NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : MALAM PERTAMA TANPA TIDUR

...BAB 7...

...MALAM PERTAMA TANPA TIDUR...

"Takaran tiga sendok, air enam puluh mililiter, suhu empat puluh derajat..." gumam Berry membaca ulang sambil berbisik. "Ini nyusuin bayi apa bikin kopi manual brew sih."

Reyga tertawa kecil di belakangnya. "Selamat datang di dunia orang tua, Yah."

Berry berdecak kesal. "Diam."

Tak lama kemudian, akhirnya susu berhasil dibuat sesuai petunjuk di kaleng.

"Sudah, nih!" Berry mengangkat botol susu dengan bangga.

Reyga segera menyerahkan bayi kepada sahabatnya.

Berry duduk, lalu mencoba memberikan botol itu ke mulut bayi.

Namun...

Bayi itu justru memalingkan wajah. Berry menggeser botol ke kiri. Kepala bayi ikut ke kiri. Berry menggeser ke kanan. Kepala bayi ikut ke kanan.

Berry melotot. "Dia ngajak main pingpong?"

Reyga menahan tawa. "Nih, Dek. Ayo diminum," bujuk Reyga.

Bayi itu tetap menutup mulut rapat-rapat.

"Dia tetap nggak mau." Berry kesal.

Reyga mendekat. "Mungkin susunya terlalu panas."

Berry langsung panik. "Tadi katanya empat puluh derajat!"

"Ya aku cuma nebak."

"Kalau nggak tahu jangan bikin jantung orang berhenti!"

Reyga terkekeh. "Jangan-jangan terlalu dingin."

Berry menatap botol itu. "Jadi kita bikin susu atau lagi eksperimen laboratorium?"

Reyga mengambil sedikit susu dari botol dan meneteskannya ke punggung tangan. "Nggak panas."

Berry kembali menyodorkan botol. "Ayo, Dek. Ini susu mahal. Jangan disia-siakan."

Bayi itu malah menguap. Berry terdiam. "Dia ngantuk kali?"

"Mungkin."

"Terus kenapa dari tadi nangis?"

Reyga mengangkat bahu. "Namanya juga bayi."

Berry menghela napas panjang. "Enak banget hidup jadi lo ya, Bay! Kalau lapar nangis. Kalau ngantuk nangis. Kalau nggak suka susu tinggal buang muka."

Belum selesai Berry bicara, bayi itu tiba-tiba membuka mulut.

Berry langsung bersemangat. "Nah! Nah! Mau!"

Ia cepat-cepat memasukkan dot ke mulut bayi. Bayi itu akhirnya menyusu.

Berry langsung tersenyum lega. "Alhamdulillah..."

Reyga ikut tersenyum. "Berhasil."

Mereka berdua menatap bayi itu seolah baru saja memenangkan perlombaan nasional.

Berry bahkan mengangkat kedua tangannya.

"Yes!"

"Pelan-pelan!" Reyga langsung menegur. "Nanti bayinya kaget."

Berry menurunkan tangannya. "Oh, iya."

Beberapa menit berlalu. Bayi itu terus menyusu dengan tenang.

Berry mulai santai. "Kayaknya gampang."

Reyga mengangguk. "Iya."

Berry bersandar. "Ternyata jadi ayah nggak sesulit—"

PRUUUT!

Suara kecil terdengar. Berry membeku. Reyga juga membeku.

Keduanya saling menatap. Kemudian perlahan mereka menunduk. Ada ekspresi curiga di wajah masing-masing.

Berry mengendus. Wajahnya langsung berubah.

"Rey..."

"Apa?"

"Kayaknya..."

Berry menelan ludah. "...dia buang air besar."

Reyga ikut mencium udara. Dua detik kemudian wajahnya berubah pucat. "Ya ampun."

Berry langsung menjauh sedikit. "Kenapa baunya kayak senjata biologis?!"

"Jangan lebay."

"Lebay dari mana?! Hidung gue hampir copot!"

Bayi itu malah terlihat tenang. Wajahnya polos. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Berry menunjuk bayi tersebut. "Dia sengaja."

Reyga tertawa. "Mana mungkin."

"Dia tahu kita lagi lengah."

Reyga mengambil popok baru. "Sudah. Ganti."

Berry menatap popok itu. "Lho, kok aku?"

"Karena tadi kamu yang bikin susu."

"Memangnya ada hubungannya?"

"Ya biar adil."

Berry menghela napas. "Baiklah."

Mereka membaringkan bayi di atas alas yang mereka gunakan seadanya.

Berry membuka perekat popok.

Baru sedikit terbuka...

"ASTAGA!"

Berry langsung menutup hidung.

Reyga mundur satu langkah.

"Kenapa?!"

"JANGAN LIHAT!"

"Lho, kenapa?"

"Ini bukan bayi!"

Berry menunjuk isi popok.

"Ini... ini sudah level orang dewasa!"

Reyga menahan tawa sampai bahunya berguncang.

"Jangan ketawa!"

"Aku nggak ketawa."

"Mulutmu ketawa!"

"Terus aku harus nangis?"

Berry menunjuk Reyga. "Kalau mau jadi sahabat yang baik, kamu yang bersihkan."

Reyga langsung menggeleng. "Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Aku yang pegang kakinya."

"Terus?"

"Kalau aku muntah, siapa yang ganti?"

Berry terdiam. "Masuk akal."

Akhirnya mereka bekerja sama. Reyga mengangkat kedua kaki bayi.

Berry mengambil tisu basah.

"Pelan-pelan," kata Reyga.

"Aku tahu."

"Jangan sampai kena—"

Berry tiba-tiba berhenti. "Rey."

"Apa?"

"Ini kenapa makin banyak?"

Reyga menatap popok. Wajahnya langsung pucat. "Ya Tuhan..."

Bayi itu menggeliat kecil.

Berry panik. "PEGANG KAKINYA!"

"SUDAH!"

"JANGAN LEPAS!"

"Aku nggak lepas!"

Mereka berdua bergerak seperti sedang menjinakkan bom.

Tisu berserakan.

Popok baru sudah terbuka.

Pakaian bayi sedikit berantakan.

Dan keduanya berkeringat seperti habis lari maraton.

"Akhirnya... Selesai juga."

Berry berdiri sambil mengusap keringat di dahinya.

"Berhasil."

Reyga mengacungkan jempol.

"Berhasil."

Mereka saling menatap. Lalu tertawa.

"Kita hebat juga," kata Berry bangga.

Reyga mengangguk. "Baru ganti popok saja sudah seperti habis perang."

Berry mengambil bayi itu dan menggendongnya. "Mulai sekarang kamu jangan buang air besar lagi, ya."

Bayi itu menatap Berry dengan mata bulat.

Berry tersenyum. "Kita sudah jadi teman."

Tiba-tiba...

PRUUUT!

Berry membeku. Reyga menatapnya.

Keduanya perlahan melihat ke arah bayi. Bayi itu kembali memasang wajah polos.

Berry memejamkan mata.

"Rey..."

"Iya?"

"Kayaknya dia belum selesai."

Reyga langsung tertawa keras.

"HAHAHAHA!"

"Jangan ketawa!"

"Kita baru lima menit selesai!"

Berry memandang bayi itu dengan tatapan tidak percaya. "Kamu benar-benar musuh dalam selimut."

Bayi itu malah tertawa kecil. Berry langsung menunjuknya.

"TUH! DIA MALAH SENYUM!"

Reyga semakin terbahak. "Kayaknya dia puas liat lo sengsara!"

Berry menggeleng pasrah. "Malam pertama kita belum selesai."

Reyga menepuk bahu sahabatnya. "Selamat datang di dunia orang tua."

Berry menghela napas panjang. "Besok kita beli popok satu kardus."

"Satu kardus?"

"Iya."

"Kenapa?"

Berry menatap bayi yang masih tersenyum polos.

"Karena aku punya firasat... kita bakal bangkrut gara-gara dia."

******

Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh.

Berry menghela napas panjang. "Gue baru beberapa jam dan rasanya seperti sudah sepuluh tahun."

Reyga tertawa kecil. "Gue juga."

Keduanya kemudian terdiam.

Bayi itu sedang berbaring di antara mereka. Matanya yang besar menatap kedua lelaki tersebut bergantian.

Berry memperhatikannya beberapa saat. "Eh, ngomong-ngomong..."

"Apa?"

"Kita mau panggil dia apa?"

Reyga mengernyit. "Memangnya dia punya nama?"

Berry menggeleng. "Nggak ada identitasnya."

Reyga terdiam. Sejak menemukan bayi itu, mereka hanya memanggilnya dengan sebutan yang berbeda-beda.

"Bayi."

"Dek."

"Hei, kecil."

Bahkan beberapa kali Berry memanggilnya "Bos Kecil" karena merasa bayi itu sudah berhasil mengatur hidup mereka hanya dalam beberapa jam.

Berry mengusap dagunya. "Kalau kita terus panggil 'bayi', rasanya aneh."

Reyga memandang bayi itu. "Terus bagusnya dipanggil apa?"

Berry berpikir. Kemudian matanya mengarah ke jendela. Di luar, langit masih gelap. Hanya beberapa lampu kota yang terlihat dari kejauhan.

"Malam ini kita menemukan dia."

Reyga mengangguk. "Terus?"

"Dia juga bikin apartemen gue nggak pernah gelap."

Reyga menatap Berry. "Itu karena lampu ruang tamu Lo belum dimatikan."

"Bukan itu maksud gue." Berry tersenyum kecil. "Dia seperti bintang."

Reyga kembali menatap bayi tersebut. Bayi itu tersenyum kecil.

"Bintang?"

"Iya." Berry mengangguk. "Kita panggil Bintang dulu."

Reyga diam sejenak. Kemudian tersenyum tipis. "Boleh."

Berry mengulurkan tangan. "Mulai sekarang..."

Ia menunjuk bayi itu. "Nama panggilan sementara lo, Bintang."

Bayi itu justru menggerakkan tangannya.

Reyga terkekeh. "Dia suka berarti setuju."

Berry mengangkat alis. "Jangan geer."

Reyga mengusap kepala bayi itu. "Tenang, Bintang."

Entah kenapa, panggilan sederhana itu membuat suasana menjadi lebih hangat.

Mereka tahu itu bukan nama asli bayi tersebut.

Mereka juga tahu suatu hari nanti nama sebenarnya akan ditemukan.

Tetapi untuk malam itu, setidaknya mereka punya sesuatu untuk memanggilnya.

Bintang.

Bayi kecil yang muncul di tengah malam dan mengacaukan hidup dua sahabat yang bahkan tidak pernah membayangkan harus mengurus seorang anak.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!