NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sera berganti pakaian memakai celana panjang yang dipadukan dengan sepatu kets putih,lalu mengenakan kaos lengan panjang. Tak lupa ia mengambil jaket serta topi, lalu menutupi sebagian kepalanya.

Gadis itu terlihat bersiap untuk keluar. Benar saja, setelah mengambil ponsel dan tas gantungnya, ia melangkah meninggalkan mansion. Ia bahkan melompati pagar belakang dan segera bergegas pergi.

Sera segera menghubungi kakaknya, dan mereka berjanji untuk bertemu di sebuah rumah makan. Tak lama kemudian, Sera pun tiba di tempat itu.

"Kak!" panggil Sera.

Sarah yang melihat kedatangan adiknya langsung bersorak girang. Ia segera berdiri, menyambut dan memeluk erat adiknya seolah tak ingin melepaskannya.

"Dek... Kakak kangen sekali sama kamu. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu..."

Sera mengusap lembut pipi kakaknya. Ia melihat Sarah sudah jauh lebih baik, hanya tersisa sedikit bekas memar di sana.

"Aku senang sekali melihat Kakak sudah pulih seperti ini."

"Semua berkat usahamu, Dek," ucap Sarah sambil menggenggam tangan adiknya, matanya berkaca-kaca.

Sarah benar-benar sudah hampir sembuh total, bahkan kondisi mentalnya pun perlahan kembali membaik setelah menjalani penyembuhan selama beberapa minggu.

Sarah kembali terlihat memeriksa tubuh sang adik, memutar-mutar dan mencoba membuka sedikit ujung celana serta kaos Sera untuk memeriksa apakah ada bagian yang terluka atau lecet.

Sera tersenyum melihat tingkah kakaknya yang begitu menyayanginya, lalu menahan tangan Sarah.

"Sudah, Kak... Aku baik-baik saja. Tidak ada yang lecet sedikit pun," ucap Sera sambil memegang lembut dagu kakaknya, lalu mencubit pipinya dengan penuh rasa sayang.

"Alhamdulillah, Dek. Setiap malam Kakak susah tidur karena terus memikirkan kamu, Dek."

"Sudah, Kak... Gak usah dipikirin lagi. Tenang saja, aku di rumah itu baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitiku. Kalau mereka menyakitiku sekali saja, aku pasti akan membalasnya dua kali lipat," ucap Sera tegas, membuat Sarah tersenyum lega.

"Ayo duduk, Dek."

Mereka pun duduk berdampingan. Di meja sudah tersaji minuman kesukaan Sera yang sudah dipesan lebih dulu oleh Sarah.

"Kamu memang hebat ya, Dek. Sejak kecil tinggal di desa dan sudah menguasai ilmu bela diri, jadi mudah bagimu melindungi diri sendiri. Berbeda sekali dengan aku... Hidup di kota, dan ternyata aku juga terlalu lemah.

Kita memang berbeda jauh. Kamu itu tegar persis seperti laki-laki," ujar Sarah sembari mengenang masa kecil mereka yang memiliki karakter bertolak belakang.

Dulu saat masih kecil, Sera tinggal bersama Nenek Susi di desa sampai usianya menginjak 12 tahun, baru kemudian ikut ke kota.

Sedangkan Sarah sering tinggal bersama kedua orang tuanya di kota. Meski begitu, hubungan kakak-beradik mereka tetap sangat dekat, sering berhubungan lewat panggilan video, tak terhalang jarak sekalipun.

"Nanti aku ajari Kakak bela diri. Biar bisa bikin si brengsek itu bonyok!" ucap Sera.

Mendengar itu, Sarah malah terkikik geli.

Sera terdiam melihat senyum kakaknya. Padahal dia baru saja berbicara buruk tentang suami kakaknya itu. Yang mengherankan kakaknya justru tertawa.

"Kakak... Kakak tidak marah aku bicara seperti itu?" tanya Sera ragu.

Sarah menggeleng pelan. "Untuk apa Kakak marah?"

Sera menggenggam tangan kakaknya yang ada di atas meja. "Apa Kakak sudah bisa melupakan si brengsek itu?" tanyanya tak percaya melihat ketenangan sang kakak.

Sarah perlahan mengangguk. "Iya, Dek. Kakak sudah bisa melupakannya. Kamu benar, dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kalau dia mencintaiku, dia takkan pernah menyakitiku. Dan kalau dia benar-benar mencintaiku, dia juga takkan memanfaatkan Kakak."

Tanpa sadar, mata Sera berkaca-kaca terharu. Ia tak menyangka hanya dalam hitungan minggu saja, kakaknya sudah mampu bangkit dan melupakan sosok yang selama ini menyiksanya.

"Sudah, jangan nangis. Pokoknya sekarang kamu tenang saja, Dek. Kakak akan ikuti apa pun yang kamu katakan. Kalau nanti Kakak masih diberi jodoh, Kakak ingin jodoh itu yang kamu pilih. Kakak tahu, apa pun yang kamu lakukan, itu pasti yang terbaik buat Kakak."

Sera mengangguk sambil tersenyum haru.

Tiba-tiba raut wajah Sarah berubah sedih.

"Kakak kenapa?" tanya Sera cemas.

"Maafkan Kakak, Dek... Seharusnya Kakak yang menjagamu, tapi kenapa malah sebaliknya? Sejak kecil, di sekolah, kamulah yang selalu mengajari Kakak.

Jadi pahlawan Kakak kalau ada yang berani mengganggu atau membully Kakak. Sampai kita tumbuh remaja, sampai ayah dan ibu tiada... Kamu yang selalu menguatkan Kakak.

Sampai akhirnya Kakak menikah dengan Adrian, Kakak terlepas dari genggamanmu. Dan sekarang..." Sarah menunduk, air matanya mulai menetes. "Sekarang Kakak kembali menyusahkanmu lagi, Dek. Maafkan Kakak ya... Kakak selalu merepotkanmu."

"Sstt... Kakak bicara apa sih? Kita berdua ini sama-sama yatim piatu. Sera tahu Kakak memang berbeda dari gadis lain, Kakak lemah. Makanya Sera yang harus menjadi kuat untuk Kakak.

Kakak jangan menangis lagi. Pokoknya Sera akan lakukan apa saja supaya Kakak bahagia mulai sekarang. Tidak akan ada lagi air mata, dan Sera tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkan Kakak lagi."

Mereka berdua seketika saling menatap, lalu tawa kecil pun terlepas bersamaan. Mereka pun mengangkat gelas dan meminum jus yang ada di hadapan mereka sembari mengusap air mata.

"Oh ya Dek, tadi Nenek menelepon, katanya kapan kita pulang ke desa menjenguk Nenek," ujar Sarah.

Sera mengangguk pelan. "Seharusnya Kakak yang pulang duluan, sudah lima tahun Kakak tidak pernah pulang ke desa semenjak menikah dengan si brengsek itu. Kalau aku... Aku sempat pulang sekitar lima bulan yang lalu untuk menjenguk Nenek."

"Benar juga, Dek... Kakak sudah sangat lama sekali tidak pernah pulang," gumam Sarah pelan.

"Ya sudah, kira-kira kapan Kakak mau pulang? Nanti aku minta orang untuk mengantar Kakak,"

"Enggak usah repot-repot, Dek. Kakak bisa pulang sendiri kok."

"Tidak boleh! Kakak tidak boleh pulang sendirian, harus ada orang yang menemani dan menjaga Kakak."

"Emang uangmu banyak sekali sampai mau menyewa orang khusus untuk menjaga Kakak?" canda Sarah sambil tersenyum geli.

"Kau terlalu meremehkan adikmu ini, Kak," ucap Sera membuat Sarah kembali tertawa.

Sera sedikit mendekatkan wajahnya ke arah kakaknya, membuat Sarah menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Nanti aku pasti akan dapatkan uang jauh lebih banyak lagi buat Kakak."

Sarah menatap curiga. "Emang mau ambil dari mana, Dek?"

"Dari Tuan Sean," jawab Sera enteng.

Mata Sarah seketika melebar. "Dek, jangan bercanda! Kamu selingkuh?" Ucap Sarah.

"Buahahaha.." Tawa Sera pecah mendengar pertanyaan konyol kakaknya.

Sarah mengerutkan alisnya melihat adiknya yang tertawa.

"Emang ada yang lucu, Dek?"

"Lucu lah, Kak. Kakak nanya aku selingkuh... Padahal aku kan belum menikah, masa sudah bisa dibilang selingkuh?"

Sarah langsung menepuk jidatnya sendiri. "Astaghfirullah... Iya juga ya, kan kau belum menikah."

Sera menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakaknya yang kadang begitu konyol.

 

"Lantas, mau ambil uang darimana Dek? Jangan bilang kalau kamu naik ke ranjang Paman Sean," Sarah mulai tampak cemas.

"Tentu saja tidak Kakakku sayang... Aku punya caraku sendiri untuk mengambil kembali semua hak dan harta kita dari tangan pria brengsek itu," ucap Sera menjelaskan.

Sarah mengangkat sebelah alisnya. "Kau punya rencana apa?"

"Tentu saja pakai tangan Tuan Sean yang berkuasa itu," ucap Sera sambil mengedipkan satu matanya.

Sarah tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala. Adiknya memang selalu punya tingkah yang bikin jantungan.

"Pasti sekarang kau sedang mengacak-acak rumah itu sampai berantakan, iya kan?"

Sera hanya menyengir.

Menarik nafas sejenak. "Tapi ingat pesanku, Dek..."

"Apa, Kak?"

"Hati-hati, Sera Slavina. Jangan sampai kau terlalu jauh bermain dengan api, takut kau yang terbakar duluan," ucap Sarah serius.

Sera mengerutkan dahi. "Kenapa Kakak bilang begitu?"

"Sepertinya kau mulai terlalu dekat dengan Paman Sean. Jangan sampai kau jatuh hati padanya," pesan Sarah tegas.

Sera terdiam sejenak, lalu mencoba tertawa kecil. "Jangan ngaco, Kak,"

"Tidak ngaco! Dia itu sangat tampan, Dek. Jujur, aku saja yang melihatnya sampai terkadang klepek-klepek. Jangan sampai kau terjebak dalam jebakanmu sendiri. Ingat, kau sudah dijodohkan dengan orang lain. Kau sudah punya calon suami yang sudah diatur sejak dulu, kau ingat kan?"

Sera kembali terdiam mencerna ucapan kakaknya. Dia sampai terlupa, kalau dari dulu dia sudah dijodohkan dengan seorang laki-laki yang entah seperti apa sosoknya.

Bahkan sebelum kedua orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat, mereka sempat kembali membahas tentang perjodohan itu, dan tak lupa memperingatinya untuk tidak bisa dengan dengan laki-laki lain karena dia harus menikah dengan laki-laki pilihan nenek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!