluarga Pratama untuk meruntuhkan mental Anda di depan publik!"
DEGG!
Kirana yang berdiri di dekat Aris dapat mendengar setiap kata dari pengeras suara telepon. Wajahnya mendadak mengeras.
Menyerang Aris di dunia bisnis adalah satu hal. Namun mencoba menyeret Leo dan Maya—dua jiwa polos yang baru saja menemukan kedamaian dan kehangatan ibu kandung jiwanya—ke dalam lumpur skandal media demi kekuasaan?
Itu telah melewati batas toleransi seorang ibu!
Kirana melangkah mendekati Aris. Ketakutan yang dulu pernah menguasai dirinya saat menjadi wanita muda yang terasing kini telah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa adalah seorang Nyonya Pratama sejati—seorang wanita dewasa, ibu, dan perisai bagi keluarganya.
"Mas," panggil Kirana, suaranya sangat tenang namun mengandung aura ketegasan yang dingin dan mematikan.
Aris menoleh, menatap istrinya.
"Siapkan mobil," ujar Kirana dengan mata berbinar tajam. "Kita pergi ke kantor pusat sekarang."
Aris menatap Kirana tertegun. "Kirana, ini pertempuran bisnis yang kotor. Hendrawan adalah ular tua yang tidak segan-segan menghancurkan karakter seseorang di depan kamera."
Kirana mengulas senyum kecil—sebuah senyuman penuh percaya diri yang memancarkan keagungan seorang ratu yang siap melangkah ke medan perang.
"Dulu, aku berjuang sendirian melawan dinginnya rumah ini dan prasangka keluargamu, Mas," tutur Kirana sambil memperbaiki kerah kemeja Aris dengan jemarinya yang mantap. "Hari ini, aku akan berdiri di sampingmu di hadapan para pemegang saham itu. Jika mereka ingin menyentuh suamiku dan mengusik kedamaian anak-anakku... mereka harus melangkah melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Aris menatap istrinya dengan rasa takjub yang tak terukur. Pria itu mengangguk mantap. Keangkuhan dan kesendirian Aris di masa lalu telah tergantikan oleh kekuatan sinergi dua jiwa yang saling percaya.
Satu jam kemudian.
Gedung pencakar langit Pratama Tower di kawasan Sudirman, Jakarta, dikerumuni oleh belasan awak media dan wartawan berita finansial. Pintu masuk ruang rapat utama di lantai paling atas dijaga ketat oleh petugas keamanan swasta yang disewa oleh Hendrawan Kusuma.
Di dalam ruang rapat megah berpanel kaca tebal yang menampilkan pemandangan cakrawala Jakarta, belasan investor berkemeja mahal dan pemegang saham mayoritas duduk dengan wajah tegang. Di ujung meja lonjong, Hendrawan Kusuma—pria paruh baya berwajah licik dengan setelan jas abu-abu mahal—tersenyum puas sambil memegang bundelan dokumen fitnah yang siap disebarkan ke media.
"Aris Pratama sudah selesai!" seru Hendrawan dengan suara lantang yang mengintimidasi ruangan. "Dia tidak lagi memiliki legitimasi moral untuk memimpin konglomerasi ini! Pernikahannya skandal, asal-usul anak-anaknya cacat hukum, dan keluarganya adalah sumber ketidakstabilan saham kita! Kita harus memilih kepemimpinan baru hari ini!"
Beberapa pemegang saham asing berbisik-bisik, terpengaruh oleh provokasi dan penurunan nilai saham pagi ini.
BAMMM!
Pintu ganda ruang rapat besar itu didorong terbuka secara paksa dari luar. Dua petugas keamanan Hendrawan terdorong ke samping.
Seluruh hadirin di ruang rapat terperanjat dan menoleh secara bersamaan.
Di ambang pintu, berdiri Aris Pratama dengan jas hitamnya yang sempurna, memancarkan aura dominasi seorang penguasa sejati. Namun, yang membuat seluruh ruangan tertahan napasnya bukanlah kehadiran Aris...
Melainkan sosok wanita anggun yang melangkah di sampingnya, menggandeng lengan Aris dengan kepala tegak dan tatapan mata yang tajam bagaikan pedang. Kirana mengenakan gaun formal berwarna biru gelap yang bersahaja namun memancarkan kelas tinggi, rambutnya tergulung rapi memperlihatkan leher jenjangnya yang tegas.
Aura keanggunan, keberanian, dan ketenangan yang dipancarkan Kirana seketika menguasai atmosfer ruangan yang semula kacau.
Hendrawan tertawa mengejek, walau ada sedikit getaran ragu di matanya melihat ketenangan pasangan suami istri itu. "Aris! Kamu akhirnya berani muncul? Dan kamu... membawa 'istri pengganti'-mu ke dalam rapat direksi tertinggi? Ini bukan tempat untuk wanita kampung pemimpi kemewahan!"
Aris hendak melangkah maju dengan amarah yang membakar, namun Kirana menyentuh lembut lengan suaminya, memberinya isyarat bahwa kali ini, dialah yang akan mengambil alih panggung.
Kirana melangkah maju dua langkah, berdiri tepat di tengah-tengah meja rapat, menatap Hendrawan dan seluruh pemegang saham dengan tatapan tenang yang mengintimidasi.
"Tuan Hendrawan Kusuma," suara Kirana mengalun bening, jernih, dan memenuhi setiap sudut ruangan tanpa perlu berteriak. "Anda berbicara tentang moralitas, legitimasi, dan ketidakstabilan saham... sementara Anda sendiri berdiri di sini menggunakan dokumen fitnah dan rekayasa media untuk merebut kekuasaan yang bukan hak Anda."
Hendrawan mendengus kasar. "Jangan berakting bijak di sini, Kirana! Kamu hanyalah wanita miskin yang dimanfaatkan Kakek Hendra! Kamu tidak punya hak suara satu persen pun di ruangan ini!"
Kirana mengulas senyum tipis—sebuah senyuman elegan yang justru membuat Hendrawan merasa terkerdilkan.
Kirana merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah dokumen legal bersampul emas resmi dengan stempel Mahkamah Agung dan Notaris Negara yang baru saja disahkannya dalam perjalanan menuju kantor.
"Saya memang tidak memiliki saham atas nama pribadi saya, Tuan Hendrawan," ujar Kirana dengan nada bicara yang teratur dan mematikan. "Namun atas nama hukum negara, sebagai wali sah dari darah keturunan almarhumah kakak kandung saya—ibu biologis sah dari Leo dan Maya Pratama—serta berdasarkan surat penetapan warisan mutlak Kakek Hendra yang telah diverifikasi oleh Notaris Utama Keluarga Pratama..."
Kirana melempar dokumen bersampul emas itu tepat ke tengah meja, meluncur mulus dan berhenti tepat di depan dada Hendrawan.
"Saya adalah pemegang hak kuasa penuh atas empat puluh persen saham pengendali Pratama Corp!" tegas Kirana, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dan sebagai pemegang saham mayoritas di ruangan ini, saya menyatakan bahwa rapat ilegal yang Anda adakan hari ini... BATAL DEMI HUKUM!"
GUBRAKKK!
Seluruh isi ruangan gempar. Para pemegang saham asing langsung berdiri dari kursi mereka, membelalakkan mata menatap dokumen emas di meja. Hendrawan menyambar kertas itu dengan tangan gemetar hebat, wajahnya yang semula percaya diri kini memucat pasi bagaikan mayat.
Aris menatap istrinya yang berdiri bagaikan dewi pelindung di sampingnya. Dada Aris membuncah oleh rasa bangga, cinta, dan kekaguman yang tak terbatas. Kirana tidak pernah merobek kekuatan hukumnya untuk memusnahkannya—ia merobeknya di perpustakaan hanya untuk menyerahkannya kembali sebagai ikatan cinta yang sejati, dan kini menggunakannya untuk menghancurkan musuh-musuh keluarga mereka!
"T-Tidak mungkin..." gagap Hendrawan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Ini... ini rekayasa!"
"Buktikan di pengadilan jika Anda merasa ini rekayasa, Tuan Hendrawan," potong Kirana dingin. "Tapi sebelum Anda sempat melangkah keluar dari ruangan ini, tim hukum kami telah mendaftarkan gugatan pencemaran nama baik, peretasan rekam medis ilegal, dan percobaan manipulasi bursa saham terhadap Anda dan seluruh kroni Anda!"
Kirana berpaling menatap seluruh pemegang saham luar negeri yang kini menatapnya dengan rasa hormat dan kepatuhan yang mendalam.
"Bapak-bapak yang terhormat," ujar Kirana anggun. "Pratama Corp tidak dibangun di atas skandal atau kebohongan. Perusahaan ini dibangun di atas pondasi ketulusan dan kerja keras. Selama Aris Pratama berdiri sebagai CEO dengan didampingi oleh saya di sisinya... tidak ada satu pun kekuatan jahat yang akan sanggup meruntuhkan kekayaan dan kehormatan perusahaan ini!"
Tepuk tangan perlahan terdengar dari sudut ruangan, dimulai dari salah satu investor asing paling berpengaruh, lalu diikuti oleh seluruh anggota direksi lainnya. Hendrawan terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa panggung kejahatannya telah hancur berkeping-keping.
Aris melangkah mendekati Kirana. Di depan seluruh direksi dan kamera wartawan yang menyaksikan dari balik kaca, Aris menggenggam erat tangan Kirana, menyatukan jemari mereka yang mengenakan cincin pernikahan.
Takdir mungkin pernah mempermainkan Kirana dengan linangan air mata, penderitaan sebagai ibu tiri, dan pertempuran tak bertepi. Namun hari ini, di puncak kejayaan dan cinta yang sejati, Kirana telah membuktikan bahwa wanita yang dipimpin oleh ketulusan tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh badai apa pun.
(Apakah Hendrawan akan menerima kekalahannya begitu saja, ataukah ia akan melancarkan serangan terakhir yang nekat yang melibatkan keselamatan Leo dan Maya di sekolah? Jangan lewatkan puncak drama yang makin menegangkan di BAB 26!)
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘