Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN LIMA BELAS
Langit sebagai posisi center, bertugas pada saat jumpball pertama kali, Langit dan seorang pemain dari tim SMAN 1 Lembang berdiri di garis tengah lapangan dipisahkan oleh wasit yang memegang bola. Begitu pluit dibunyikan, wasit melemparkan bola ke udara, Langit dan pemain SMAN 1 Lembang melumpat secara bersamaan untuk meraih bola tersebut, yang akhirnya diperoleh Langit, lalu mengoper ke belakang.
Pertandingan antara SMAN 1 Lembang dengan SMA Merah putih berlangsung dengan sengit, mereka saling susul menyusul perolehan angka dari babak pertama dimulai. Beberapa kali mereka saling melakukan trik-trik khas bermain basket, mulai dari three point shoot hingga pemain melakukan slam dunk. Gemuruh tepuk tangan dari para penonton kian marak terdengar setiap kali tim mencetak nilai di papan nilai. Hingga babak terakhir akan selesei, nilai kedua tim terus saling balap, hingga akhirnya pluit dibunyikan nilai akhir nya adalah 98 dengan 101 dimenangkan oleh SMA Merah Putih. Langit beserta timnya tidak lupa bersujud syukur setelah mengetahui timnya menang.
Langit dan timnya berjalan keluar lapangan menuju ke tenda sekolahnya, Langit menyempatkan diri melihat ke arah Rindu yang sedang cemas karena sebentar lagi akan tampil bersana teman cheersleadernya. Langit dan Rindu yang memang sering tidak akur , selalu bertengkar setiap bertemu. Langit yang biasanya membenci akan prilaku Rindu saat itu juga memberikan semangat kepada Rindu, Rindu juga tidak sungkan membalas dengan senyuman. Entah karena Rindu yang masih berbunga-bunga dengan pemuja rahasianya, atau mereka sekedar tidak ingin merusak nama baik sekolah nya dengan pertengkaran didepan umum. "Semangat ya, pasti bisa lebih baik dari tim cheer yang lain, jangan lupa berdoa ya" Langit menyemangati Rindu dengan tim cheersleadernya.
Rindu hanya terlihat menganggukkan kepalanya ditemani dengan senyuman kecil dari bibirnya yang merah merona. Allisya yang berada dibelakang tim cheerleader senang mendengar Langit berucap begitu kepada Rindu dan dibalas Rindu dengan senyuman. Rindu dan tim cheerleadernya berjalan ketengah lapangan sesaat setelah panitia memanggil tim cheerleader SMA Merah Putih dengan pengeras suara.
Rindu yang berdiri di posisi tengah dan dia berinisiatif memberikan komando untuk berdoa, seruruh tim cheerspun berdoa sesuai komando Rindu. Setelah berdoa mereka sudah siap menunjukkan aksi mereka, tapi entah mengapa musik pengiringnya belum terdengar hingga beberapa menit.
Langit yang berada di sisi lapangan mengetahui sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini, dia berinisiatif dari tempat duduknya Langit memberikan sebuat tepukkan tangan berirama dengan maksud mendukung tim cheerleader yang menunggu musik menyala, para siswa lain yang mendengar tepukan tangan Langit mengikuti sesuai irama tepukan tangannya.
Rindu dan temannya yang sempat menundukkan kepalanya, mulai mendonnggakkan kepalanya kembali setelah mendengar tepukan tangan dengan irama tersebut. Entah memang pemutar musiknya yang rusak atau memang harus diberi semangat seperti ini dahulu, tiba-tiba saja musik pengiring pun menyala, seketika Rindu dan tim cheerleader memulai penampilannya.
Rindu sebagai posisi Flyer menjadi poros utama tiap gerakan-gerakan yang dipertunjukkan. Semua mata siswa dan guru yang ada disisi lapangan berdecak kagum setiap Rindu melakukan beberapa gerakan, seperti saat dia dilempar ke udara dan ditangkap kembali, saat Rindu berdiri dengan satu kaki diatas pergelangan tangan temannya dengan posisi tubuh Rindu mengibaratkan pesawat terbang dengan kedua tangan yang terbentang dan satu kaki yang lurus ke belakang. Bahkan ketika semua tim membentuk piramida dengan Rindu sebagai puncaknya dan Rindu meraih kakinya dengan tangan berlawanan, dan tangan satunya terentang bebas didepan kakinya selayak anak panah dan busurnya.
Musikpun berhenti dan tanpa disangka-sangka Rindu yang sedang dalam posisi layaknya anak panah dengan busur nya menjatuhkan diri dan langsung ditangkap oleh temannya, ternyata itu memang salam penutup dari tim cheerleader SMA Merah putih. Teman-teman SMA Merah Putih termasuk Langit,yang mula ya terkejut melihat Rindu terjatuh mengira dia kenapa-kenapa, langsung berubah menjadi suka cita diiringi tepuk tangan yang meriah didukung suara sorakan-sorakan.
Rindu dan timnya pergi meninggalkan lapangan menuju kembali ke tenda sekolahnya. Langit yang sedari tadi duduk menyemangati tim cheerleader SMA Merah Putih, beranjak bangkit dari tempat duduknya sesaat Rindu tiba di tenda sekolahnya. Tak lupa Langit menyalami Rindu dan mengucapan selamat dan dukungannya. "Selamat ya, sumpah bagus banget atraksi terakhir lu" Langit memuji penampilan Rindu sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Rindu
Rindu terkejut atas yang diucapkan Langit, entah apa yang terjadi Langit yang biasanya berucap hanya ledekan, ejekkan, hinaan kepasa dirinya, namun saat ini keluar kata-kata manis. Apakah ini sisi Langit yang sebenarnya? Atau ini hanya sebuah pencitraan demi menjaga nama baik sekolahnya? Rindu tak ambil pusing itu semua, yang terpenting saat ini tanpa kata-kata negatif dari Langit, pikiran Rindu bisa fokus dengan pertandingan. "Makasih ya, lu juga semangat main basketnya, kerahin semua kemampuan lu, bawa piala ini kesekolah kita, kita buktiin kita jauh-jauh ke sini nggak sia-sia, semangat" jawab Rindu sambil menerima uluran tangan Langit untuk berjabat tangan.
Ada yang aneh dalam diri Rindu, sesaat jantungnya berdetak dengan cepat, nafaspun terasa tak beraturan saat berjabat tangan dengan Langit yang belum pernah sama sekali terjadi selama ini. Tapi semua itu berlalu begitu saja sesaat Langit dan Rindu saling melepaskan tangan mereka . Rindu merasa seperti tercambuk dengan kerasnya, dirinya yang selama ini selalu bersiteru dengan Langit, jangan kan saling memuji menyemangati, sekedar berucap baik saja tidak pernah. Rindu akhirnya kembali duduk dikursinya berada di barisan depan , sementara Langit dengan tim basketnya duduk di barisan tengah , dibelakang anak-anak cheerleader.
Pertandingan di lapangan diteruskan, kali ini mempertemukan antara SMAN 1 Lembang dengan SMK Pemuda. Pertandingan berlangsung dengan kerasnya beberapa kali terjadi pelanggaran-pelannggaran di tengah lapangan. Langit yang berada di sisi lapangan terus mengamati cara bermain SMK Pemuda dengan sangat teliti, dikarenakan setelah ini dia dan tim basketnya yang akan bertanding dengan SMK Pemuda. Sesekali Rindu menoleh ke arah Langit yang fokus mengamati pertandingan duduk dan beberapa baris dibelakangnya. "Tuh anak kalau lagi serius lucu juga ya mukanya, mudah-mudahan aja selama ini gue yang salah, gue yang salah ngira kalau dia tuh emang anak yang rese nyebelin sombong angkuh, semoga aja dia bukan cuma buat jaga nama baik sekolah " ucap Rindu dalam hatinya saat menoleh ke arah Langit.
Wasit meniupkan meluitnya, menandakan pertandingan tersebut telah usai dengan hasil dimenangkan oleh tim basket dari SMK Pemuda. Dari sisi lapangan terlihat selurus siswa SMAN Lembang selaku tuan ruamah menangis karena sudah dipastikan gagal menuju semi final dalam perlumbaan ini. Tak luput dari pandangan , tim basket SMAN Lembang terlihat menyesal dan menangis di tengah lapangan, karena mereka sebagai tuan rumah grup B tidak sama sekali memperoleh kemenangan sekali saja.
Langit dan tim basketnya merasa kemenangan SMK Pemuda menjadi tantangan terbesar buat mereka, karena mereka harus menang melawan SMK Pemuda untuk menuju ke semi final, sementara SMK Pemuda memperoleh kemenangan dari SMAN Lembang dengan selisih yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kemenangan tim SMA Merah Putih yang hanya selisih tiga angka saja.
Sekarang waktunya Rindu yang fokus menatap ke arah lapangan disaat tim cheerleader SMK Pemuda sedang memulai penampilannya. Dia terus mengamati tiap inci gerakan-gerakan nya , memperhatikan tiap detail anggota SMK Pemuda dalam melakukan gerakan-gerakan. Sementara Langit tengah berbincang dengan tim basketnya membahas pola permainan yang akan diterapkan melawan SMK Pemuda.
"Kayaknya kita harus jagain yang pakai nomor 8 secara khusus deh, soalnya dari pertandingan tadi gue liat dia jadi ujung tanduk buat nyetak angkanya, lemparan jarak jauh dia juga hampir selalu sukses, dari sekian banyak lemparan jarak jauh gue liat dia Cuma gagal 2 kali aja" ucap Langit kepada tim basketnya.
"Iya bener tuh tadi gue juga berhatiin, terus defence nya juga bagus dari tadi bluk nya selalu sukses, kayaknya kita fokus nyetak angka aja deh jangan maksain buat lemparan 3 angka" ucap Rizky menambahkan
"Setuju gue, andy sama gue biar fokus jaga nomor 8 tiap dia mau masukin bola, masalah nyetak angka gue serahin ke lu el sama lu fer" tambah Robby
"Oke gue setuju, kita lebih fokus ke bertahan kalau kita sudah memimpin, biar gue sama Langit yang tetep berusaha nyetak angka, lu Riz , balik bertahan kalau udah mimpin kita" ucap Ferry.
Di sisi lain, Rindu masih terus mengamati penambilan tim cheerleader SMK Pemuda. Mata Rindu tiba-tiba berubah ketika melihat kaki dari flyer SMK Pemuda terlihat gemetaran saat dirinya diangkat ke puncak piramida dan berdiri dengan satu kakinya. Benar saja, sesaat kemudian flyer tersebut terjatuh , untung saja temannya sempat menangkapnya hingga kepala flyer tersebut tidak menyentuh tanah, hanya kakinya saya yang terkilir. Tim medis dari SMK Pemuda bergegas berlari ketengah lapangan membawa sebuah tandu dan perlengkapan kegawat daruratan.
Suasana yang semula ramai karena kebahagiaan menyaksikan penampilan cheerleader berubah menjadi suasana kecemasan akan satu siswa yang bertindak sebagai flyer mengalami musibah d tengah penampilannya. Siswa tersebut terlihat dinaikkan keatas tandu dibawa ke sisi lapangan untuk dilihat kondisinya lebih lanjut. Selang beberapa waktu, diumumkan bahwa flyer tersebut hanya mengalami cidera dikaki kanan nya, sisi buruknya dia tidak bisa meneruskan pertunjukkannya. Melihat kegagalannya itu, siswa SMK Pemuda pasrah bahwa cheerleader mereka akan gagal menuju babak berikutnya.
Rindu yang berada pada posisi flyer dalam timnya tanpa sadar meneteskan air mata ditengah duduknya. Dia berpikir seandainya saat flyer SMA Pemuda jatuh tidak sempat ditangkap sama sekali apa yang akan terjadi? Bagaimana jika itu terjadi pada dirinya saat tampil sebagai flyer. Teman Rindu yang berada d sebelahnya, meminjamkan bahunya kepada Rindu untuk bertumpu sambil mengusap kepala Rindu.
Dari tempat duduknya Langit menatap ke arah Rindu, dia melihat apa yang sedang terjadi kepada Rindu, Langit memahami mengapa Rindu seperti itu."Tak kusangka, perempuan sekeras Rindu sampai menitikkan air matanya dalam situasi ini, perempuan yang sehari-hari penuh keceriaan, penuh rasa percaya diri yang tinggi langsung berubah 180 derajat hanya karena kejadian kecil yang sering terjadi bagi tim cheerleader, kejadian yang menurutku hal yang biasa dan sudah menjadi resiko jika memilih diri menjadi seorang flyer" ucap Langit dalam hatinya.
Beberapa waktu berlalu, Langit terus melihat kearah Rindu yang dipenuhi kesedihan, hingga saatnya panitia memanggil kedua tim basket yang akan bertanding. Langit dan temannya yang mendengar panggilan itu langsung bangkit dari tempat duduknya menuju lapangan. Langit berjalan perlahan melewati barisan dimana Rindu berada. Sesaat Langit melewati Rindu, saat itu juga Rindu berusaha menghentikan kesedihannya sambil memanggil Langit. "Langit.. iya lu" ucap Rindu saat Langit melewatinya.
Seketika Langit mendengar suara itu, Langit langsung menolehkan wajahnya kearah suara itu berasal "Semangat ya, lu harus bawa sekolah kita ke semi final, gue yakin lu sama temen-temen lu bisa" ucap Rindu menyemangati Langit yang akan bertanding.
Langit membalas semua ucapan Rindu dengan sebuah senyuman kecil dari bibir Langit diiringi dengan anggukan kepalanya. Langit melanjutkan langkah kakinya menuju tengah lapangan untuk menghadapi lawan selanjutnya, yang menjadi penentu apakah timnya dapat melanjutkan ke semifinal atau harus pulang menemani SMAN 1 Lembang yang sudah pasti pulang kandang terlebih dahulu.
Langit selaku pemain posisi center kini sudah siap dititik tengah lapangan bersama seorang pemain dari SMK Pemuda yang dipisahkan oleh wasit dengan bola ditangannya. Ketika peluit dibunyikan , wasit itu melempar bola keudara seketika itu juga Langit dan seorang pemain dari SMK Pemuda melumpat bersamaan saling berebut bola tersebut, hingga akhirnya bola tersebut didapati oleh pemain SMK Pemuda.
Pertandingan kali ini berlangsung lebih keras dari sebelum nya, jatuh bangun sering terjadi pada setiap pemain. Nilai pada papan angka pun selalu saling salip, Berbagai gaya melempar bola hingga slamdunk dipertunjukkan satu sama lain untuk menambah angka. Saling jegal mereka perlihatkan demi menjaga bola agar tak masuk ke ring milik mereka masing-masing. Beberapa kali diantara mereka harus terjatuh karena bersenggolan saat berebut bola, ada yang dianggap pelanggaran ada pula yang bersih.
Saat memasuki quarter ketiga, Ferry berusaha melakukan jump shot dari jarak jauh, namun usahanya sia-sia , pemain lawan berhasil melakukan bluk terhadap bola di depan ring miliknya. Kesialan bertambah, Andy yang tidak tepat mendaratkan kakinya ke lantai terjatuh dan kakinya terkilir. Melihat kejadian itu, SMA Merah Putih pun meminta dilakukan pergantian pemain . dengan menahan sakit pada kakinya , Andy berjalan dibopong oleh Langit dan Robby kepinggir lapangan untuk digantikan dengan salah satu pemain cadangan.