NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 : Bersikap netral

Ruang persidangan tenggelam dalam keheningan.

Deretan kursi hakim terisi penuh. Di tengah, Blair duduk tegak sebagai pemimpin sidang, wajahnya tenang namun tatapannya waspada. Di hadapan mereka, seorang polisi duduk sendirian di kursi terdakwa tanpa pengacara, tanpa catatan, hanya punggung lurus dan tangan terlipat di pangkuan.

Di sisi lain ruangan, penggugat berdiri bersama kuasa hukumnya.

Pria itu melangkah maju selangkah, suaranya menggema jelas.

“Yang Mulia,” katanya, “aparat penegak hukum tidak berhak melakukan kekerasan terhadap warga sipil. Bahkan dalam proses penangkapan sekalipun.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tinggi.

“Terdakwa telah menyalahgunakan profesinya. Kekuasaan bukan alasan untuk bertindak sewenang-wenang.”

Pria itu mengangkat lengannya.

“Tolong lihat ini, yang mulia.” katanya sambil memperlihatkan tangan yang masih terbalut perban. “Lengan saya patah. Dipatahkan oleh seorang polisi.”

Ia menatap langsung ke arah Blair.

“Bagaimana tindakan seperti ini bisa dibenarkan?”

Para hakim terdiam. Beberapa dari mereka menunduk, menelaah berkas gugatan. Suasana kembali sunyi, berat oleh penilaian yang belum terucap.

Pandangan Blair bergeser ke sisi ruangan.

Di bangku belakang, seseorang duduk dengan sikap santai. Wajahnya tenang, matanya bergerak perlahan, mengamati seluruh ruang sidang seolah sedang menghitung sesuatu. Bukan penonton yang cemas. Bukan pula pihak yang berkepentingan.

Alis Blair mengerut. Ia lalu menoleh ke arah terdakwa.

Polisi itu tetap duduk sendirian.

“Kenapa Anda tidak menyewa pengacara?” tanya Blair, suaranya datar namun tegas. “Sidang ini menyangkut reputasi dan karier Anda.”

Polisi itu mengangkat wajahnya, menatap Blair tanpa ragu.

“Untuk apa, Yang Mulia?” jawabnya tenang. “Saya tidak bersalah.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan.

“Saya sedang bertugas. Menangkap sekelompok pria yang merampok sebuah toko. Semua rekan mereka tertangkap di lokasi.”

Pandangan matanya mengeras. “Hanya satu yang kabur. Penggugat.”

“Saya mengejarnya,” lanjut polisi itu. “Saat saya mencoba mengamankan, dia mengeluarkan pisau.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Saya hanya bereaksi untuk melindungi diri.”

Pria penggugat segera menyela.

“Alasan itu tidak membenarkan tindakan mematahkan lengan seseorang,” katanya keras. “Bagaimanapun juga, itu adalah kekerasan berlebihan.”

Tatapan Blair beralih padanya. Tajam. Menekan.

Ia menyandarkan tubuh ke kursinya, menghela napas pelan sebelum akhirnya berbicara.

“Kalau begitu,” ucapnya perlahan, “menurut Anda, tindakan yang benar apa?”

Blair mengangkat tangannya, mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Ketika seorang polisi ditodong pisau,” lanjutnya, nada suaranya tenang namun menusuk, “haruskah ia memintanya dengan baik?”

Tangannya bergerak, memperagakan sikap memelas yang disengaja.

“Mohon turunkan pisaunya?” tanya Blair dingin.

Salah satu hakim anggota yang duduk di sisi Blair menoleh ke arahnya.

“Yang Mulia,” katanya dengan nada tertahan namun tajam, “apakah ini keputusan sepihak hanya karena terdakwa berasal dari kepolisian dan memiliki wewenang?”

Ia menyilangkan tangan di atas meja.

“Mohon bersikap netral dalam persidangan.”

Alis Blair terangkat.

Ia menoleh perlahan ke arah hakim anggota itu. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih mirip sindiran daripada keramahan.

“Apakah saya terlihat sedang membelanya?” tanyanya datar.

Ruangan kembali hening.

“Saya tidak memberi putusan,” lanjut Blair. “Saya mengajukan pertanyaan.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Tindakan apa yang seharusnya dilakukan seseorang ketika ditodong senjata?”

Nada suaranya tetap tenang, namun tekanannya terasa jelas.

“Itu bukan kekerasan berlebihan,” katanya. “Itu perlindungan diri.”

Blair menggeser pandangannya ke seluruh ruangan.

“Dan ini bukan soal polisi atau bukan polisi,” sambungnya. “Siapa pun yang berada di posisi yang sama akan bereaksi serupa.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, namun tak kalah tegas.

“Karena jika ia tidak melawan, maka yang menunggunya bukan luka...melainkan kematian.”

Blair kemudian menoleh ke sisi ruangan, ke arah jaksa. Tatapannya tajam, seolah menantang secara intelektual, bukan emosional.

“Apakah penilaian saya keliru, tuan Jaksa?” tanyanya pelan.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!