Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7 Jebakan Ana untuk Lily
Jam makan siang.
Lily merapikan mejanya dan berjalan ke kantin. Dari kejauhan Ana melihat semuanya.
Dari raut wajahnya. Wanita itu terlihat tidak senang melihat ke arah sepupunya.
Beberapa menit kemudian.
Ana juga menyusul ke kantin bersama dua dayang-dayangnya. Ana duduk di meja tepat di samping Lily.
"Kamu seorang diri Lily? Bergabunglah bersama kami." Ajak Ana.
Lily menoleh.
Dia hanya tersenyum kecil.
Dia kembali melanjutkan makanannya.
"Tidak perlu Ana. Mungkin dia malu berada di samping mu."Ujar Amber sedikit mengejek.
Jane tertawa mengejek.
Lily yang melihat hal itu hanya menghembuskan nafas kasar. Dia tidak terlalu mempedulikan ucapan mereka.
Selesai menyantap makanannya. Lily segera meninggalkan kantin.
"Bahkan aku tidak bisa bekerja dengan tenang."Gumamnya melangkah pergi.
"Hai, apa kamu karyawan baru?"
Lily menoleh.
Seorang wanita sedang berdiri di hadapannya saat. Wanita itu tersenyum kepadanya. Lily melihat sekeliling. Tampaknya wanita di hadapannya itu memang tersenyum kepadanya.
"Hai. Aku baru masuk hari ini." Lily tersenyum kecil.
"Aku Grace."
Grace mengulurkan tangannya.
Lily meraihnya.
"Aku Lily."
Lily tidak menyebut nama belakangnya.
"Kita berada di tim yang sama."
"Benarkah?Maaf, Aku tidak memperhatikannya."
Lily tersenyum kecil.Dia sedikit bersalah karena tidak mengenali Grace.
"Tidak apa-apa. Aku melihatmu memberikan kopi. Aku bahkan kebagian. Dulu itu pekerjaan ku."Ujar Grace tersenyum kecil.
Lily dan Grace berjalan beriringan.
"Benarkah. Sekarang aku karyawan baru. Aku yang akan menggantikan mu."Ujar Lily tanpa menaruh curiga sedikit pun.
Grace menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Sebenarnya tidak juga. Bukan berarti kita karyawan baru maka kita akan membuat kopi. Semua itu karena kasta. Latar belakang keluarga."
Grace tersenyum getir mengatakannya. Hal seperti itu dia sangat paham. Dia juga merasakan hal yang sama.
"Begitulah."
Lily dan Grace kembali ke meja mereka masing-masing.
Di sisi lain. Ana dan kedua dayangnya baru saja meninggalkan kantin. Ana memilih jalan berbeda.
Ada sesuatu yang harus di selesaikan wanit itu. Ana melangkahkan kakinya dan berhenti di depan sebuah ruangan.
Ana mengetuk satu kali.
Setelah mengetuk pintu. Ana langsung melangkah masuk ke dalam.
Tiga puluh menit berlalu.
Semuanya tampak sibuk menatap layar komputernya.
"Perhatian semua."
Semuanya menoleh ke arah tuan Hartono.
"Selesaikan proposal kalian. Tuan Eldrick sendiri yang akan memeriksanya dan memilih proposalnya. Dan untuk mu Lily. Kamu sendiri yang akan mengantarkannya ke ruangan tuan Eldrick."Perintah tuan Hartono.
"Baik tuan."
Di meja kerjanya. Ana tersenyum kecil.
Grace yang berada di samping Lily terlihat khawatir. Sesekali dia menoleh kepada Lily.
"Lily."Panggil Grace.
Suaranya begitu kecil karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Lily menoleh.
"Ada apa?"
Grace tampak ragu.
"Ada apa?"Lily kembali bertanya setelah melihat keraguan di mata Grace.
"Aku hanya mau memberi tahumu, jangan masuk ke dalam ruangan tuan Eldrick. Proposal itu berikan saja kepada tuan Will."
Lily tersenyum.
"Aku mengerti."
Lily menoleh kepada Ana.
Sepupunya itu terlihat senang.
"Apa ini ulahmu?"Batin Lily.
Lily juga tahu jika siapa pun yang masuk ke ruangan Eldrick bisa saja di pecat. Tapi Lily sama sekali tidak khawatir tentang hal itu.
Begitu mereka selesai. Proposal mereka di kumpulkan di atas meja Lily.
"Lily, sekarang bawalah proposal itu ke ruangan tuan Eldrick."Ujar Ana tersenyum.
Senyuman itu jelas mengandung makna. Lily juga menyadari hal itu.
Lily beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke ruangan Eldrick.
Setibanya di depan ruangan yang bertuliskan Ceo.
Lily mengetuk pintu.
"Masuklah Will."Ujar Eldrick dari dalam.
Lily menahan senyumnya.
Eldrick mengira jika orang yang mengetuk pintu adalah.
Lily melangkah masuk ke dalam. Netranya langsung tertuju kepada sang suami yang terlihat begitu fokus menatap layar komputer miliknya.
Lily mengedarkan pandangannya. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di dalam ruangan itu.
Lily berjalan mendekati meja Eldrick.
"Ini proposalnya tuan."Ujar Lily.
Eldrick menghentikan tangannya.
Dia mendongak. Suara itu terdengar begitu familiar.
Begitu mendongak. Sang istri berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
Eldrick mengulas senyum.
"Sayang."Ujarnya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Eldrick segera menarik sang istri dan duduk di pangkuannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Lily berusaha melepaskan diri.
Menyadari hal itu. Eldrick semakin mengeratkan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau orang lain melihat kita?" Lily terlihat kesal.
Bukannya melepaskan istrinya. Eldrick malah mendaratkan kecupan singkat kepada bibir sang istri.
"Tidak ada yang akan melihat kita sayang. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak tahu aturan perusahaan? Tapi jika itu kamu, aku sama sekali tidak keberatan." Ujar Eldrick kembali mendaratkan kecupan singkat pada bibir sang istri.
Lily mendorong suaminya.
"Jangan ikut campur sayang. "
Eldrick menatap istrinya. Dia mencoba memahami apa yang di maksud oleh sang istri.
"Aku pergi. Pilih yang adil sayang."
Lily melangkah pergi meninggalkan ruangan Eldrick. Di sisi lain, Ana terlihat gelisah di meja kerjanya. Dia tidak sabar mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ana sudah tidak sabar. Dia yakin jika saat ini, Lily pasti sudah mendapatkan masalah. Tapi dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Di tengah kegelisahannya. Lily muncul di hadapan mereka.
Ana menelisik penampilan Lily. Sepupunya terlihat baik-baik saja.
Ana mendekat.
"Kamu baik-baik saja Lily?"
Lily menoleh.
"Apa kamu sedang menunggu sesuatu hal? Aku tidak sebodoh itu Ana. Aku tahu jika tuan Eldrick tidak akan suka ketika seseorang masuk ke dalam ruangannya. Makanya aku memberikannya kepada tuan Will."Ujar Lily tersenyum.
Ana mengepalkan tangannya. Dia berusaha menahan kekesalannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia kembali ke meja kerjanya.
Lily yang melihat hal itu tersenyum kecil. Dia juga kembali ke meja kerjanya.
"Bagaimana bisa dia terlihat baik-baik saja? Aku yakin tuan Will sedang tidak ada di mejanya."Batin Ana.
Sesekali dia kembali melirik ke arah Lily. Sepupunya itu terlihat baik-baik saja.
Sementara itu di dalam ruangannya. Eldrick menatap Will.
"Selidiki hubungan Hartono dan Ana. Sepertinya mereka berdua memiliki hubungan yang aneh."
"Baik tuan."
"Apa perlu saya menyingkirkan sepupu nyonya tuan? Tampaknya dia selalu menganggu nyonya."
"Tidak sekarang Will."
"Saya mengerti tuan."
Beberapa jam berlalu.
Para karyawan telah bersiap pulang. Lily sendiri sudah berada di depan perusahaan menunggu kedatangan taksi pesanannya.
"Nona Lily."
"Iya tuan."
"Silahkan masuk."
Lily tersenyum kecil melangkah masuk ke dalam taksi.
Di sisi lain, Eldrick masih berada di dalam ruangannya. Pria itu masih memeriksa proposal yang di bawa Lily.
"Tuan belum ingin kembali?"
"Aku aku akan menyelesaikan ini terlebih dahulu. Pesankan aku kopi hangat Will."